Indonesia
NovelToon NovelToon
Petualangan Mayanza

Petualangan Mayanza

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:721
Nilai: 5
Nama Author: Novita Tory

Berawal dari membaca buku yang ditemukan di lemari tua, Mayanza mempunyai kekuatan merapal mantra.
Kesalahan mengambil bunga teratai emas..
Menentukan nasib di Kehidupan Mayanza

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Hitam

Angin dingin dan sinar matahari menyengat membuat kulitku kering.

Raja Yuko menatapku.

Tidak menjawab pertanyaanku tentang hubungannya dengan Swanzi.

"Aku masuk dulu" ucapku.

Kakiku agak sakit.

Aku masuk ke dalam kamar.

Raja Yuko mengikutiku.

"Air mandimu sudah di siapkan" katanya.

wajahku memang sangat berdebu dan kotor.

Aku menuju tempat permandian membawa kain dan pakaian.

Disana aku bertemu pelayan Swanzi menatapku.

Aku curiga namun terus berjalan.

Mendekati sumur, beberapa wanita menimba air, melihatku dengan piyama biru navi.

Kudengar beberapa berkata.

"Dia kah yang akan membantu kita selamat" kata seorang wanita

wanita lain menjawab "Kudengar namanya Mayanza yang berarti awal atau permulaan".

Aku diam masuk kamar mandi, bak mandinya besar aku berendam dan menyelamkan kepala di dalamnya.

Ku dengar sayup-sayup suara kakek memanggilku dari kejauhan...

"Mayanza... Mayanza.. " aku masih mencari kakek di dalam air.

"Tok.. Tok" suara ketukan pintu yang keras membuatku keluar dari dalam air.

Aku membuka pintu dengan kesal.

untung aku mandi meamakai pakaian lengkap, masih menggunakan piyama.

"Ada apa! "

"Jangan mandi terlalu lama! " kata Raja Yuko

"Iya! " jawabku.

Kututup pintu dengan tidak sopan.

Mandi saja diteror.

Aku keluar kamar mandi tak lama setelah berganti pakaian.

Kukenakan celana kain hitam dan baju rajut lengan panjang.

Mereka keheranan. Aku tidak perduli.

Aku melangkah ke tempat berkumpul.

"Mayanza ada apa dengan pakaianmu? " tanya Swanzi

"Aku cukup dengan pakaian ku sendiri, Aku merasa nyaman bergerak" kataku

Tapi tidak dengan Raja Yuko.

"Ganti pakaianmu" katanya

"Apa kita meributkan pakaian disini atau mau selamat"

Tiba-tiba pedang di arahkan ke leherku oleh panglima. Semua terkejut. Leherku tergores.

Aku terkejut.

"Lancang!!!! Kau hanya tabib" Panglima megertak.

Raja Yuko berdiri sementara Swanzi di sampingku menyerahkan saputangannya berwarna hitam untuk mengusap darah di leherku.

Aku mengusapnya dengan tanganku lalu mengosok dengan lengan bajuku yang panjang.

"Sudahlah, kita makan hari ini kita akan berangkat perang di lapangan terbuka." perang macam apa lagi ini.

Jadi hari-hariku kembali bukan untuk mengobati tapi ikut berperang dan bertaruh nyawa.

Hebat Sekali Kamu Mayanza!! Ucapku dalam hati.

"Kau adalah pencuri, kau harus membayar kebaikan kami padamu" kata Swanzi berbisik.

aku makan buah apel mengunyah nya dengan kasar mereka membicarakan strategi perang aku sibuk makan dan minum seperti orang kelaparan.

"Mayanza, kamu akan tinggal di camp" kata Raja Yuko.

"Tolong jaga mereka, dan obati mereka yang luka kembali dari medan perang" katanya lagi.

Aku malas berdebat nanti leherku ditebas lagi, aku mengangguk saja.

**

Di kamar ini aku sendirian tanpa pelayan, aku juga tidak tau berbuat apa.

mereka sudah pergi berkuda.

gerbang sudah dibuka.

seorang wanita datang.

"Maafkan saya menggangu tabib" kata wanita itu.

Aku iyakan saja dia memanggilku tabib.

"Suamiku tadi berangkat ikut berperang, hanya kami di camp ini yang tersisa. Aku ingin minta bantuan... "

"Ya, bantuan apa.. " kataku.

"Tabib... Apakah benar kamu lebih hebat dari tabib zhi dan tabib swanzi" tanyanya.

Aku saja meragukan diriku sendiri, masih mempertanyakan kekuatan dan kemampuan sihirku.

"Aku tidak tau soal itu, hanya aku berusaha semampuku" kataku.

