Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Sesampainya di perusahaannya, ia segera menuju ke ruang meeting dimana semua direksi sudah duduk menunggunya.
"Saham Andrew sudah aku beli dan sekarang aku mempunyai 80% saham disini. Jadi, jika tidak ada yang suka dengan caraku memimpin. Kalian bisa meninggalkan ruangan ini segera," ucap David menggema di ruang rapat lantai atas yang megah.
Suaranya rendah, datar, namun mengalirkan tekanan psikologis yang begitu pekat hingga membuat seluruh anggota dewan direksi yang hadir menelan salivanya secara bersamaan.
Tidak ada satu pun yang berani mengangkat wajah atau bersuara.
Dokumen pengalihan saham mayoritas yang baru saja disahkan malam tadi kini menjadi bukti mutlak bahwa kendali penuh perusahaan sepenuhnya berada di tangan David Hermawan.
Tidak ada lagi celah bagi siapa pun untuk meragukan kekuasaan sang CEO muda.
"Bagus jika kalian paham," lanjut David dingin, menyandarkan punggungnya pada kursi kepemimpinan dengan angkuh.
"Mulai hari ini, efisiensi dan loyalitas adalah harga mati. Rapat selesai."
David bangkit dari kursinya, merapikan kancing jas birunya dengan gerakan elegan.
Jonas yang berdiri siaga di dekat pintu langsung membukakan jalan bagi sang tuan besar.
David masuk ke ruang kerjanya dimana ia harus menandatangani dokumen penting terutama proyek Bali.
Dengan wajah serius, David membacanya dan mulai menandatanganinya.
Setelah lembar terakhir dokumen proyek resort mewah di Bali itu dibubuhi tanda tangannya, David langsung menutup map hitam tersebut dan menyerahkannya kembali kepada Jonas.
"Pastikan semua perizinan dan pengawasan konstruksi di Bali berjalan tanpa ada hambatan sedikit pun, Jonas," perintah David dengan nada tegas.
"Baik, Tuan. Semua tim di lapangan sudah diperketat," jawab Jonas mantap sambil menerima map tersebut.
David melirik jam tangan mewahnya. Tepat dua jam telah berlalu.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia langsung menyambar jas dan ponselnya, meninggalkan ruang kerja megahnya demi kembali ke sisi wanita yang paling berharga di hidupnya.
Setibanya kembali di mansion utama, David melangkah terburu-buru menuju kamar tidur utama di sayap kanan.
Ia membuka pintu secara perlahan agar tidak mengejutkan istrinya.
Di dalam ruangan yang hangat dan beraromaterapi lembut itu, Mili tampak sedang bersandar santai di atas ranjang sambil membaca sebuah majalah kehamilan, sementara
Bibi berjaga di dekat jendela sambil merapikan meja.
Mendengar suara pintu terbuka, Mili mendongak. Senyum manis langsung merekah di bibirnya saat melihat sosok pria yang sangat dirindukannya melangkah masuk.
"Kamu tepat waktu, Tuan CEO," sapa Mili dengan nada menggoda.
David langsung menghampiri ranjang, menaruh jasnya di kursi terdekat, lalu menjatuhkan diri untuk duduk di tepi kasur.
Tanpa ragu, ia merengkuh tubuh Mili ke dalam dekapannya, menghirup aroma harum rambut istrinya dalam-dalam seolah mengisi kembali energinya yang terkuras di kantor.
"Tentu saja. Aku tidak mungkin membiarkan ratuku menunggu terlalu lama," bisik David lembut, lalu menurunkan kepalanya untuk mencium perut Mili yang masih rata.
"Bagaimana harimu tadi, Sayang? Apa jagoan atau putri kecil Papa di dalam sini nakal?"
Mili tertawa kecil, mengusap rambut hitam suaminya dengan penuh kasih sayang.
"Tidak, dia sangat baik. Malah sejak tadi dia tidur terus, sepertinya menurun sifat papanya yang suka bekerja keras."
David mendongak, menyunggingkan senyum miring yang begitu tampan. Ia meraih tangan Mili dan mengecup telapak tangan itu berkali-kali.
"Baguslah kalau begitu. Artinya dia anak yang pengertian, tidak mau menyusahkan mamanya yang cantik ini," ucap David gemas, sebelum akhirnya mendaratkan ciuman yang dalam dan penuh cinta di bibir Mili.
Sementara itu, ratusan kilometer dari kemewahan mansion Hermawan, suasana dingin dan bau lembap menyergap sebuah sel tahanan sempit di kantor kepolisian Bali.
Di balik jeruji besi yang kokoh, seorang wanita berambut acak-acakan dan pakaian kusam meringkuk di sudut ruangan.
Gea menatap dinding kosong di hadapannya dengan tatapan kosong dan hancur.
Berita kebangkrutan total keluarganya, pengusiran kedua orang tuanya, hingga kenyataan bahwa ibu dan ayahnya memilih pulang ke Jakarta tanpa memedulikannya telah sampai ke telinganya sore tadi.
