Sena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya—sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir—karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiSena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Firasat buruk Estella terbukti dalam hitungan menit. Sedan hitam yang dikendarai Edwin perlahan meninggalkan area jalan aspal yang mulus, berbelok memasuki sebuah jalan setapak tanah yang sempit dan berdebu. Pohon-pohon pinus yang tinggi dan lebat mulai mengepung kiri dan kanan jalan, menghalangi cahaya kota.
"A-anjing..." bisik Estella panik setengah mati. Matanya melotot memandangi pepohonan gelap di luar jendela. "Ini mah fix area hutan! Kita mau ngapain ke hutan malam-malam begini, Pak Edwin?! Mau nyari wangsit atau mau ngubur mayat?!"
Edwin tidak menjawab. Mobil akhirnya berhenti di tengah-tengah area kliring hutan yang sangat sepi. Hanya ada suara jangkrik dan tiupan angin malam yang berembus dingin menusuk tulang.
"Silakan turun, Nona. Ikuti jalan setapak di depan," ujar Edwin datar sambil membukakan pintu mobil.
Dengan kaki gemetaran dan napas memburu, Estella melangkah keluar. Ia berjalan tertatih-tatih menembus kegelapan hutan yang lembap, mengikuti petunjuk Edwin dari belakang.
Hingga akhirnya, di sebuah area terbuka di tengah hutan yang disinari cahaya bulan purnama, sosok itu berdiri.
Lucian Voss atau lebih tepatnya, sang Vex Noir dalam mode perburuan murni.
Pria itu mengenakan kemeja hitam tebal dengan celana bahan pas badan. Lengan kemejanya digulung rapi hingga sikut, memperlihatkan otot lengan bawahnya yang kokoh. Sebagian wajah tampannya tersiram cahaya rembulan yang keperakan, menciptakan kontras yang teramat dramatis di antara bayangan pepohonan malam. Iris mata sehitam jelaganya memantulkan kilatan dingin yang mematikan.
Di balik rasa takut yang mencengkeram dadanya, jiwa jomblo Estella lagi-lagi berontak kagum.
Anjirrr... batin Estella terperangah dengan mulut sedikit terbuka. Ketampanan ini cowok di tempat gelap cuma berbekal sinar bulan aja udah luar biasa banget! Muka pahatan patung Yunani digabung aura pembunuh dingin... bener-bener perpaduan visual ilegal yang meresahkan jiwa dan raga!
Estella menelan ludah, memaksakan senyum ringisnya yang paling nekat. Ia melangkah sedikit lebih dekat dan melambaikan tangannya pelan.
"H-hai, Ganteng..." sapa Estella dengan nada suara yang agak bergetar. "Kangen ya, makanya malam-malam begini nyuruh aku ke hutan?"
Lucian tidak membalas sapaan itu. Pria itu melangkah tenang mendekati Estella. Setiap pijakan kakinya di atas tanah basah terdengar begitu mengintimidasi. Ketika jarak mereka hanya tersisa setengah meter, tangan jangkung Lucian bergerak secepat kilat.
SRET!
Lucian mencengkeram pundak Estella dengan kuat, lalu menarik tubuh gadis itu ke depan sebelum akhirnya mendorongnya tanpa ampun!
"AAAH!"
Estella kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terlempar ke depan dan tersungkur jatuh ke atas tanah hutan yang dingin dan lembap.
"Aduh! Sakit tau!" omel Estella seraya meringis kesakitan. Kedua telapak tangannya menahan tubuhnya di atas tanah, mencoba bangkit.
Namun, Estella merasa ada yang aneh. Tanah di bawah telapak tangannya terasa teramat lembek, basah, dan lengket bukan sekadar lumpur atau embun pagi biasa. Aroma amis yang teramat pekat mendadak menjejaki hidungnya, jauh lebih kuat dari udara hutan.
Dengan jantung berdegup kencang, Estella menundukkan kepalanya, menatap telapak tangannya sendiri dalam kegelapan.
Cairan merah pekat yang kental melapisi seluruh jemarinya hingga pergelangan tangan.
Estella berkedip lambat. Ketika matanya makin menyesuaikan diri dengan remang cahaya bulan, darah di seluruh tubuhnya serasa berhenti mengalir seketika.
Ia tidak tersungkur di atas rumput basah.
Estella jatuh dan terduduk tepat di tengah-tengah genangan darah segar yang melimpah, di antara potongan-potongan daging, organ dalam, dan sisa-sisa tubuh manusia yang terkoyak tak berbentuk yang berserakan di atas tanah hutan!
"HYAAAARKHHH!"
Jeritan histeris Estella membelah kesunyian malam hutan pinus tersebut!