Di mata dunia, Kim Seokjin adalah Devil.
CEO KIMS GROUP. Dingin. Kejam. Tanpa ampun.
Satu keputusannya bisa membuat EX GROUP bangkrut dalam semalam.
Tapi di rumah...
Dia hanya seorang Hyung.
8 tahun lalu dia berjanji pada ayahnya: "Aku akan menjaga Tae."
Sekarang dia menepati janji itu dengan cara yang salah.
Menelan obat di toilet kantor. Menahan darah di balik jas mahal.
Tersenyum untuk 8 orang yang dia sayangi.
Leukimia. Stadium akhir.
Rahasia yang tidak boleh diketahui oleh Malaikat kecilnya, Taehyung.
Saat EX GROUP mulai mengancam nyawa Tae, Seokjin harus memilih.
Tetap menjadi Devil yang melindungi...
Atau runtuh sebagai Malaikat yang akhirnya butuh dilindungi.
"Di luar aku iblis, Tae. Tapi di depanmu... aku cuma hyungmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi_BtsOt7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Malam itu, apartemen Xiumin terasa dingin meskipun pemanas ruangan dinyalakan maksimal. Chen berdiri di dekat jendela, menatap lampu-lampu kota Seoul yang berkedip seperti bintang-bintang palsu. Di belakangnya, Xiumin sedang menelepon seseorang dengan nada suara yang diturunkan, penuh kewaspadaan.
"Pastikan semua anggota dewan yang kita 'pegang' hadir besok pagi. Jangan beri tahu sekretaris Jin. Kita akan masuk melalui pintu belakang ruang rapat utama," bisik Xiumin sebelum menutup telepon. Ia berbalik menghadap Chen dengan senyuman tipis yang tidak mencapai matanya. "Besok, Kim Seokjin tidak akan lagi menjadi CEO. Dia hanya akan menjadi pasien psikiatri yang gagal."
Chen mengangguk, namun ada keraguan kecil di sudut matanya. "Hyung, apakah kita yakin ini aman? Kyungsoo... dia bukan hacker biasa. Jika dia melacak kita sampai ke sini..."
"Dia tidak akan berani menyentuh anggota Dewan Direksi secara langsung tanpa bukti konkret," potong Xiumin tajam. "Dan besok, kita akan menciptakan 'bukti' baru. Laporan medis palsu yang menyatakan Jin mengalami episode psikotik parah dan tidak kompeten untuk memimpin. Dengan dukungan mayoritas dewan, pencopotan sementara adalah prosedur standar. Legal, bersih, dan tak terbantahkan."
Sementara itu, di sisi lain kota, suasana di Rumah Sakit St. Mary's justru berubah menjadi pusat komando operasi rahasia.
Ruang tunggu VIP telah disulap menjadi markas darurat. Laptop Namjoon terhubung ke tiga monitor tambahan yang dibawa oleh tim IT Kim Corp yang loyal. Kyungsoo, yang kini hadir secara fisik setelah berhasil melacak jejak digital, duduk di kursi paling ujung dengan headset terpasang di telinganya. Jari-jarinya menari cepat di atas keyboard mekanik, menghasilkan suara klik-klak yang ritmis dan menegangkan.
"Aku sudah menemukan titik masuknya," kata Kyungsoo tanpa mengangkat kepala. "Mereka menggunakan server proxy di Singapura, tapi ada kesalahan konfigurasi kecil di firewall mereka. Jejaknya mengarah ke sebuah firma hukum kecil di Gangnam yang sering menangani kasus korporat untuk... Lee Group."
Nama "Lee Group" menggantung di udara. Semua orang tahu itu adalah afiliasi bisnis keluarga Chen.
"Bukti digital," gumam Namjoon, matanya berbinar. "Jika kita bisa membuktikan bahwa dokumen palsu itu dibuat dari komputer yang terhubung ke firma tersebut, kita punya senjata balik."
"Tapi itu butuh waktu untuk diverifikasi secara hukum," sela Ken, yang sedang memeriksa draft pernyataan pers. "Kita tidak punya waktu sampai besok pagi. Dewan Direksi akan berkumpul jam 9 pagi. Jika Jin tidak hadir, atau jika dia hadir dalam kondisi 'lemah', Xiumin akan memanfaatkannya."
Jin, yang kini sudah duduk di kursi roda didorong oleh Tae, memasuki ruangan. Wajahnya masih pucat, tetapi matanya tajam dan penuh determinasi. Ia mengenakan kemeja putih rapi, meski masih ada selang infus yang tersambung ke tangan kirinya yang ditutupi perban elegan.
"Aku akan hadir," ucap Jin tegas.
"Hyung, dokter bilang-" mulai Yoongi khawatir.
