Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!
Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Pintu brankas kayu gaharu di lantai sembilan Paviliun Harta berderit membuka perlahan.
Pendar hijau dari cincin giok master di jari manis Gu Ran menyapu susunan segel formasi kuno, meredam seluruh susunan kunci pelindung tanpa hambatan sedikit pun.
Begitu pintu setebal dua depa itu terbuka, aroma wangi herbal yang sangat pekat seketika menyergap hidung.
Di atas rak-rak kayu giok putih yang berjejer rapi, tersusun puluhan kotak pusaka berlapis kain sutra kuning. Setiap kotak memancarkan hawa hangat atau dingin yang menandai keberadaan tanaman obat tingkat tinggi yang dikumpulkan sekte selama ratusan tahun.
“Xiao Zhu, Song Ming,” panggil Gu Ran santai sambil melangkah masuk. “Buka karungnya. Ambil semua kotak di tiga rak teratas.”
Xiao Zhu mengangguk antusias, segera membentangkan dua karung kain sutra berukuran besar.
Di sampingnya, Song Ming melangkah dengan bahu lesu. Tuan Muda Sekte itu kini patuh membantu memindahkan kotak-kotak kayu giok berisi Jamur Lingzhi Darah Seribu Tahun, Teratai Api Sembilan Kelopak, dan Ginseng Giok Gunung Salju ke dalam karung.
Di sudut tangga lantai sembilan, Tetua Chen Feng duduk bersimpuh di lantai kayu dengan tubuh gemetar.
Kacamata kristalnya yang retak miring di hidungnya. Tangannya memegang sebatang kuas tinta yang bergetar tak terkendali di atas buku kas perbendaharaan sekte, sementara air mata terus menetes membasahi halaman kertas jerami.
“Jamur Lingzhi Darah… delapan puluh ribu batu roh…” rintih Chen Feng dengan suara tercekat menahan tangis. “Teratai Api Sembilan Kelopak… seratus lima puluh ribu batu roh… habis… kas sekte benar-benar habis dirampok…”
Gu Ran melirik tetua kikir yang sedang menangis di sudut tangga itu, lalu tersenyum tipis.
“Tetua Chen, catat saja semuanya sebagai biaya kompensasi trauma tidurku,” kata Gu Ran datar.
Chen Feng mencengkeram dadanya sendiri, terbatuk pelan menahan rasa sesak yang nyaris membuatnya pingsan untuk kedua kalinya.
Satu jam kemudian, di kamar tidur utama Paviliun Awan Mengambang.
Dua karung sutra besar telah dibongkar di atas meja pernis merah. Puluhan kotak giok terbuka lebar, memperlihatkan akar-akar ginseng bercahaya keemasan dan kelopak teratai api yang mengepulkan hawa hangat.
Gu Ran duduk bersila di atas ranjang kayu cendana.
Ia meraih sebatang Jamur Lingzhi Darah seukuran telapak tangan, lalu menggigit dan mengunyahnya bagai memakan keripik jamur kering. Rasa pahit manis yang pekat seketika meresap ke dalam air liurnya, diikuti gelombang energi panas yang mengalir deras ke kerongkongan.
Gu Ran menelan ramuan itu perlahan, lalu beralih memakan tiga lembar kelopak Teratai Api.
Di dalam rongga tubuhnya, gelombang esensi obat herbal seketika bergolak dahsyat. Energi murni yang setara dengan penyerapan ratusan ribu batu roh fana menyapu sembilan jalur meridiannya yang baru saja tersambung di Tingkat 3.
Di sudut pandangannya, antarmuka sistem abu-abu transparan berpendar terang:
[Sistem Mengonversi Surplus Energi Herbal Menjadi Esensi Takdir Purba.]
[Proses Rekonstruksi Jalur Energi: Dimulai.]
KREK! KLIK!
Suara desingan merdu berdenting di dalam tulang belikat Gu Ran.
Sisa-sisa rapuh dari struktur Meridian Sembilan Belitan Cacat miliknya seketika larut dan terbakar habis oleh aliran cairan keemasan murni. Saluran-saluran energi yang semula sempit kini melebar tiga kali lipat, memancarkan corak ukiran kuno yang berpendar tenang di balik lapisan daging dan kulitnya.
Jalur energi baru ini berdiri terpisah dari sirkulasi fana biasa.
Meridian yang baru terbentuk ini menolak menyerap Qi kotor dari alam semesta; jalur tersebut secara mandiri memproduksi sirkulasi energi kausalitas takdir yang berdiri di luar hukum elemen langit dan bumi.
Meridian Kausalitas Purba telah bangkit seutuhnya di dalam raga fana pemuda itu.
WUZZZH!
Pusaran hawa keemasan tipis meledak dari tubuh Gu Ran, meniup tirai sutra kamar hingga berkibar kencang.
Sensasi kekuatan yang kokoh dan berbobot mengalir mantap ke seluruh ujung jari tangannya.
Tanpa mengalami hambatan meridian sedikit pun, Gu Ran melompat melewati Tingkat 4, 5, 6, 7, hingga 8, sebelum akhirnya mengunci sirkulasi energinya tepat di Puncak Tingkat 9 Pemurnian Qi.
Gu Ran membuka matanya perlahan. Sepasang iris kelabu gelapnya kini memancarkan pendar cincin keemasan ganda yang sangat samar di sekeliling pupilnya, sebelum kembali meredup menjadi tatapan malas.
Ia menggerakkan pergelangan tangannya, merasakan kekuatan barunya yang tenang tanpa riak kebocoran Qi sedikit pun.
“Meridian purba sudah selesai,” gumam Gu Ran santai sambil menyandarkan punggungnya ke bantal sutra. “Sekarang tinggal menikmati angin sore di tebing.”