Bab 2. Senyum Palsu Untuk Dunia

"Kedua," lanjut Naya, matanya menatap tajam dokumen di atas meja. "Meskipun ini pernikahan kontrak, selama dua tahun ini saya adalah ibu dari Kenzie. Saya minta kebebasan penuh untuk mendidik dan merawat Kenzie tanpa ada intervensi atau kekangan dari kamu atau asisten rumah tangga lain yang merasa lebih berkuasa. Jika Kenzie berada di bawah pengawasan saya, maka sayalah yang memegang kendali atas dirinya."

Arka terdiam beberapa saat, menimbang-nimbang permintaan wanita di hadapannya. Ia tidak menyangka wanita sederhana yang awalnya terlihat lugu ini bisa bersikap sekeras dan setegas ini ketika berbicara tentang prinsip.

"Baik," sahut Arka akhirnya. "Selama keputusanmu tidak membahayakan Kenzie, aku tidak akan ikut campur."

"Dan yang terakhir," Naya mengambil pulpen yang tergeletak di dalam map. "Jangan pernah membawa wanita lain ke dalam rumah ini selama status saya masih menjadi istri sahmu secara hukum. Saya punya keluarga yang harus saya jaga nama baiknya. Saya tidak ingin ibu saya mendengar desas-desus buruk tentang menantunya."

Arka terkekeh pelan, sebuah kekehan sinis yang terdengar dingin. "Kamu tidak perlu khawatir soal itu. Aku terlalu sibuk dengan urusan perusahaan untuk memikirkan wanita lain. Lagipula, privasiku jauh lebih mahal daripada apa yang kamu bayangkan."

Arka menggeser dokumen itu lebih dekat ke arah Naya. "Jika semua sudah jelas, tanda tangani sekarang."

Naya memandang ujung pulpennya. Tangannya sempat ragu selama satu detik, sebelum akhirnya ia menorehkan tanda tangan di atas meterai yang telah disediakan. Dua tahun. Ia hanya perlu bertahan selama dua tahun dalam sandiwara dingin ini.

Setelah Naya selesai, Arka menarik dokumen itu kembali dan membubuhkan tanda tangannya sendiri dengan gerakan cepat dan tegas.

Sret. Sret.

"Selesai," ucap Arka sambil menutup map tersebut. Ia berdiri, membawa map itu menuju brankas pribadinya di sudut kamar.

Naya ikut berdiri, merapikan gaun pengantinnya yang terasa makin mencekik. "Kalau begitu, saya permisi ke kamar saya."

Arka tidak berbalik, ia sibuk menekan digit kode brankasnya. "Kamar tidurmu ada di balik pintu putih di sebelah sana. Kamar Kenzie ada di balik pintu penghubungnya. Dia sudah tidur sejak jam sembilan tadi karena kelelahan."

Naya melangkah menuju pintu yang ditunjuk Arka. Namun sebelum ia memutar knop pintu, suara dingin Arka kembali terdengar, menghentikan langkahnya.

"Ingat batasanmu mulai malam ini, Nayara. Jangan pernah berharap aku akan luluh hanya karena kamu bersikap baik pada anakku. Di rumah ini, kamu adalah pekerja, dan aku adalah tuanmu."

Naya tidak berbalik. Ia hanya memejamkan mata rapat-rapat, menguatkan hatinya yang terasa remuk di malam pertamanya.

"Saya tidak pernah lupa, Tuan Arka," jawab Naya lirih namun penuh penekanan, sebelum akhirnya membuka pintu dan menghilang di balik kegelapan kamar barunya.

***

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden sutra di kamar baru Nayara. Naya sudah terbangun sejak jam lima subuh. Jiwa mandirinya tidak mengizinkan ia bermalas-malas, meskipun kini ia tinggal di rumah yang luasnya berkali-kali lipat dari rumah kontrakannya dulu. Setelah membersihkan diri dan mengganti gaun pengantinnya dengan setelan blus tunik pastel yang rapi, Naya melangkah ke kamar sebelah melalui pintu penghubung.

Di atas ranjang kecil berbentuk mobil balap, Kenzie masih meringkuk di balik selimut tebalnya. Bocah berusia empat tahun itu terlihat begitu polos dan menggemaskan. Naya tersenyum tulus—satu-satunya senyuman nyata yang ia miliki sejak menginjakkan kaki di rumah ini. Dengan gerakan lembut, ia mengusap rambut halus Kenzie.

"Kenzie ... Sayang, bangun yuk. Sudah pagi," bisik Naya lembut.

Kenzie melenguh pelan, mengucek matanya yang bulat. Ketika melihat wajah Naya, mata bocah itu langsung berbinar. "Mama ...?"

Kata itu membuat dada Naya berdesir aneh. Ada rasa hangat sekaligus tanggung jawab besar yang tiba-tiba mengalir di nadinya. "Iya, ini Mama. Kita mandi dan sarapan yuk?"

Kenzie langsung bangkit dan memeluk leher Naya erat. "Mama wangi. Kenzie suka Mama."

Naya terkekeh pelan, menggendong tubuh mungil itu dengan mantap menuju kamar mandi. Sifat tenang dan keibuan Naya membuat Kenzie yang biasanya rewel dengan pengasuh baru, pagi ini justru sangat penurut.

