Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.
Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.
Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 - Pria Keras Kepala
Rania langsung panik.
Ia turun dari sisi meja dan segera menghampiri Brian.
"Brian!"
Tatapannya jatuh kepada pria itu yang kini duduk di lantai sambil menggenggam pergelangan kaki kirinya.
Wajah Brian terlihat menahan sakit.
Untuk pertama kalinya sejak pertengkaran mereka tadi...
Rania melupakan semua kemarahannya.
Yang tersisa hanya kekhawatiran.
"Kau benar-benar keras kepala!" omel Rania.
Ia berjongkok di hadapan Brian. "Sudah tahu kakimu belum pulih, masih saja memaksakan diri membawa tubuhku."
Brian mengangkat wajah. "Aku baik-baik saja."
"Baik-baik saja apanya?" Rania menatap tajam. "Kau bahkan sekarang tidak bisa berdiri."
Brian hanya terkekeh kecil.
Rania menghela napas kesal. "Kita sudah bercerai, Brian. Kau tidak seharusnya melakukan hal-hal seperti tadi. Ingat batasannya Brian," ucap Rania.
Brian yang sejak tadi diam tiba-tiba meraih lengan Rania. Gerakannya membuat Rania berhenti.
Tatapan mereka bertemu.
"Aku tidak akan membiarkan mantan istriku menjanda lebih lama lagi," ucap Brian.
Rania langsung melotot. "Brian!"
Tanpa sengaja, jari Rania menekan lebih kuat titik pada kaki Brian.
Brak! Tangan Brian menghantam sisi meja.
"Argh!" Wajah Brian langsung meringis. "Kau ingin melukaiku?!" bentaknya spontan.
Rania tersentak. "Ma-maaf!" Ia segera melepaskan tekanannya. "Aku tidak sengaja."
Brian mengembuskan napas kasar sambil memejamkan mata.
Rania kemudian menatap kakinya. "Luruskan kakimu."
"Tidak," tolak Brian.
"Brian," panggil Rania.
"Diam." Brian mencoba menopang tubuhnya.
Namun baru beberapa detik berdiri, wajahnya kembali meringis, tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan.
Rania spontan memegang lengannya. Tatapan mereka kembali bertemu.
"Berhenti keras kepala," ucap Rania.
Brian tidak menjawab.
Rania menarik napas panjang. "Berikan aku kesempatan."
Brian menatapnya.
"Aku bisa membantu menyembuhkan kakimu," ucap Rania.
Beberapa detik berlalu.
Rania kemudian menambahkan dengan suara lebih pelan. "Tapi jangan salah paham."
Brian mengangkat alis.
"Aku melakukan ini karena aku sudah berjanji kepada anakku." Tatapan Rania turun ke perutnya sendiri. "Aku sudah berjanji akan berusaha membuat ayahnya sembuh."
Brian terdiam.
Entah mengapa, kalimat sederhana itu membuat tatapannya berubah.
Namun ia akhirnya mendudukkan kembali tubuhnya di lantai. Ia mendengus kasar.
Rania ikut menghela napas. "Bagus." Ia kemudian berjongkok di samping Brian. Tangannya mulai menyentuh paha pria itu.
Brian langsung menegang.
Rania menekan beberapa titik dengan perlahan dan hati-hati.
"Aah..." Brian mengerang tertahan. Tangannya spontan mencekal lengan Rania. "Itu sakit."
Rania berhenti sebentar.
"Kau bisa lebih pelan, Rania." Nada suara Brian terdengar dingin, meskipun wajahnya masih menahan sakit.
"Baik." Rania mengurangi tekanannya.
Perlahan, pijatannya bergerak turun dari paha menuju betis.
Brian beberapa kali mengernyit ketika menemukan titik yang terasa nyeri.
Hingga akhirnya tangan Rania mencapai pergelangan kaki.
Begitu jemarinya menekan bagian tersebut—
"Argh!" Brian langsung mengepalkan tangannya.
Rania segera menghentikan gerakannya. Ia menatap kaki Brian dengan serius. "edera ini cukup parah."
Brian meliriknya. "Aku tidak suka tatapanmu." Ia memalingkan wajah.
