Theo adalah seorang laki laki yang baru saja menikah dengan perempuan bernama Tiara. keduanya adalah pasangan yang bahagia yang tinggal cukup sederhana di Kota. namun ketenangan mereka berubah ketika Thao mendapatkan warisan rumah dan tinggal di rumah tersebut.
keanehan demi keanehan ia alami selama tinggal di rumah tua yang memang sudah terkenal angker sejak lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iephe Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Jujur ya, Mas Yayan, Rian..." Theo menghela napas panjang, memecah keceriaan ruangan. "Di balik keputusanku buat pulang dan menjaga amanah Kakung... sebenarnya ada rasa ragu yang lumayan besar di hatiku."
Rian dan Yayan menghentikan obrolan mereka, memajukan posisi duduk untuk mendengarkan.
"Kenapa, Yo? ragu soal peternakan?" tanya Rian penasaran.
Theo menghela napas panjang, mengingat kembali kejadian mencekam beberapa hari lalu. "beberapa hari yang lalu sebelum aku berangkat ke sini... waktu aku dan Tiara tidur di kamar lamaku di lantai dua. Tiba-tiba hawa di kamar itu berubah dingin banget. Dan... kami berdua melihat langsung sosok kuntilanak di luar jendela kamar kami."
Mendengar pengakuan Theo, tidak ada raut terkejut atau heran di wajah Yayan maupun Rian. Sebagai warga asli Desa Bojasari yang tumbuh besar di sana, keduanya saling berpandangan dengan tatapan maklum. Mereka paham betul bagaimana reputasi rumah tua bergaya Eropa milik almarhum Pak Harto tersebut.
Yayan menyandarkan punggungnya ke sofa, lalu mengangguk pelan. "Jujur ya, Yo... soal itu, aku sama orang-orang desa sebenarnya sudah tidak heran lagi. Rumah besar peninggalan Kakungmu itu memang terkenal paling wingit (angker) se Bojasari."
"Iya, Yo," timpal Rian dengan wajah serius. "Bangunan gaya Eropa kuno begitu, ditambah sudah berdiri puluhan tahun dan pohon kelengkeng itu yo, jadi daya tarik makhluk halus. Waktu kita kecil dulu saja, mana ada anak-anak desa yang berani lewat depan pagar rumah Kakung kalau sudah lewat maghrib."
Yayan memegang cangkir kopi dinginnya, menatap Theo dengan pandangan prihatin. "Waktu almarhum Pak Harto masih ada, karisma dan ilmu beliau memang bisa 'menekan' penunggu-penunggu di rumah itu biar tidak sembarangan menampakkan diri. Tapi begitu Kakung berpulang... ibarat kandang kehilangan macannya, Yo. Penunggu-penunggu tua di sana mulai berani keluar dan menunjukkan eksistensinya."
Theo tertegun mendengarkan penjelasan dari dua sahabatnya itu. Rasa khawatir akan keselamatan Tiara dan Uti di desa kembali berseliweran di kepalanya, membayangkan rumah besar di Wonosobo yang kini sedang ditinggali istrinya tanpa kehadirannya malam ini.
Rian memperbaiki posisi duduknya, menatap Theo dengan raut wajah yang kian serius. "Lagipula, Yo... kamu tahu sendiri kan, keangkeran rumah Kakung itu sebenarnya bukan cuma gara-gara bangunannya yang tua atau umur rumahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun."
"Maksudmu bagaimana, Yan?" tanya Theo dengan kening berkerut penasaran.
Yayan mengangguk membenarkan ucapan Rian, lalu menyela pelan, "Orang-orang tua di desa, termasuk bapakku dan bapaknya Rian dulu, semua sudah tahu rahasia umum itu, Yo. Rumah besar itu makin 'panas' dan banyak gangguannya ya gara-gara ulah Pak Burhan."
Mendengar nama itu, ingatan masa kecil Theo langsung terlempar ke masa lalu. Pak Burhan, sosok pria kaya nan ambisius di desa yang dulu menjadi rival abadi almarhum Pak Harto.
"Pak Burhan?" ulang Theo memastikan.
"Iya, siapa lagi," sahut Rian sambil menghela napas panjang. "Waktu pemilihan kepala desa puluhan tahun lalu, Pak Burhan kan kalah telak sama Kakungmu. Dia tidak terima. Semua warga desa Bojasari dari yang tua sampai yang muda sudah tahu kalau Pak Burhan itu main 'belakang'. Dia sengaja mengiring dan 'mengirim' berbagai macam makhluk halus ke area rumah Kakung buat mengganggu keluarga Kakung."
