Axcelino Pierce tampak sempurna, namun raganya terpecah oleh dua kepribadian yang saling berebut kendali akibat trauma masa kecil. Menyaksikan rumahnya terbakar dan sang kakak tewas mengenaskan tepat didepan mata, membuat Amnesia traumatis yang mengunci kehidupannya. Penyakit itu mustahil disembuhkan medis, hingga ia lelah terus berbagi kehidupan.
Kehadiran Sora Kyne yang ceria menjadi titik balik. Sora bukan hanya satu-satunya orang yang sanggup meredam gejolak kepribadian ganda Axcelino, tetapi juga bertekad membantunya mengingat kembali masa lalu yang terkunci demi kesembuhan sahabat barunya itu.
Namun, misteri besar menanti, bagaimana cara mereka membongkar skandal konspirasi di balik kematian sang kakak yang janggal, sekaligus membuka kunci rahasia kesembuhan Axcelino, sebelum kepribadian gelapnya mengambil alih selamanya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lebih Mengenali Ino
# Lebih Mengenali Ino #
Setelah mengatakan hal ambigu yang terasa sangat dingin dan menyedihkan, Ino turun dengan membanting pintu mobil kuat-kuat. Ada rasa takut dan juga rasa sakit yang menjalar di dada Sora, seolah ia bisa merasakan tatapan pilu dari mata Ino yang sepertinya menyimpan banyak rahasia.
TUK... TUK... TUK...Ino mengetuk kaca jendela Sora yang masih terpaku dikursi penumpang dengan tatapan kosong.
Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menghilangkan genangan air mata yang memenuhi kelopak matanya. Lalu dengan segera ia turun mengikuti Ino masuk ke kafe yang kebetulan tak begitu ramai karena belum masuk jam sibuk makan siang. Meskipun begitu, antrean untuk pengiriman makanan online masih terlihat mengular panjang. Setelah memesan cream coffee, Sora dan Ino memilih tempat duduk di rooftop karena cuaca hari itu cukup sejuk dengan angin yang bertiup lembut, sementara matahari masih tertutup awan.
"Kamu pesan banyak banget, kenapa? Kamu pasti pengen nyenangin aku sebelum kirim aku ke kurungan kan?" sindir Ino.
Sora terkekeh menyangkal prasangka Ino. Sora yang sebenarnya hanya ingin mengambil hati dan kepercayaan Ino agar mau bercerita banyak, malah selalu diwaspadai oleh Ino. Sora mengeluarkan ponselnya lalu melakukan panggilan dengan mengaktifkan pengeras suara. Ino menegakkan duduknya dan wajahnya langsung berubah ceria saat ia mendengar kalau Nyonya Evelyn memberikan izin dirinya untuk bermain bersama Sora sampai puas.
"Dah dengar kaaan...? Ini aku pesan semua dessert yang enak-enak karena aku juga pengen ngerasain. Kemarin-kemarin tuh, tiap mau nyicip selalu ingat sama program diet. Takut gendut... takut Easton nggak suka. Dia kan selalu ingetin aku buat diet. Padahal lihat nih... lihat... Menurutmu badan mungilku ini bisa meledak jadi gemuk nggak?"
Ino tertawa saat melihat Sora yang melempar jaket oversize nya, kemudian berputar-putar menunjukkan badan mungilnya pada Ino. Ino menarik tangan Sora untuk kembali duduk, lalu menyuapinya cheesecake yang sudah ia pesan. Ino mengatakan kalau Sora bebas melakukan apa pun dan memakan apa pun asalkan tak menyakiti dirinya sendiri. Persetan dengan diet, apalagi tujuannya hanya untuk mendapatkan pujian dan kasih sayang dari orang lain. Makanan enak itu sebuah berkah yang sayang untuk dilewatkan.
Mereka berdua menikmati banyak dessert populer dan juga ice coffee sundae yang terasa sangat nikmat.
"Ino... kamu sebenarnya tahu nggak sih, kalau semalam aku sama Axcel nyariin kamu? Kita sampai ngadain ritual khusus lho. Eh... malah yang datang hantu lain. Mana ganjen banget lagi. Bisa-bisanya nyatain cinta sama Axcel, terus dia mau masuk ke ragaku, tahu. Serem banget kaaan..."
Ino menghentikan suapannya lalu meletakkan garpu yang ia pegang. Ia melipat kedua tangannya di atas meja, kemudian menyentil kening Sora.
