Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.
Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.
Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Provider Man
Suasana perpustakaan pusat yang tenang berangsur-angsur sepi menjelang pukul lima sore. Petugas perpustakaan mulai merapikan jajaran buku di rak utama, sementara beberapa mahasiswa yang tersisa bergegas membereskan barang bawaan mereka.
Nadhira baru saja menyelesaikan misinya menyerahkan lembar revisi milik kelompok tiga kepada Kania di dekat meja diskusi lantai satu.
Setelah mewanti-wanti Kania agar menyampaikan catatan khusus dari Reyhan kepada Dimas, Nadhira berpamitan dan melangkah keluar dari gedung perpustakaan.
Sesuai petunjuk, Nadhira menyusuri jalan setapak beratap di samping lorong laboratorium menuju area parkir khusus dosen dan staf yang terletak di bagian belakang kampus.
Area itu dikelilingi rindangnya pohon angsana, membuatnya cukup tersembunyi dari lalu lalang mahasiswa umum.
Dari kejauhan, Nadhira menangkap sosok sedan hitam mengkilap milik Reyhan yang sudah terparkir rapi. Pria itu tampak berdiri bersandar di pintu kemudi dengan kemeja putih yang masih tergulung rapi hingga siku. Kacamatanya masih terpasang dan tangannya sibuk mengusap layar telepon genggamnya.
Melihat suasana sekitar yang sepi dari kejauhan, Nadhira setengah berlari mendekat.
"Pak Reyhan!" panggil Nadhira pelan sambil menghentikan langkah tepat di samping mobil.
Reyhan mendongak, memasukkan ponselnya ke dalam saku celana bahan kelabunya. "Sudah selesai urusannya dengan Kania?"
"Sudah, Pak. Semua lembar kerja sudah saya serahkan ke Kania," sahut Nadhira manis, memamerkan senyum lega. "Aman kok, saya nggak ketemuan sama Dimas sama sekali."
Reyhan mengangguk pelan, raut wajahnya tetap kaku tanpa cela. Ia membukakan kunci pintu mobil lewat tombol otomatis. "Masuk."
Nadhira bergegas memutar menuju pintu penumpang samping kemudi, lalu masuk ke dalam kabin mobil yang terasa dingin dan beraroma pewangi mobil yang segar.
Tak lama kemudian, Reyhan masuk ke kursi kemudi, menutup pintu, dan menyalakan mesin mobil. Sedan hitam itu bergerak perlahan meninggalkan area parkir kampus, membelah arus lalu lintas sore kota yang mulai padat.
Di dalam kabin mobil yang hening, Reyhan menyalakan sistem audio. Dentingan suara pemutar radio digital mengisi kekosongan udara di antara mereka. Nadhira yang duduk menyandar nyaman di kursinya memandangi jalanan melalui kaca jendela, menikmati momen santai setelah seharian bergelut dengan garis-garis tipografi yang menguras otak.
Tiba-tiba, lagu dari stasiun radio lokal itu berganti. Intro musik pop bernuansa synth-wave yang ceria dan penuh energi mengalun nyaring dari speaker berkualitas tinggi sedan tersebut.
Mata Nadhira seketika berbinar lebar. "ASTAGA! As If It’s Your Last!"
Tanpa rasa canggung sedikit pun di hadapan dosen pengajarnya sekaligus suaminya, Nadhira langsung menegakkan posisi duduknya. Gadis itu menggoyangkan bahunya mengikuti irama lagu hits milik grup K-pop BLACKPINK tersebut.
"Ma-ma-ma-majyimackcheoreom ma-ma-majyimackcheoreom~!" Nadhira mulai bernyanyi lantang, menggunakan botol air mineral kosong di samping kursinya sebagai mikrofon.
Reyhan, yang sedang fokus memegang kemudi untuk berpindah jalur, sedikit tersentak oleh luapan energi mendadak dari penumpang di sebelahnya. Pria itu menoleh sekejap, menatap Nadhira dari balik kacamatanya dengan sebelah alis terangkat.
"Nadhira, kecilkan suara kamu sedikit. Ini di dalam mobil, bukan tempat karaoke," tegur Reyhan kaku, walau nada suaranya sama sekali tidak membentak.
Nadhira sama sekali tidak gentar. Ia justru menoleh ke arah Reyhan, memamerkan cengiran lebarnya, lalu bernyanyi semakin menjadi-jadi tepat di bagian chorus lagu.
