Indonesia
NovelToon NovelToon
Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Tiri / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:482.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."

Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.

Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.

Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Kursi Kosong di Meja Makan

"Ma-maaf, Nyonya ... saya tidak bermaksud ...," Mirna mulai terisak ketakutan, air matanya menetes.

Naya memajukan tubuhnya sedikit, membiarkan auranya yang kokoh menekan mental pelayan muda di hadapannya. "Mirna, dengarkan saya baik-baik. Saya tahu kamu baru bekerja di sini selama tiga bulan. Saya juga tahu siapa yang menyuruhmu masuk ke kamar ini malam ini."

Mendengar kalimat itu, tangis Mirna seketika terhenti. Wajahnya yang semula pucat kini berubah menjadi benar-benar pias. "Nyonya ... tahu?"

"Saya bukan wanita bodoh yang bisa kamu kelabui dengan alasan konyol," ucap Naya, suaranya merendah penuh penekanan yang mematikan. "Sampaikan pada orang yang membayarmu, bahwa Nayara bukan tipe wanita yang membiarkan musuhnya memasang jebakan di dalam rumahnya sendiri. Mulai detik ini, kamu saya pecat."

"Nyonya, tolong jangan laporkan saya pada Tuan Arka! Saya mohon!" Mirna langsung berlutut di lantai, menangis histeris sambil mencoba menggapai kaki Naya. "Kalau Tuan Arka tahu, saya bisa dipenjara! Saya terpaksa karena butuh uang, Nyonya!"

Naya mundur satu langkah, menghindari sentuhan Mirna dengan keanggunan yang mutlak. "Saya tidak akan melaporkanmu pada Tuan Arka jika kamu kemasi barang-barangmu sekarang juga dan keluar dari rumah ini sebelum matahari terbit. Tapi ingat satu hal ... jika saya melihat wajahmu lagi di sekitar Kenzie atau rumah ini, saya sendiri yang akan memastikan kamu membusuk di balik jeruji besi."

Mirna mengangguk cepat dengan tubuh yang gemetar hebat. Ia segera bangkit dan berlari keluar kamar dengan tergesa-gesa, meninggalkan Naya sendirian di tengah luasnya kamar Arka.

Begitu keheningan kembali menguasai ruangan, Naya menarik napas dalam-dalam. Ketegangan yang sejak tadi ia tahan akhirnya membuat bahunya sedikit bergetar. Ia menoleh ke arah pintu penghubung kamarnya yang terkunci rapat, lalu beralih menatap pantulan dirinya di cermin besar.

Jebakan Clarissa sudah mulai bergerak masuk ke dalam garis pertahanannya. Pelayan rumah ini sudah mulai mencurigai kamar tidur mereka yang terpisah. Naya tahu, jika satu saja pelayan berhasil membongkar rahasia bahwa mereka tidak tidur bersama, maka sandiwara ini akan runtuh dalam sekejap.

Naya berjalan mendekati brankas pribadi Arka yang tertanam di dinding. Ia menyentuh permukaan bajanya yang dingin dengan jemarinya. Badai dari luar sudah mulai mengetuk pintu rumah mereka, dan malam ini, di tengah kesunyian tanpa kehadiran Arka, Nayara menyadari bahwa ia harus menjadi lebih kejam dan lebih waspada untuk melindungi kontrak hidupnya serta kedamaian anak kecil yang kini terlanjur ia sayangi.

***

Kicau burung pagi di sekitar pelataran kediaman Dewangga terdengar bersahut-shutan, menyambut sisa-sisa embun yang perlahan menguap diterpa sinar matahari. Pukul tujuh pagi, dan suasana di dalam rumah utama terasa begitu lengang, namun ada sesuatu yang berbeda dari hari-hari biasanya. Tidak ada suara langkah tergesa-gesa dari pelayan yang biasanya sibuk lalu-lalang di lorong lantai dua membawa mesin penyedot debu atau keranjang cucian.

Suara pintu utama yang terbuka pelan memecah kesunyian. Arka melangkah masuk dengan setelan jas yang tersampir di lengan kirinya. Perjalanan bisnisnya ke luar kota yang melelahkan terpaksa ia pangkas demi rasa cemas yang berkecamuk sejak menerima telepon dari Naya kemarin malam. Matanya yang lelah mengitari ruangan, mencari tanda-tanda kegaduhan yang ia khawatirkan.

Namun, yang ia temukan justru sebuah pemandangan yang sangat teratur di ruang makan bersih.

Di balik meja marmer, Naya sedang duduk berdampingan dengan Kenzie. Wanita itu mengenakan gaun rumah berpotongan kasual berwarna abu-abu muda, rambutnya dikuncir kuda dengan rapi. Di depannya, sebuah mangkuk porselen berisi bubur ayam hangat beraroma gurih mengepul tipis.

Naya sedang menuntun tangan kecil Kenzie yang memegang sendok perak. Gerakannya sangat lambat, penuh dengan ketenangan yang menghanyutkan.

"Pegang ujung sendoknya seperti ini, Sayang. Jangan terlalu ujung, nanti buburnya tumpah ke baju," ucap Naya, suaranya mengalun lembut, stabil, dan begitu menenangkan di udara pagi.

"Seperti ini, Mama?" tanya Kenzie, mendongak dengan mata bulatnya yang berbinar.