Yayan menimpali dengan suara yang agak direndahkan, "Dulu, waktu Pak Harto masih sugeng (hidup), serangan ghaib atau kiriman berupa sosok-sosok seperti itu selalu bisa dipatahkan sama Kakung. Kakungmu itu bentengnya kuat sekali, Yo. Tapi ya itu... tempatnya jadi makin ketempelan hal-hal mistis karena ulah Pak Burhan yang tidak pernah kapok."
"Sampai sekarang pun..." Rian menatap Theo prihatin, "Meskipun Pak Burhan sudah lama tiada, tapi konon katanya keluarganya masih menyimpan dendam lama itu. Dan makhluk makhluk kiriman Pak Burhan itu tidak akan berhenti karena katanya Pak Burhan melakukan perjanjian dengan Iblis."
Theo mengepalkan tangannya di atas paha. Penjelasan dari Rian dan Yayan membuat puzzle teka-teki gangguan mistis di rumah kakeknya makin terang-benderang. Rasa khawatir di dadanya kian memuncak, membayangkan Tiara dan Uti yang saat ini berada di Bojasari, berhadapan dengan rumah yang tidak hanya tua dan angker, tetapi juga menyimpan dendam masa lalu yang belum usai.
.
Melihat raut tegang dan guratan cemas yang makin jelas di wajah Theo, Rian dan Yayan saling berpandangan. Mereka merasa bersalah jika cerita tersebut justru membuat mental sahabat mereka jatuh sebelum benar-benar berjuang di kampung.
Rian menggeser duduknya mendekat, lalu menepuk-nepuk pundak Theo dengan mantap untuk menyuntikkan semangat.
"Tapi kamu jangan keburu kerdil hati duluan, Yo," ujar Rian dengan nada tegas namun menenangkan. "Aku tahu, menghadapi gangguan makhluk halus dan teror semacam itu jelas tidak segampang omonganku atau orang-orang. Praktiknya pasti berat dan menguras mental, apalagi buat kamu dan Tiara yang terbiasa hidup di kota."
Yayan mengangguk setuju, menghembuskan napas pelan. "Benar apa kata Rian, Theo. Tapi ingat, kamu itu cucu kandungnya Pak Harto. Darah dan keturunan Kakung mengalir di tubuhmu. Warga desa tahu betul kalau kamu itu anak yang bersih dan punya niat tulus buat menjaga Uti serta merawat peninggalan keluarga."
"Iya, Yo!" timpal Rian lagi, matanya menatap lurus ke dalam manik mata sahabatnya. "Anggap saja semua gangguan ini sebagai godaan dan ujian awal. Kamu tidak sendirian di sana. Ada Mas Yayan, ada Mas Joko, dan aku yakin warga Bojasari yang hormat sama almarhum Kakung pasti tidak akan tinggal diam kalau terjadi apa-apa."
Rian tersenyum hangat, mengencangkan genggamannya di bahu Theo. "Kuncinya cuma satu: bentengi dirimu, Tiara, dan Uti dengan doa. Jangan biarkan rasa takut membuatmu menyerah. Aku percaya kamu bisa melewati semua godaan ini, Yo. Kakung di atas sana pasti menjaga dan merestui langkahmu."
Kata-kata penguatan dari kedua sahabatnya itu perlahan mencairkan hawa dingin dan rasa cemas yang sempat mengepung dada Theo. Ia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan, lalu mengangguk mantap.
Rasa takutnya mungkin belum sepenuhnya hilang, tetapi dukungan tulus dari Rian dan Yayan telah menyalakan kembali keberanian dalam dirinya untuk melindungi keluarga dan menghadapi apa pun yang menanti di Desa Bojasari.
.
.
.
Theo menatap Yayan dan Rian bergantian. Beban berat dan rasa cemas yang sempat menggelayuti pikirannya perlahan terangkat, berganti dengan kobaran semangat dan keyakinan yang baru. Support tulus dari kedua sahabat masa kecilnya itu menjadi penguat nyali yang sangat ia butuhkan.
"Terima kasih banyak ya, Yan, Mas Yayan..." ujar Theo mantap, diiringi senyum tegas tanpa ragu. "Jujur, tadinya aku sempat kepikiran dan ragu. Tapi dengar omongan kalian berdua, aku makin sadar... aku tidak boleh kalah sama rasa takut."
Theo mengepalkan tangannya di dada. "Ini rumah Kakung, tanah kelahiran keluargaku. Kalau bukan aku yang mempertahankan dan menjaga Uti, siapa lagi? Apapun cobaannya nanti—mau itu teror halus, peninggalan tua, atau ulah Pak Burhan—aku siap hadapi. Aku tidak bakal mundur."
