Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. FOTO GENGGAMAN TANGAN
Senin pagi menyapa SMA Garuda Mulia dengan udara segar dan riuh rendah suara para siswa yang kembali beraktivitas setelah akhir pekan. Namun bagi Nadira, melangkah masuk ke gerbang sekolah kali ini terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi langkah mengendap-endap atau rasa cemas akan gosip miring.
Di tepi jalan tepat di depan pintu gerbang utama, sedan Toyota Camry hitam terparkir rapi. Nadira yang mengenakan seragam putih-abu-abu bersih bersiap untuk turun.
"Mas Abi, aku masuk sekolah dulu ya," pamit Nadira seraya menyandang tas sekolahnya.
Abiyasa, yang duduk di sampingnya dengan setelan kemeja putih dan jas abu-abu yang terlipat di paha, tidak langsung melepaskan pergelangan tangan Nadira. Pria itu menarik jemari kecil istrinya mendekat, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat di punggung tangannya dengan santai.
"Belajar yang benar hari ini. Kalau ada apa-apa, langsung minta Pak Maman atau hubungi saya," pesan Abiyasa dengan suara baritonnya yang tenang namun protektif.
"Iya, Pak Bos Posesif!" sahut Nadira seraya tertawa renyah, pipinya merona merah. "Mas Abi juga jangan kelamaan rapatnya. Jangan lupa makan siang!"
"Tentu, Nyonya Mahendra. Salam perpisahannya mana?" goda Abiyasa seraya menyunggingkan senyum tipis yang menawan.
Nadira memutar matanya dengan gemas, namun tetap memajukan tubuhnya dan mengecup singkat pipi kanan Abiyasa. "Dah, Mas Abi!"
Tanpa menunggu balasan suaminya yang terkekeh pelan, Nadira meloncat turun dari mobil dan melangkah riang menuju gedung sekolah. Dari kaca jendela yang terbuka separuh, Abiyasa memperhatikan langkah istri kecilnya sampai menghilang di balik belokan koridor sebelum menyuruh Pak Maman melaju menuju kantor pusat Mahendra Group.
Begitu Nadira melangkah masuk ke dalam kelas 12 IPA 2, sesosok gadis berseragam kuncir kuda langsung menghadangnya di ambang pintu. Sheila berdiri seraya bersedekah dada, memegang ponsel pintarnya dengan raut wajah yang siap memprotes.
"Hayo! Ini dia Nyonya Besar Mahendra yang habis honeymoon mendadak ke Puncak!" seru Sheila dengan suara melengking, memancing perhatian beberapa teman sekelas yang langsung terkekeh geli.
Wajah Nadira seketika memerah padam. Ia memukul pelan bahu sahabatnya itu seraya menariknya duduk di bangku mereka. "Sheila! Jangan teriak-teriak gitu, ah! Malu dilihatin anak-anak!"
"Halah, malu-malu kucing tapi postingan di Instagram-nya bikin netizen se-sekolah kena serangan jantung!" bentak Sheila bercanda.
Gadis itu menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Nadira. Layar itu menampilkan postingan terbaru di akun media sosial pribadi Nadira yang diunggah kemarin malam—sebuah foto estetis berlatar belakang perbukitan teh Puncak yang berkabut. Di dalam foto tersebut, tampak dua buah tangan yang saling menggenggam sangat erat di atas meja kayu.
Tangan kecil Nadira yang bersih beradu dengan tangan kekar berjemari kokoh milik Abiyasa yang melingkarkan jam tangan Rolex mewahnya.
Di bawah foto itu, Nadira menuliskan caption singkat: 'Rumah hangat di tengah udara dingin. 🍵❤️'
"Coba jelaskan pada sahabatmu yang jomblo ini, Nyonya Nadira!" goda Sheila seraya menunjuk-nunjuk foto genggaman tangan tersebut. "Ini maksudnya apa coba? Tangan Pak Abiyasa dipegang erat banget kayak takut hilang! Ujung jarinya saling menyatu begitu, estetik banget tapi bikin sirik satu dunia!"
