Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.
Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.
"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."
"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."
Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
"Di rumah sakit ini untuk mencari ketenangan, jika ada masalah segera diselesaikan, bukan bertengkar seperti ini," tegas Direktur rumah sakit yang masih muda dan tampan itu.
"Saya mengerti Pak, maafkan saya. Saya hanya mengingatkan Pak Bintang yang akan memindahkan istrinya berobat ke luar negeri. Tapi masalahnya Mentari sedang kritis," Bulan menjelaskan kepada atasannya.
"Pak Bintang, kami mengerti Anda sangat mengkhawatirkan istri, tapi jika Anda memindahkan Mentari dalam keadaan koma, terlalu berisiko," Direktur menyilakan membawa istrinya berobat keluar negeri tapi dengan catatan Mentari sudah sadar.
"Saya mengerti, terima kasih," jawab Bintang pada akhirnya menyadari kekeliruan nya.
"Kamu Bulan, sebaiknya pulang. Bukankah shift malam sudah dijadwalkan untuk pria?" Direktur menatap Bulan yang tampak kelelahan itu tidak tega.
"Saya mengerti Pak, kalau begitu permisi," pungkas Bulan mengangguk santun sebelum berlalu. Direktur mengikuti Bulan dan berjalan di sebelahnya meninggalkan Bintang yang hanya memperhatikan mereka.
"Mau saya antar?" Tanya Direktur yang sudah lama menyimpan perasaan kepada Rembulan.
"Terima kasih Pak, saya membawa kendaraan sendiri," tolak Bulan.
Direktur yang bernama Kenan itu menatap kepergian Rembulan dari belakang dengan dada berdebar-debar. Di depan Bintang tadi ia bisa bersikap tegas dan dingin selayaknya pemimpin, tapi perasaan kagumnya kepada Rembulan tidak ada bedanya dengan pria lain.
"Rembulan... Kamu memang benar-benar Rembulan yang indah di langit cerah. Sayangnya aku belum bisa menggapaimu. Tapi aku senang Bulan, setidaknya masih beruntung karena kamu lah cahaya di rumah sakit ini," Batin Kenan masih menatap Bulan penuh rasa kagum hingga wanita itu masuk ke dalam lift.
***********
Malam itu langit tampak kelabu tanpa bintang. Langkah Rembulan terasa berat saat masuk ke dalam kendaraan pribadinya, bahunya terkulai di jok kemudi, dadanya sesak menahan rasa kesal mengingat pertengkaran baru saja dengan suami sahabatnya. Namun, beberapa saat ia termenung, benarkah ia dokter yang tidak berkompeten seperti yang Bintang pikirkan? Tetapi selama empat tahun ini ia menjalani profesinya sebagi dokter dan membuat semua pasien yang ia tangani merasa puas.
Sepanjang perjalanan pulang, bayangan kejadian tadi terus berputar di kepalanya. Ia masih ingat jelas bagaimana Bintang memandangnya dengan tatapan ragu akan kemampuannya. Bagaimana jika Mentari benar-benar mendesaknya untuk menikah? Ia ingin hidup tenang, tidak mau menjadi istri Bintang yang mulai menunjukkan peringai asli, yakni sombong keras kepala.
"Mungkin di rumah sakit lain... Dokternya lebih ahli," itulah salah satu ucapan Bintang, seolah menganggapnya tidak bisa apa-apa.
Bintang lupa atau bagaimana? Usahanya demi kesembuhan sahabatnya, bahkan menangani Mentari selama satu tahun lebih, yang tahu setiap inci riwayat penyakitnya, yang berjuang habis-habisan demi sahabatnya. Namun, jika Allah belum berkehendak untuk sembuh ia bisa apa? Bukan malah dianggap tidak punya kemampuan.
"Dasar Bintang yang bodoh," gumamnya kesal. Apakah pria itu tidak tahu jika memindahkan pasien dalam kondisi koma dan stabilitas yang rapuh seperti itu sama saja dengan mengantarnya pada bahaya yang lebih besar. Ia menjelaskan itu dengan sekuat tenaga, tapi tetap tidak berguna.
Sesampainya di rumah sudah sepi, Rembulan membiarkan pintu ditutup pelan oleh bibi. Saat ini waktu sudah jam 11 malam. Dia segera bersih-bersih sebelum akhirnya tidur.
******
"Tante Dokter... Lita sudah mandi..." seru Talita, anak itu mengenakan baju warna pink wajahnya mirip sekali dengan Bintang.
"Wah, cantik sekali..." ucap Bulan ketika baru saja keluar dari kamar sudah mengenakan baju kebesaran seorang dokter.
"Tante sudah mandi juga ya?" Tanya Talita mendongak menatap Rembulan.
"Sudah dong... Tante sudah cantik gini, masa belum mandi.." gurau Rembulan, lalu menggendong Talita yang sudah harum minyak kayu putih.
"Bagaimana bobo nya? Nyenyak tidak." Rembulan menatap mata biru dan jernih itu lagi-lagi teringat Bintang yang tampak kalem, tapi kenapa saat marah menyebalkan.
"Nyenyak Tante... Lita bobo sama Nenek. Iya kan, Nek," Talita menoleh Renata yang tengah mengaduk susu.
Renata menatap Talita tersenyum lega, anak balita yang malam tadi tampak sedih kini berbinar-binar, menandakan bahwa ia betah di rumah.
"Sekarang kita sarapan dulu..." titah Renata.
Jika biasanya Rembulan dengan mami sarapan hanya berdua dan sepi, pagi ini terasa lebih hangat karena celotehan Talita.
"Tante Dokter mau ke rumah sakit ya?" Tanya Talita setelah selesai makan.
Rembulan yang sedang minum hanya mengangguk saja.
