Reno Alvarez (25 tahun) punya visual secakep Yeonjun TXT, tapi statusnya tragis: PEngangguran JAkarta BARat yang hobinya cuma rebahan.
Nasib Reno mendadak korslet setelah nekat membuang golok warisan kakeknya ke tong sampah. Bukannya hilang, golok penuh daki itu malah auto-summon balik ke bawah bantalnya.
Reno resmi terkena kutukan Mbah Golok Sakti! Jiwanya mulai disedot paksa masuk ke berbagai dimensi absurd setiap kali tidur. Mulai dari dikejar zombie modal kolor Doraemon, operasi tenggorokan singa di Afrika, sampai debut dadakan jadi member TXT gara-gara Yeonjun asli lagi diare di toilet!
Setiap misi emang dapet cuan, tapi kalau Reno harus pindah dimensi terus nyawa bisa jadi taruhannya. Mampukah sang beban negara ini bertahan?
Warning: Jangan baca sambil minum, rawan nyembur! 🤣🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Bicara Aman Bersama Golok Botak
"Terus kalau emang kondisinya udah se-darurat ini, gue ke depannya harus gimana dong? Masa iya demi keselamatan nyawa, gue harus rela mengunci diri bertapa di dalam gua hantu biar nggak gampang salah ngomong lagi?" tanya Reno mengeluarkan nada suara bingung merana yang menyedihkan.
"Ya bener kata petuah dari si Rakha tadi. Mendingan lo mulai detik ini pilih diam seribu bahasa aja dulu, bila perlu lo buruan ambil paket puasa ngomong selama 40 hari 40 malem berturut-turut. Biar itu otot mulut licin lo bisa dapet waktu istirahat sejenak dari segala tumpukan dosa-dosa lisan harian," ucap Adit tanpa beban dosa sedikit pun, sambil tangan kanannya asyik menyesap sisa cairan kopi mahalnya di cangkir.
Reno langsung melotot sempurna kaget, gerakan tubuhnya hampir saja membuatnya tersedak udara kosong.
"Lah! Terus kalau seandainya besok-besok ada orang lain yang nanya ke gue gimana ceritanya? Apa gue harus jawab pertanyaannya pakai bahasa isyarat tangan atau dipaksa pakai gerakan tari piring sumatra?!"
"Maksud ucapan gue itu lo disuruh menyaring dulu kata-katanya, Reno! Di-filter diatur dulu pake isi otak sehat sebelum itu untaian kalimat meluncur bebas keluar dari balik belahan bibir seksi lo itu," timpal Adit sambil terkekeh-kekeh geli melihat ekspresi wajah Reno yang sore itu sudah tampak sangat menderita mirip orang yang lagi menahan buang air besar darurat.
Reno tampak mengangguk-angguk paham, meskipun bagian kepalanya jujur masih terasa sedikit pening akibat sisa efek transmigrasi. Ia tadi sempat mengira kalau Adit beneran sedang menyuruhnya melakukan aksi simulasi menjadi orang gagu seumur hidup.
Bisa panjang dan repot urusan kehidupannya nanti, apalagi kalau besok pagi dia melangkah pulang ke rumah dan sosok ibunya mulai melancarkan aksi interogasi maut seputar kapan dirinya bisa dapet kerja halal atau kapan dirinya bakal segera kawin—eh nikah maksudnya.
Kalau sampai lidah licinnya salah menjawab satu kata saja di depan Rika, bisa-bisa jiwanya langsung otomatis dipindahin dimensi masuk ke dalam panci presto masakan ibunya.
"Oke, oke, gue paham petunjuknya. Tarik napas dalam-dalam... saring kata di otak... baru buang lewat mulut," gumam Reno komat-kamit, mencoba mempraktikkan draf tutorial buku panduan berjudul "Bicara Aman Bersama Golok Botak" di dalam lubang pikirannya.
Rahsya yang sedari tadi cuma bertindak sebagai penyimak pasif sambil jemari tangannya memutar-mutar pulpen di udara akhirnya kembali bersuara, "Lagian lo ada-ada aja kelakuannya, Ren, ubi mentah jalar biasa gitu bisa-bisanya dibilang ubi ajaib penolak bala. Untung aja bini si Rakha dulu nggak mengalami gejala keracunan makanan, kalau sampai iya, yang ada si Alin malah bakal berubah fungsi jadi duta kentut nasional gara-gara ulah lo."
"Heh, terbukti manjur dan berkhasiat nyata ya ubi dari gue! Buktinya nyata si Rakha sekarang bisa jatuh cinta mati sebadan-badan sama Alin, kan?" balas Reno membanggakan diri dengan dada dibusungkan, sebelum sedetik kemudian kesadaran otaknya kembali terkumpul dan ia langsung membekap erat mulutnya lagi.
