Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Bab 1. Batasan di Balik Pintu Kamar

Suara engsel pintu jati yang bergeser pelan terdengar seperti dentang lonceng kematian di telinga Nayara.

Gaun pengantin putih berbahan brokat mewah yang melekat di tubuhnya mendadak terasa seberat timah. Kamar utama kediaman Dewangga begitu luas, megah, dan wangi aromaterapi melati yang menenangkan. Namun bagi Naya, ruangan ini tidak lebih dari sebuah sangkar emas yang pengap.

Di depan cermin besar, Arkananta berdiri. Pria itu baru saja melepas jas hitamnya, menyisakan kemeja putih yang kancing teratasnya sudah dibuka. Tidak ada binar bahagia di wajah tampan berahang tegas itu. Hanya ada gurat lelah dan tatapan sekeras batu es.

Naya masih berdiri mematung di dekat ranjang berukuran king size yang bertabur kelopak mawar merah. Jemarinya saling bertautan, meremas kain gaunnya sendiri untuk meredam gemetar.

"Duduk, Nayara."

Suara Arka bariton, datar, tanpa riak emosi sedikit pun. Ia berbalik, memegang sebuah map kulit berwarna hitam di tangan kanannya.

Naya menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokan. Ia melangkah pelan, lalu duduk di tepi sofa beludru. Arka menyusul, mengambil posisi di sofa tunggal yang berseberangan dengan Naya. Jarak mereka hanya terpisah oleh sebuah meja kaca kecil, namun rasanya seperti membentang ribuan kilometer.

Plak.

Map hitam itu diletakkan di atas meja kaca dengan tekanan yang sengaja diperkuat.

"Buka dan baca," perintah Arka dingin.

Naya menatap map itu, lalu beralih ke mata elang Arka. "Apa ini, Mas Arka?"

Arka mendengus sinis, menyandarkan punggungnya ke sofa sambil bersedekap. "Jangan panggil aku dengan sebutan itu jika kita sedang berdua. Terlalu menggelikan untuk didengar."

Naya tertegun. Detak jantungnya kian berpacu liar. "Lalu ... saya harus memanggil apa?"

"Tuan Arka, atau Arka saja. Terserah kamu," sahutnya acuh tak acuh. "Sekarang buka map itu. Itu adalah alasan kenapa kamu bisa berdiri di rumah ini dan memakai gaun mahal itu malam ini."

Dengan tangan yang masih gemetar, Naya membuka simpul tali map tersebut. Lembar demi lembar kertas putih bersih di dalamnya memuat barisan tulisan formal. Di bagian atas halaman pertama, tercetak tebal sebuah judul: Surat Perjanjian Kesepakatan Rumah Tangga.

Naya membaca lembar pertama dengan cepat, dan seketika wajahnya pias. "Kontrak ... Pernikahan?"

"Ya. Pernikahan kontrak. Lebih tepatnya, sebuah transaksi bisnis yang saling menguntungkan," ucap Arka, nadanya santai seolah sedang membicarakan cuaca. "Pernikahan yang tadi siang disaksikan ratusan orang itu murni di atas kertas. Hanya untuk publik, dan terutama untuk keluarga besarku."

Naya mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata pria yang kini sah menjadi suaminya secara hukum dan agama. "Jadi, semua kemesraan yang kamu tunjukkan di pelaminan tadi ...?"

"Sandiwara," potong Arka cepat. "Dan aku harap kamu adalah aktris yang baik, karena mulai besok, kamu harus memerankan posisi 'Nyonya Dewangga' dengan sempurna di depan media dan ibuku."

Naya mencengkeram pinggiran map. "Kenapa harus dengan cara seperti ini? Kalau kamu hanya butuh istri pajangan, ada banyak wanita dari kalanganmu yang antre untuk posisi ini, Arka. Kenapa harus saya?"

Arka memajukan tubuhnya, menumpukan kedua siku di lutut. Tatapannya menajam, mengunci pergerakan Naya. "Karena kamu yang paling aman, Nayara. Kamu butuh uang dalam jumlah besar untuk melunasi utang mendiang ayahmu dan membiayai pengobatan ibumu yang sakit sakitan, bukan? Dan aku, butuh seorang ibu yang tulus untuk Kenzie, tapi tidak punya hak atau ambisi untuk menguasai harta Dewangga."