"Ikut..." ujar Bocah cantik itu seketika turun dari kursi merangkul Bulan manja.
Bulan tersenyum, lalu menunduk mengusap kepala Talita. "Tidak untuk saat ini sayang..." Bulan menjelaskan jika sang bunda belum bisa dijenguk. "Besok atau lusa kalau Bunda sudah lebih baik, Tante yang akan mengantar Lita," lanjut Bulan.
Walau kecewa, Talita akhirnya mengangguk, ditemani Entin mengantar Bulan hingga halaman.
Kendaraan Bulan berjalan sedang menuju rumah sakit, begitu tiba, ia segera memeriksa sahabatnya. Pagi ini ditemani perawat seperti biasa, tapi lagi-lagi kondisi Mentari masih belum ada perubahan.
Bintang tetap menanyakan kondisi Mentari, kali ini lebih rendah tidak seperti malam tadi.
Hampir setiap hari, Bulan memeriksa sahabatnya dengan telaten hingga seminggu kemudian.
Pagi itu sinar matahari menyelinap lewat kaca jendela ruang ICU, tiba-tiba jari tangan Mentari bergerak pelan. Rembulan yang sedang memantau layar alat segera menoleh, dan matanya membelalak saat melihat kelopak mata sahabatnya perlahan berkedip durasi sangat lama.
"Mentari..." seru Bulan, segera mendekat dan memeriksa secara keseluruhan, hasil menunjukkan tanda-tanda sadar.
Mendengar panggilan Bulan, Bintang yang tertidur membungkuk berbantalkan tangan di tepi ranjang pun seketika terbangun.
Tatapanya langsung tertuju ke wajah Mentari yang jauh lebih pucat dari sebelumnya, napasnya tersengal-sengal, di balik alat bantu napas.
Bintang tidak tahu jika pandangan Mentari kabur, tapi masih berusaha fokus mencari sosok di sekelilingnya.
"Istriku... aku yakin kamu akan kembali kepadaku dan Talita sayang..." ucap Bintang tersenyum haru, tapi senyum itu seketika hilang saat menatap wajah istrinya yang tampak menyerah.
Bulan mengucap istigfar, meski sudah sadar tanda vital Mentari justru makin tidak stabil, denyut jantung tidak beraturan dan tekanan darah terus merosot. Ia tahu, waktu yang tersisa sungguh sedikit.
"Mentari... kamu harus kuat," ucap Bulan sambil berupaya untuk menyelamatkan nyawa sahabatnya.
Wajah lelah, mata sayu itu menatap Rembulan, bibirnya seperti ingin bicara tapi sulit sekali.
Bintang mendekatkan telinganya di bibir istri tercinta mencoba mendengarkan apa yang akan dia ucapkan, begitu tahu jawabannya Bintang beralih menatap Rembulan hendak menyampaikan pesan istrinya, tapi kali ini gantian ia yang sulit membuka mulut.
"Ada apa, Pak? Mentari bicara apa?" Tanya Bulan tanpa suara hanya bibirnya yang bergerak.
"A-Anu... Mentari minta jawaban kamu tentang surat minggu lalu, Dok..."
Bulan kaget lalu menatap lekat sahabatnya, Mentari masih ingat seminggu yang lalu, itu artinya masih ada harapan.
Rembulan menatap Bintang, kali ini ia menyerahkan keputusan di tangan pria itu. Jika Bintang setuju ia siap menikah dengannya demi Mentari walau harus berkorban.
Bintang yang tidak punya pilihan akhirnya mengangguk. Dia takut jika menolak kejadian seminggu yang lalu akan terulang. Sebelum istrinya koma, Bintang menolak keras permintaan Mentari dan akhirnya istrinya drop hingga sekarang.
Bulan menggenggam erat tangan Mentari yang terasa dingin.
"Mentari... aku sudah baca suratmu," ujar Rembulan lirih. "Aku terima permintaanmu. Aku janji akan menjaga Talita, tapi berjanjilah. Kamu harus kuat dan kita besarkan Talita bersama-sama."
Seketika sorot mata Mentari berbinar samar, senyum tipis terukir di bibir pucat nya.
Sore harinya pernikahan siri pun akhirnya berjalan dengan lancar di pinggir tubuh Mentari yang tidak berdaya.
Mereka tidak tahu, di ambang pintu ruang rawat seorang pria menatapnya dengan hati hancur.
...~Bersambung~...
hrus nya mentari juga jujur dari awal klau bulan istri ke dua binta⭐biar tu mulut duo keong racun diem 😡
Gak abis² beritanya sampe sekarang juga, udah berapa bulan itu berlangsung
Kamu jangan meremehkan jagat maya Bintang karena efek psikologisnya mengena pisan terutama ke korban
Meremehkan netizen, menganggap sepele udah dihapus, selesai dalam pikiran Bintang yang masa bodo
Gak mikir efek psikologis Bulan, Mentari, anaknya & ibu kandung Bintang sendiri
Pret lah Bintang, kau anggap remeh kekuatan nitezen tanpa memikirkan psikologisnya
Secara Bintang tuan rumah, mudah baginya untuk mengusir mertua & afik ipar meski masih berstatus suami Mentari
Tapi gimana lagi 🤷♀️
memang dibuat bodoh & masa bodo agar tetep salah paham antara mertua, ipar, istri kedua & orang tua kandung Bintang sendiri
Sabar aja nunggu episode selanjutnya yang bikin viral nama Bulan ancur karena narasi kejelekan² dari Sherly & Ratih
dimata siapapun bukan diposisi yg salah. orang awam gk akan percaya kalo semua itu istri pertama yg meminta.. mau dijelaskan gimanapun dimata netizen Bulan seorang pelakor..
kasian juga sich sebenarnya.. 😌😌