‘Aman bener, Reno... kalimat lo barusan murni cuma memuji takdir orang, bukan lagi menyumpahi atau menantang hantu klenik,’ batinnya mengelus dada lega.
****
Waktu malam dirasakan bergerak semakin larut, agenda acara reuni kecil-kecilan yang dipenuhi oleh drama supranatural di lantai dua kafe milik Aji akhirnya resmi dibubarkan.
Sesuai dengan draf kesepakatan awal mengenai sistem "tumpangan maut" mobil mewah, Reno malam ini kembali bertugas menjalankan profesi sebagai supir pribadi dadakan bagi Adit menuju ke arah apartemen mewah milik sang CEO.
Sesampainya mereka di area lobi utama apartemen, saat kedua pemuda itu baru saja hendak mengarahkan jari menekan tombol lift besi yang berkilau, pintu lift mendadak berdenting keras terbuka otomatis.
TING!
Dari balik pintu lift, melangkah keluar sekelompok petugas kepolisian berseragam dari satuan narkoba dengan kondisi ekspresi raut wajah yang tampak sangat tegang dan sekeras beton.
Reno dan Adit sontak langsung mengambil langkah mundur tiga langkah ke belakang secara serempak, memberikan akses jalan dengan tingkat sopan santun yang mendadak meningkat drastis 100 persen di depan aparat.
"Buset dah ah, tumben amat ya malam-malam begini ada pasukan bersenjata begituan berkunjung ke gedung ini. Apa jangan-jangan di dalam apartemen elite ini ada markas sindikat kelas kakap, atau lagi ada agenda aksi penggerebekan gembong internasional?" bisik Reno pelan, sepasang mata indahnya tampak bergerak jelalatan ke sana kemari mengikuti arah langkah kaki para petugas polisi.
"Hus! Tolong dijaga itu omongan mulut lo, Reno! Direm sedikit kenapa sih itu lidah konyol lo? Nanti kalau lo sampai kualat kena karma lagi terus jiwa lo dilempar masuk ke sarang kawanan Buaya muara sama si kakek Golok Botak baru tahu rasa lo!" bisik Adit panik setengah mati, bersamaan dengan mendaratnya sebuah sikut tangan kanannya yang telat mengenai area tulang rusuk Reno.
"Gue di sini kan beneran nggak ada ngomong yang aneh-aneh, Adit. Cuma sebatas menebak-nebak visual doang. Siapa tahu aja tebakan gue bener kalau salah satu penghuni unit apartemen di sini ternyata status aslinya adalah buronan interpol internasional yang lagi menyamar menyaru jadi seorang selebgram mewah," balas Reno membela diri sok tahu.
TING!
Kotak lift besi akhirnya sukses sampai di lantai area tujuan mereka. Adit memilih untuk tidak membalas lagi argumen dari sahabatnya, ia langsung mengambil langkah cepat melangkah masuk ke dalam unit apartemennya seolah-olah dirinya saat itu sedang diburu oleh sesosok hantu komplek.
Reno mengekor berjalan di belakang tubuh sahabatnya dengan gaya langkah kaki yang gontai kelelahan.
"Dit, di dalam dapur lo ada persediaan bubuk kopi nggak? Yang jenis kopi hitam pekat pahit kalau ada ya," tanya Reno.
Adit yang baru saja selesai melepas sepatu kerjanya dan meletakkan jas mahalnya di atas gantungan baju langsung menolehkan kepalanya melotot horor.
"Emang kondisi lambung perut lo belum menggelar aksi demo masak massal, hah?! Tadi pas di kafe Aji lo udah habis menyikat bersih enam gelas kopi gratisan, sekarang pas nyampe rumah malah mau minta ngopi lagi? Perasaan dari pagi kerjaan lo ngopi mulu, apa lo beneran nggak ada rasa takut-takutnya apa itu organ ginjal lo bakal berubah wujud jadi biji kopi?!"
"Gue juga gak tahu kenapa alasan medisnya, Dit... tapi tiba-tiba aja ini sepasang mata gue rasanya berat banget buat ditahan, Dit. Kayak mendadak ada kekuatan gaya magnet bumi yang sangat besar menempel ketat di kedua kelopak mata gue," gumam Reno dengan nada suara serak parau.
Tanpa perlu memakai acara melepas kain jas pinjaman milik Adit ataupun melepas sepatunya, tubuh jangkung pemuda itu langsung ambruk terkapar pasrah di atas sofa mewah apartemen Adit.
"Woi, Reno! Bangun lo! Jangan berani-berani bilang ke gue kalau jiwa lo sekarang lagi mau bersiap pindah dimensi lagi ya!"