Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.
Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.
Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.
"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”
Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"
“Mas, panggil saya mas Bara.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bumerang ....
Bab 7
Ruby masih mengenakan gaun tidur berlapis kimono saat menuju dapur. Hampir jam 8 pagi saat ia terjaga. Semalam ia tidur larut karena kantuk entah kabur kemana. Kesal dengan perdebatan di chat dengan Bara.
Sejak dua hari kemarin makan tidak selera dan tidak teratur, berimbas hari ini. Perutnya kembung dan nyeri di ulu hati. Mengambil air mineral dan sehelai roti tawar, ia nikmati di sofa.
Drt drt
Nama Meldi muncul di layar ponsel. Meldi, asisten sekaligus manajer yang mengurus jadwal dan kegiatan Ruby. Pria tulen dan masih normal menyukai wanita, hanya saja terlalu mendalami pekerjaan dan banyak berinteraksi dengan para wanita membuatnya agak gemulai dan perasaan serta pembawaan yang lembut. Kecuali mulutnya, bisa lebih galak dan sadis dari Ruby.
“Iya,” ucap Ruby sambil merebah di sofa panjang.
“Udah balik Jakarta belum? Skripsi lo, aman?”
“Ck, boro-boro.”
“Lah, terus gimana? Di DO dong, tapi gak pa-pa sih. Tinggal lo gas kerja ja. Ada tawaran baru nih, produk parfum. Pihaknya minta ketemuan, gue jadwalin minggu depan. Gimana?”
“Minggu depan, boleh deh.”
“Star agency hubungi gue lagi, minta lo gabung. Mau terima nggak atau lo ada penawaran khusus.”
Ruby menghela pelan, ia memejamkan mata sambil memijat dahi. Bukan hanya perutnya yang bermasalah, kepalanya pun pening.
“Kok diem. Biasanya juga gercep, lebih cepat dari kereta express. Ini peluang lo, udah cukup gue kosongkan jadwal lo minggu ini. Minggu depan udah mulai padat lagi.”
“Mel, nanti gue telpon lagi ya.”
“Hah, tumbenan. Lo kenapa? Di mana sih, biar gue susul.”
“Nggak usah, gue Cuma butuh istirahat aja.”
“Heh, betina. Lo di apartemen ‘kan? Sama siapa, cowok? Baek-baek hamil, gue nggak mau ya ngurusin skandal lo.”
“Astaga Meldi, mulut lo perlu disteplesh kayaknya. Cowok apaan sih.”
Terdengar kekehan di ujung sana. “Iya, ya. Elo kan jomblo akut. Cantik, tapi gak laku. Harusnya lo terima cinta si Aldo, biar status lo nggak sendirian terus.”
Ruby berdecak. “Udah ah, nanti gue telpon balik.” Mengakhiri panggilan, ia merintih pelan merasakan perutnya bagai ditusuk-tusuk. Bunyi bel tanda ada tamu, tapi ia malas beranjak.
Kembali terdengar bel, juga ponsel yang kembali berdering. Nama Bara tertera di layar. Mengabaikan, tapi Bara kembali menghubungi.
“Ya ampun apa lagi sih,” keluh Ruby. “Iya,” ucapnya menjawab panggilan dari Bara.
“Saya di depan, buka pintunya.”
“23xxxx.” Ruby menyebutkan angka untuk membuka pintu lalu mengakhiri panggilan. Terdengar suara sensor dan pintu pun terbuka.
Bara memasuki unit, terheran mendapati Ruby berbaring di sofa. Ia menarik nafas melihat gaun tidur Ruby memperlihatkan kaki jenjang dan pah4 yang putih mulus.
“Kenapa tidur di sini?”
“Bebas kali pak. Saya mau tidur di atas meja makan, di atas plafon. Orang rumah saya, bukan rumah bapak.”
Bara mengabaikan ucapan itu dan menempati sofa berseberangan dengan Ruby. Pagi ini ia mengenakan kaos polo putih berkerah dan celana chinos cream, lengkap dengan jaket. “Bangun! Kita bicara.”
“Bicara aja pak, saya dengar kok.”
“Ruby, bangun dan ganti baju. Kita perlu bicara,” titah Bara. Meski suaranya tenang dan datar, tapi Ruby merasa ada nada ancaman. Ia pun beranjak duduk, berlalu sambil menghentakan kaki.
“Ngomong ya ngomong aja, apa hubungannya sama baju. Gue lepas sekalian biar mupeng lo.”
“Saya dengar, Ruby!”
Bukan hanya berganti baju, Ruby menyempatkan untuk mandi. Menatap deretan pakaian di lemarinya. Terpintas ide untuk menjahili Bara, senyum smirk terbit di wajahnya.
