Sebuah rumah yang menyimpan rahasia besar selama ratusan tahun kini mulai membuat penghuninya terganggu.
Tak hanya gangguan mistis, pemiliknya juga mulai sakit sakitan dan mulai menyadari ada yang aneh dengan rumah yang dia tinggali itu.
Akankah pemilik rumah itu berhasil memecahkan misteri di dalam rumah yang sudah puluhan tahun dia tempati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tembok berlumut
Srak.
"Sstttt"
"Sayang.. kamu tidak apa apa?" tanya Dirga khawatir begitu duri duri itu tiba tiba saja menembus tangan Kharissa dan melesat terbang ke arah atas.
Tangan Kharissa berdarah bahkan Dirga harus membawa Kharissa juga anak anak ke dalam juga karena dia khawatir saat melihat duri duri itu keluar dari tangan Kharissa menembus tangan halus istrinya itu hingga terluka.
"Ini kotak obatnya, apa perlu aku panggil Gita?" tanya Dimas juga khawatir
"Tidak perlu, Darma, berikan bubuk sirih merah kamu" jawab Kharissa
"Ini ma..." ucap Darma menangis tapi wajahnya tetap terlihat datar.
Kharissa membubuhkan bubuk sirih merah dari alam Barma ke tangannya, terlihat lendir yang sama juga keluar dari balik bekas luka tusukan duri itu dan kepulan asap ikut keluar dari sana, membuat wajah orang orang yang ada di sana terkejut bahkan sampai mundur beberapa langkah karena asap itu mengeluarkan bau belerang yang begitu kuat.
"Jangan sedih, mama tidak apa apa, aku tidak apa apa mas, ini tidak sakit" bujuk Kharissa tersenyum lembut pada Dirga dan mengusap rambut Darma.
"Tapi ini berdarah Rissa, duri itu menusuk bahkan menembus tangan kamu" ucap Dirga khawatir.
"Rissa tidak apa apa, Husna harus di jaga, minta Husna untuk tidak menatap mata sosok itu, sosok itu terlihat tidak punya mata, tapi dia punya sihir di balik matanya yang bolong itu" jawab Kharissa lemas memeluk Dirga.
"Kamu melihat wajah mahluk itu?" tanya Hatta
"Ya, dia muda tapi tidak muda, dia tinggi tapi tidak tinggi dan dia buta tapi dia bisa melihat kita semua, dia ada begitu dekat dengan kalian jadi berhati-hatilah" jawab Kharissa memejamkan matanya
"Kamu istirahat saja ya, Darma temani mama" ucap Dirga dan Kharissa mengangguk.
"Apa maksudnya?" tanya Hatta
"Muda tapi tidak muda, tinggi tapi tidak tinggi, buta tapi dia bisa melihat dan dia begitu dekat" gumam Dimas juga kebingungan.
"Husna... apa kamu melihat sesuatu saat kamu melihat Rissa? bukan Rissa Kharissa tapi Rissa adiknya Rian dan Reza?" tanya Hatta
"Tidak mas, aku hanya melihat Rissa saja dan tidak melihat hal aneh" jawab Husna masih memeluk Hannah yang belum sadarkan diri.
"Kita pulang saja dan semoga tiga jin itu bisa menjaga anak anak" ucap Karta
"Iya nak, ini juga sudah hampir sore" ucap Zakariya
"Tunggu, biarkan malam ini mahluk itu muncul, jaga anak anak kalian, besok kami akan mencari jejak mahluk itu lewat sisa energi miliknya" ucap Rukmini
"Baiklah" jawab Hatta.
Hatta sekeluarga pulang, bubuk sirih hitam Darma juga di berikan pada Hatta satu kantung untuk di campurkan dengan air dan di minum oleh Hannah, itu di lakukan Dimas karena Dimas yakin, sosok berambut putih yang di lihat Hannah itulah sosok yang sudah menandai Hannah.
•••••••••••
Di rumah Karta.
Duk. Duk. Duk.
"Kamu dengar kan? sejak kita tinggal di sini suara itu selalu ada tapi dia tidak pernah menunjukkan dirinya" bisik Rian yang sore itu menjaga kamar Hannan dan Hisyam.