"Aku tahu apa kata dokter," potong Jin lembut namun tegas. "Tapi jika aku tidak muncul besok, mereka akan menang. Mereka ingin membuatku terlihat lemah dan gila. Maka aku harus menunjukkan sebaliknya. Aku akan hadir, sehat secara mental, dan siap menghadapi mereka."
Namjoon menghela napas, menyadari bahwa argusi logis tidak akan mengubah pikiran Jin kali ini. Ini tentang harga diri dan warisan. "Baiklah. Tapi kita tidak membiarkan Hyung pergi sendirian. Kita semua akan mendampingi Hyung. Dan kita bawa 'senjata' kita."
Namjoon menoleh ke arah Kyungsoo. "Kyungsoo-hyung, bisakah kamu menyiapkan presentasi visual dari temuanmu? Grafik alur data, timestamp, dan koneksi IP ke firma hukum Chen. Buatlah sesederhana mungkin agar para anggota dewan yang gaptek pun bisa mengerti."
Kyungsoo melepas headsetnya dan mengangguk. "Dalam dua jam. Aku akan membuatnya terlihat seperti presentasi forensik digital yang tidak bisa dibantah."
Chanyeol tersenyum, menyilangkan tangan di dada. "Sedangkan aku akan memastikan media hadir di luar gedung pertemuan. Bukan untuk meliput skandal, tapi untuk meliput 'klarifikasi publik' dari CEO Kim Corp yang di fitnah. Tekanan publik akan membuat dewan berpikir dua kali sebelum bertindak gegabah."
Hoseok tepuk tangan pelan. "Wow, rencana yang solid. Jadi, besok kita akan melakukan counter-attack total. Serangan reputasi dibalas dengan fakta, serangan internal dibalas dengan kehadiran fisik, dan serangan hukum dibalas dengan bukti digital."
Jin menatap teman-temannya satu per satu. Rasa haru kembali menyerbu dadanya, namun kali ini ia menahannya. Ia tidak boleh lemah. Tidak sekarang.
"Terima kasih, semuanya," kata Jin lirih. "Besok, kita akhiri permainan kotor ini."
Pagi hari berikutnya, langit Seoul mendung, seolah mencerminkan ketegangan yang menyelimuti Gedung Pusat Kim Corp.
Mobil hitam mewah milik Jin berhenti di lobi utama. Sebelum pintu mobil terbuka, sekelompok reporter sudah menunggu di pagar pembatas, meneriakkan pertanyaan-pertanyaan provokatif. Namun, alih-alih menghindar, Jin turun dari mobil dengan bantuan Tae. Ia berdiri tegak, menyesuaikan dasinya, dan menatap para reporter dengan tatapan dingin yang berwibawa.
Namjoon, Yoongi, Hoseok, Chanyeol, dan Ken membentuk formasi perlindungan di sekitarnya. Mereka tidak menjawab pertanyaan, hanya membuka jalan bagi Jin menuju pintu masuk gedung.
Di dalam lift menuju lantai eksekutif, keheningan mencekam. Jin memegang erat tongkatnya-aksesori yang sebenarnya tidak ia butuhkan untuk berjalan, tetapi ia gunakan sebagai simbol kekuatan dan ketenangan.
"Lift ini terasa seperti naik ke tiang gantung," canda Hoseok mencoba memecah ketegangan, meski keringat dingin terlihat di dahinya.
Yoongi mendengus. "Jangan bicara sial, Hobi. Fokus."
Pintu lift terbuka di lantai 45. Ruang rapat direksi terletak di ujung koridor. Dua pengawal pribadi Xiumin berdiri di depan pintu ganda kayu mahoni itu, menghalangi jalan.
"Maaf, Tuan Kim," kata salah satu pengawal dengan wajah datar. "Rapat tertutup hanya untuk anggota Dewan Direksi. Keluarga dan staf eksternal tidak diizinkan masuk."
Jin tersenyum tipis, senyuman yang lebih menakutkan daripada amarah. "Aku adalah Presiden Direktur perusahaan ini. Dan mereka," ia menunjuk Namjoon dan lainnya, "adalah penasihat hukum dan teknis pribadiku yang memiliki izin keamanan tingkat tertinggi. Jika kalian menghalangi saya, saya akan memecat kalian detik ini juga, dan menuntut perusahaan keamanan kalian karena pelanggaran kontrak."
Pengawal itu ragu, menatap rekan kerjanya. Sebelum mereka bisa memutuskan, pintu rapat terbuka dari dalam.
Xiumin keluar, mengenakan jas abu-abu mahal dengan senyuman kemenangan yang dipaksakan. Di belakangnya, Chen tampak gugup, menghindari kontak mata dengan Jin.