Dia menatapku.

"Maukah tabib melihat anakku" katanya.

" Dimana dia? " tanyaku.

Kuikuti langkahnya menuju paviliun di belakang banyak wanita dan anak-anak berkumpul disana. Ada sebuah gudang jerami, kami berdua masuk.

Disitu gelap.

Anak gadis kecil, tangannya terluka parah, kakinya di rantai.

"Apa yang terjadi sampai dia begini" aku mendekat.

"Monster itu menelannya dan memuntahkannya lagi, putriku.. " wanita itu menangis terisak..

Tubuh anak itu penuh luka koyak..

"Kapan terjadi" kataku

"Kemarin.. Dia kehutan"

Aku menarik nafas panjang..

**

Luka koyak menghilang. Anak itu sepertinya masih trauma.

Monster itu berbentuk naga hitam mengeluarkan racun berwana hijau menyerap energi anak ini banyak.

Aku meracik beberapa bahan dari biji-bijian dan merapalkan mantra.

"Istirahatkan dia" kataku

Wanita itu menangis tersedu-sedu.

"Kenapa menangis" tanyaku.

"Aku bahagia tabib... Kukira putriku tidak akan selamat" katanya.

kupegang tangannya..

Dia akan baik-baik saja.

"Tabib tanganmu berdarah! " dia kaget dengan darah di lengan bajuku.

"ini darahku tadi kataku" leherku yang terluka kuberi plester sementara aku malah mengobati orang lain dengan komat kamit pikirku.

**

Sore hari mereka belum kembali juga, aku keluar.

Ada seorang pria berkuda. Jatuh di lapangan depan.Debu mengepul tanah kering berserakan terbentur tubuh yang jatuh.

Aku berlari dia terluka parah.

Kakinya tertusuk benda tajam.

Pengawal lain mencabut dia meronta.

Aku obati, perban dan meracik obat.

"To.. Tolong... " katanya menjerit.

"Tolong mereka.. " katanya padaku.

"Kenapa mereka" tanyaku.

"Mereka terdesak"

"Aku kembali karena kupikir tabib bisa menolong mereka" katanya.

Satu pengawal yang bersamaku kemarin juga datang tangannya terluka.

"Nona, tolong mereka.. " pintanya berlutut.

Aku terdiam.

Hari sudah semakin sore.

"Kalau mereka tidak kembali, mereka semua bisa mati" katanya lagi.

Ikuti aku kataku.

**

Aku mengambil teratai sisa pengobatan Raja Yuko.

"Kalian harus berangkat memetik bunga teratai ini untukku lebih banyak" kataku

seorang berangkat berkuda pergi kehutan.

Wanita yang tadi memohon pertolongan mengajaku masuk kamar.

"Tabib, sebaiknya anda berganti pakaian di luar dingin" katanya.

Aku mengganti pakaian dengan jubah emasku. Menggunakan pakaian berlapis.

Kubawa pisau yang diberikan Raja Yuko padaku.

Sementara wanita itu menggulung rambutku dengan hiasan dan kupasang konde emasku.

**

Kita berangkat kataku.

Aku membawa tas selempang putih di dalamnya ada pisau bedah kecil, pisau dan buah apel bekal dijalan.

Entah perang terbuka apa ini.

aku menaiki kuda.

"Apakah nona bisa berkuda? " tanya pengawal.

" Tenang saja aku juara satu olimpiade berkuda umur 15 tahun" ucapku tersenyum

Kugunakan penutup wajah karena debu sangat banyak.

Kami berkuda dengan cepat... Aku ikuti dua pengawal di depanku.

Dari atas tebing kami mengintai.

Langit hitam, kudengar pedang beradu.

Cahaya kilatan merah saling menyerang, Raja Yuko di depan dengan kuda putihnya.

Memegang pedang dengan kilatan menebas monster naga berkepala 7.

sementara Swanzi merapalkan mantra membuat payung pelindung berwarna biru melindungi desakan ke pengawal melawan monster berwujud mayat hidup.

Kami turun ke arena perang.. Aku berkuda melesat maju ke depan kugerakan lima jariku dengan luwes mengeluarkan jarum-jarum emas menotok mayat hidup itu mereka mati.

" Kenapa kamu datang kemari? " kata Raja Yuko.

Aku hanya tersenyum sementara dia menebas 2 kepala Naga yang menyerangnya.

Ketika hampir menerkam tanganya, Swanzi melesat bergerak seperti senjata kerambit raksasa menebas satu kepala.

Aku menonton keheranan.

"Apa yang kamu lakukan hanya melihat" katanya berdiri di samping kudaku, pertama kali kulihat senyum swanzi padaku.