Kata-kata itu menghantam hulu hati Naya. Menyakitkan, tapi kenyataan itu tak bisa ia bantah. Ibunya membutuhkan operasi besar bulan depan, dan tanpa dana dari Arka, Naya tidak tahu harus mengemis ke mana lagi.

"Aku memilihmu karena kamu tidak punya kekuatan untuk melawanku jika suatu saat kamu berniat macam-macam," lanjut Arka tanpa belas kasihan. "Sekarang, perhatikan poin-poin penting di halaman kedua."

Naya membalik halaman dengan jari yang mendingin. Ia membaca poin demi poin yang tertulis di sana secara lantang dengan suara yang agak bergetar.

"Poin pertama," ucap Naya, menjeda sejenak. "Pernikahan ini berlangsung selama dua tahun. Setelah dua tahun, kedua belah pihak sepakat untuk berpisah secara baik-baik dengan alasan ketidakcocokan."

"Betul. Dua tahun sudah lebih dari cukup untuk menstabilkan kondisi psikologis Kenzie dan mengamankan hak asuhnya dari tuntutan luar," timpal Arka. "Lanjut."

"Poin kedua ... Tidak ada hubungan fisik atau hubungan selayaknya suami istri dalam arti yang sesungguhnya." Naya menghentikan bacaannya, menatap Arka dengan perasaan campur aduk. Ada rasa lega, namun juga ada rasa terhina yang samar.

Arka tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih mirip seringai meremehkan. "Kamu tidak perlu takut aku akan menyentuhmu. Kamu bukan tipeku, Nayara. Kamar kita akan terpisah. Kamarmu ada di sebelah kamar Kenzie, lewat pintu penghubung di dalam. Kamar ini adalah teritoriku. Kamu hanya boleh masuk ke kamar ini jika ada ibuku atau situasi darurat yang mengharuskan kita terlihat tidur bersama."

Naya menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya yang terasa mulai diinjak-injak. "Baik. Saya mengerti. Lalu bagaimana dengan urusan rumah tangga?"

"Itu ada di poin ketiga," jawab Arka tegas. "Tugas utamamu adalah mengurus Kenzie. Pastikan dia tidak kekurangan kasih sayang seorang ibu. Untuk urusan dapur dan kebersihan rumah, sudah ada pelayan. Kamu tidak perlu repot-repot bertingkah seperti istri yang berbakti dengan menyiapkan bajuku atau memasak untukku, kecuali di depan ibuku. Paham?"

"Dan poin keempat ini ...." Naya membaca baris terakhir yang dicetak dengan huruf miring. "Kedua belah pihak dilarang keras melibatkan perasaan pribadi atau jatuh cinta."

"Itu poin paling krusial," sela Arka, suaranya mendadak berubah menjadi sangat berat dan penuh penekanan. "Jangan pernah melintasi batas itu, Nayara. Jangan pernah berharap sepeser pun bahwa pernikahan kontrak ini akan berubah menjadi pernikahan sungguhan karena cinta. Hubungan kita adalah profesional. Aku adalah bosmu, dan kamu adalah pekerjaku yang dibayar mahal untuk merawat anakku."

Keheningan malam langsung menyergap kamar itu setelah Arka menyelesaikan kalimatnya. Udara terasa makin dingin, menusuk hingga ke tulang. Naya memejamkan mata sesaat. Bayangan wajah ibunya yang pucat di bangsal rumah sakit terlintas di benaknya. Demi ibunya, ia harus kuat. Demi masa depan adiknya, ia harus bertahan.

Naya membuka matanya kembali. Sorot matanya yang semula cemas dan penuh ketakutan, kini berubah menjadi tegas dan dingin. Ia menegakkan punggungnya, menatap Arka tanpa rasa gentar sedikit pun.

"Jika ini adalah sebuah transaksi bisnis, maka saya juga punya hak untuk mengajukan syarat, bukan ... Tuan Arka?" tanya Naya dengan penekanan pada nama pria itu.