Rian tertawa lebar menepuk paha Theo, bangga melihat sahabatnya telah menemukan kembali keberaniannya. "Nah! Itu baru Theo yang aku kenal dari kecil! Jangan kasih kendor, Yo!"
"Nah, gitu dong!" timpal Yayan sambil tersenyum puas. "Mantap, Mas Theo. Yang penting niatmu tulus dan eling sama Gusti Allah. Kami berdua siap bentengi dari belakang."
Ketiganya lalu mengangkat cangkir kopi masing-masing, mengadu gelas pelan di tengah meja ruang tamu yang hangat itu.
Malam semakin larut. Jarum jam di dinding ruang tamu sudah menunjukkan angka 23.00 WIB, menandakan hiruk-pikuk ibu kota di luar sana pun mulai mereda.
Rian merapikan posisi duduknya, lalu melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia tersenyum tipis, merasa obrolan hangat malam itu sudah saatnya disudahi agar Theo dan Yayan bisa beristirahat.
"Yo, Mas Yayan... sepertinya aku pamit pulang dulu ya," ujar Rian seraya berdiri dari sofanya. "Sudah makin larut ini, besok pagi aku masih harus masuk kantor."
Theo dan Yayan ikut berdiri mengantar Rian menuju pintu depan.
"makasih ya, Yan, sudah mampir dan kasih banyak masukan buat aku," ucap Theo tulus sambil menepuk pelan bahu sahabatnya.
"Sama-sama, Yo! Halah, kaya sama siapa saja," sahut Rian terkekeh. Ia lalu menatap Theo dengan raut wajah antusias. "Oya, Yo... Insya Allah akhir bulan nanti aku mau ambil cuti tahunan beberapa hari. Aku mau pulang ke Wonosobo!"
Mendengar hal itu, mata Theo berbinar. "Wah, beneran, Yan?"
"Iya, serius," jawab Rian mantap seraya mengenakan jaketnya. "Selain mau nengok kamu, Uti, sama main ke rumah besar, aku juga jujur sudah kangen banget sama Ibu dan adik-adikku. Sudah lumayan lama aku tidak pulang menengok Riska sama Amel. Sekalian mau mengantar uang saku dan oleh-oleh buat mereka."
Yayan tersenyum hangat menepuk punggung Rian. "Langkah bagus itu, Yan. Ibumu pasti senang banget kalau kamu pulang. Wong tiap pagi pas jualan nasi uduk, Ibumu suka menceritakan tentang kamu."
"Iya, Mas Yayan. Makanya ini mumpung ada sisa jatah cuti, tak pakai buat pulang kampung saja," balas Rian dengan senyum mengembang. Ia lalu menyalakan mesin motornya di halaman rumah. "Yo, lusa kamu hati-hati di jalan ya pas balik ke desa. Titip salam buat Uti sama Tiara!"
"Sip, Yan. Hati-hati di jalan! Sampai ketemu di Bojasari akhir bulan nanti!" seru Theo melepas kepergian sahabat kecilnya itu.
Suara deru motor Rian perlahan menghilang membelah keheningan malam Jakarta, meninggalkan Theo dan Yayan yang kini siap menutup pintu, beristirahat untuk menyongsong kepindahan mereka kembali ke tanah kelahiran.
Setelah deru motor Rian benar-benar menghilang di kejauhan, Theo memutar kunci dan mengoperkan selot pintu depan. Suasana rumah kontrakan mendadak hening kembali.
Yayan menggeliat pelan sambil menepuk bahu Theo. "Mas Theo, aku tak masuk kamar duluan ya. Sudah lumayan ngantuk ini, besok kan kita juga masih harus beberes barang sebelum balik ke Wonosobo."
"Iya, Mas Yayan, monggo. Matur nuwun ya buat hari ini," sahut Theo santai.
Yayan melangkah masuk ke kamar tamu, meninggalkan Theo yang berjalan menuju kamar utamanya. Begitu pintu kamar tertutup rapat, Theo merebahkan tubuhnya yang terasa lelah di atas kasur empuk. Obrolan panjang dan kenangan tentang keangkeran rumah besar di desa tadi masih menari-nari di kepalanya.
Rasa rindu dan sedikit cemas akan keadaan sang istri mendadak membuncah. Theo merogoh saku celananya, meraih ponsel pintar miliknya. Tanpa ragu lagi, ia mengusap layar dan mengklik ikon panggilan video (video call) menuju nomor Tiara.
Ponsel di genggamannya bernada panggil beberapa saat...
*Tutt... Tutt...*
Tiba-tiba hawanya dingin begitu...
🤨🤨🤨
Kira-kira, suara rintihan dari sosok siapa atau apa yang di denger sama neneknya Theo, ya???
🤨🤨🤨🤨🤨