"Oh, Jin-hyung," kata Xiumin dengan nada pura-pura terkejut. "Kami kira kau masih terlalu lemah untuk datang. Dokter menyarankan istirahat total, kan? Masuklah, tapi... apakah teman-temanmu ini perlu hadir? Ini urusan bisnis serius."
Jin melangkah maju, melewati Xiumin tanpa menoleh. "Urusan bisnis yang melibatkan tuduhan kriminal terhadap diriku adalah hak saya untuk membawa perwakilan. Duduklah, Xiumin. Mari kita lihat siapa yang benar-benar 'tidak stabil' di sini."
Saat Jin memasuki ruang rapat, dua belas anggota Dewan Direksi sudah duduk mengelilingi meja oval raksasa. Suasana tegang. Beberapa anggota dewan tampak simpati, beberapa lainnya curiga, dan sebagian lagi jelas-jelas berada di pihak Xiumin.
Xiumin mengambil tempat duduknya di sebelah kanan ketua dewan, sementara Jin memilih posisi di ujung kepala meja, tempat biasanya ia memimpin. Ia meletakkan tas dokumennya di atas meja dengan bunyi buk yang berat.
"Sebelum kita memulai agenda hari ini," kata Jin dengan suara lantang yang bergema di ruangan, "saya ingin menampilkan sesuatu. Sesuatu yang mungkin belum dilihat oleh para anggota dewan terhormat."
Ia memberi isyarat pada Namjoon. Namjoon menghubungkan laptopnya ke proyektor besar di dinding. Layar putih menyala, menampilkan logo Kim Corp, lalu berubah menjadi grafik jaringan kompleks berwarna merah dan biru.
"Apa ini?" tanya Ketua Dewan, seorang pria tua berkacamata tebal, dengan bingung.
"Ini adalah peta kejahatan digital," jawab Jin tenang. "Yang mencoba menghancurkan nilai saham perusahaan kita, merusak reputasi CEO-nya, dan memanipulasi opini publik demi pengambilalihan kekuasaan ilegal."
Xiumin tertawa ringan, meski tangannya gemetar di bawah meja. "Jin-hyung, kau masih berhalusinasi? Kami di sini untuk membahas kesehatanmu, bukan teori konspirasi fiksi."
"Bukan fiksi, Xiumin," sahut Kyungsoo, yang langkah kakinya masuk ke ruangan diikuti oleh Chanyeol dan Ken. Kyungsoo meletakkan sebuah flash drive di depan Ketua Dewan. "Ini adalah rekaman log server, analisis forensik dokumen palsu, dan jejak IP yang mengarah langsung ke komputer di firma hukum yang dimiliki oleh saudara sepupu Tuan Chen. Semua diverifikasi oleh auditor independen yang kami sewa tadi malam."
Ruangan menjadi hening total. Chen terlihat pucat pasi, keringat dingin mengalir di pelipisnya.
"Dan," tambah Chanyeol sambil melemparkan koran pagi ini ke atas meja, "halaman depan semua surat kabar utama hari ini bukan lagi tentang skandal korupsi Jin. Tapi tentang 'Upaya Sabotase Korporat oleh Pihak Internal Kim Corp'. Publik sudah tahu, Xiumin. Permainanmu sudah selesai."
Xiumin bangkit dari kursinya, wajahnya merah padam karena marah dan malu. "Ini... ini fitnah balik! Kalian tidak punya bukti sah!"
"Bukti sah sedang dalam proses penyitaan oleh polisi cyber," kata Namjoon dingin. "Mereka sudah di lobby gedung ini sejak lima menit yang lalu, menunggu perintah dari Ketua Dewan untuk mengamankan ruang rapat ini sebagai TKP."
Ketua Dewan, yang kini memahami gravitasi situasi, mengetuk palu kecilnya di meja. "Cukup. Saya meminta Tuan Xiumin dan Tuan Chen untuk tetap di tempat. Polisi akan segera masuk. Rapat ini ditunda hingga penyelidikan selesai."
Jin duduk kembali, napasnya sedikit berat karena kelelahan, tetapi matanya bersinar dengan kemenangan. Ia menatap Xiumin yang kini terduduk lemas, kehancuran terpampang jelas di wajahnya.
Badai telah berlalu. Dan Jin, bersama keluarganya yang dipilih sendiri, berdiri tegak di tengah reruntuhan musuh-musuhnya.
Namun, di kejauhan, melalui jendela kaca besar ruang rapat, Jin melihat sebuah mobil hitam parkir di seberang jalan. Seorang pria bertopi topi baseball menurunkan kaca jendela sedikit, menatap ke arah gedung Kim Corp, lalu tersenyum misterius sebelum mobil itu melaju pergi.
Perang mungkin sudah dimenangkan, tetapi Jin merasa ini hanyalah babak pertama dari konflik yang jauh lebih besar.