Arka sedikit menaikkan sebelah alisnya, agak terkejut dengan perubahan sikap Naya yang mendadak berani. "Syarat? Silakan. Apa yang kamu mau? Uang tambahan?"

Naya tersenyum tipis, sebuah senyuman tenang yang sarat akan harga diri yang terluka namun menolak untuk menyerah. "Tidak semua hal di dunia ini bisa dinilai dengan uangmu, Tuan Arka."

"Lalu?"

"Pertama, di dalam rumah ini, di depan para pelayan, kita harus tetap menjaga sopan santun. Saya tidak ingin mereka melihat saya sebagai wanita murahan yang bisa kamu bentak atau perlakukan semena-mena hanya karena kamu membayar saya," ucap Naya dengan suara yang tenang namun menusuk.

Arka mengangguk pelan. "Adil. Aku tidak akan merendahkanmu di depan publik atau pelayan. Itu juga demi menjaga nama baik keluarga Dewangga. Ada lagi?"

Bersambung...

Assalamu'alaikum, met pagi Kakak semuanya. Hari ini mau cek ombak nih dengan karya terbaru. Temani ya, kalau ramai ceritanya lanjut dan semoga retensinya bagus. Aamiin.

Seperti biasa tinggalkan like dan komentarnya ya. Makasih banyak

Terpopuler

Comments

Kar Genjreng

Kar Genjreng

baru sempat baca Mommy,,,ini baru gebragan baru jadi terkadang laki laki ,,, bisa mengucapkan tetapi kadang sendiri nya membuat langgaran. bilang tidak boleh bersentuhan fisik,,,nanti mabok atau kena jebakan dari taman ahirnya membuat janjinya di langgar,,,dan bilang tidak boleh jatuh cinta. giliran kontrak mau habis tetapi sudah rasa nyaman di hapus katanya kontrak di batalkan ,,,laki laki muna. ,,, alasannya SE gudang tuan Arkan Kanaya tenang saja pokonya pegang janji tu Arkan jangan sampai ngibul 😄ya kan Naya ok lanjut mommy semoga refrensi nya tinggi ya Mommy 🙏🙏

2026-07-14

1

Euis Amalia

Euis Amalia

wow mommy ghina selamat yaa.. judul ini penuh emosi sptna banyak renik2 RT... semoga retensi tinggi n sampai tuntas nulisnyaaa... semangat mommy😍💪👍🙏

2026-07-13

3

Ila Lee

Ila Lee

aku hadir Thor dari Melaysia pasti Ku bacca novel ini setelah selesai baca kisah Krisna dan rasa dan juga isteri cadangan sang mayor Satria dan kiehsa😍😍😍😍😍😍 terbaik momyy😍😍😍