"Jadi menurutmu sama Axcel aku ini hantu? Dan kalian berharap bisa komunikasi sama aku lewat mainan itu? Haihh... pikiran macam apa itu. Kamu kalau mau main sama aku ya harus nunggu pikiran Axcel tidur. Gimana ya jelasinnya... aku sama Axcel itu ya sama... satu raga satu jiwa. Kalau kamu lagi sama aku, berarti Axcel lagi tidur. Paham nggak?"
Sora melongo dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Memang benar-benar sulit dicerna akal pikiran. Jadi memang benar pemaparan Nyonya Evelyn, tapi masalahnya bagaimana cara mengakhiri masalah Axcel dan Ino yang serumit ini? Jika saja Ino hanya seorang arwah yang tak tenang, mudah bagi Sora mengambil langkah selanjutnya. Sekarang Sora menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
Sora juga mengingat-ingat kejadian tadi pagi saat Axcel menghampirinya dan ingin mengajaknya bicara, mungkin saja saat itu Axcel ingin menyampaikan hal-hal apa saja yang ingin ia ketahui dari Ino, persis dengan permintaan Nyonya Evelyn. Sora betul-betul yakin kalau itu benar-benar Axcel, bukan Ino. Tapi entah bagaimana caranya, tiba-tiba berubah jadi Ino. Sekarang apa yang harus ia tanyakan pada Ino? Sora harus memutar otaknya untuk mencari kata-kata yang tepat agar Ino tak curiga dengan misi tersembunyi nya ini.
"Ino, kalau gitu kamu sendiri nggak bisa kendalikan kapan waktunya gantian sama Axcel ya? Nggak ada waktu yang bisa dipastikan juga. Terus kalau kamu tiba-tiba pergi kayak dulu itu, itu karena apa? Apa karena kamu ngantuk juga terus ketiduran dan digantikan Axcel lagi? Apa konsepnya kayak gitu?"
Ino tak menjawab pertanyaan Sora. Ia tetap menunduk fokus mengaduk-aduk ice coffee-nya hingga topping ice cream nya meluber berceceran di meja kafe. Sora memukul-mukul pelan mulutnya yang tak bisa direm. Sora baru tersadar kalau pertanyaannya itu terlalu terburu-buru dan pastinya bisa membuat Ino curiga.
"Apa kamu juga nggak suka sama aku, Sora? Kayaknya kamu ingin aku pergi secepatnya dan bergantian sama Axcel lagi. Tapi... apa bener ini kemauanmu? Atau ada orang yang nyuruh kamu buat ngusir aku?"
Sora langsung menyanggah pertanyaan Ino yang sebenarnya tepat sasaran. Ino benar-benar sulit untuk dikelabui. Ino masih saja terfokus mengaduk-aduk minumannya, seolah ia benar-benar tak senang dengan perkataan Sora.
SREGGG...
"Cobain punyaku ini, tukeran ya... Sekali-kali kamu cobain rasa yang udah kecampur kayak gitu. Apa manisnya tetap ada, atau udah didominasi rasa pahit."
Ino menyodorkan cream coffee yang sudah ia aduk-aduk sedari tadi pada Sora dan mengambil alih milik Sora yang utuh. Entah apa maksudnya, mungkin Ino ingin memberitahu Sora agar lebih berhati-hati saat berbicara dengannya mengenai hal rawan sensitif antara dirinya dengan Axcel, atau mungkin tentang hal lain. Ino langsung menikmati ice cappuccino topping ice cream milik Sora tanpa mengaduknya. Ia mengambil sedikit demi sedikit topping ice cream sambil memandangi Sora yang masih terpaku memegang cangkir minuman Ino. Sora tak berani mengatakan apa pun, dan dengan ragu ia meminum cream coffee itu.
"Mmmh... Uweekk... Pahit! Katanya tadi kamu mau coba cappuccino...Kenapa pahit banget kayak espresso sih?"
Ino menyeringai dan menyuruh Sora untuk mencobanya lagi dan merasakannya dengan baik, sampai ia menemukan rasa manis yang tersembunyi dari ice cream espresso double shot. Melihat seringai Ino yang mirip psikopat, Sora tak berani menolak lagi. Ia tetap menyesap minuman itu sedikit demi sedikit dan menelan kepahitan itu dalam diam. Ia harus segera meminta maaf pada Ino sebelum Ino melakukan hal gila padanya.