“Bicara apa sih, skripsi saya atau pernikahan kita?” tanya Ruby.
Kehadirannya mendadak mengubah atmosfer ruangan. Bara yang tadinya menunduk fokus dengan ponsel dan dahi mengernyit, menoleh dan terpaku. Tangannya mencengkram ponsel yang digenggam. Matanya mengunci sosok gadis yang sudah halal baginya, menatap penampilan rumahan yang cukup berani. Ruby mengenakan crop top hitam polos yang memotong rapi beberapa sentimeter di atas pusar, mengekspos kulit pinggangnya yang bersih, dipadu dengan celana pendek denim berpotongan tinggi yang memperlihatkan kakinya yang jenjang serta betis ramping mulus nan menggoda. Gaya santai memancarkan daya pikat yang hampir berbahaya.
Bara menghembuskan napas perlahan, mencoba menguasai dirinya yang tiba-tiba meneg4ng. Pun saat Ruby perlahan duduk, menyilang kaki sambil bersedekap ia harus menelan saliva dan berdehem agar kembali fokus dan menyingkirkan adegan dewasa yang mungkin mereka lakukan.
"Bapak kenapa sih? Kayak habis lihat setan aja," tutur Ruby begitu percaya diri, karena berhasil mengerjai Bara.
Kamu setannya, batin Bara lalu menarik nafas dan mengusap tengkuknya yang mendadak panas. “Saya minta kamu ganti baju karena pakaian tadi tidak sopan untuk kita berbincang, malah salah kostum. Lama pula.”
Ruby tertawa kecil, matanya berbinar. "Cuma crop top plus celana pendek, Pak. Kalau ganti bi-kini baru salah kostum. Wajar lama, saya mandi dulu, luluran sambil facial.”
"Justru itu masalahnya," lirih Bara. Menatap tepat di iris mata Ruby, enggan melihat turun. "Kamu cuma pakai kaos terpotong mempertontonkan sebagian aurat. Bikin suasana mendadak gerah.”
Ruby tergelak sambil bertepuk tangan. “Bapak jadi berhasrat ya. Udah berapa lama jadi duda, pasti udah merinding disko. Yang sabar ya pak, tunggu sampai ada temen tidur baru bisa tersalurkan.”
Kali ini Bara ikut terkekeh dan bersedekap dengan senyum smirk. “Kamu benar saya sudah lama menduda. Kenapa harus menunggu, bukannya kita sudah sah dan kamu bisa menjadi teman tidur saya.”
Mendadak wajah Ruby keruh dan gugup. Dengan gerak cepat tangannya meraih bantal sofa untuk menutupi bagian perutnya yang terekspos. Rencana bodoh, berniat menjahili Bara malah dia yang terjebak.
“Jangan aneh-aneh pak, kita nikah terpaksa. Saya nggak mau ditiduri tanpa cinta. Lagian ini rumah saya, hak saya mau pakai baju apapun.”
“Betul, itu hak kamu dan saya suka.”
“Suka?”
Bara mengangguk pelan. “Saya suka kamu pakai baju kurang bahan begitu, lain kali boleh pakai yang lebih berani. Hanya depan saya tentunya. Jadi, kalau sudah ada rasa kamu mau … saya tiduri?”
“Ya ampun. Pak Bara, bikin saya takut.” Ruby kembali mengambil bantal untuk menutupi kedua kaki dan merapatkannya.
Bara melepas jaket dan meletakan di atas meja. “Pakai ini atau kita berakhir di kamar kamu.”
Ruby patuh gegas memakai jaket Bara. Hangat dan harum, parfum maskulin yang buat tubuhnya bergidik.
“Bicara apa sih, pagi-pagi udah ribut.”
“Anak-anak sudah tahu kita menikah, jadi ….”
“Mereka pasti menolak saya sebagai ibu tiri. Ya udah, kita masing-masing aja. Saya dengan hidup saya dan bapak dengan hidup bapak.”
“Mana ada pernikahan seperti itu. Kita akan jalani pernikahan normal seperti pasangan lainnya. Sekarang mungkin belum ada rasa, saya yakin rasa itu pasti ada seiring waktu,” tutur Bara menjelaskan rencana mereka ke depan.
Jangan tanya bagaimana sikap Ruby, sudah pasti kesal. Wajahnya cemberut bahkan mencibir.
“Cuma kenalan doang ya, beres itu saya pulang lagi ke sini.”
“Mulai hari ini kamu pindah tinggal di rumah saya, bawa saja pakaian dan barang yang penting. Sisanya menyusul.”
“Pindah!? Nggak salah, pak?”
Terus jadi kompor mleduk bwt Bara Meldy 💪
Awas ya kamu .....🤭