"Baby, nal teojil deus anajwo~! Seolledeushi, ma-ma-majyimackcheoreom~!" Nadhira bernyanyi penuh penghayatan, memperagakan gerakan tarian bagian tangan secara dramatis di depan dashboard mobil.
Melihat tingkah istrinya yang begitu lepas, polos, dan sama sekali tidak jago bernyanyi namun sangat menggemaskan, pertahanan diri Reyhan yang kaku perlahan goyah. Pria itu memalingkan wajahnya sedikit ke arah jendela kemudi.
Di sudut bibir sang dosen killer, sebuah senyuman tipis yang teramat manis terukir tanpa bisa disembunyikan lagi. Matanya berbinar hangat memandangi bayangan Nadhira yang tercermin di kaca mobil.
Kekakuan dan beban pekerjaan seharian ini seolah menguap begitu saja digantikan oleh canda tawa spontan dari gadis berusia dua puluh satu tahun itu.
"Suara kamu sumbang, Nadhira," cetus Reyhan datar saat lagu berakhir, berusaha keras mengembalikan raut wajah dinginnya.
"Biarin sumbang yang penting bahagia, Pak!" balas Nadhira riang, meletakkan botol air mineralnya kembali.
"Lagian lagu tadi tuh lagu wajib penambah mood setelah pusing dikritik nol koma dua milimeter sama Bapak!" lanjut Nadhira.
Reyhan tidak membalas. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala pelan, namun jemari tangan kirinya yang berada di atas kemudi tampak mengetuk-ngetuk pelan mengikuti sisa irama musik, sebuah gestur kecil yang menandakan bahwa suasana hatinya sedang sangat baik.
Beberapa menit berlalu, Nadhira menyadari bahwa rute jalan yang diambil oleh Reyhan tidak mengarah ke kompleks perumahan mereka. Sedan hitam itu justru berbelok memasuki area parkir sebuah supermarket bahan makanan berukuran besar di kawasan pusat kota.
"Lho? Pak Reyhan, kita mau ke mana?" tanya Nadhira heran sambil melongok keluar jendela. "Ini kan supermarket?"
"Stok bahan makanan segar di rumah sudah habis," ujar Reyhan sambil mematikan mesin mobil dan melepas sabuk pengamannya. "Saya perlu membeli sayuran, daging, dan kebutuhan dapur untuk seminggu ke depan. Kamu ikut masuk."
Nadhira membelalakkan mata, lalu menyunggingkan senyum lebar. "Siap, Pak Dosen!"
Mereka berdua berjalan memasuki area supermarket yang luas dan terang benderang. Reyhan mengambil sebuah troli dorong berukuran sedang, melangkah menyusuri lorong khusus bahan makanan segar di bagian barat.
Gaya Reyhan saat berbelanja benar-benar mencerminkan kepribadiannya yang perfeksionis. Pria itu berdiri di depan rak sayuran organik, mengamati kesegaran lembaran daun bayam, memeriksa tanggal kadaluarsa wadah dada ayam fillet, dan menimbang tomat dengan sangat cermat. Setiap bahan yang masuk ke dalam troli telah melewati standar seleksi ketat sang dosen.
Sementara itu, Nadhira yang berjalan di samping troli mulai kehilangan fokus pada area sayuran hijau yang membosankan. Matanya berkilat-kilat setiap kali melirik ke arah lorong sebelah, lorong impian yang dipenuhi jajaran makanan ringan, cokelat, keripik kentang, dan minuman manis.
Dengan langkah pelan dan penuh kehati-hatian, Nadhira bergeser sedikit demi sedikit mendekati lorong cemilan, lalu mengambil satu bungkus keripik kentang berukuran besar. Ia berjalan kembali ke samping Reyhan yang sedang sibuk memilih botol minyak zaitun.
"Pak Reyhan..." panggil Nadhira halus, memegang bungkus keripik kentang itu dengan kedua tangannya. "Boleh ambil keripik rasa rumput laut ini satu nggak buat stok di rumah?"
Reyhan melirik sebentar ke arah bungkus keripik tinggi garam itu, lalu menatap wajah Nadhira. "Satu saja. Jangan dimakan sekaligus."
"Makasih, Pak!" Nadhira menaruh keripik itu ke dalam troli dengan riang.
Dua menit kemudian, saat Reyhan sedang membandingkan dua merek saus tiram, Nadhira kembali melipir ke lorong cemilan. Ia muncul lagi membawa dua kotak cokelat batang dengan taburan kacang almon.
