Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 ORANG YANG HANYA MENJALANKAN PERINTAH
Nama Revan Daneswara muncul lagi. Sebelumnya, Revan tercatat sebagai orang yang memasukkan permintaan pembayaran untuk pengajuan surat kematian Kaluna. Kini namanya juga tercantum sebagai pemegang terakhir telepon perusahaan yang digunakan untuk mengambil foto Kaluna di hotel.
Dua petunjuk berbeda sekarang mengarah pada orang yang sama.
Kaluna membaca formulir serah terima perangkat di layar komputer.
“Tanggal pengembaliannya kapan?” tanya Naren.
Staf inventaris menggulir halaman. “Tidak ada tanggal pengembalian.”
“Artinya?”
“Perangkat belum pernah dikembalikan secara resmi.”
Salindri mendekat. “Apakah telepon itu masih terdaftar sebagai perangkat aktif?”
Staf tersebut memeriksa sistem lain. “Statusnya hilang.”
“Hilang sejak kapan?”
“Dilaporkan sekitar tiga minggu setelah kecelakaan Ibu Kaluna.”
Kaluna mengangkat kepala. “Siapa yang membuat laporan kehilangan?”
Staf inventaris membuka lampiran berikutnya.
Nama Revan kembali muncul.
Naren mencatat nomor dokumen dan tanggal pelaporan.
“Alasan kehilangan?”
“Terjatuh saat perjalanan dinas.”
“Perjalanan ke mana?”
“Tidak tertulis.”
Salindri mengambil foto layar setelah staf memberikan izin. “Kami membutuhkan salinan formulir serah terima dan laporan kehilangan.”
“Saya harus meminta persetujuan atasan.”
“Ajukan sekarang.”
Staf itu tampak ragu, tetapi mulai mengetik surel.
Kaluna menjauh dari komputer. Ia tidak ingin langsung menuduh Revan, tetapi terlalu banyak jejak yang berakhir pada lelaki itu. Telepon yang dipakai mengambil foto hotel berada di tangannya. Pembayaran jasa hukum untuk menyatakan Kaluna meninggal dimasukkan menggunakan namanya. Kemudian perangkat itu dinyatakan hilang setelah kecelakaan.
“Di mana kantor Revan?” tanya Kaluna.
Staf menunjuk ke lantai atas. “Masih di Kantor Ketua Dewan.”
“Dia ada hari ini?”
“Saya tidak tahu.”
Kaluna langsung berjalan menuju pintu.
Salindri memanggilnya. “Kita belum punya janji.”
“Aku nggak mau kasih dia waktu.”
“Kaluna.”
Ia berhenti.
Salindri memasukkan tabletnya ke dalam tas. “Kita datang untuk minta penjelasan, bukan menuduh. Kalau dia merasa ditekan, dia bisa tutup diri.”
“Aku tidak akan mengancam.”
Naren berdiri di dekat pintu. “Tapi kau sedang marah.”
“Anakku diikuti seseorang yang memakai kendaraan rekanan perusahaan. Aku berhak marah.”
“Benar,” jawab Naren. “Tapi belum ada bukti Revan mengirim orang itu.”
Kaluna memandang keduanya, lalu menghela napas perlahan.
“Baik. Kita bertanya.”
Mereka naik menuju lantai kantor dewan. Berbeda dengan lantai operasional yang ramai, lorong di sana terasa lebih tenang. Pintu-pintu ruangan tertutup. Hanya terdengar suara pendingin udara dan langkah sepatu mereka di lantai.
Seorang sekretaris duduk di meja depan.
“Kami ingin bertemu Revan Daneswara,” kata Salindri.
“Apakah sudah membuat janji?”
“Belum.”
Sekretaris itu melihat Kaluna dan langsung mengenalinya. Perubahan wajahnya hanya berlangsung sesaat sebelum ia kembali bersikap profesional.
“Pak Revan sedang bekerja.”
“Katakan Kaluna Adiswara ingin menemuinya.”
Sekretaris tersebut ragu, kemudian mengangkat telepon. Ia berbicara pelan dengan seseorang. Setelah beberapa detik, ia menutup sambungan.
“Pak Revan bisa menerima kalian sebentar.”
Kaluna dan Naren saling bertukar pandang.
Revan tidak berusaha menghindar.
Pintu ruangannya berada di ujung lorong. Sekretaris membuka pintu, lalu mempersilakan mereka masuk.
Revan Daneswara berdiri di balik meja kerjanya. Usianya sekitar pertengahan tiga puluhan. Tubuhnya kurus, rambutnya disisir rapi, dan kemeja putih yang dikenakannya terlihat terlalu longgar di bagian bahu. Kaluna pernah melihatnya berjalan di belakang Bramasta, tetapi tidak pernah memperhatikannya sedekat ini. Wajah Revan tampak lelah.