2026-08-18

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Batasan di Balik Pintu Kamar
2 Bab 2. Senyum Palsu Untuk Dunia
3 Bab 3. Akting Nayara
4 Bab 4. Aturan Sang Tuan Rumah
5 Bab 5. Bayang-Bayang Clarissa
6 Bab 6. Secangkir Kopi di Tengah Malam
7 Bab 7. Ujian Pertama dari Keluarga Besar
8 Bab 8. Sisi Lain Sang Pria Dingin-1
9 Bab 9. Sisi Lain Sang Pria Dingin-2
10 Bab 10. Ketika Kenzie Sakit
11 Bab 11. Tatapan yang Berubah
12 Bab 12. Jebakan yang Mulai Terpasang
13 Bab 13. Kursi Kosong di Meja Makan
14 Bab 14. Pesona Istrii Kontrak
15 Bab 15. Langkah Pertama di Taman Belakang
16 Bab 16. Ketika Dunia Kerja Mengusik Rumah
17 Bab 17. Menu Sarapan Yang Berbeda
18 Bab 18. Dongeng Sebelum Tidur - 1
19 Bab 19. Dongeng Sebelum Tidur - 2
20 Bab 20. Badai Isu di Sekolah Kenzie
21 Bab 21. Amarah Sang Tuan Muda
22 Bab 22. Kejutan Kecil di Hari Minggu
23 Bab 23. Rahasia di Balik Kamar
24 Bab 24. Berbagi Ranjang
25 Bab 25. Keputusan Untuk Melangkah Lebih Jauh
26 Bab 26. Langkah Kaki di Bandar Udara
27 Bab 27. Ketukan Pintu yang Mengejutkan
28 Bab 28. Kekhawatiran Arka
29 Bab 29. Persiapan Persidangan
30 Bab 30. Taktik Nayara
31 Bab 31. Sandiwara di Depan Kilatan Kamera
32 Bab 32. Sentuhan di Balik Meja Kerja
33 Bab 33. Air Mata Kenzie di Sekolah
34 Bab 34. Malam Sebelum Persidangan-1
35 Bab 35. Malam Sebelum Persidangan-2
36 Bab 36. Ruang Sidang yang Dingin
37 Bab 37. Skakmat dari Sang Nyonya Dewangga
38 Bab 38. Ketenangan yang Semu
39 Bab 39. Izin dari Sang Tuan Muda
40 Bab 40. Tatapan Ibu
41 Bab 41. Pesan Sunyi dari Ranjang Pasien
42 Bab 42. Tamparan Realitas
43 Bab 43. Dinding Es yang Kembali Tegak
44 Bab 44. Siasat Baru Maheswari Group
45 Bab 45. Pertanyaan di Tengah Keheningan
46 Bab 46. Pertemuan Rahasia
47 Bab 47. Janji yang Belum Tertulis
48 Bab 48. Ketukan di Pintu Belakang
49 Bab 49. Nama yang Mengubah Sorot Mata
50 Bab 50. Cerita Tragis Gisella
51 Bab 51. Perhatian yang Terbagi
52 Bab 52. Bentengg Baru Nayara
53 Bab 53. Dunia Kecil Bersama Kenzie
54 Bab 54. Langkah Sunyi
55 Bab 55. Panggilan Wawancara Kerja
56 Bab 56. Kaca yang Retak
57 Bab 57. Tidak Mau Jadi Wanita Bodoh
58 Bab 58. Meja Makan Yang Sunyi
59 Bab 59. Lembaran Baru di Meja Kerja
60 Bab 60. Mata Ular Clarissa
61 Bab 61. Bidikan Kamera di Rumah Sakit
62 Bab 62. Riak di Dunia Maya
63 Bab 63. Kepulangan Tuan Muda
64 Bab 64. Arka Cemas, Naya Tenang
65 Bab 65. Tuntutan Profesionalisme-1
66 Bab 66. Tuntutan Profesionalisme-2
67 Bab 67. Bisikan Berbisa Clarissa
68 Bab 68. Makan Malam yang Menghakimi
69 Bab 69. Retak yang Menjadi Pecah
70 Bab 70. Penyesalan di Ujung Malam
71 Bab 71. Racun dan Penawaran Gisella
72 Bab 72. Penolakan Arka
73 Bab 73. Serangan Bandingg Maheswari
74 Bab 74. Pembatasan Diri Nayara
75 Bab 75. Penolakan yang Menghantam Ego-1
76 Bab 76. Penolakan yang Menghantam Ego-2
77 Bab 77. Konfrontasi Dua Wanita
78 Bab 78. Hari Pembuktian di Meja Hijau
79 Bab 79. Surat di Atas Meja Kerja
80 Bab 80. Mama Pergi Dulu
81 Bab 81. Jangan Pergi
82 Bab 82. Pilihann Sang Tuan Muda
83 Bab 83. Langkah Pertama
84 Bab 84. Terima Kasih untuk makan sorenya
