Indonesia
NovelToon NovelToon
Keluarga Suamiku Adalah Masalahku

Keluarga Suamiku Adalah Masalahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ovelia.shin

Nadira menikah dengan Arga karena percaya bahwa laki-laki itu akan menjadi tempatnya pulang. Namun setelah menikah, ia sadar bahwa yang ia nikahi bukan hanya Arga—melainkan seluruh keluarganya.
Ibu mertua yang selalu merasa berhak mengatur kehidupan mereka. Adik ipar yang iri dan gemar mengadu domba.

Akankah Nadira tetap bersabar menghadapi sikap keluarga suaminya.Sementara Arga sang suami tak bisa bersikap tegas.Karena baginya Nadira dan keluarga sangat penting bagi hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovelia.shin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Selalu Aku yang Mengalah

Hari pertama Nadira tinggal di rumah keluarga Arga seharusnya menjadi awal kehidupan barunya.

Namun sejak pagi, ia sudah merasa seperti orang asing.

Nadira berdiri di dapur, menyiapkan sarapan untuk semua orang.

Ia membuat telur, sup ayam, dan beberapa lauk sederhana.

Ketika semuanya selesai, ia membawa hidangan ke meja makan.

“Sudah selesai, Bu.”

Bu Ratih hanya melirik.

“Telurnya terlalu matang.”

Nadira terdiam.

“Maaf, Bu. Nanti saya buatkan lagi.”

“Tidak perlu.”

Rani yang baru turun dari tangga langsung duduk.

“Wah, ada sup ayam.”

Nadira tersenyum.

“Iya. Kak Rani suka, kan?”

“Suka.”

Rani mengambil satu sendok.

Kemudian wajahnya berubah.

“Ini pakai seledri?”

“Iya.”

“Aku tidak suka seledri.”

Nadira terkejut.

“Bukannya kemarin Kakak bilang suka?”

Rani tersenyum kecil.

“Mungkin kamu salah dengar.”

Nadira tidak menjawab.

Ia mengambil mangkuk sup.

“Aku buatkan yang lain.”

“Tidak usah.”

Bu Ratih tiba-tiba berkata,

“Kalau mau tinggal di rumah orang, seharusnya tahu kebiasaan penghuninya.”

Nadira menunduk.

“Baik, Bu.”

Saat itulah Arga turun.

Ia melihat istrinya berdiri di dapur.

“Nadira.”

Nadira menoleh.

“Ya?”

“Kamu belum makan?”

“Belum.”

Arga melihat meja makan.

“Kamu yang masak semuanya?”

Nadira mengangguk.

“Terima kasih.”

Senyum kecil muncul di wajah Nadira.

Namun belum sempat ia duduk, Rani berkata,

“Mas, supnya pakai seledri. Aku sudah bilang aku tidak suka.”

Arga menoleh kepada Nadira.

Nadira langsung menjelaskan,

“Kemarin Kak Rani bilang—”

“Tidak apa-apa,” potong Arga lembut.

Ia menatap Rani.

“Nanti jangan dimakan kalau tidak suka.”

Rani tersenyum.

“Nah, Mas paling mengerti aku.”

Nadira diam.

Arga melihat wajah istrinya.

“Kamu kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Arga mendekat.

“Aku tahu kamu sudah berusaha.”

Nadira tersenyum tipis.

“Aku tidak apa-apa, Ga.”

Arga menggenggam tangannya.

“Jangan terlalu dipikirkan.”

Kalimat sederhana itu justru membuat hati Nadira terasa sedikit hangat.

Setidaknya Arga tahu.

Setidaknya suaminya tidak menyalahkannya.

Namun ketenangan itu hanya bertahan sampai siang.

Nadira sedang merapikan kamar ketika Rani masuk tanpa mengetuk.

“Nadira.”

“Iya, Kak?”

“Kalungku kamu lihat?”

“Kalung yang kemarin?”

“Iya.”

“Tidak.”

Rani membuka laci meja Nadira.

Nadira mengerutkan kening.

“Kak, kenapa mencari di sini?”

“Karena terakhir aku melihatnya sebelum kamu masuk kamar.”

Nadira menatapnya.

“Maksud Kakak aku mengambilnya?”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Tapi Kakak mencari di barang-barangku.”

Rani terdiam.

Kemudian ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari laci.

Wajah Nadira berubah.

“Itu bukan milikku.”

Rani membuka kotak tersebut.

Kalungnya ada di dalam.

Keduanya terdiam.

Rani menatap Nadira.

“Kenapa ada di sini?”

“Aku tidak tahu.”

Rani langsung mengambil kalung itu.

“Aku akan bicara dengan Ibu.”

“Kak, tunggu.”

Namun Rani sudah pergi.

Nadira mengejarnya.

Di ruang keluarga, Bu Ratih sedang duduk bersama Arga.

Rani menunjukkan kalung itu.

“Bu, aku menemukannya di kamar Nadira.”

Arga langsung menoleh kepada Nadira.

Nadira panik.

“Ga, aku tidak mengambilnya.”

“Aku tahu.”

Jawaban Arga membuat Nadira terdiam.

Rani mengerutkan kening.

“Mas yakin?”

Arga mengangguk.

“Nadira bukan orang seperti itu.”

Nadira hampir menangis karena lega.

Namun Bu Ratih berkata,

“Arga, kamu jangan terlalu cepat membela istrimu.”

Arga terdiam.

“Kalau memang dia tidak mengambilnya, bagaimana kalung Rani bisa ada di kamarnya?”

“Aku tidak tahu, Bu.”

“Justru itu.”

Bu Ratih menatap Nadira.

“Sejak kamu datang, banyak hal berubah di rumah ini.”

Nadira menahan napas.

Arga segera berkata,

“Ibu, jangan menyudutkan Nadira.”

Bu Ratih terdiam.

Namun Arga kemudian menghela napas.

“Sudahlah. Jangan diperpanjang.”

Nadira menatap suaminya.

Ia tahu Arga membelanya.

Tetapi Arga juga kembali memilih jalan yang sama.

Menghentikan pertengkaran.

Tanpa mencari tahu siapa yang sebenarnya salah.

Malamnya, Nadira duduk sendirian di kamar.

Arga masuk beberapa menit kemudian.

Ia duduk di samping istrinya.

“Kamu masih kepikiran?”

Nadira mengangguk.

“Aku tahu kamu tidak salah.”

“Kalau kamu tahu aku tidak salah…”

Nadira menatapnya.

“Kenapa kamu selalu menyuruhku diam?”

Arga terdiam.

“Aku tidak menyuruhmu diam.”

“Lalu apa?”

“Aku hanya tidak ingin masalah dengan keluargaku semakin besar.”

Nadira tersenyum pahit.

“Jadi aku harus mengalah?”

Arga menggenggam tangannya.

“Untuk kali ini.”

Nadira menatap tangan mereka.

“Dan kalau besok terjadi lagi?”

Arga tidak menjawab.

“Kalau lusa terjadi lagi?”

Tetap diam.

Air mata mulai menggenang di mata Nadira.

“Aku takut suatu hari nanti kamu akan terbiasa melihat aku disakiti.”

Arga langsung menatapnya.

“Tidak akan.”

“Semoga.”

Nadira memalingkan wajah.

Ia tidak tahu bahwa di balik pintu kamar yang tertutup…

Rani berdiri diam.

Dan sebuah senyum tipis muncul di wajahnya.

Karena ia tahu satu hal.

Selama Arga tetap tidak tega melawan keluarganya sendiri—

Nadira akan selalu menjadi orang yang harus mengalah.

1
tanjiro azuma
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!