Pernikahan Ardan dan Naresa dimulai dengan duka.
Namun, rumah tangga yang mereka bangun perlahan kembali diuji oleh cinta lama yang seharusnya telah menjadi masa lalu, serta cinta dari seseorang yang seharusnya tidak mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang di tunggu-tunggu
“Sendiri aja, nih?”
“Astaga!”
Suara yang tiba-tiba muncul dari samping membuat Naresa tersentak. Wadah sup daging di tangannya pun miring hingga isinya tumpah begitu saja ke celana jeans biru yang dikenakannya.
“Eh, sorry!”
Naresa spontan mendongak. Tatapannya langsung tertuju pada sosok laki-laki yang berdiri di dekat bangku tempatnya duduk.
“Kale?” Raut bingung langsung tergambar jelas di wajahnya.
“Sorry, ya. Gue beneran nggak niat ngagetin lo." Kale menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Iya, gapapa, kok.”
Naresa membuka tas yang berada di sampingnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar tisu untuk mengusap noda kuah yang membasahi celana jeansnya. Beruntung sup itu tidak tumpah terlalu banyak karena sebelumnya sudah ia makan hingga hanya menyisakan beberapa suap.
“Lo orangnya kagetan, ya?”
Naresa menoleh ke samping. Kale sudah duduk tepat di sebelahnya. Jarak mereka hanya terpaut beberapa sentimeter karena bangku itu memang tidak cukup panjang untuk ditempati dua orang dengan leluasa.
“Padahal suara gue biasa aja, kan?” lanjut Kale sambil mengangkat sebelah alis. “Lo lagi ngelamun?”
Baru kali ini mereka benar-benar berbincang berdua. Namun, Kale sama sekali tidak terlihat canggung. Ia terus melontarkan pertanyaan demi pertanyaan.
Naresa kembali mengusap sisa noda di celananya sebelum akhirnya menoleh. "Gimana nggak kaget, kamu datangnya tiba-tiba.”
Kale hanya memasang cengiran tanpa dosa. Pandangannya sempat berkeliling sejenak sebelum kembali tertuju pada Naresa.
“Yaudah, berarti lain kali gue kasih aba-aba dulu, ya.”
Naresa terkekeh pelan. “Iya. Boleh tuh."
Kale baru saja hendak mengatakan sesuatu lagi. Bibirnya sempat terbuka, tetapi urung bersuara. Senyum di wajahnya memudar saat tatapannya beralih ke arah seseorang yang sedang berjalan menghampiri mereka.
Melihat perubahan itu, Naresa refleks menoleh mengikuti arah pandang Kale.
Wanita itu. Orang yang tadi berdiri di ambang pintu ruang kerja Ardan. Orang yang kemungkinan besar mengirim pesan ke nomor pribadi suaminya.
Begitu Wanita itu sudah berhenti tepat di hadapan mereka, Kale dan Naresa spontan bangkit dari duduknya.
“Kal, boleh kasih waktu sebentar? Aku mau ngobrol sama Naresa?” tanya wanita itu.
“Gue juga mau pergi.”
Jawaban itu meluncur singkat tanpa basa-basi. Kale menatap wanita itu dengan ekspresi datar, nyaris tanpa emosi. Sesaat kemudian, pandangannya beralih sekilas ke arah Naresa sebelum akhirnya ia berbalik dan melangkah pergi begitu saja, meninggalkan mereka berdua.
Wanita itu lantas menempati kursi yang baru saja ditinggalkan Kale. “Bisa duduk sebentar?”
Naresa kembali duduk tanpa berkata apa-apa.
Kini, mereka berdua duduk berdampingan, sama-sama memandang ke arah jalan raya yang masih dipenuhi kendaraan yang silih berganti melintas.
“Aku mau minta maaf soal kejadian semalam,” kata wanita itu lebih dulu sambil menoleh ke arah Naresa. “Dan soal keributan tadi.”
Sejenak ia terdiam, menarik napas pelan sebelum kembali melanjutkan. “Terus ada satu hal yang perlu kamu tahu.” Tatapannya tetap lurus ke arah Naresa. “Aku dan Ardan nggak punya hubungan apa-apa.”
