Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: lizzy Bae

Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Buum.

Ledakan dahsyat merobek dinding kaca lantai empat puluh lima hingga berkeping keping dalam sekejap mata.

Gelombang panas yang sangat kuat menyapu seluruh isi ruangan dan melemparkan tubuh Bayu seperti boneka kain yang ringan.

Brak.

Punggung Bayu menghantam pilar beton keras membuat pandangannya langsung berkunang kunang.

Napasnya tercekat saat debu tebal dan asap hitam mulai memenuhi paru parunya yang terasa sesak.

[Peringatan Sistem: Kerusakan fisik parah terdeteksi.]

[Sisa Energi Waktu: 0/25. Mode pendinginan tersisa 29 menit.]

Layar biru itu berkedip redup di sudut mata Bayu seolah ikut merasakan sakit yang dialaminya.

"Uhuk uhuk, sialan," umpat Bayu terbatuk batuk mengeluarkan darah dari sudut bibirnya yang robek.

"Bayu! Jawab aku Bayu! Apa kamu masih hidup?" teriak Anya dari alat komunikasi di telinganya.

Suara gadis berkacamata itu terdengar sangat panik dan nyaring menembus dengung bising di telinga Bayu.

"Aku masih bernapas Nona Kacamata, tapi rasanya tulang rusukku patah semua," balas Bayu meringis menahan sakit yang luar biasa.

Di dalam mobil van hitam di seberang jalan, Anya mengusap wajahnya yang pucat pasi karena ketakutan.

Gadis itu tanpa sadar meremas bungkus plastik telur ayam rebus LunaraMode yang baru saja dimakannya karena saking tegangnya.

"Sinyal pelacakmu melemah, suhu di lantai itu meningkat drastis akibat api," lapor Anya mengetik cepat di laptopnya untuk mencari rute aman.

Clara langsung menginjak pedal gas mobil van itu dan memutar setirnya dengan kasar.

Ciiit.

Ban mobil berdecit keras bergesekan dengan aspal jalanan malam membelah kesunyian.

"Kita harus merapat ke pintu evakuasi darurat di gang belakang sekarang juga," ucap Clara dengan raut wajah serius mengemudikan mobilnya.

Di lantai empat puluh lima yang hancur, Bayu merangkak tertatih tatih mencari sosok sang bos besar di antara puing puing.

Asap tebal yang mengepul membuat jarak pandangnya menjadi sangat terbatas.

"Tolong... siapa saja tolong aku," terdengar suara rintihan lemah dari balik reruntuhan meja kayu jati yang terbakar sebagian.

Bayu menyeret kakinya yang terluka mendekati sumber suara menyedihkan tersebut.

Hendra tergeletak mengenaskan dengan tubuh bagian bawah tertimpa bongkahan beton yang sangat berat.

Darah segar terus mengalir deras dari perutnya yang tertusuk pecahan kaca tajam berukuran besar.

"Bantu aku keluar dari sini bocah," pinta Hendra dengan napas yang tersengal sengal dan wajah memucat.

Bayu menatap dingin pria tua yang baru saja mencoba membunuhnya beberapa menit yang lalu itu.

"Katakan padaku ke mana Sang Penghapus Jejak pergi membawa dokumen itu," tuntut Bayu tanpa belas kasihan sedikit pun.

Hendra batuk darah sebelum memaksakan sebuah tawa yang terdengar sangat menyedihkan dan putus asa.

"Dia... dia pergi ke landasan helikopter rahasia di bukit perbatasan kota," jawab Hendra terbata bata menahan rasa sakit.

"Dokumen itu adalah kunci untuk membuka brankas penyimpanan artefak asli milik organisasi kami."

Bayu mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan perkataan bos sindikat kriminal tersebut.

"Artefak apa maksudmu? Bukankah kalian cuma mengincar uang dan kekuasaan di kota ini?" tanya Bayu memburu informasi lebih jauh.

