Indonesia
NovelToon NovelToon
Terlalu Tinggi Untuk Kamu Gapai

Terlalu Tinggi Untuk Kamu Gapai

Status: tamat
Genre:CEO / Balas Dendam / Cintapertama / Tamat
Popularitas:963
Nilai: 5
Nama Author: Kacang atoom

Seorang pelayan yang dihina dan dikhianati bangkit sebagai CEO konglomerat misterius demi membalas dendam, namun takdir penyesalan dan pengorbanan mengubah rasa benci tersebut menjadi perjuangan cinta sejati yang mendewasakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang atoom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Kotak Bekal yang Terbuang

​Alarm ponsel Siska berdering nyaring saat jarum jam dinding menunjukkan pukul 04.00 pagi. Di dalam kontrakan kecilnya yang sepi dan dingin, Siska langsung beranjak dari tempat tidur tanpa rasa ragu. Rasa lelah yang menumpuk di tubuhnya menguap seketika, tergantikan oleh sebuah tekad baru yang membakar sanubarinya. Setelah membersihkan diri dan merapikan pakaian, ia melangkah menuju dapur sederhana yang jarang sekali ia sentuh selama ini.

​Dengan teliti dan hati-hati, Siska mulai menyiapkan bahan-bahan masakan. Jemarinya yang masih terbalut perban tipis bergerak memotong sayuran, mengocok telur, dan mengolah resep tumis ayam mentega—masakan sederhana kesukaan Rendy semasa mereka masih duduk di bangku sekolah dulu.

Dulu, Rendy selalu melahap masakan buatannya dengan wajah berbinar dan senyuman penuh rasa syukur, meski rasanya kadang terlampau asin atau sedikit gosong. Siska mengabaikan perih di telapak tangannya yang lecet, fokus memberikan usaha terbaiknya agar hidangan itu terasa sempurna.

​Sekitar pukul 05.30 pagi, masakan itu selesai dibuat. Siska menatanya dengan sangat rapi ke dalam sebuah kotak bekal berwarna biru lembut, lalu membungkusnya dengan kain khusus. Ada kehangatan kecil yang merayapi dadanya—sebuah harapan sederhana bahwa niat tulusnya ini bisa sedikit melunakkan kebekuan di hati Rendy.

​Pukul 06.30 pagi, Siska sudah berdiri di dalam ruang kerja CEO di lantai 50 Menara Adhitama. Ruangan itu masih sepi dan hening. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Siska melangkah mendekati meja kerja kayu jati yang megah itu, meletakkan kotak bekal buatannya tepat di sudut meja bersama secarik kertas kecil bertuliskan:

"Selamat bekerja, Tuan Adhitama. Mohon dimakan agar tidak sakit."

​Siska kemudian berbalik dan berdiri tegak di samping posisi kerjanya, menunggu kedatangan sang CEO dengan dada berdebar kencang.

​Tepat pukul 07.00 pagi, pintu kaca tebal terbuka otomatis. Rendy melangkah masuk dengan gaya anggun yang amat dominan. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap buatan Italia yang makin mempertegas auranya sebagai pimpinan tertinggi Adhitama Group. Di belakangnya, Sekretaris Maya—sekretaris senior yang bertugas mendampinginya—melangkah cepat seraya membacakan agenda rapat hari ini.

​Rendy berjalan lurus menuju kursi kebesarannya. Namun, tatapan matanya yang tajam langsung menangkap keberadaan wadah asing berbungkus kain biru di sudut meja kerjanya. Langkah kakinya terhenti sejenak.

​Siska menahan napas, menatap Rendy dengan binar mata yang penuh harap.

​Rendy meraih secarik kertas kecil di samping kotak itu, membaca tulisan tangan Siska dalam hening. Wajahnya yang tampan tetap datar, tak memperlihatkan emosi apa pun—tidak ada amarah, tidak ada kehangatan, hanya kekosongan yang membekukan.

​Pria itu meletakkan kembali kertas tersebut. Tanpa membuka bungkus kainnya, tanpa menyentuh kotak bekal itu sedikit pun, Rendy berpaling menatap Sekretaris Maya yang berdiri di dekat pintu.

​"Maya," suara Rendy mengalun pelan, dingin, dan begitu berjarak.

"Siapa yang mengizinkan barang asing tak berguna diletakkan di atas meja saya?"

​Sekretaris Maya tertegun, lalu melirik Siska dengan canggung.

"M-Maaf, Tuan Muda... saya tidak tahu—"

​"Ambil wadah itu," potong Rendy tanpa belas kasihan, suaranya sedatar es yang memotong udara pagi.

"Buang ke tempat sampah di luar ruangan ini sekarang juga. Jangan biarkan sampah pengotor meja kerja saya berada di sini satu detik pun lagi."

​Jleg!

​Kata-kata Rendy menghantam dada Siska bagaikan hantaman gada besi. Seluruh harapan hangat yang ia bangun sejak subuh mendadak hancur berkeping-keping. Siska membelalakkan mata, menatap Rendy dengan raut wajah pucat pasi dan bibir yang bergetar hebat.

​Sekretaris Maya yang merasa serba salah segera melangkah mendekati meja, mengambil kotak bekal biru itu dengan rasa iba terselubung, lalu membawanya keluar dari ruangan menuju area pembuangan sampah staf di dekat pantry.

​Rendy menyandarkan tubuhnya ke kursi kerja, membuka iPad-nya, dan mulai memeriksa berkas laporan seolah tidak terjadi apa-apa di ruangan itu. Ia bahkan tidak memandang Siska sedikit pun, memperlakukan wanita itu seolah-olah ia adalah bayangan transparan yang tak bernilai.

​Dengan langkah yang menyeret dan air mata yang ditahannya setengah mati di pelupuk mata, Siska melangkah ragu keluar dari ruangan CEO. Ia berjalan menuju area pantry belakang yang sepi. Di sana, di dalam tempat sampah stainless steel yang bersih, ia melihat kotak bekal birunya tergeletak menyedihkan di antara tumpukan kertas bekas.

​Siska berlutut di lantai marmer yang dingin. Dengan jemari yang gemetar hebat dan dada yang bergemuruh oleh rasa sakit yang menyiksa, ia merengkuh kembali kotak bekal itu dari tempat sampah. Siska memeluk bungkus kain biru yang masih hangat itu rapat-rapat di dadanya. Air mata penyesalan dan kepahitan akhirnya menetes deras, membasahi kain biru tersebut saat ia menyadari satu hal dengan teramat sangat: tembok es yang ia bangun sendiri di dalam hati Rendy kini begitu tebal, hingga kebaikan terkecilnya pun tak lagi memiliki arti selain dianggap sebagai sampah yang tak berharga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!