Nadira menutupi wajahnya yang panas menggunakan kedua telapak tangan. "Sheilaaa! Itu... itu foto biasa aja pas kita lagi minum teh di gazebo!"
"Biasa aja mata kamu!" seru Sheila tertawa heboh. "Lihat nih kolom komentarnya!
Anak-anak sekolah pada heboh! Si Cinta kelas IPS komen 'Aduh potek hatiku lihat jam tangannya Pak CEO', terus si Budi komen 'Fix ini mah postingan pamer kebahagiaan sejati'. Kamu tahu nggak, foto genggaman tangan kamu ini udah di-screenshot sama separuh anak Garuda Mulia!"
"Masa sih?!" Nadira buru-burung merogoh saku roknya dan membuka ponselnya sendiri. Benar saja, notifikasi di akun media sosialnya sudah meledak dengan ratusan tanda suka dan puluhan komentar dari teman-teman sekolahnya.
Bahkan ada satu komentar dari akun bercentang biru milik ibu mertuanya, Mama Rahmi: 'Aduh anak mantu Mama romantis banget! Nanti pulang dari Puncak mampir ke rumah Mama ya, bawa cucu... eh maksud Mama bawa oleh-oleh teh Puncak! 🤪❤️'
Membaca komentar dari ibu mertuanya, mata Nadira makin melotot kaget. "Ya ampun, Mama Rahmi ikut-ikutan komen!"
Sheila meledak dalam tawa sampai memegang perutnya. "Mama mertua kamu gaul banget, Nad! Tapi serius deh, lihat foto genggaman tangan kalian itu... kelihatan banget kalau Pak Abiyasa tuh ngebikin kamu sebagai pusat dunianya. Cara genggamannya protektif banget!"
Nadira menurunkan ponselnya, tersenyum malu-malu seraya mengingat kehangatan jemari Abiyasa yang tak pernah melepaskan tangannya sepanjang akhir pekan kemarin. "Mas Abi emang... baik banget, Sheil. Dulu aku pikir dia dingin kayak es, tapi sekarang dia manis banget."
"Manis apa manis banget?" goda Sheila seraya mencolek dagu Nadira. "Terus gimana rasanya liburan berdua aja sama CEO ganteng? Nggak ada gangguan kalkulus, kan?"
"Gak ada, tapi..." Nadira menggantungkan kalimatnya, mengingat momen saat Abiyasa mengajari dan membantunya memfoto di kebun teh.
"Tapi apa? Ayo ngaku! Jangan ada yang ditutup-tutupin dari aku!" desak Sheila kepo.
"Tapi dia posesif banget!" adu Nadira seraya memutar matanya gemas. "Masa pas aku mau minta tolong Pak Suma buat fotoin aku di kebun teh, Mas Abi langsung melarang! Katanya dialah satu-satunya fotografer pribadi aku dan nggak boleh ada orang lain yang fotoin aku!"
Sheila menepuk jidatnya sendiri seraya berdecak takjub. "Gila! CEO Mahendra Group rela jadi fotografer pribadi demi istri kecilnya! Aduh Nadira, kamu itu benaran ratu yang menyamar jadi anak SMA!"
"Apaan sih, Sheila lebay!" potong Nadira seraya tertawa renyah, membalas dorongan bahu sahabatnya.
Di sudut kelas yang lain, suasana terasa jauh lebih damai dari biasanya. Raka, yang baru masuk membawa tumpukan berkas OSIS, sempat melirik ke arah Nadira dan Sheila yang sedang tertawa riang. Namun tidak ada lagi kilatan cemburu di matanya. Raka tersenyum tipis dan mengangguk sopan saat Nadira tak sengaja menatapnya, sebuah gestur kedewasaan yang dibalas senyuman ramah oleh Nadira.
Sementara itu, di lantai tertinggi gedung Mahendra Group, suasana ruang kerja sang CEO dipenuhi oleh aura yang tak biasa.