“Bu Kaluna,” katanya. “Silakan duduk.”
Kaluna tetap berdiri. “Kamu tidak terkejut melihatku?”
“Kabar kepulangan Ibu sudah diketahui semua orang di gedung ini.”
“Dan kamu percaya aku Kaluna?”
Revan memandangnya sebentar. “Hasil DNA sudah keluar.”
Jawaban itu tidak memberi banyak petunjuk. Revan juga tidak menunjukkan perasaan apa pun.
Salindri meletakkan salinan formulir di atas meja.
“Kami ingin menanyakan dua hal.”
Revan melihat dokumen tersebut. Wajahnya tidak langsung berubah, tetapi tangannya yang berada di atas meja perlahan ditarik ke pangkuannya.
“Silakan.”
“Permintaan pembayaran jasa hukum untuk pengajuan kematian Kaluna dimasukkan menggunakan nama Anda,” kata Salindri. “Apakah benar?”
Revan membaca kode transaksi.
“Kalau memang tercatat begitu, mungkin iya.”
“Mungkin?”
“Saya mengurus banyak pembayaran untuk Kantor Ketua Dewan.”
“Apakah Anda ingat pembayaran ini?”
Revan kembali melihat dokumen. “Sudah tiga tahun.”
Kaluna menahan rasa kesal. Ia sudah terlalu sering mendengar orang menggunakan waktu sebagai alasan untuk melupakan kematiannya.
“Pengajuan itu dilakukan sebelum pencarianku dihentikan,” katanya.
Revan mengangkat wajah. “Saya tidak mengetahui jadwal pencarian.”
“Tapi kamu mengurus pembayarannya.”
“Saya cuma memasukkan berdasarkan dokumen yang diberikan ke saya.”
“Oleh siapa?”
Revan diam sejenak. “Dari kantor.”
“Kantor siapa?”
“Kantor Ketua Dewan.”
“Bramasta?”
Revan merapikan posisi duduk. “Pak Bramasta adalah ketua dewan.”
“Itu bukan jawaban,” kata Kaluna.
“Bu Kaluna, saya cuma asisten. Banyak permintaan masuk lewat sekretariat. Saya juga nggak selalu tahu itu dari siapa.”
Naren yang berdiri dekat rak buku memperhatikan Revan tanpa menyela. Salindri membuka dokumen kedua.
“Telepon perusahaan dengan kode inventaris ini juga tercatat atas nama Anda.”
Revan membaca kode tersebut.
Kali ini perubahan di wajahnya lebih jelas.
“Telepon lama sekretariat,” katanya.
“Perangkat itu digunakan untuk mengambil foto Kaluna di hotel dua hari sebelum kecelakaannya.”
“Saya tidak tahu.”
“Pada hari itu, perangkat berada di bawah tanggung jawab Anda.”
Revan menggeleng kecil. “Telepon itu sering dipakai bersama.”
“Tapi formulir serah terimanya memakai tanda tangan Anda.”
“Saya yang mengambil dari bagian inventaris. Bukan berarti saya satu-satunya yang menggunakan.”
“Siapa saja yang menggunakannya?”
“Saya tidak ingat.”
Kaluna melangkah mendekati meja.
“Setelah kecelakaanku, kamu melaporkan telepon itu hilang.”
Revan terdiam.
“Di mana perangkatnya hilang?”
“Dalam perjalanan.”
“Perjalanan ke mana?”
“Saya tidak ingat.”
Kaluna menahan napas.
“Kok yang penting- penting malah nggak kamu ingat?”
Revan menarik napas. “Saya tidak menyimpan catatan pribadi untuk semua tugas tiga tahun lalu.”
“Tapi soal telepon itu kamu masih ingat.”
Revan tidak menjawab.
Salindri mengangkat tangan untuk menahan Kaluna.
“Pak Revan, kami belum bilang Anda melakukan semua itu.”
“Lalu kenapa kalian datang bertiga?”
“Karena nama Anda muncul pada dua proses yang sedang kami periksa.”
Revan memandang pintu, kemudian kembali kepada Salindri.
“Saya hanya menjalankan pekerjaan.”
“Pekerjaan dari siapa?” tanya Naren.
Baru saat itu, Revan menoleh kepada lelaki itu.
“Saya tidak mengenal Anda.”
“Naren Atmadja.”
Revan tampak terusik ketika mendengar nama tersebut.
Kaluna langsung menyadari perubahan pada wajahnya.
“Kamu mengenal Naren?” tanyanya.
“Tidak.”
“Tapi kamu tahu namanya.”
“Saya pernah mendengar.”
“Dari siapa?”