"Mama... Papa..." rintih Gea parau dengan air matanya menetes sia-sia membasahi pipinya yang kotor.
Ia telah kehilangan segalanya—harta, reputasi, kebebasan, dan pria yang dulu ia buang demi keserakahan semata.
Kebencian dan rasa penyesalan yang membakar dadanya kini tidak lagi berarti apa-apa, karena di dunia luar sana, nama Gea telah terkubur dalam-dalam di bawah bayang-bayang kekuasaan mutlak David dan kebahagiaan Mili yang tak akan pernah bisa ia jamah lagi.
Di dalam sel tahanan yang dingin dan berbau apak, Gea mendekam dengan sisa-sisa harga diri yang telah hancur berkeping-keping.
Dengan tangan gemetar dan suara yang parau akibat terlalu banyak menangis, ia memanggil petugas jaga yang lewat di depan selnya.
"Pak, tolong saya," rintih Gea dengan nada memelas, mencengkeram jeruji besi dingin.
"Tolong hubungi David Kartajaya sampaikan pesan pada suami kakak saya. Saya mohon, Pak. Saya harus bertemu dengan Mili."
Petugas kepolisian itu awalnya enggan menanggapi, namun desakan putus asa dan tatapan memohon dari wanita itu akhirnya meluluhkan sedikit niatnya.
Menjelang sore hari, sebuah panggilan darurat diteruskan langsung kepada asisten kepercayaan sang CEO.
Tak butuh waktu lama bagi pesan itu sampai ke telinga David Hermawan di Jakarta.
Di ruang kerja pribadi mansion Hermawan, David sedang memeriksa beberapa dokumen penting ketika Jonas masuk dengan langkah tenang namun membawa berita yang membuat rahang sang bos langsung mengeras tajam.
"Tuan, ada laporan dari kepolisian di Bali," lapor Jonas dengan nada datar.
"Tahanan atas nama Gea meminta izin untuk menghubungi Anda. Dia memaksa ingin bertemu langsung dengan Nyonya Mili."
Mendengar nama wanita itu disebut, mata David berkilat tajam bagai belati.
Semburat kemarahan langsung melintas di wajahnya.
Ia membanting pulpen di tangannya ke atas meja hingga menimbulkan suara dentuman keras yang menggema di ruangan sunyi itu.
"Bertemu dengan Mili?" geram David dengan nada rendah penuh ancaman dan jijik.
"Berani sekali ular beracun itu menyebut nama istriku setelah apa yang dia lakukan!"
David berdiri dari kursi kerjanya, berjalan mondar-mandir dengan dada naik-turun menahan amarah.
Ia tahu betul watak Gea; wanita itu tidak pernah kapok dan selalu menyimpan niat busuk di balik air mata palsunya.
Ia tidak akan membiarkan Gea mendekati Mili sama artinya dengan membahayakan keselamatan istri dan calon anak mereka.
Saat itu juga, pintu ruang kerja terbuka pelan. Mili melangkah masuk dengan membawa nampan kecil berisi secangkir teh hangat untuk suaminya.
Ia sempat mendengar penggalan kalimat dari Jonas sebelum pintu terbuka sepenuhnya.
"David, ada apa?" tanya Mili lembut, meletakkan nampan di atas meja kerja lalu menatap suaminya dengan cemas.
David langsung menghentikan langkahnya saat mendengar istrinya bertanya.
Ekspresi wajahnya yang tadinya beringas seketika melunak saat menatap sang istri.
Ia merengkuh pinggang Mili, membimbing wanita itu untuk duduk di sofa ruang kerjanya, lalu berjongkok di hadapannya sambil menggenggam kedua tangan Mili erat-erat.
"Tidak ada apa-apa, Sayang. Jangan dengarkan hal-hal yang tidak penting," ucap David lembut, mencoba menyembunyikan amarahnya.
"Aku dengar semuanya tadi, David. Gea ingin menemuiku?"
David menghela napas panjang, tatapannya menyiratkan penolakan mutlak.
"Dia di penjara, Mili. Dan dia tidak punya hak apa pun untuk menginjakkan kakinya di dekatmu, apalagi setelah hampir menghancurkan hidupmu," tegas David.
Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Aku tidak akan pernah mengizinkannya menemuimu. Kamu sedang hamil, dan aku tidak mau ada hal kecil pun yang membuat stres atau mengancam kesehatanmu dan bayi kita."
Mili menatap manik mata suaminya yang dipenuhi oleh rasa protektif yang luar biasa besar.
Ia tahu David melakukan semua ini karena sangat mencintainya. Mili lantas tersenyum tipis, mengusap rahang tegas suaminya dengan penuh kelembutan.
"Aku mengerti, David." bisik Mili tenang.
"Aku juga tidak berniat menemuinya. Biarlah hukum dan karma yang menyelesaikannya di sana."
Mendengar jawaban itu, ketegangan di wajah David akhirnya mencair.
Ia mengecup telapak tangan Mili dengan penuh rasa syukur, sebelum membawa istrinya kembali ke kamar untuk beristirahat dengan pengawalan yang semakin ketat.