Mobil mogok di depan sebuah rumah makan sederhana mempertemukan Dawin, pasukan khusus elite yang tegas namun berhati lembut, dengan Kwila, perawat baik hati dari keluarga Lidar. Pertemuan yang tak terduga itu berubah menjadi cinta yang tumbuh di tengah bahaya, ketika keluarga Kwila justru menjadi incaran organisasi kriminal BlackSystem yang begitu ditakuti. Antara tugas melindungi negara dan menjaga wanita yang dicintainya, Dawin harus menghadapi pengkhianatan, pengejaran, dan pertaruhan nyawa sementara Kwila belajar bahwa cinta sejati kadang datang justru saat dunia terasa paling berbahaya. Namun kisah ini tak berhenti di pelaminan. “Dawin dan Kwila” adalah saga keluarga yang membentang lintas generasi merayakan pernikahan, kelahiran, perjuangan mengejar mimpi, hingga anak-anak mereka tumbuh dewasa dan menemukan cinta serta jalan hidup masing masing. Dari aksi menegangkan hingga kehangatan meja makan keluarga, novel 150 bab ini adalah perjalanan panjang tentang keberanian, penebusan, dan bagaimana kebaikan kecil bisa berbuah kebahagiaan yang tak pernah berhenti bertumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sore ditaman kota
Hari yang dinantikan tersebut akhirnya tiba, dengan Dawin yang menjemput Kwila menggunakan mobilnya yang telah selesai diperbaiki beberapa waktu lalu, mengenakan pakaian kasual yang jauh berbeda dari seragam militer yang biasa dia kenakan, membuat penampilannya terlihat lebih santai dan ramah bagi siapa saja yang melihatnya. Kwila menyambut kedatangannya dengan senyum yang begitu cerah, mengenakan gaun sederhana namun terlihat begitu anggun dikenakannya tersebut.
"Kamu cantik banget hari ini, Kwila," puji Dawin dengan tulus, membuka pintu mobil untuk Kwila dengan penuh kesopanan yang membuat gadis tersebut sedikit tersipu malu.
"Makasih, Mas. Kamu juga keren, beda banget dari biasanya yang selalu pake seragam," jawab Kwila sambil tertawa kecil, memasuki mobil tersebut dengan perasaan bahagia yang begitu meluap, mengantisipasi kencan pertama mereka yang telah lama dia nantikan tersebut.
Perjalanan menuju taman kota tersebut diisi dengan obrolan ringan dan tawa yang begitu alami, menunjukkan betapa nyamannya mereka berdua satu sama lain meski baru beberapa kali bertemu sebelumnya. Sesampainya di taman tersebut, mereka berjalan berdampingan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi pepohonan rindang, menikmati suasana sore yang begitu tenang dan damai.
"Kwila, saya seneng banget bisa dapetin waktu buat jalan-jalan santai kayak gini bareng kamu," ujar Dawin sambil tersenyum, menikmati momen sederhana namun begitu bermakna tersebut, jauh dari berbagai kekhawatiran mengenai tugas dan tanggung jawab yang biasa membebani pikirannya sehari-hari.
"Saya juga, Mas. Rasanya udah lama banget nggak sempet refreshing kayak gini, biasanya cuma kerja terus antara rumah sakit sama bantu-bantu di resto," jawab Kwila, mengungkapkan kelegaan yang begitu mendalam bisa sejenak melupakan berbagai kekhawatiran yang selama ini membebani pikirannya, baik mengenai kondisi keuangan keluarga maupun kejanggalan yang dia temukan di rumah sakit tempatnya bekerja.
Mereka berdua kemudian duduk di sebuah bangku taman yang menghadap kolam kecil dengan beberapa ekor bebek yang berenang santai di permukaan air tersebut, menikmati pemandangan sederhana namun begitu menenangkan tersebut sambil melanjutkan percakapan mereka yang semakin mengalir dengan begitu personal.
"Kwila, boleh saya tanya sesuatu yang agak personal?" tanya Dawin dengan nada yang sedikit lebih serius, mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan sesuatu yang telah lama dia pendam sejak pertemuan pertama mereka.
"Boleh, Mas. Ada apa?" jawab Kwila, penasaran dengan perubahan nada suara Dawin tersebut.
"Sejak pertama kali ketemu kamu di resto waktu itu, saya ngerasa ada sesuatu yang beda. Bukan cuma karena saya kagum sama caranya kamu ngerawat keluarga kamu, tapi juga karena kamu bikin saya ngerasa nyaman dengan cara yang belum pernah saya rasain sebelumnya," ujar Dawin dengan penuh ketulusan, mengungkapkan perasaannya yang telah lama dia simpan tersebut secara terbuka untuk pertama kalinya.
Mendengar pengakuan tersebut, jantung Kwila berdebar begitu kencang, merasakan kebahagiaan yang meluap-luap mendengar kata-kata tulus dari pemuda yang telah mencuri perhatiannya sejak pertemuan pertama mereka tersebut. "Mas Dawin, saya juga ngerasain hal yang sama. Sejak kejadian itu, saya jadi sering mikirin Mas Dawin, bahkan waktu lagi kerja sekalipun."