Mereka memang selalu ada di sana saat siang tapi malam hari mereka akan berkeliling mencari nenek mereka yang mungkin masih hidup tapi mereka tidak pernah menemukan nenek mereka meskipun mereka sudah masuk kembali ke alam gaib tempat mereka dulu berada.
"Kita kan sudah di ijinkan tinggal di sini kak, itu artinya kita tidak perlu keluar dan bertemu nyonya meneer kan?" tanya Reza
"Kata nenek, asalkan kita di bawa keluarga Wihardja, nyonya meneer tidak akan bisa memaksa kita untuk tinggal di sana lagi, dan Hannan juga Hisyam kan sudah menjadikan kita keluarganya jadi kita adalah bagian keluarga Wihardja sekarang" jawab Reza
"Dinding itu kak, dinding berlumut itu, Rissa yakin ada sesuatu di sana" ucap Rissa
"Tapi apa? kalau dia makhluk halus, kenapa dia tidak keluar saja" tanya Rian
"Mungkin itu siluman kak" jawab Reza
"Tapi kenapa tuan Karta tidak tahu" ucap Rian
"Rumah ini menakutkan" ucap Rissa
"Kamu jangan takut, ada kakak" bujuk Rian
"Hhrrrr.... pergi!"
Terdengar teriakan menggelegar di ruangan itu dan itu membuat Rian juga kedua adiknya ketakutan, tapi dia mencoba untuk tenang karena mereka di minta untuk tetap di sana oleh Hannan dan Hisyam.
"Pergi!"
"Kami adalah bagian keluarga Wihardja sekarang, ini rumah kami!" jawab Rian.
"Kalian hanya sampah! tumbal tumbal tidak berguna!"
"Siapa kamu?" tanya Rian
"Aku.... aku adalah penguasa tempat ini!"
Rian meminta adik adiknya untuk diam karena dia merasakan kalau Hatta sudah mulai kembali dan mahluk itu juga sudah pergi dari sana, Rian akan menceritakan apa yang dia dengar tadi dan tentang tembok berlumut di ruang tamu rumah Karta.
Firasat Rian tidak salah, tak lama Hatta memang sudah sampai di rumah Karta, Hannah sudah mulai sadar dan ketika masuk, Hannah langsung di mandikan oleh Husna dengan air garam dari Rukmini, setelah itu Hatta membuat air yang di campur bubuk sirih merah milik Darma, dan meminumkan itu pada Hannah.
"Ada apa?" tanya Rian
"Hannah di ganggu mahluk yang dia lihat kemarin" jawab Hannan
"Tadi, suara menggelegar itu muncul lagi, dia meminta kami untuk pergi" ucap Reza
"Benarkah?" tanya Karta dan mereka mengangguk.
"Apa kalian benar benar cucu kandung dari nenek Ratri?" tanya Hatta ragu
"Iya, kami dan nenek Ratri sudah tinggal lama di alam nyonya meneer" jawab Rian
"Seperti apa nyonya meneer itu?" tanya Karta
"Dia jahat, pakai baju hitam panjang tapi matanya merah, membawa payung warna hitam juga dan di dalam payung itu berisi banyak mata, kami harus bekerja setiap hari, mencari sesuatu yang dia sebut dengan mata terakhir, tapi kami tidak tahu mata apa yang dia maksud makanya kami di siksa dan nenek mengajak kami untuk kabur, tapi selalu gagal" jawab Rian
"Mata terakhir" gumam Hatta
"Ini membingungkan Hatta, bapak rasanya semakin pusing" ucap Karta
"Apakah nyonya meneer itu yang sudah menganggu Hannah" gumam Hatta
"Bukan, rambut nyonya meneer itu hitam, yang mengganggu Hannah berambut putih" ucap Hannan
"Kamu pernah melihat sosok nyonya meneer itu?" tanya Hatta
"Iya, dia ada di dekat pohon karet paling tua di perkebunan Opa, pohon karet yang kata Opa tidak pernah bisa di tebang, dia sering terlihat di sana tapi tidak bisa keluar" jawab Hannan
"Dia terkurung di sana, tidak bisa keluar karena kata nenek, nyonya meneer itu juga terpenjara sama seperti kami, hanya saja dia jahat" ucap Rissa
ma'af thor mau nanya itu nyonya meneer sudah berdiri sejak taun berapa🤭🤭🤭