"Kamu terlalu naif cowok udik, Kobra Mandiri ini hanyalah organisasi cangkang belaka," balas Hendra dengan sisa sisa tenaganya.

"Kami bekerja untuk seseorang yang jauh lebih berkuasa di ibu kota sana."

Mata Hendra mulai kehilangan fokusnya saat genangan darah terus melebar di atas karpet lantai.

"Orang itu... orang itu sedang mengumpulkan berbagai macam relik dimensi untuk... uhuk."

Hendra tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena darah segar kembali menyembur dari dalam mulutnya.

"Hei tua bangka, jangan mati dulu! Siapa orang dari ibu kota itu?" teriak Bayu mengguncang bahu Hendra dengan kasar.

Namun pria tua itu sudah memejamkan matanya rapat rapat dan dadanya tidak lagi bergerak naik turun.

"Sialan, informasinya terputus di saat paling penting begini," rutuk Bayu melepaskan cengkeramannya dari kerjas jas Hendra.

"Bayu, tinggalkan mayat itu sekarang juga! Pasukan penyapu Kobra Mandiri sedang menaiki tangga darurat menuju tempatmu!" peringat Clara dari earpiece.

"Berapa banyak orang yang naik ke sini?" tanya Bayu memaksakan dirinya untuk berdiri tegak dengan berpegangan pada tiang retak.

"Ada sekitar dua puluh orang bersenjata laras panjang, mereka menaiki tangga dengan sangat cepat," jawab Anya memberikan data langsung dari kamera pengawas.

"Kamu tidak akan bisa melawan mereka dengan kondisi tanpa energi waktu seperti sekarang."

Bayu menatap layar sistemnya yang masih menampilkan tulisan mode pendinginan menyebalkan itu.

[Mode pendinginan tersisa 25 menit.]

"Aku tahu Anya, aku harus segera keluar dari gedung ini sekarang juga," ucap Bayu mencari cari jalan keluar alternatif.

Jalan menuju lift dan tangga darurat sudah pasti diblokir rapat oleh pasukan musuh yang datang.

Satu satunya jalan yang tersisa adalah lubang menganga bekas ledakan roket di dinding kaca bagian depan.

Wusss.

Angin malam yang sangat dingin berhembus kencang membawa masuk suara sirine polisi dari kejauhan.

Bayu berjalan pelan ke tepi lantai yang hancur itu dan memberanikan diri menatap ke bawah.

Ketinggian empat puluh lima lantai benar benar membuat kepalanya terasa berputar hebat.

"Anya, apakah ada tali pembersih jendela atau semacamnya di luar gedung ini?" tanya Bayu berharap cemas menemukan keajaiban.

Terdengar suara ketikan cepat yang beruntun dari ujung alat komunikasi.

"Ada keranjang gondola besi pembersih kaca yang terparkir mati di lantai empat puluh," jawab Anya melaporkan temuan cepatnya.

"Gondola itu berada lima lantai tepat di bawah posisimu saat ini berdiri."

"Kalau kamu berani melompat dan mendarat di atasnya, Clara bisa meretas mesin penurunnya dari bawah sini."

Bayu menelan ludah melihat jarak lima lantai yang harus ia lompati di ruang hampa luar gedung.

"Kalian benar benar ingin aku mati jantungan malam ini ya," keluh Bayu memegang dadanya yang sakit berdenyut.

"Itu lebih baik daripada tubuhmu diubah menjadi saringan peluru oleh pasukan penyapu cowok udik," balas Clara tanpa ampun.

Dor dor dor.

Suara tembakan mulai terdengar memekakkan telinga dari arah lorong lift menandakan pasukan musuh sudah mulai menembus masuk.

"Mereka sudah datang! Cepat lompat sekarang Bayu!" teriak Anya histeris ketakutan.

Bayu mundur beberapa langkah ke belakang menuju tengah ruangan untuk mengambil ancang ancang lari.

1
lizzy Bae
Bagus banget ceritanya lanjutkan!!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!