Abiyasa duduk di balik meja kerjanya yang luas. Di hadapannya, Hendra sedang melaporkan perkembangan akuisisi saham dan jadwal rapat mingguan. Namun, ada satu hal yang menarik perhatian sekretaris pribadi itu sejak pagi tadi.
Ponsel pribadi Abiyasa tergeletak di samping laptop dengan layar yang sengaja diset tetap menyala pada postingan media sosial milik Nadira—foto dua tangan yang saling menggenggam di Puncak.
Setiap kali ada sela dalam pembacaan laporan, jemari Abiyasa akan mengusap layar ponselnya, menatap foto genggaman tangan itu dengan sudut bibir yang terangkat membentuk senyuman hangat nan tipis.
Hendra menahan tawa gigih di balik papan jalannya. "Ehem... Pak Abiyasa.
Abiyasa mendongak, mendadak menguasai kembali ekspresi datarnya. "Ya, Hendra? Ada masalah dengan laporan keuangan?"
"Tidak ada, Pak. Semuanya sempurna," sahut Hendra seraya tersenyum penuh arti. "Saya hanya ingin menyampaikan bahwa foto genggaman tangan yang diunggah Nyonya Muda Nadira kemarin malam mendapatkan respon yang sangat positif dari publik dan relasi keluarga Mahendra."
Abiyasa berdeham canggung, sedikit membetulkan posisi dasinya. "Saya tidak memikirkan respon publik, Hendra. Foto itu hanya... foto biasa saat kami minum teh."
"Tentu saja, Pak. Foto 'biasa' yang membuat Anda tersenyum sendiri selama tiga puluh menit rapat internal tadi pagi," goda Hendra berani, memanfaatkan suasana hati bosnya yang sedang sangat baik.
Abiyasa menatap sekretarisnya itu dengan alis terangkat sebelah. "Hendra, sepertinya kamu butuh tambahan beban kerja minggu ini."
"Maaf, Pak Abiyasa! Laporan sudah selesai!" seru Hendra cepat seraya membungkuk hormat dan buru-buru melangkah keluar dari ruang kerja sebelum bosnya benar-benar mengeksekusi ancamannya.
Sepeninggal Hendra, Abiyasa kembali meraih ponselnya. Pria itu menatap foto jemari mereka yang saling mengunci di Puncak. Rasa hangat dan kepemilikan meluap-luap di dadanya. Dengan jemarinya yang lincah, ia mengetik sebuah pesan singkat untuk istrinya yang sedang berada di sekolah.
[Abiyasa]: Bagaimana sekolahmu hari ini, Nyonya Mahendra? Apakah foto tangan kita membuat teman-temanmu berhenti mengganggumu?
Di kelas 12 IPA 2, bel istirahat kedua baru saja berbunyi. Ponsel Nadira bergetar di atas meja.
Nadira tersenyum lebar membaca pesan dari Abiyasa. Ia melirik Sheila yang sedang sibuk mengunyah roti di sampingnya, lalu jemarinya dengan cepat membalas pesan tersebut.
[Nadira]: Sheila dari pagi ngeledek aku terus gara-gara foto itu, Mas! Katanya tangan Mas Abi kelihatan posesif banget pas genggam tanganku. Pipi aku sampai pegel gara-gara blushing terus! 🙈
Balasan dari Abiyasa masuk dalam hitungan detik.
[Abiyasa]: Sahabatmu benar. Tangan itu memang posesif, dan tangan itu akan selalu menggenggammu ke mana pun kita pergi. Nanti sore saya jemput tepat waktu.
[Nadira]: Siap, Pak Bos Posesifku! Jangan lupa makan siang ya! ❤️
Nadira memeluk ponselnya di dada seraya tersenyum sangat manis. Binar bahagia memancar jelas dari matanya. Perjalanan pernikahan yang semula berawal dari perjodohan tanpa cinta di atas selembar kertas wasiat kini telah menjelma menjadi kisah cinta paling indah, di mana dua tangan yang saling menggenggam telah berjanji untuk tidak akan pernah saling melepaskan.