"Pak Reyhan... kalau cokelat yang ini boleh ambil dua nggak? Lagi ada diskon beli dua gratis satu di raknya," izin Nadhira lagi dengan tatapan mata memelas yang dibuat-buat.
Reyhan menghela napas pendek. "Masukkan ke troli."
"Makasih, Pak Reyhan yang ganteng!" tawa Nadhira kecil.
Namun, drama izin belanja itu tidak berhenti di situ. Lima menit berikutnya, saat Reyhan sedang memilih telur ayam omega di rak pendingin, Nadhira kembali menghampiri suaminya.
Kali ini kedua tangannya dipenuhi oleh tiga kaleng minuman bersoda rasa buah, satu pak sosis bakar instan, dan dua kemasan biskuit krim cokelat.
"Pak... kalau minuman yang ini boleh?"
Reyhan menghentikan tangannya yang hendak meraih wadah telur. Pria itu menegakkan tubuhnya, berputar menghadap Nadhira sepenuhnya. Ia menatap istrinya yang berdiri canggung di depannya dengan tumpukan jajanan di pelukan.
Melihat cara Nadhira yang terus-menerus minta izin seperti anak kecil yang sedang mengintip ketakutan pada orang tuanya, Reyhan merasa sedikit terganggu sekaligus tak tahan lagi menahan geli di dalam hati.
"Nadhira," panggil Reyhan dengan nada suara yang dalam dan kaku.
"I-iya, Pak? Kalau kebanyakan, saya kembalikan deh yang soda rasa jeruk ini..." cicit Nadhira ragu, mengira suaminya akan mengeluarkan ceramah tentang bahaya makanan tidak sehat.
Reyhan mendengus tipis. Pria itu meraih seluruh cemilan dari tangan Nadhira, memindahkannya ke dalam troli belanjaan mereka. Lalu, dengan gaya yang amat tenang, ia menyandarkan kedua tangannya di pegangan troli, menatap lurus ke dalam manik mata Nadhira.
"Ambil semua yang kamu mau, Nadhira," kata Reyhan refleks, intonasi suaranya mantap tanpa ragu sedikit pun. "Saya bisa bayar semua jajanan yang ada di supermarket ini."
Kalimat singkat, tegas, dan sarat akan kekuatan finansial itu meluncur begitu saja dari bibir sang dosen killer.
Nadhira mematung di tempatnya berdiri. Matanya membelalak lebar, sementara mulutnya sedikit terbuka karena kaget. SAYA BISA BAYAR SEMUA?! Kalimat itu memantul-mantul di dalam kepalanya bagaikan alunan musik terindah yang pernah ia dengar sepanjang hidupnya.
Wajah Nadhira yang tadinya ragu-ragu seketika berubah menjadi sangat berseri-seri. Senyuman penuh kemenangan terukir lebar di bibirnya.
"Beneran ya, Pak?! Bapak yang ngomong sendiri lho ya. Nggak boleh ditarik lagi kata-katanya!" seru Nadhira antusias setengah mati.
"Saya tidak pernah menarik kembali kata-kata saya," jawab Reyhan datar, berusaha menetralkan gengsinya. "Tapi ingat, tetap ada batas-"
Belum sempat Reyhan menyelesaikan kalimat peringatannya, Nadhira sudah berbalik cepat dan melesat seperti kilat menuju lorong jajanan.
"SIAP, PAK SUAMI KAYA RAYA!" teriak Nadhira riang dari balik lorong cemilan.
Dalam hitungan sepuluh menit berikutnya, troli belanjaan yang tadinya didominasi oleh sayuran hijau, dada ayam segar, dan minyak zaitun milik Reyhan berubah drastis menjadi gunung jajanan.
Nadhira memasukkan berbagai jenis keripik, jelly rasa buah, minuman cokelat kemasan, biskuit, hingga dua wadah es krim ukuran besar rasa vanila dan stroberi.
Reyhan hanya bisa berdiri mematung di samping trolinya yang kini hampir mengunung. Pria itu memijat pangkal hidungnya di balik kacamata, meratapi keputusan refleksnya tadi yang dimanfaatkan secara maksimal oleh sang istri.
"Kamu mau membuka toko kelontong di rumah?" sindir Reyhan kaku saat Nadhira kembali membawa dua kotak pocky rasa matcha.
Nadhira menaruh kotak pocky itu di puncak tumpukan troli dengan wajah tanpa dosa. "Ini namanya investasi kebahagiaan, Pak Reyhan! Lagian tadi kan Bapak sendiri yang bilang suruh ambil semua yang saya mau."