"Apa kamu bisa ngerasain rasa manis dari sana? Menurutmu, kalau aku ingin punya hal-hal manis aja dan menikmati hidup ini sepenuhnya, apa itu keterlaluan? Toh Axcel juga nggak becus mengurus semua orang-orang yang nyerang dia. Kenapa harus aku yang selalu menghadapi kepahitan, dan kalau rasa manis itu datang aku selalu nggak bisa ngerasain dan diusir secara paksa?"
Otak Sora serasa ingin meledak. Ia ingin menanyakan lagi dan meminta penjelasan dari kata-kata Ino yang ambigu, tapi ia sendiri sudah ketakutan, khawatir salah bicara lagi. Akhirnya Sora hanya bisa diam dan mengingat-ingat setiap perkataan Ino. Ia berencana untuk mendiskusikannya dengan Axcel atau Nyonya Evelyn nanti.
"Apa kamu bisa ngerasain kepahitanku, Sora? Apa kamu bisa ngerti, kenapa aku ingin hidup lebih lama? Aku nggak pengen berbagi hidup dengan Axcel. Aku juga nggak mau mengatakan apa pun, kecuali menyuruh Axcel buat tidur selamanya. Biar aku aja yang melanjutkan hidupku sendiri dan bisa puas-puasin diri buat balas dendam."
Duanggg... Pernyataan Ino yang ingin menguasai tubuh Axcel sepenuhnya seperti memukul kepala Sora. Sora berpikir, apakah karena dirinya yang selalu menuruti kemauan Ino menjadikan Ino semakin serakah dan ingin mengubur Axcel dalam-dalam? Lalu bagaimana nasib Pierce Group jika harus kehilangan ahli warisnya? Sebab saat mendengarkan penuturan Nyonya Evelyn, hanya sosok Axcel-lah yang peduli dengan Nyonya Evelyn dan perusahaan.
Sementara Ino hanya ingin bersenang-senang, membuat kerusuhan, melakukan semua hal sesuka hatinya, dan hidup bebas. Ia tak pernah mau terikat dengan Pierce Group.
Itulah mengapa Nyonya Evelyn sangat ingin Ino tak pernah muncul lagi dalam diri Axcel, karena memang sudah waktunya Axcel mengambil alih dan meneruskan perjuangan Nyonya Evelyn, menaungi ratusan pekerja yang menjadi tulang punggung bagi keluarga mereka masing-masing.
"Hehehe... Sudahlah, jangan dipikirin lagi. Aku tahu kok gimana perasaanmu, aku juga senang main sama kamu. Habis ini kita ke mana? Nonton yuk, nonton..."
Sora mencoba mencairkan suasana suram yang Ino ciptakan. Dan benar saja, Ino langsung mengubah mood nya dengan cepat. Sora memang tak bisa menanggapi keluhan Ino dengan baik, ia khawatir perkataannya semakin membuat Ino termotivasi. Sora yakin Axcel dan Nyonya Evelyn tahu cara mengartikan informasi yang ia bawa tadi. Pantas saja kalau Nyonya Evelyn bersedia memberikan imbalan yang sangat besar pada Sora. Mereka berdua akhirnya sepakat untuk pergi nonton setelah menghabiskan semua pesanan mereka.
"Ahh... Kamu yang benar aja, Inooo... Kenapa milih film horor sih? Kan film yang lain banyak. Tuh yang itu tuh, film baru kayaknya lebih seru."
Sora mengeluh saat Ino menghampiri dirinya dengan membawa dua tiket film horor sambil tersenyum lebar. Mungkin karena Ino tak tahu kalau Sora ini penakut, makanya ia tak bertanya atau meminta pendapat dulu sebelum membeli tiket. Tiket sudah terbeli dan Ino sangat suka dengan film-film bergenre horor, Sora tak bisa berkutik lagi. Lebih baik menuruti semua keinginan Ino daripada melihat wajah horor Ino saat ia kesal. Wajahnya itu lebih horor daripada film-film horor yang ia takuti.
"Hai Kak... suka nonton horor juga ya? Boleh gabung ya, aku juga lagi nunggu. Kebetulan kita nonton film yang sama. Aku sendirian, jadinya nggak asyik kalau nggak ada yang diajak ngobrol."
