Indonesia
NovelToon NovelToon
HALAMAN TERAKHIR

HALAMAN TERAKHIR

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Teen School/College / Cinta pada Pandangan Pertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: T.K. OKVIANDI

Bagi Rindu Setia Wiratman, hidup adalah buku catatan yang penuh dengan aturan ketat, ekspektasi, dan kesempurnaan semu. Sebagai gadis populer yang selalu memegang kendali, ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuliskan babak paling menyakitkan di saat ia merasa paling rapuh—ketika keluarganya runtuh dan dunianya hancur perlahan.

Di sisi lain, ada Langit Batara Nugroho, cowok arogan yang kehadirannya selalu berhasil menyulut emosi Rindu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, Langit menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas dan sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur rapat-rapat.

Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari halaman-halaman berat yang harus mereka balik bersama. Ketika badai menerpa hidup Rindu, justru Langit—seseorang yang paling ia benci—menjadi satu-satunya tempat untuk bersandar.

Namun, pertanyaannya: apakah mereka akan bertahan hingga akhir babak cerita, atau justru terhenti di halaman terakhir kisah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T.K. OKVIANDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HALAMAN TUJUH

Suasana di bagian luar salah satu rumah sakit terlihat ramai, hingga datang mobil polisi yang membawa Setiana dan Pak wito lewat menyalakan sirine meminta jalan ke arah UGD. Setiana dan Pak Wito segera dimasukkan ke dalam ruang UGD, tak lama berselang seorang perawat keluar dari ruang UGD dan bertanya kepada polisi yang sedang menunggu di depan ruang UGD termasuk Inspektur Nugroho.

"Malam bapak bapak, siapa dari bapak bapak yang merupakan keluarga dari ibu yang tadi? Soalnya harus dilakukan operasi segera" Ucap perawat itu kepada para polisi. "Maaf mbak tidak ada, kebetulan kami berada di lukasi saat kami sedang meringkus perampok, sebentar mbak saya cari tau" Ucap Inspektur Nugroho. "Briptu Ridho , coba tolung ambil tas ibu tadi di mobil"Ucap Inspektur Nugroho memanggil salah satu personil kepolisian. "Siap pak" Ucap Briptu Ridho dengan posisi sigapnya dan segera pergi keluar rumah sakit.

Selang beberapa menit, Briptu Ridho kembali menghadap ke Inspektur lalu menyerahkan tas milik Setiana. Inspektur Nugroho mengambil Handphone dari tas tersebut dengan disaksikan oleh perawat dan polisi lainnya. Dia lalu menghubungi kontak di handphone tersebut dengan nama ‘Anakku’.

****

"Gue yang baru selesei mandi, baru aja selesei pake baju, denger hp gue bunyi, gue liat ternyata nomor nyokap gue, tapi pas gue angkat kok cowok yang telepon" Ucap Rindu kembali menjelaskan kepada temannya.

****

Suasana di kamar Rindu dimana Rindu mengenakan pakaian tidurnya dengan handuk masih menutupi rambutnya. Baru saja Rindu duduk di atas tempat tidur, handphone Rindu pun berbunyi, setelah dilihat ternyata panggilan dari Ibunya. Rindu pun langsung mengangkat panggilan itu. "Assalamu alikum mah, tumben belum pulang mah jam segini" Ucap Rindu. "Halu selamat malam" Ucap Inspektur Nugroho

"Selamat malam pak, ini siapa ya kok handphone Ibu saya kenapa bisa ada di bapak?" Tanya Rindu yang terkejut karena yang menghubungi nya dari nomor ibunya itu suara laki-laki.

"Saya Inspektur Nugraha dari kepolisian, tadi mobil ibu setiana dibuntuti oleh perampok sehingga melapor ke kami, perampok itu pun berhasil di ringkus , tapi entah kenapa saya juga kurang jelas, setelah beberapa puluh meter meninggalkan lukasi kami mobil ibu Setiana mengalami kecelakaan tunggal. Supir ibu Setiana hanya shock dan sekarang sedang tak sadarkan diri di UGD karena masih selamat mengenakan sabuk keselamatan" Inspektur Nugroho menjelaskan yang baru saja dialami Setiana.