“Iya.” Hanya itu yang mampu diucapkan Naresa, Bukan karena ia tidak percaya, melainkan karena ia benar-benar tidak tahu harus merespons apa. Lagi pula semuanya sudah terlanjur terjadi.
.........
Kini, jam dinding sudah menunjukkan pukul 21:15, tetapi Ardan belum juga pulang.
Setelah percakapannya dengan wanita tadi berakhir, Naresa tidak berlama-lama berada di ruang terbuka hijau. Ia langsung pulang ke rumah.
Setibanya di rumah, ia segera membereskan dapur yang sejak siang tadi belum sempat dibereskan. Semua peralatan masak yang tadi ia gunakan dicuci hingga bersih, sisa bahan makanan disimpan kembali ke tempatnya, sementara meja dapur dan meja makan ia lap hingga tak lagi meninggalkan noda.
Setelah itu, ia mulai mengemas barang-barang yang akan dibawa ke rumah mertuanya. Beberapa pakaian, perlengkapan pribadi, serta barang-barang milik Ardan yang masih tertinggal ia susun rapi ke dalam koper, lalu meletakkannya di dekat pintu ruang tamu agar lebih mudah dibawa nanti.
Seluruh pekerjaan itu baru benar benar selesai sekitar 5 menit yang lalu. Rumah yang sempat dipenuhi jejak aktivitas kini kembali rapi seperti sediakala.
Setelah mandi dan berganti pakaian yang lebih nyaman, Naresa kembali merapikan penampilannya di depan cermin. Entah sejak kapan kebiasaan sederhana itu muncul, tetapi ia selalu ingin menyambut kepulangan suaminya dalam keadaan rapi.
Jam kerja Ardan memang tidak pernah benar-benar bisa ditebak. Ada hari ketika ia sudah berada di rumah sebelum matahari terbenam, tetapi tak jarang pula baru pulang saat malam sudah larut. Meski begitu, hampir selalu ada kabar darinya jika harus bekerja lebih lama.
Malam ini berbeda. Tak ada suara mobil yang memasuki halaman. Tak ada bunyi pintu yang terbuka. Bahkan, tak ada satu pun telpon ataupun pesan dari Ardan.
Lagi-lagi Naresa memilih berbaring di atas ranjangnya sambil menggulir media sosial di ponselnya. Biasanya, begitu semua pekerjaan rumah selesai, ia akan duduk di meja kerja, membuka laptop, lalu kembali menulis. Namun, malam ini tubuhnya sudah terlanjur lelah setelah seharian beraktivitas yang menguras tenaga.
Entah sudah berapa banyak video yang berganti di layar ponselnya. Hingga...
TOK. TOK. TOK.
Suara ketukan dari pintu utama membuat Naresa langsung menghentikan kegiatannya. Ia segera bangkit dari ranjang, lalu melirik jam dinding yang kini sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Kak Ardan?" Nama itu terucap lirih nyaris tanpa sadar.
Sebelum membuka pintu, Naresa menyempatkan diri merapikan rambut panjangnya yang sedikit berantakan akibat terlalu lama berbaring. Setelah merasa cukup rapi, ia berjalan menuju pintu utama.
TOK. TOK. TOK.
"Iya, sebentar," sahut Naresa, sedikit mengeraskan suaranya karena ketukan itu kembali terdengar lebih keras daripada sebelumnya.
Begitu pintu terbuka, senyum yang sempat muncul di wajahnya perlahan memudar.
Orang yang berdiri di hadapannya bukan Ardan. Melainkan Kale.
Raut wajah Kale pun tak kalah berbeda. Tidak ada senyum seperti saat mereka berbincang siang tadi. Wajahnya tampak datar dengan sisa kekesalan yang masih jelas terlihat.
“Gue disuruh Ardan buat jemput lo.”
Kalimat itu meluncur begitu saja sebelum Kale berbalik hendak kembali menuju mobilnya.
Naresa spontan meraih pergelangan tangan adik iparnya itu hingga langkah Kale terhenti.
“Maksudnya gimana, Kal?”