Pengakuan tersebut membuat Dawin merasakan kebahagiaan yang begitu besar, menyadari bahwa perasaannya selama ini ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. "Kwila, boleh saya minta izin untuk lebih serius mendekati kamu? Saya pengen kita punya hubungan yang lebih jelas, bukan cuma sekadar deket-deket biasa."
Kwila tersenyum lebar mendengar permintaan tersebut, air mata bahagia mulai menggenang di sudut matanya. "Boleh banget, Mas. Saya juga pengen kita punya hubungan yang lebih serius."
Momen tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan hubungan mereka, menandai dimulainya babak baru yang lebih resmi dan bermakna, jauh dari sekadar pertemuan kebetulan yang telah mempertemukan mereka pertama kali beberapa minggu lalu. Mereka berdua duduk berdampingan dalam keheningan yang penuh kebahagiaan tersebut, menikmati semilir angin sore yang berembus lembut di sekitar taman kota tersebut.
"Kwila, saya juga mau jujur soal sesuatu yang mungkin bakal bikin kamu khawatir," ujar Dawin, mengubah topik pembicaraan menjadi lebih serius mengenai tugas dan tanggung jawabnya sebagai anggota pasukan khusus yang sedang menyelidiki organisasi BlackSystem tersebut.
"Ada apa, Mas?" tanya Kwila dengan nada yang menunjukkan sedikit kekhawatiran, menyadari bahwa perubahan nada suara Dawin tersebut menandakan sesuatu yang cukup serius.
"Saya lagi ditugasin buat nyelidiki BlackSystem lebih dalam, termasuk kemungkinan keterlibatan mereka dalam praktik ilegal di rumah sakit tempat kamu kerja. Saya khawatir, kalau penyelidikan ini makin dalam, kamu bisa jadi sasaran mereka juga," jelas Dawin dengan penuh kejujuran, ingin memastikan bahwa Kwila memahami risiko yang mungkin dia hadapi ke depannya.
Mendengar penjelasan tersebut, Kwila merasakan sedikit ketakutan, namun juga rasa percaya yang begitu besar terhadap kemampuan Dawin untuk melindunginya. "Saya percaya sama Mas Dawin. Tapi saya juga akan tetap hati-hati, dan kalau ada apa-apa yang mencurigakan lagi, saya bakal langsung kasih tau Mas."
"Terima kasih, Kwila. Saya janji, saya akan lakuin semua yang saya bisa buat lindungin kamu dan keluarga kamu," jawab Dawin dengan penuh ketegasan, menggenggam tangan Kwila dengan lembut sebagai simbol komitmen yang baru saja mereka ikrarkan bersama tersebut.
Sore itu berlanjut dengan berbagai percakapan ringan lainnya, membahas berbagai impian dan harapan masing-masing mengenai masa depan, sebuah percakapan yang begitu hangat dan penuh makna, menandai dimulainya babak baru dalam hubungan mereka yang penuh dengan cinta namun juga bayang-bayang bahaya yang mengintai dari organisasi kriminal yang begitu berbahaya tersebut.
Menjelang matahari terbenam, mereka berdua berjalan kembali menuju mobil, tidak menyadari bahwa dari kejauhan, sepasang mata yang penuh dendam mengawasi setiap gerak-gerik mereka tersebut, mencatat dengan seksama rute yang mereka lalui serta kebiasaan mereka menghabiskan waktu berdua di tempat tersebut, sebuah informasi berharga yang akan segera dimanfaatkan untuk melancarkan rencana jahat yang telah lama disusun oleh Piku dan Rangga tersebut, mengancam kebahagiaan yang baru saja mereka bangun dengan begitu indah tersebut.
Sebelum meninggalkan taman tersebut, Dawin mengajak Kwila untuk berhenti sejenak di sebuah kedai es krim kecil di dekat pintu masuk taman, membelikan dua cup es krim rasa vanila yang menjadi favorit mereka berdua tersebut. "Ini buat nutup hari yang indah ini," ujar Dawin sambil menyerahkan salah satu cup tersebut kepada Kwila.
"Makasih, Mas. Hari ini bener-bener jadi salah satu hari paling bahagia buat saya," jawab Kwila sambil menikmati es krim tersebut, tersenyum bahagia mengenang seluruh percakapan mendalam yang baru saja mereka bagikan bersama.
Dalam perjalanan pulang menuju rumah Kwila, mereka berdua masih berbincang dengan penuh kehangatan, tidak menyadari sama sekali bahwa bahaya besar sedang mengintai dari balik bayang-bayang gelap yang mengawasi kebahagiaan mereka tersebut, sebuah bahaya yang akan segera mengubah seluruh arah perjalanan cinta mereka menjadi pertaruhan hidup dan mati yang jauh lebih menegangkan dari yang pernah mereka bayangkan sebelumnya.