Meja Sora dan Ino kedatangan seorang gadis yang masih berseragam sekolah. Sepertinya mereka sama-sama lagi bolos kelas. Sora mengizinkan gadis itu untuk bergabung. Jika diperhatikan, seragam yang ia kenakan sama dengan seragam khas SMA-nya dulu, jadinya Sora bisa saling bertukar cerita dengan gadis yang bernama Clara itu dengan sangat antusias.
Tapi anehnya, meskipun sibuk mengobrol dengan Sora tentang masa-masa sekolahnya dulu, gestur gadis itu terus mencoba mendekati Ino dan aktif mencari perhatian Ino. Ino terlihat sedikit risih dan tak bicara apa pun setelah kedatangan Clara. Ia merasa Sora juga tak lagi berfokus pada dirinya, merasa seperti disingkirkan, tapi sesekali tangan Clara memukul-mukul pelan tangan Ino sambil tertawa-tawa dengan Sora.
"Eh, itu gate kita udah dibuka... Yuk masuk. Kak Sora, boleh nggak tukeran duduk sama Kak Ino? Biar Kak Ino yang duduk di tengah, soalnya aku kalau takut kadang bisa refleks mukul-mukul orang di sampingku. Kasihan Kak Sora nanti kalau nggak sengaja kena pukul."
Sora langsung mengiyakan permintaan Clara, karena dirinya juga pasti tak mau jadi sasaran pukulan Clara. Sedangkan Ino sepertinya keberatan. Ia benar-benar risih dengan Clara yang sedari tadi mepet-mepet dan asal-asalan menyentuh dirinya. Ino tak suka disentuh siapa pun, termasuk sentuhan Mommy-nya. Menurutnya itu lebay, palsu, dan menjijikkan.
"Kalau nggak bisa nonton horor kenapa maksain? Balik aja sana, sekolah yang bener," tegur Ino sinis.
Sora tersenyum kaku ke arah Clara dan meminta maaf atas perkataan kasar Ino. Biar bagaimanapun Sora terbiasa bersikap sopan pada siapa pun meskipun pada orang yang baru ia kenal. Sora dan Clara menyusul Ino yang sudah masuk duluan. Dan saat Ino duduk di nomor kursinya, Sora menyuruhnya bergeser agar bisa duduk di antara Sora dan Clara, sesuai permintaan Clara.
"AAAAAA...! SEREM BANGET...!"
"AAAAA...!"
Seisi gedung berteriak ketakutan. Suasana semakin mencekam, tapi Ino sama sekali tak bisa menikmati tontonannya. Kedua wanita di sebelahnya itu sibuk berteriak. Sora bersembunyi di balik jaket oversize nya, sedangkan Ino sibuk melepaskan pelukan Clara yang mencengkeram kuat di tubuhnya. Ino yang tak suka disentuh, sekarang malah terus-terusan dipeluk Clara. Sangat menjijikkan bagi Ino.
"Hahh... Udah selesai ya... Serem banget. Ino, besok-besok jangan nonton horor lagi, jantungku udah mau copot rasanya. Inooo... Inooo... HEY... Ino... Kamu kenapa?! Clara, lepasin Ino! Kamu apain temenku?! Ino... Ino... Bangun! Kamu buat temenku kehabisan napas kah?! Tolong... tolong bantu panggil ambulans, tolong..!"
****
WADUH KIRAVERS! BENCANA BESAR TERJADI DI DALAM BIOSKOP! 😱 Histeris banget!
Ino yang super risih dan anti banget disentuh tiba-tiba dipeluk erat-erat sama Clara selama film horor berlangsung. Dan pas lampu bioskop menyala, Ino malah pingsan tak sadarkan diri sampai bikin Sora panik setengah mati!
Apakah Ino kehabisan napas dan pingsan karena trauma ekstrem pada sentuhan fisik ?
Yuk, tumpahkan teori gokil kalian di kolom komentar sekarang, Kiravers! 💬👇
Jangan lupa ya Kiravers:
TEKAN TOMBOL LIKE & LOVE (❤️) buat dukung keselamatan Axcel/Ino dan Sora!
SIMPAN NOVEL INI DI LIBRARY (TAP/BOOKMARK) kalian biar tak ketinggalan Notifikasi Bab 21!
FOLLOW PROFILKU untuk dapat update cerita paling cepat!
Terima kasih banyak sudah setia membaca dan sampai jumpa di bab selanjutnya! Happy reading, Kiravers! 🚀🔥