"Terus Ibu saya gimana pak? , bapak nggak becanda kan?" Ucap Rindu sambil menangis

"Ibu anda terlempar keluar mobil, ada sedikit pendarahan di kepalanya, sekarang sedang dilakukan tindakkan di UGD, keluarga Ibu Setiana sangat ditunggu, karena dari pihak rumah sakit bilang perlu persetujuan keluarga untuk melakukan tindakan operasi segera" Ucap Inspektur Nugroho.

"Astagfirullah al adzim Ibu ... baik pak, saya sama Ayah saya segera kesana, rumah sakit mana ya pak?" Ucap Rindu dengan tangisnya yang semakin menjadi-jadi. "Rumah Sakit Permata sehati yang deket dengan mall itu" Jawab Inspektur Nugroho.

"Oh iya pak saya tau, baik saya segera kesana kebetulan tidak terlalu jauh dari sini" Ucap Rindu dengan tak hentinya menangis.

Rindu mennggakhiri panggilan telepon tersebut dan segera berganti pakaian. Setelah usai berganti pakaian Rindu segera keluar dari kamar nya dengan berlari langsung memanggil mang Yanto untuk segera mengantarnya ke rumah sakit. "Mang Yanto!! Mang !! Anter aku , Buruan" Ucap Rindu dengan terus menangis.

"Kemana non, ini kan udah malem, nanti mamang diomelin ibu sama bapak ah" Ucap Mang Yanto.

"Buruan Mang !! Ibu kecelakaan !! nanti aku juga telepon ayah biar langsung ke rumah sakit. Buruan Mang!!" Ucap Rindu dengan sedikit teriak dalam tangisnya.

"Astagfirullah non , yang bener. Ya udah non ayo" Jawab Mang Yanto.

Mang Yanto langsung berlari ke mobil lalu mghidupkan mobil tersebut. Rindup segera menyusul ke mobil. Mobil pun berjalan meninggalkan rumah. Selama perjalanan mobil melaju dengan sangat cepat sambil menyalakan lampu hazard nya menandakan tergesa-gesanya mobil itu. Di perjalanan Rindu pun menghubungi ayah nya. Rindu mengeluarkan Handphonenya dan langsung menghubungi ayahnya walau masih terus menangis.

"Halu Yah, Ayah masih di kantor? Ayah langsung ke rumah sakit ya, rumah sakit Permata Sehati yang deket mall itu, cepet ya yah" Ucap Rindu dengan terisak isak karena tangisnya.

"Halu Rindu, Rumah sakit? Kenapa? Siapa yang sakit?" Surya dengan penuh tanya.

"Ibu Yah , Ibu....." Ucap Rindu terputus-putus.

"Ibu ? Kenapa sama Ibu, Rindu? Ibu kenapa?" Tanya Surya dengan cemas.

"Ibu kecelakaan Yah.... sekarang mau dioperasi nunggu kita" Ucap Rindu dengan tangisan semakin menjadi-jadi.

"Astagfirullah Al Adzim Ibu.... kenapa??? Kok bisa? Ya udah Ayah langsung pulang sekarang kita ketemu disana" Ucap Surya dan bergegas merapihkan meja kerjanya lalu langsung meninggalkan kantornya mengendarai mobilnya seorang diri.

Sementara itu di tempat lain, Rindu masih terus menangis di mobilnya tanpa henti. "Non Rindu yang sabar ya, kita doain aja semoga ibu baik-baik aja, kalau nanti dioperasi ya semoga semua berjalan lancar nggak ada halangan, kan kalau umur sama takdir di tangan Allah non, non pernah belajar kan? Yang katanya hidup mati , sehat sakit, kaya miskin seseorang itu udah ada yang ngatur non" Mang Yanto berusaha meredakan kesedihan Rindu.

"Iya sih mang , tapi gimana ya , nggak nyangka aja aku mang kenama bisa kayak begini" kata Rindu

Suasana jalan depan rumah sakit terlihat sedikit lengang dikarenakan jarum pendek pada jam telah menunjuk ke arah angka 9. Terlihat mobil Rindu memasuki rumah sakit dan berhenti di depan pintu masuk Rumah sakit, Rindupun keluar dari mobilnya dan langsung berlari masuk ke gedung Rumah sakit , sementara mobil Rindu meninggalkan posisi tersebutuntuk mencari tempat parkir.