Revan mengatupkan bibir. “Perusahaan pernah memeriksa orang-orang yang mencari informasi internal.”
Naren mengangkat alis. “Termasuk aku?”
Revan tidak menjawab.
Kaluna merasa pembicaraan mereka mulai keluar dari soal dokumen dan perangkat. Ia tidak ingin membahas soal Naren lebih jauh di depan Revan. Fokus mereka adalah dokumen dan perangkat.
“Siapa yang memberi perintah terkait telepon itu?” tanyanya.
Revan menggeleng. “Tidak ada perintah khusus.”
“Jadi telepon perusahaan mengambil fotoku sendiri?”
“Saya tidak mengatakan begitu.”
“Lalu siapa?”
“Saya tidak tahu.”
Kaluna menahan kedua tangannya di sisi tubuh. Ia ingin percaya Revan memang tidak tahu. Cara lelaki itu beberapa kali melirik pintu membuatnya sulit percaya bahwa ia hanya sedang berhati-hati.
“Apakah ada yang mengancammu?” tanya Kaluna.
Revan langsung menegang. “Tidak.”
“Keluargamu?”
“Jangan bawa keluarga saya.”
Jawaban itu keluar terlalu cepat.
Kaluna menurunkan suaranya. “Aku tidak tahu siapa keluargamu.”
“Kalau begitu jangan membicarakan mereka.”
“Aku cuma bertanya.”
Revan berdiri dari kursinya. “Saya sudah jawab sebatas yang saya tahu. Kalau ada pertanyaan resmi, lewat bagian hukum saja.”
“Kenapa kamu takut?” tanya Kaluna.
“Saya tidak takut.”
“Tanganmu gemetar.”
Revan menunduk sebentar. Jemari kanannya memang bergerak kecil di dekat sisi meja. Ia segera mengepalkannya.
“Saya banyak pekerjaan.”
“Kamu ingin kami pergi?”
“Iya.”
Kaluna belum bergerak.
Salindri mengumpulkan dokumen.
“Baik. Kami akan mengirim permintaan tertulis. Saya sarankan Anda tidak menghapus atau memindahkan arsip apa pun yang berkaitan dengan Kaluna.”
“Saya tidak punya arsip seperti itu.”
“Kalau memang tidak ada, Anda tidak perlu khawatir.”
Salindri berjalan menuju pintu. Naren mengikutinya.
Kaluna masih berdiri di depan meja Revan.
“Orang yang mengikuti Elara memakai kendaraan rekanan Mahardika Medika,” katanya.
Revan mengangkat wajah. Sikapnya berubah. Bukan bingung. Ia tampak benar-benar terkejut.
“Elara diikuti?” tanyanya.
“Seorang pria datang ke sekolah dan mengaku sebagai utusan keluarga Mahardika.”
Revan menelan ludah. “Kapan?”
“Kemarin.”
“Apakah Elara baik-baik saja?”
“Untuk sekarang.”
Revan duduk kembali perlahan. Sikap Revan kali ini berbeda dari sebelumnya. Kaluna tidak menangkap tanda-tanda bahwa Revan sedang berpura-pura. Ia tampak tidak mengetahui ancaman terhadap Elara.
“Kalau kamu tahu sesuatu, bilang.”
“Saya tidak tahu soal anak Anda.”
“Tapi kamu tahu soal yang lain.”
Revan menggeleng, meskipun gerakannya tidak lagi meyakinkan.
“Kaluna,” panggil Salindri dari pintu.
Kaluna masih di tempatnya.
“Seseorang sudah mengambil tiga tahun hidupku. Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh Elara.”
Wajah Revan tampak semakin pucat.
“Jangan mencari saya lagi di kantor,” katanya pelan.
“Kenapa?”
Revan melirik kamera kecil yang terpasang di sudut langit-langit.
Kaluna mengikuti arah pandangannya.
Kamera pengawas.
Revan kembali berbicara dengan suara normal.
“Saya memang tidak bisa membantu.”
Kaluna merasa kalimat itu bukan jawaban yang sebenarnya. Ia berbalik dan keluar bersama Naren serta Salindri.
Mereka baru berjalan beberapa langkah ketika suara pintu terbuka di belakang.
Revan berdiri di ambang ruangannya.
“Bu Kaluna.”
Kaluna menoleh.
Revan memegang sebuah map, tetapi tidak keluar dari ruangan.
“Surat kematian itu bukan satu-satunya dokumen yang saya masukkan menggunakan nama Anda.”
Lorong itu mendadak sunyi.
Kaluna kembali menghadap Revan.
“Dokumen apa lagi?”
Revan memandang kamera di ujung lorong, lalu kembali kepada Kaluna.
Ia menggeleng pelan.
“Bukan di sini.”