Hutang budi membuat Pria setengah baya itu lupa pada gadis belia yang dulu menolongnya saat pingsan dalam melaksanakan tugas. Bertahun-tahun ia mencari, hingga akhirnya ia menemukan gadis itu dan menjodohkannya dengan 'putranya', Letnan Julang Wengkar (Elang), perwira muda yang gagah, berani, dan namanya di kenal kemiliteran.
Namun takdir punya jalan yang tak terduga. Di balik kesediaan gadis itu menerima perjodohan, tersimpan rahasia yang selama ini ia pendam dalam diam.. Hatinya bukan untuk Elang. Ia justru mencintai Letnan Dante, sahabat Elang sendiri.. Juga 'putra' dari mendiang sahabat Pak Riegan semasa muda dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Kekacauan tak di sangka.
Hari-hari berlalu dalam keheningan yang penuh ketegangan, datar, seolah semua baik-baik saja di rumah. Bang Dante berusaha bersikap biasa, namun matanya tak pernah berhenti mengamati situasi secara detail.
Di satu moment, Bang Dante menangkap sinyal khusus bahwa pergerakan itu memang tidak jauh dari lingkungan itu.
Kali ini Bang Dante tidak lagi menggunakan hatinya, ia sungguh harus tega untuk bekerja, menggunakan insting dan pikiran dalam logika yang tajam.
Setiap kali Cherry memegang ponsel, ia mencari alasan untuk lewat. Setiap gerak Cherry tak lepas dari pengawasannya. Perlahan Bang Dante menaruh curiga. Hatinya bertanya-tanya. Dan setiap kali ia pulang membawa berkas rahasia, ia sengaja meninggalkannya terbuka di meja hanya untuk melihat apakah Cherry akan melirik. Namun Cherry seakan tidak pernah peduli, gadis itu bicara berlaku sewajarnya lalu pergi.
//
Plaaaakk..
Seorang gadis terkapar, ia tersungkur dan menahan rasa sakitnya. Lelehan air mata tumpah membasahi pipi.
'Om Dante, Om dimana?? Aku takut??'
"Tidak ada yang bisa menyelamatkanmu, gadis manis." Seringai senyum terlihat jelas dadi wajah pria itu.
Buugghh..
Pria itu menoleh saat kepalanya terhantam benda keras.
"Kau............"
"Aku sudah bilang, urusanmu denganku..!! Jangan sentuh saudara kembarku..!!" Bentak gadis itu, dia Kin.. Nexator kepolisian yang sedang masuk area mafia demi mencari informasi.
Namun usaha mereka gagal karena kepolosan seorang gadis, kembaran Kin yang sama sekali tidak tau apapun soal ini.
"Kalau boss tau, kau berkhianat.. Kau bisa mati, Kin..!!" Ujar Codet.
"Aku bekerja sebagaimana mestinya, aku hanya tidak suka kau menyentuh keluargaku, terutama saudara kembarku." Ucap Kin tak main-main.
Codet beranjak namun tak ada kata apapun dari bibirnya.
Setelah Codet pergi, Kinkin segera membantu saudara kembarnya. "Kau ini kenapa bo*oh sekali. Aku bilang tidak usah kesini, kalau Diego tau, kita semua... Aku.. Bisa habis di tangannya."
"Siapa Diego?" Tanya gadis itu.
"Ya orang yang selama ini bawa kamu kesini. Kita nggak ada urusan sama Diego, ada juga yang panggil dia Wira. Siapa yang kau tau????Dia anggota tentara, kau tidak akan paham siapa dia.. Yang aku mau, selesaikan tugas ini, tugas resmi kepolisian. Setelah semua selesai, aku mau kembali ke ibukota, urus kuliah perawat. Kau juga ikut pulang." Ujar Cherry, yang biasa mereka kenal sebagai Kinan atau Kinkin.
Gadis polos, saudara kembar Cherry baru paham duduk permasalahannya. "Tapi.. Om Dante tidak jahat."
"Aku tau, Sea. Makanya dia jangan sampai ikut campur masalah ini. Sekarang kau luka begini, bagaimana caraku memulangkanmu dalam keadaan babak belur seperti ini. Letnan Diego pasti curiga. Kau memar dan banyak bekas luka, dia tidak akan biarkan pelaku yang buat kau begini bisa lolos begitu saja." Kata Cherry.
"Jadi gimana, aku takut."
"Seaaaaaaaa... Jangan hanya takut yang kau pikirkan..!!!!!!" Bentak Cherry. Matanya melotot menatap saudara kembarnya. "Ayo cepat, kita kurangi memarnya, baru ku antar kau pulang..!!"
//
Bang Dante mondar mandir di rumahnya baru lima menit ia kembali dari kota, tidak ada jejak Cherry di manapun padahal istrinya itu sedang pamit membeli obat.