Rania tidak menghiraukannya. "Brian, kau harus tahu sesuatu."
Brian kembali menatapnya.
"Ahli pijat tradisional yang dibawa Mona..." Rania mengamati kondisi kakinya, "tidak benar-benar menyembuhkan cederamu."
Alis Brian sedikit terangkat.
"Justru sekarang ada bagian yang mengalami pembengkakan dan aliran darah di sekitar jaringan yang cedera tidak berjalan sebagaimana mestinya."
Rania kemudian menyentuh salah satu bagian di sekitar pergelangan kaki Brian. "Terutama setelah kau mengangkat tubuhku tadi."
Brian mengerutkan kening.
"Ada tekanan yang cukup besar pada kakimu." Jari Rania menekan bagian tertentu dengan sangat hati-hati. "Kalau tidak ditangani dengan benar, bagian ini kemungkinan akan kembali membengkak."
Brian menatap kakinya. "Seberapa parah?"
Rania menggeleng. "Aku tidak bisa memastikan hanya dengan melihatnya." Iaa kemudian menatap Brian. "Tapi kita bisa melihat perkembangannya."
Brian menyipitkan mata. "Benarkah?"
"Lihat saja nanti." Rania menarik tangannya. "Sekitar satu jam dari sekarang, kemungkinan pembengkakan di pergelangan kakimu akan semakin terlihat."
Brian menatapnya beberapa detik.
"Kau tidak percaya?" Rania mengangkat alis. "Aku hanya mengatakan apa yang kulihat."
Ia kemudian kembali mendekat. "Tapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
Rania mengulurkan tangannya. "Aku akan membantumu sekarang."
Brian menatap tangan tersebut. Namun bukannya menerima, ia justru menepisnya. "Aku ingin membuktikan ucapanmu."
Rania terdiam. Kemudian menghela napas panjang. "Kau benar-benar keras kepala."
Brian menyeringai tipis.
Rania mendengus. Ia kemudian berdiri. "Kalau begitu, tanggung sendiri akibatnya."
Tanpa menunggu jawaban, Rania berbalik dan meninggalkan ruangan.
Pintu tertutup.
Ruangan kembali sunyi.
Brian menatap pintu tersebut beberapa detik.
Senyum tipis perlahan muncul di wajahnya. "Jadi kau masih peduli..." Ia menundukkan pandangan kepada kakinya.
Kemudian menyandarkan punggungnya pada sisi kursi. Kedua kakinya diluruskan.
Brian menatap langit-langit ruangan.
Sebenarnya...
Kakinya memang terasa sakit. Namun rasa sakit itu tidak seberapa dibandingkan kepuasan yang baru saja ia rasakan.
Rania masih mengkhawatirkannya. Dan itu cukup untuk membuat Brian rela menahan sedikit rasa sakit.
Ia memejamkan mata.
Tangannya perlahan terangkat menyentuh bibirnya sendiri. Pikirannya kembali pada kejadian beberapa saat lalu.
Ciuman itu.
Sentuhan Rania.
Cara wanita itu menatapnya. Semuanya masih terasa begitu nyata.
Sudut bibir Brian terangkat. Senyumnya semakin lebar hingga deretan giginya yang rapi terlihat.
"Rania..." Namanya keluar begitu pelan dari bibir Brian.
Pria itu kemudian memejamkan mata kembali.
Sementara malam harinya, di ruangan makan di sebuah Villa. Daffa sedang duduk di meja makan.
"Makan malam sudah siap," ucapnya, Daffa menaburkan serbuk di botol kecil ke dalam minuman Rania.
Lalu Daffa mengangkat ponselnya, ia menghubungi Rania.
"Hallo, Rania?" ucapnya.
"Ya, Daffa," jawab Rania.
"Aku sudah menyiapkan makan malam, aku jemput kau pulang oke?" Daffa tersenyum di seberang telepon sana.
Sementara Rania, menarik nafasnya perlahan.
Aalasan apa yang harus ia katakan, entah kenapa Rania tidak ingin pulang, ia menatap meja kerjanya, berkas itu harus ia selesaikan sebelum besok pagi datang.
Bersambung...