Tiba-tiba manusia dengan wajah yang buruk melompat kearahku memegang pedang mau menebas.

Raja Yuko datang menebas kepalanya.

"Hati-hati" dia berlari lagi ke arah naga yang kepalanya tersisa satu..

Musuh kami tersisa naga hitam sementara hari mulai gelap.

Swanzi mempertahankan payung biru bercahayanya sampai muntah darah.

Aku turun dari kuda kuambil sebuah kelopak teratai melompat dan kutempelkan di belakang swanzi dia terkejut.

"Untuk saputangan hitammu" kataku lalu menunjuk leherku yang menggunakan plester.

Aku maju ke depan, Raja Yuko dengan pedangnya yang berkilau, pengawal dan jendral maju di depan bersiap melawan naga.

Naga mengamuk menyerang, pengawal barisan depan merintih. Raja Yuko melompat ingin menebas leher naga tapi naga tersebut menghindar Raja Yuko jatuh ke tanah.

Aku harus mencobanya pikirku.. Ketika aku melihat kedepan... Di antara debu hitam dan bayangan sosok pria tua duduk di singgasana dengan mendorong kekuatan dari kedua tangannya memainkan sihir untuk naga.

Aku fokus.

Ku keluarkan pisau bedahku...

Kuabaca mantra... Pisau itu melesat ke arah pria jubah hitam yang duduk di singgasananya.

"Akhhhh....... " suara itu nyaring terdengar... hampir menggelegar di lapangan itu.

Raja Yuko dan pengawal yang hampir kewalahan terkejut.

Naga itu mundur mengerang lalu lenyap menjadi abu...

Terpana dengan apa yang terjadi tiba-tiba..

Kilatan datang dari depan menyerang.

Swanzi sigap dengan cahaya pelindungnya. Namun tidak kuat menahan.

Pangeran Yuko mengeluarkan kemampuannya cahaya berwarna emas...

Berapa monster bermulut runcing menyerang..

Aku merapalkan mantra yang tersisa.

Menutup mata saatku buka mata aku berhasil membentuk lingkaran emas berbentuk tameng raksasa menghanguskan monster-monster itu.

Aku masih tidak percaya aku memiliki kekuatan gaib.

Aku senang menolong mereka yang berperang.

Kami pulang ke camp bahagia karena menang.

**

Aku masuk kamar setelah berperang.

Duduk di kamarku memandang kedua tanganku,

Raja Yuko masuk.

"Heiii.. Siapa menyuruhmu masuk ke kamar wanita?" kataku

"Siapa yang bilang ini kamarmu sendiri" ucapnya.

Melepaskan Jubah dan ikat kepalanya dengan santai di gantungan.

"Jadi semalam? " tanyaku.

Raja Yuko mendekat.

"Jangan terlalu bangga" kamar ini luas kamu tidur di pojok sana dan aku di sebelah sana" katanya menunjuk ke arah berlawanan yang ada kasurnya.

"Wawww aku tidur sekamar dengan raja, apakah aku spesial? " tanyaku tertawa.

"Tentu saja, kalau tidak kamu akan kabur lagi" katanya.

Aku kesal duduk di pojokan dekat barang-barangku.

Pengawal mengetuk dan masuk membawa makanan.

"Swanzi mana? " tanyaku

"Tabib swanzi di ruangan yang lain" kata pengawal.

Raja Yuko tidak jadi minum tehnya.

"Antarkan aku menemui Swanzi" kataku

"Jangan keluar ini sudah malam" kata Raja Yuko mengingatkan.

"Aku hanya ingin menemui Swanzi" kataku.

Kuikuti pengawal kubawa tas selempang putihku berisi peralatan.

Aku rasa keluar dari kamar aku di ikuti bayangan hitam.

**

𝘽𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙗𝙪𝙣𝙜...

1
Tory Ambay Satu
Mantap👍👍
Tory Ambay Satu
👍👍
Tory Ambay Satu
Semakin seru ceritanya👍
Novita Tory: terima kasih, dukung dan baca juga ceritaku yang lainnya ya🤭
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Seru banget ya, Raja Yuko😍
Novita Tory: /Chuckle/🙏
total 1 replies
Novita Tory
🤭Aku memikirkan nasib ayam berwarna putih😅🥲
Tory Ambay Satu
Bagus banget alur ceritanya 👍
Novita Tory: Makasih...
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Mantapp banget ceritanya👍
Novita Tory: makasih😊selamat membaca..
baca juga karyaku yang lain ya...
total 1 replies
Novita Tory
Lanjut untuk episode selanjutnya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!