Di depan ruang UGD masih tampak beberapa anggota polisi termasuk inspektur Nugroho berdiri disana sambil memegangi tas Setiana. Dari pintu masuk rumah sakit, terlihat Rindu berlari menuju UGD. Dia berlari tanpa memperhatikan sekitar, hingga tempat sampahpun dia tabrak. Satpam pun menegur Rindu. "Maaf mbak mohon tidak berlari-lari , ini rumah sakit" Tegur seorang satpam kepada Rindu.

"Iya maaf pak, UGD mana pak, ibu saya kecelakaan, UGD mana pak" Kata Rindu sambil terus menangis.

"UGD di sana mbak, tenang mbak, mohon jangan berlari" Kata satpam sambil menunjuk kearah UGD

Rindu berjalan dengan cepatnya ke arah yang ditunjukkan oleh satpam itu. Rindupun sudah terlihat dari depan UGD , Rindu yang datang sambil menangis dengan nafas sedikit terengah engah menghampiri Inspektur Nugroho.Inspektur Nugroho yang melihat itu pun memberikan sebotol air mineral kepada Rindu, dan Rindupun meminumnya.

"Terima kasih pak, bagaimana keadaan Ibu saya pak" Tanya Rindu dengan mata masih mengeluarkan air mata.

"Kamu pasti Rindu, yang saya hubungi tadi ya, Ibu kamu sekarang sedang dilakukan tindakan, tinggal menunggu persetujuan keluarga untuk melakukan operasi. Ayah kamu mana? Perlu tanda tangan Ayah kamu untuk persetujuan operasi" Inspektur Nugroho menjelaskan kepada Rindu.

"Ayah masih di jalan pak, biar saya saja yang tanda tangan biar semakin cepet dilakukan tindakan lebih" Ucap Rindu.

"Baik biar saya tanya ke perawatnya, kamu tunggu di sini" jawab Inspektur Nugroho dan kemudian masuk kedalam ruang UGD.

Tidak berselang lama setelah Inspektur Nugroho masuk, datang Surya bersama Mang Yanto yang membawakan tasnya. Sesampainya di depan UGD, Surya langsung memeluk Rindu. "Ayah..... Ibu Yah" Rindu menangis sambil memeluk Surya.

"Iya Rin.. kita harus tabah , kita doain aja semua lancar ya Rin" Surya beriusaha meredakan kesedihan Rindu

Pintu ruang UGD pun terbuka, lalu bersamaan dengan itu keluar Inspektur Nugroho bersama perawat yang membawa sebuah map kertas dan sebuah pulpen. Perawat tersebut lalu menyerahkan berkas itu kepada ayah Rindu dan menjelaskan nya, setelah cukup mengerti dari penjelasan perawat itu, ayah Rindu pun menanda tanganimberkas tersebut, dan perawat itu pun kembali masuk ke ruang UGD. Surya pun mengucapkan terima kasih kepada polisi-polisi yang ada di sana, kemudian polisi-polisi itu pun berpamitan dan meninggalkan rumah sakit. Inspektur Nugroho pun berpamitan kepada Rindu dan menyerahkan tas ibunya Rindu.

"Rindu ini tas Ibu kamu, tenang aja jangan nangis terus , kamu sebaiknya berdoa terus. Insya Allah nggak akan kejadian seperti anak om, om juga punya anak seusia kamu, namanya Tara, dulu pas umur 5 tahun dia kehilangan Ibu dan adiknya karena kecelakaan, Ibu kamu beruntung masih sempat sadar dan sempat dibawa ke rumah sakit, tidak seberuntung Tara" Inspektur Nugroho mencoba menyemangati Rindu agar tetap tegar.

Inspektur Nugroho pergi meninggalkan UGD . Rindu berusaha menghapus kesedihannya , dan duduk di bangku depan ruang UGD. Surya memanggil mang Yanto, memerintahkan Mang Yanto untuk pulang membawakan pakaian salin untuk Rindu dan dirinya. Mang yanto pun mengerti dan pergi meninggalkan area UGD juga. Surya pun ikut duduk di bangku sebelah Rindu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!