Reyhan menatap tumpukan makanan ringan itu, lalu beralih menatap wajah Nadhira yang tampak sangat bahagia dan tidak lagi terlihat lesu seperti saat di kampus tadi.
Hati kecil Reyhan tidak bisa memungkiri bahwa melihat rona keceriaan di wajah istrinya memberikan kepuasan tersendiri yang tidak bisa dinilai dengan materi.
"Terserah kamu," kata Reyhan singkat, mendorong troli gunung itu menuju kasir. "Tapi ingat, es krimnya tidak boleh dimakan malam ini. Nanti kamu batuk."
"Siap, Pak Reyhan!" kekeh Nadhira merapat di samping lengan suaminya saat berjalan menuju antrean kasir.
Proses pembayaran berjalan lancar. Reyhan mengeluarkan kartu kreditnya tanpa berkedip sedikit pun saat kasir menyebutkan nominal belanjaan mereka yang cukup fantastis untuk ukuran jajanan harian. Petugas kasir bahkan sempat melempar senyum iri pada Nadhira yang berdiri mendampingi pria tinggi itu.
Setelah semua kantong belanjaan dimasukkan ke dalam bagasi sedan hitam, mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.
Malam telah sepenuhnya jatuh ketika mobil Reyhan memasuki garasi rumah dua lantai mereka. Suasana kompleks perumahan yang tenang dan lampu-lampu taman yang hangat menyambut kedatangan mereka.
Reyhan menurunkan dua kantong besar berisi sayuran dan bahan segar, sementara Nadhira dengan bersemangat memboyong dua kantong khusus yang berisi gunung cemilan favoritnya menuju dapur.
"Nadhira, letakkan es krimnya ke freezer," instruksi Reyhan sambil melepas jam tangan kulitnya dan meletakkannya di meja bar dapur.
"Sudah, Pak!" jawab Nadhira cepat, sibuk menata jajaran keripiknya ke dalam lemari khusus yang kini resmi menjadi rak jajanannya.
Nadhira memutar tubuhnya menghadap Reyhan yang sedang merapikan kemeja putihnya. Rasa kenyang akan kebahagiaan menyelimuti hati gadis itu.
Dari perlakuan kaku di ruang dosen, catatan rahasia di lembar kalkir, senyuman tersembunyi di dalam mobil, hingga gunung jajanan di supermarket malam ini semuanya membuktikan satu hal, di balik sikap dingin dan gengsi setinggi langit milik Reyhan, pria itu selalu punya cara tersendiri untuk memanjakannya.
Nadhira berjalan mendekat ke arah Reyhan, mendongakkan kepala sedikit untuk menatap wajah tampan suaminya.
"Pak Reyhan..." panggil Nadhira lembut.
Reyhan menoleh, menatap istrinya datar. "Ada apa lagi? Kamu mau jajan lagi?"
Nadhira tertawa kecil, menggelengkan kepalanya. "Enggak kok. Cuma mau bilang... makasih ya buat hari ini. Makasih buat catatan bimbingannya, makasih udah dibolehin beli cemilan sebanyak ini, dan... makasih udah jadi suami yang seru hari ini."
Mendengar ucapan tulus itu meluncur langsung dari bibir Nadhira, tubuh Reyhan sempat membeku sejenak. Sorot matanya yang biasanya tajam dan kaku mendadak melunak, memancarkan rasa hangat yang mendalam di balik lensa kacamatanya.
Reyhan berdehem pelan, mengusap tengkuknya dengan tangan kanan, kebiasaan kecilnya setiap kali merasa canggung atau salah tingkah.
"Sudah menjadi kewajiban saya untuk memenuhi kebutuhan kamu," jawab Reyhan dengan gaya bicaranya yang tetap formal dan gengsi.
"Sekarang ganti pakaian kamu, lalu bantu saya merapikan sayuran ini di kulkas."
"Siap, Pak Dosen!" seru Nadhira gembira sambil melakukan gerakan hormat konyol, lalu berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai atas.
Reyhan berdiri sendirian di dapur yang terang itu, memperhatikan langkah riang Nadhira hingga bayangan istrinya menghilang di belokan tangga. Pria itu menyandarkan kedua tangannya di meja bar, menundukkan kepala sejenak, dan membiarkan senyuman mengembang bebas di wajahnya.
...Bersambung... ...