Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.
Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.
Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.
Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.
Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29: Perasaan yang Sulit Dijelaskan
Beberapa menit kemudian...
Mobil Gunawan akhirnya berhenti tepat di depan sebuah butik mewah. Bangunan itu tampak elegan dengan dinding kaca besar dan pencahayaan terang yang membuat suasana di dalamnya terlihat begitu berkelas.
Gunawan mematikan mesin mobil. “Kita sudah sampai,” ucapnya.
Adrian dan Nadira segera turun dari mobil. Seperti yang sudah direncanakan, Adrian sudah berganti pakaian. Kini pria itu mengenakan setelan lengkap seorang pengawal.
Kemeja hitam yang rapi dipadukan dengan celana panjang hitam dan jas formal membuat penampilannya terlihat jauh lebih berwibawa. Rambutnya juga sudah ditata dengan rapi.
Nadira yang sejak tadi menggoda Adrian mendadak terdiam. Matanya membulat ketika melihat penampilan pria itu. “Wah...” gumamnya tanpa sadar.
Adrian menoleh. “Kenapa?”
Nadira masih menatapnya dari atas sampai bawah.
Untuk beberapa detik, wanita itu benar-benar terpaku.
Astaga... kalau pengawalnya setampan ini, aku juga mau dikawal. Pikiran itu membuat Nadira tidak mampu menahan tawanya.
“Hahaha...”
Adrian mengerutkan kening. “Kamu kenapa ketawa?”
Nadira buru-buru menutup mulutnya. “Tidak... tidak apa-apa.”
“Lalu kenapa ketawa?”
Nadira kembali memperhatikan penampilan Adrian. Senyum jahil muncul di wajahnya. “Kalau pengawalnya setampan ini, aku juga mau dikawal,” godanya sambil terkekeh.
Adrian langsung menghela napas panjang. “Mulai lagi deh jahilnya.”
Nadira tertawa semakin geli. “Serius. Kamu cocok sekali memakai pakaian seperti itu.”
Gunawan yang berdiri di samping mereka ikut tersenyum melihat tingkah Nadira. “Sudah, jangan menggoda Adrian terus. Kita masih punya banyak hal yang harus disiapkan.”
Nadira mengangguk. “Baik, Om.”
Adrian menatap Nadira sekilas. “Dan kamu juga jangan kebanyakan ketawa.”
Nadira mengangkat alis. “Kenapa?”
“Nanti orang mengira aku sedang mengawal orang gila.”
Mata Nadira langsung membesar. “Adrian!”
Gunawan spontan tertawa. “Hahaha... sudah, sudah. Kalian jangan bertengkar di sini.”
Nadira mendengus sambil memalingkan wajah. “Dasar pengawal nyebelin.”
Adrian hanya tersenyum tipis.
Gunawan kemudian memberi isyarat agar mereka masuk. “Sudah-sudah. Nadira sekarang giliran kamu, pilih gaun yang ingin kamu pakai."
Nadira mengangguk, lalu segera memilih gaun yang sangat elegan tapi tidak terlalu mencolok. Apalagi dia kali ini harus berpura-pura menjadi calon istri om nya sendiri.
Beberapa saat kemudian...
Nadira akhirnya selesai memilih pakaian yang akan dikenakannya. Setelah dibantu oleh pegawai butik, ia masuk ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.
Sementara itu, Adrian dan Gunawan masih menunggu di luar. Adrian berdiri dengan sikap tegap seperti seorang pengawal profesional.
Sesekali ia melirik ke arah ruang ganti, sementara Gunawan sibuk berbicara dengan pegawai butik mengenai persiapan pakaian untuk acara malam nanti.
Tak lama kemudian, tirai ruang ganti perlahan terbuka.
Nadira melangkah keluar. “Sudah selesai, Om.”
Gunawan yang sedang berbicara langsung menghentikan ucapannya. Adrian juga spontan menoleh. Keduanya terdiam untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.
Nadira kini mengenakan gaun panjang yang sederhana, tetapi terlihat begitu elegan. Potongan gaun itu membuat penampilannya tampak anggun tanpa terlihat berlebihan. Rambutnya yang sebelumnya hanya diikat kini ditata dengan rapi, membuat wajah cantiknya terlihat semakin jelas.
Nadira berjalan mendekat sambil tersenyum kecil. “Kenapa kalian diam?”
Gunawan masih menatapnya dengan ekspresi terkejut. “Nadira...”
“Iya, Om?”
Gunawan tersenyum lebar. “Om hampir tidak mengenalimu.”
Nadira tertawa kecil. “Memangnya aku terlihat berbeda, Om?”
“Bukan hanya berbeda,” jawab Gunawan. “Kamu terlihat sangat cantik dan anggun.”