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Bab 1. Batasan di Balik Pintu Kamar
2
Bab 2. Senyum Palsu Untuk Dunia
3
Bab 3. Akting Nayara
4
Bab 4. Aturan Sang Tuan Rumah
5
Bab 5. Bayang-Bayang Clarissa
6
Bab 6. Secangkir Kopi di Tengah Malam
7
Bab 7. Ujian Pertama dari Keluarga Besar
8
Bab 8. Sisi Lain Sang Pria Dingin-1
9
Bab 9. Sisi Lain Sang Pria Dingin-2
10
Bab 10. Ketika Kenzie Sakit
11
Bab 11. Tatapan yang Berubah
12
Bab 12. Jebakan yang Mulai Terpasang
13
Bab 13. Kursi Kosong di Meja Makan
14
Bab 14. Pesona Istrii Kontrak
15
Bab 15. Langkah Pertama di Taman Belakang
16
Bab 16. Ketika Dunia Kerja Mengusik Rumah
17
Bab 17. Menu Sarapan Yang Berbeda
18
Bab 18. Dongeng Sebelum Tidur - 1
19
Bab 19. Dongeng Sebelum Tidur - 2
20
Bab 20. Badai Isu di Sekolah Kenzie
21
Bab 21. Amarah Sang Tuan Muda
22
Bab 22. Kejutan Kecil di Hari Minggu
23
Bab 23. Rahasia di Balik Kamar
24
Bab 24. Berbagi Ranjang
25
Bab 25. Keputusan Untuk Melangkah Lebih Jauh
26
Bab 26. Langkah Kaki di Bandar Udara
27
Bab 27. Ketukan Pintu yang Mengejutkan
28
Bab 28. Kekhawatiran Arka
29
Bab 29. Persiapan Persidangan
30
Bab 30. Taktik Nayara
31
Bab 31. Sandiwara di Depan Kilatan Kamera
32
Bab 32. Sentuhan di Balik Meja Kerja
33
Bab 33. Air Mata Kenzie di Sekolah
34
Bab 34. Malam Sebelum Persidangan-1
35
Bab 35. Malam Sebelum Persidangan-2
36
Bab 36. Ruang Sidang yang Dingin
37
Bab 37. Skakmat dari Sang Nyonya Dewangga
38
Bab 38. Ketenangan yang Semu
39
Bab 39. Izin dari Sang Tuan Muda
40
Bab 40. Tatapan Ibu
41
Bab 41. Pesan Sunyi dari Ranjang Pasien
42
Bab 42. Tamparan Realitas
43
Bab 43. Dinding Es yang Kembali Tegak
44
Bab 44. Siasat Baru Maheswari Group
45
Bab 45. Pertanyaan di Tengah Keheningan
46
Bab 46. Pertemuan Rahasia
47
Bab 47. Janji yang Belum Tertulis
48
Bab 48. Ketukan di Pintu Belakang
49
Bab 49. Nama yang Mengubah Sorot Mata
50
Bab 50. Cerita Tragis Gisella
51
Bab 51. Perhatian yang Terbagi
52
Bab 52. Bentengg Baru Nayara
53
Bab 53. Dunia Kecil Bersama Kenzie
54
Bab 54. Langkah Sunyi
55
Bab 55. Panggilan Wawancara Kerja
56
Bab 56. Kaca yang Retak
57
Bab 57. Tidak Mau Jadi Wanita Bodoh
58
Bab 58. Meja Makan Yang Sunyi
59
Bab 59. Lembaran Baru di Meja Kerja
60
Bab 60. Mata Ular Clarissa
61
Bab 61. Bidikan Kamera di Rumah Sakit
62
Bab 62. Riak di Dunia Maya
63
Bab 63. Kepulangan Tuan Muda
64
Bab 64. Arka Cemas, Naya Tenang
65
Bab 65. Tuntutan Profesionalisme-1
66
Bab 66. Tuntutan Profesionalisme-2
67
Bab 67. Bisikan Berbisa Clarissa
68
Bab 68. Makan Malam yang Menghakimi
69
Bab 69. Retak yang Menjadi Pecah
70
Bab 70. Penyesalan di Ujung Malam
71
Bab 71. Racun dan Penawaran Gisella
72
Bab 72. Penolakan Arka
73
Bab 73. Serangan Bandingg Maheswari
74
Bab 74. Pembatasan Diri Nayara
75
Bab 75. Penolakan yang Menghantam Ego-1
76
Bab 76. Penolakan yang Menghantam Ego-2
77
Bab 77. Konfrontasi Dua Wanita
78
Bab 78. Hari Pembuktian di Meja Hijau
79
Bab 79. Surat di Atas Meja Kerja
80
Bab 80. Mama Pergi Dulu
81
Bab 81. Jangan Pergi
82
Bab 82. Pilihann Sang Tuan Muda
83
Bab 83. Langkah Pertama
84
Bab 84. Terima Kasih untuk makan sorenya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!