Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.
Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.
Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.
"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Mencari Kebenaran dalam Kesunyian
Pintu kamar tertutup rapat. Kunci diputar dari luar. Aku terdiam terpaku di tempat, menatap pintu kayu kokoh yang kini memisahkanku dari dunia luar. Dari sisinya, dari kebebasanku, dan dari kepercayaan Arga. Langit-langit kamar tampak berputar pelan. Napasku tercekat. Semua terjadi begitu cepat, bagai badai yang menyapu bersih kedamaian yang baru saja kurasakan.
Aku melangkah perlahan ke tepi jendela, menatap hujan yang turun tiada henti. Air mata kembali merembes, namun kali ini tak jatuh begitu saja. Kumenatap pantulan diriku di kaca jendela—wajah pucat, mata bengkak, namun di sana juga terpancar secercah tekad yang tak akan padam. Aku tidak boleh menyerah. Tidak boleh lemah. Jika aku menyerah sekarang, maka takdir tragis Freya akan benar-benar terulang.
Malam itu, kesunyian menjadi sahabat sekaligus penyiksaku. Tak ada yang datang membawakan makanan. Tak ada yang menyapa. Bahkan pelayan pun enggan mendekat, seakan aku membawa wabah mematikan. Namun dalam kesendirian itulah aku mulai menyusun kembali kejadian siang tadi, sepotong demi sepotong.
Hanya aku dan Laras di ruangan itu. Aku menyiapkan obat, membalas punggungku sejenak untuk mengambil air, dan saat berbalik... Laras sudah berdiri di dekat meja. Wajahnya sempat terlihat kaku sesaat sebelum tersenyum. Hanya itu sekejap saja, namun kini teringat jelas di benakku.
Ia melakukannya saat aku berpaling. Ia memasukkan sesuatu ke dalam ramuan obat itu dengan gerakan secepat kilat. Dan tak ada saksi. Atau... benarkah tak ada saksi sama sekali?
Pikiranku meloncat pada hal kecil yang sering terabaikan. Di sudut ruangan tempat Ayah beristirahat, terdapat jendela yang menghadap ke kebun belakang. Di bawah pohon kamboja besar itu, sering kali ada penjaga yang berpatroli. Jika ia melihat ke arah jendela pada saat yang tepat... mungkin saja ia menangkap gerak-gerik Laras dari balik kaca.
Aku harus bertanya padanya. Namun bagaimana caranya jika aku dikurung di dalam kamar?
Pagi menyingsing. Hujan masih menyisakan rintik halus. Tepat saat jam menunjukkan pukul enam pagi—waktu pergantian jaga—aku mendengar langkah kaki berat melintas di depan pintu kamarku. Tanpa ragu, aku mengetuk pintu cukup keras.
"Pak! Tunggu sebentar! Kumohon!"
Langkah itu terhenti. Suara berat terdengar dari sebalik pintu. "Nyonya... mohon maaf, saya tidak berhak membukakan pintu atas perintah Tuan Arga."
"Saya tidak memintamu membukanya!" seruku pelan namun mendesak. "Saya hanya ingin bertanya sesuatu. Kemarin siang, sekitar jam dua belas, saat kau berjaga di kebun belakang... apakah kau melihat sesuatu di jendela kamar Ayah? Sesuatu yang mencurigakan?"
Ada keheningan sejenak. Napas pria itu terdengar berat sebalik pintu. "Saya... saya melihat seseorang, Nyonya. Wanita berbusana putih. Ia mendekati meja minum sebentar, lalu buru-buru menjauh kembali ke tempat duduknya. Saat itu saya kira hanya merapikan barang-barang..."
Jantungku berdegup kencang. Itu sudah cukup! "Wanita berbusana putih itu bukan aku! Aku mengenakan gaun biru muda kemarin! Itu Laras! Dialah yang berdiri di meja itu saat aku tak melihat!"
Aku berhenti sejenak, menahan emosiku agar tak meluap. "Pak, kumohon... sampaikan pesan ini kepada Tuan Arga. Katakan padanya, saksi ada. Penjaga kebun melihat Laras mendekati obat itu saat aku sedang berpaling. Kumohon... percayalah padaku sekali lagi."
"Akan saya sampaikan, Nyonya," jawabnya pelan, lalu langkah kakinya menjauh perlahan.
Jam demi jam berlalu bagai tahun. Setiap suara langkah kaki yang mendekat membuat hatiku berpacu kencang. Namun Arga tak kunjung datang. Apakah pesan itu tak sampai? Atau... ia masih tak percaya padaku?
Hingga senja mulai menjelang, pintu kamarku akhirnya terbuka. Bukan Arga yang berdiri di sana, melainkan Laras. Wajahnya tampak puas, seakan ia telah memenangkan segalanya. Ia melangkah masuk perlahan, lalu menutup pintu kembali rapat-rapat.
"Kau kira pesanmu akan didengar, Freya?" suaranya berbisik dingin, penuh kebencian. "Penjaga itu sudah aku beri pesan agar diam. Arga tak akan pernah mempercayai kata-kata seorang pelayan rendahan dibandingkan bukti yang terlihat jelas. Semua sudah tertata sempurna. Ayah masih lemah, semua orang membencimu, dan Arga... perlahan mulai melupakanmu."
Aku berdiri gemetar menahan amarah, menatap matanya tajam tanpa mundur selangkah pun. "Kau tidak akan menang selamanya, Laras. Kebohongan tak akan mampu menutupi kebenaran yang nyata. Suatu hari nanti... Arga akan mengetahui segalanya. Dan saat itu tiba..."
"Sampai saat itu tiba... kau sudah lenyap dari sini!" potongnya tajam, matanya menyala penuh amarah. "Bersiaplah, Freya. Malam ini atau besok pagi... takdirmu yang sesungguhnya akan segera tiba. Tak ada yang bisa menyelamatkanmu!"
Laras berbalik pergi meninggalkanku yang terpaku gemetar. Ancaman itu bukan sekadar gertakan. Ia benar-benar berniat melenyapkanku sebelum kebenaran terungkap. Napasku tercekat. Aku tak bisa hanya berdiam diri menunggu ajal menjemput. Aku harus keluar. Harus menemui Arga sendiri. Meski berat, meski berbahaya... aku harus berjuang hingga tetes darah terakhir.
Lanjut ke Bab 11? 😊 Bahaya makin nyata, Laras berniat melenyapkan Freya!