Nadira langsung tersipu. “Ah, Om bisa saja.”
Sementara itu, Adrian masih terdiam.
Nadira kemudian menoleh kepadanya. “Adrian?”
Pria itu seperti baru tersadar dari lamunannya.
“Hm?”
Nadira mengerutkan kening. “Kamu kenapa?”
Adrian segera mengalihkan pandangan. “Nggak apa-apa.”
Nadira tersenyum jahil. “Dari tadi aku lihat kamu diam aja.”
Adrian berdeham pelan. “Hmm... aku hanya memastikan pakaianmu cocok untuk acara nanti.”
“Oh?” Nadira mendekat sedikit. “Jadi menurutmu bagaimana?”
Adrian kembali menatapnya. Untuk sesaat, tatapan mereka bertemu. Nadira tampak semakin cantik dengan penampilan barunya.
Adrian akhirnya berkata singkat, “cocok.”
Nadira langsung tersenyum puas. “Hanya cocok?”
Adrian menghela napas. “Cantik.”
Senyum Nadira seketika semakin lebar. “Nah, gitu dong.”
Gunawan yang melihat percakapan keduanya hanya tertawa kecil. “Sepertinya Om tidak perlu khawatir lagi. Dengan penampilan seperti ini, Nadira benar-benar cocok menjadi pasangan Om di acara nanti.”
Nadira mengangguk. “Kalau begitu, aku siap Om.”
Adrian kembali berdiri tegap di samping mereka. Namun kali ini, wajahnya terlihat sedikit berbeda.
Entah kenapa, sejak Nadira keluar dari ruang ganti, pria itu beberapa kali tanpa sadar melirik ke arahnya.
Nadira yang menyadarinya kembali tersenyum jahil.
“Adrian.”
“Kenapa?”
“Jangan terlalu sering melihatku.”
Adrian mengerutkan kening. “Kenapa?”
Nadira terkekeh. “Nanti orang mengira kamu jatuh cinta pada calon istri bosmu sendiri, hahaha...”
Adrian langsung terdiam.
Gunawan menahan tawa, sementara Nadira tertawa kecil melihat wajah Adrian yang mendadak kaku.
“Sudah, ayo. Kita masih harus membeli pakaian untuk Om,” ucap Nadira sambil berjalan lebih dulu.
Adrian menghela napas dan segera mengikutinya. “Dia memang suka sekali menggodaku.”
Gunawan tersenyum sambil berjalan di belakang mereka. “Biarkan saja, bukankah suasana seperti ini lebih baik daripada terus memikirkan kejadian tadi?”
Adrian tidak menjawab, namun tanpa disadarinya, sudut bibir pria itu sedikit terangkat.
Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya meninggalkan butik dan melanjutkan perjalanan menuju gedung tempat acara gathering perusahaan akan berlangsung.
Kali ini Adrian yang mengemudikan mobil. Gunawan duduk di kursi depan, sementara Nadira berada di kursi belakang sambil sesekali memeriksa penampilannya melalui kaca kecil di tangannya.
Suasana di dalam mobil cukup tenang. Namun Adrian beberapa kali melirik kaca spion, memastikan Nadira baik-baik saja.
Tanpa sadar, pandangannya kembali tertuju pada wanita itu. Gaun yang dikenakan Nadira membuat penampilannya terlihat jauh berbeda dari biasanya.
Adrian segera mengalihkan pandangan. "Fokus menyetir," gumamnya dalam hati.
Beberapa puluh menit kemudian, mobil mereka akhirnya tiba di depan sebuah gedung mewah tempat acara gathering berlangsung.
Gedung itu sudah dipenuhi kendaraan para tamu undangan. Lampu-lampu terang menghiasi bagian depan, sementara sejumlah wartawan dan awak media berdiri di area yang telah disediakan untuk meliput kedatangan para tamu penting.
Adrian memarkirkan mobil di area yang telah disiapkan. Gunawan turun lebih dulu, kemudian Nadira menyusul.
Begitu mereka keluar dari mobil, beberapa kamera langsung mengarah kepada Gunawan dan Nadira.
"Pak Gunawan! Pak, boleh wawancara sebentar?"
"Pak, siapa wanita yang bersama Anda?"
"Apakah wanita ini keluarga Bapak?"
Beberapa wartawan mulai mengajukan pertanyaan.
Gunawan hanya tersenyum sambil berjalan tenang.
Nadira berdiri di sampingnya, berusaha menjaga ekspresi agar tetap terlihat percaya diri.
Sesuai rencana, dua orang pengawal Gunawan sudah berada tidak jauh dari mereka. Beberapa pengawal lainnya tetap menunggu di dalam kendaraan untuk berjaga-jaga.