"Iya, pintar anak Mama. Sekarang bawa ke mulut pelan-pelan. Mulutnya dibuka sedikit," pandu Naya lagi.

Kenzie mengikuti instruksi itu dengan patuh. Begitu bubur itu sukses masuk ke mulutnya tanpa tumpah, bocah itu tersenyum lebar hingga matanya menyipit. Naya mengambil selembar tisu kain, mengelap sudut bibir Kenzie dengan gerakan yang sangat telaten.

Arka terpaku di ambang pintu ruang makan. Langkah kakinya seolah tertahan oleh pemandangan domestik yang begitu rapi di depannya. Matanya kemudian menyapu sudut-sudut ruangan, menyadari ada satu hal yang janggal. Kursi lipat di dekat konter dapur yang biasanya ditempati oleh pelayan lantai dua untuk berjaga, pagi ini kosong melongpong. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Mirna di mana pun.

"Tuan Arka?"

Suara Naya membuyarkan lamunan Arka. Wanita itu menatapnya dengan pandangan mata yang jernih, tanpa ada riak keterkejutan atau kepanikan. Topeng ketenangannya terpasang sangat sempurna, seolah malam tadi ia tidak baru saja mengusir seorang penyusup dari rumah ini.

"Papa!" Kenzie berteriak riang, berniat melompat dari kursinya.

"Kenzie, selesaikan makannya dulu baru peluk Papa. Ingat aturan di meja makan yang Mama ajarkan tadi?" sergah Naya dengan nada bicara yang tidak meninggi, namun memiliki ketegasan yang mutlak.

Bocah itu langsung menghentikan gerakannya, duduk kembali dengan patuh. "Iya, Mama. Papa, Kenzie makan sendiri loh hari ini!"

Arka berdeham, mencoba menguasai rasa takjubnya yang mendadak muncul melihat bagaimana Naya mendidik anaknya hanya dalam waktu singkat. Ia melangkah mendekat, mengecup puncak kepala Kenzie, lalu mengambil posisi duduk di kursi seberang Naya.

"Hebat anak Papa," puji Arka kaku, matanya tetap tidak lepas dari Naya yang kini sedang menuangkan air putih ke gelas Kenzie.

Arka melirik jam tangannya, lalu menatap konter dapur yang sepi. "Di mana para pelayan? Kenapa meja makan sesunyi ini? Dan ... di mana Mirna? Biasanya jam segini dia sudah sibuk merapikan meja."

Naya meletakkan teko air dengan perlahan, membiarkan bunyi dentang kaca yang halus bergema di ruangan. Ia menatap Arka dengan senyuman tipis yang sangat dingin, sarat akan makna tersembunyi.

"Mirna sudah tidak bekerja di sini lagi, Tuan Arka. Saya sudah memecatnya semalam," ujar Naya, suaranya terdengar sangat santai seperti sedang membicarakan menu sarapan.

Arka tertegun, keningnya berkerut dalam. "Kamu memecatnya? Secara sepihak? Tanpa persetujuanku atau kepala pelayan?"

Bersambung...

1
aliifa afida
coba panggil nya "Mas" terus yaaa.. gk usah pnggil tuan🤭🤭🤭
Rusmini13
malah gak capek Naya tp bagaimana kalo Arka yg jatuh cinta padamu gimana apa aturan itu masih berlaku...
Rusmini13
ombak air ombak asmara 🤭🤭
hai mom jumpa lagi dgn hp yg berbeda
😄😄😄🩷🩷
sweetpurple
keren!
Mama lilik Lilik
ceritanya sangat bagus ya mom,cuma nich nama pengacara nya arka,sering Gonta ganti, nama mama nya Naya jg sering ganti,tapi tetap bagus ceritanya, terimakasih mom untuk karya yg luar biasa ini🙏
Hariyanti
ceritanya bagus dan menarik 🥰🥰🥰🥰🙏
Hariyanti
arka itu bodoh atau gimana🤔 dia yang memulai bikin kontrak maka seharusnya dia yg batalin kontrak itu. setelah batal baru bicara hati😏😏
Hariyanti
ayo arka buruan batalkan kesepakatan 2 tahun itu.spy Naya ga galau terus
Hariyanti
ada yang mulai menyesal sepertinya🤔
K4RL4
ceritanya ok bgt
FHR
Memaafkan
matcha
AllahuAkbar takbir mbk gisel.. wkwkwk
Teh Euis Tea
otw baca mommy
matcha
karakter nya naya ini terlalu kuat smpe ketutupan karakter arka.. jd terkesan motonon krn krn karakter naya terlalu kuat dan selalu menang..
Ila Lee
jdi bukit kn tuan arka jgn diam C
mcm orng bodoh
Mutaharotin Rotin
semangat Mak ghin smoga ceritanya sukses sampai endingnya 💯💯
Mutaharotin Rotin
😍😍😍😍
Ila Lee
semoga semua dapat jalan keluar mata, akan menjadi Nyonya arka sampai maut memisah kn punya anak yg ramai biar kenzie senang bermain nanti😍😍😍😍😍😍😍
Ila Lee
arka cepat khas buang surut kontrak itu biar naya tidak berteka 2 dalam hati
Ila Lee
arka sudah lupa kn dari mula kau yg buat aturan mata hanya mengikut harapan Boss🤣🤣🤣 sekarang jdi nya gini🤣🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!