Tak lama 'Cherry' pulang, wajahnya terlihat lelah. Bang Dante terus menatap gadis itu.
"Darimana saja, kenapa lama sekali?" Tanya Bang Dante dengan nada rendah.
"Tadi Cherry bilang, mau beli obat."
"Oke. Istirahatlah di kamar..!!" Perintah Bang Dante.
Setelah gadis itu masuk kamar, Bang Dante sejenak memejamkan mata. Ada perbedaan yang kini ia pahami. Ia melirik pada gadis itu.
'Siapa kamu?? Apa yang saya tidak pahami dari kamu??'
...
Malam hari, dalam gelapnya malam Bang Dante mulai bergerak usai memastikan istrinya terlelap di dalam kamar.
Sungguh kaget saat berada pada salah satu wilayah dekat pabrik tua, ia melihat hal yang membuat darahnya mendidih. Dengan mata kepalanya sendiri, di balik rimbunnya pohon pinus, ia melihatnya.
Cherry berdiri tegak, punggungnya lurus, tak ada sedikit pun ketakutan yang biasa ia 'pura-pura' selalu di tunjukkan gadis itu. Di hadapannya berdiri seorang pria berseragam polisi, pangkat Inspektur Polisi terlihat jelas di bahunya. Postur tubuhnya tegap, tatapannya lembut namun penuh kasih saat menatap Cherry. Dia Iptu Alfa Wibarrat. Bang Dante betul-betul mengenalnya.
Beberapa tahun yang lalu saat pendidikan perwira di Lembaga Pengamanan Militer Nasional, mereka berada di satu angkatan pendidikan awal yang sama. Satu tingkatan, namun beda instansi, satu dari tentara, satu dari kepolisian. Dulu mereka pernah bersaing ketat dalam latihan lapangan, dan sejak itu persaingan tak pernah benar-benar selesai. Inspektur Alfa dan Letnan Dante selalu seimbang. Sekarang... pria itu berdiri terlalu dekat dengan istrinya. Bahkan jauh lebih dekat dan tak pernah ia sangka.
'B*****t, kau mau main-main denganku.'
Setelah pemandangan yang menyakitkan itu, Iptu Alfa dan Cherry meninggalkan tempat dengan cepat. Bang Dante mengikuti namun di jalan utama, ia kehilangan jejak.
***
Bang Dante sampai rumah saat hari mulai berganti. Tak sengaja, ia melihat istrinya keluar dari kamar mandi. Tanpa basa basi, Bang Dante menghampiri dan langsung mencekik leher istrinya itu.
"B******k.. Beraninya kamu main gila di belakang saya. Apa hubunganmu sama si Al???"
"Nggak ada hubungan apa-apa, Om."
"Masih berani bermulut manis kau, ya???? Dasar ular betina." Wajah geram itu terlihat nyata menahan amarah. Bang Dante lalu menyeret istrinya itu ke dalam kamar.
Di kamar, Bang Dante membanting 'Cherry' dengan keras, bahkan sangat keras.
"Sok polos padahal pemain profesional. Kau pikir hanya Al saja yang bisa membuatmu puas. Aku juga bisa, j*lang..!! Pel**ur b******k..!!!!"
Bang Dante membuka ikat pinggangnya. Dengan brutalnya ia menyerang 'istrinya'.
...
Sea menangis sesenggukan menahan rasa sakit yang luar biasa, namun.. Bang Dante seakan tak peduli. Ia merokok di atas tempat tidur, seringai senyum licik menghias wajah garangnya usai melepaskan hasratnya sebagai seorang pria.
"Nggak usah nangis. Sama dia kau bisa, kenapa sama saya kau tidak ikhlas??" Ujarnya bak seorang b******n.
Bang Dante sedikit mengibaskan selimut saat abu rokok jatuh di atas selimut yang masih menutupi tubuh mereka berdua, dan hanya selimut itulah yang menjadi saksi apa yang terjadi malam ini.
Ekor mata Bang Dante menangkap ada bercak noda tipis di atas sprei.
"Ccckkk.. B*****t, haid kau rupanya." Celetuk Bang Dante, namun ia tidak peduli. Ia pun mematikan batang rokoknya.
"Ng_gak, Om."
"Oke.. Naik sekali lagi." Perintah Bang Dante tak mau tau. "Sampai saya tidak puas, saya hajar kau sampai babak belur..!!" Ancam Bang Dante.
.
.
.
.
lanjut mba Nara
Tokoh ceritanya mba Nara...pria² yg bertanggungjawab👍
lanjut mba nara👍
mba Nara, ngasih bawangnya banyak bgt🥹🥹
huaaa...ga rela klo pada pisah😭
lanjut mba Nara🥰
itu lg si vivian...melu² ngobong blarak....adeeehhh koq yo ora kapok... njaluk dijak gelud ae iki
lanjut mba nara