Satu jam kemudian, Naya menuntun Kenzie yang sudah rapi dengan pakaian bermainnya turun ke lantai bawah. Di meja makan marmer yang panjang, Arka sudah duduk dengan kemeja kerja abu-abu yang terpasang rapi tanpa cela. Pria itu sedang fokus membaca tablet di tangannya, sementara secangkir kopi hitam mengepul di dekatnya.

Mendengar suara langkah kaki, Arka mendongak. Tatapannya yang sedingin es langsung mengunci Naya, seolah sedang menilai apakah wanita itu melakukan tugasnya dengan benar.

"Papa!" Kenzie langsung berlari dan memeluk kaki Arka.

Ekspresi kaku di wajah Arka seketika melunak saat menatap putranya. Ia mengangkat Kenzie ke pangkuannya. "Pagi, Jagoan. Sudah mandi?"

"Sudah dong, dimandiin Mama!" sahut Kenzie riang sambil menunjuk Naya.

Arka melirik Naya sekejap, lalu kembali menatap anaknya. "Bagus. Duduk di kursimu, kita sarapan."

Naya melangkah dengan tenang, mengambil posisi duduk di sebelah Kenzie untuk membantu bocah itu mengambil makanan. Suasana di meja makan begitu sunyi, hanya terdengar denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen. Arka memperlakukan Naya layaknya angin lalu, dan Naya pun tidak berniat membuka suara. Baginya, ketenangan ini jauh lebih baik daripada perdebatan.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

*Tok! Tok! Tok!*

Suara ketukan pintu utama yang tergesa-gesa disusul oleh langkah kaki anggun yang terdengar nyaring di atas lantai marmer. Seorang wanita paruh baya dengan setelan blazer mahal dan tas Hermes di lengannya masuk ke ruang makan dengan tergesa-gesa.

"Arka! Naya!"

Arka langsung meletakkan garpunya, wajahnya menegang. "Mama? Kenapa mendadak sekali?"

Ibu Ambar Dewangga berdiri di ujung meja makan, menatap menantu barunya dengan pandangan menyelidik dari ujung kepala hingga ujung kaki. Naya segera bangkit dari duduknya, menampilkan senyum paling ramah dan tenang yang ia miliki. Ia melangkah mendekat, lalu mencium punggung tangan Ibu Ambar dengan takzim.

"Pagi, Mama. Mari silakan duduk, kita sarapan bersama," ucap Naya, suaranya terdengar sangat tenang, lembut, dan penuh hormat. Tidak ada kepanikan sama sekali di wajahnya.

Ibu Ambar menghela napas, menyerahkan tasnya pada pelayan yang mendekat. "Mama sengaja datang pagi-pagi. Mama mau lihat, apa istri pilihanmu ini benar-benar bisa mengurus rumah dan anak dengan becus, Arka. Mama masih tidak habis pikir kenapa kamu terburu-buru menikah dengan wanita yang ... ya, kamu tahu sendiri latar belakangnya."

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Kar Genjreng

Kar Genjreng

ya Allah nek ya kira kira kale. langsung tutup botol saja lihat dulu penampilan nya tingkahnya waduhh Mak Ijah,, langsung berprasangka elek ae delok sek pandeng kanti mlotot,,,, itulah terkadang merasa orang berkuasa banyak harta. terpenting jangan nimbun harta di brangkas tapi uang haram alias korup 🤣 jangan suka merendah orang biasa belum tentu yang merasa paling di atas ternya hati mirip ,,,demit. nah kan mulano. jangan sembarangan menilai. Nayara kalau tidak butuh dana buat menolong orang tua nya saja ogah banget keles,,, pokonya kelak kalau si nenek dan si Arkan kanebo jatuh cinn,,, sama Dirimu Naya Ojo di gubrissa Yo Ok salam waras 💪 semangat Mommy sehat selalu,,awali dengan senyum Pepsodent agar dunia nya ikutan bahagia,,

2026-07-14

1

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

tapi paling tidak dalam kontrak itu, kamu juga memiliki persyaratan tersendiri, apalagi ini menyangkut harga diri kamu sebagai seorang istri dan ibu di rumah itu selama masa perjanjian,,,

2026-07-14

0

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

tapi yang tidak pernah dipikirkan oleh si Arka adalah mental putranya sendiri di masa depan kala perjanjian antara dirinya dan Naya berakhir,,,

2026-07-14

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Batasan di Balik Pintu Kamar
2 Bab 2. Senyum Palsu Untuk Dunia
3 Bab 3. Akting Nayara
4 Bab 4. Aturan Sang Tuan Rumah
5 Bab 5. Bayang-Bayang Clarissa
6 Bab 6. Secangkir Kopi di Tengah Malam
7 Bab 7. Ujian Pertama dari Keluarga Besar
8 Bab 8. Sisi Lain Sang Pria Dingin-1
9 Bab 9. Sisi Lain Sang Pria Dingin-2
10 Bab 10. Ketika Kenzie Sakit
11 Bab 11. Tatapan yang Berubah
12 Bab 12. Jebakan yang Mulai Terpasang
13 Bab 13. Kursi Kosong di Meja Makan
14 Bab 14. Pesona Istrii Kontrak
15 Bab 15. Langkah Pertama di Taman Belakang
16 Bab 16. Ketika Dunia Kerja Mengusik Rumah
17 Bab 17. Menu Sarapan Yang Berbeda
18 Bab 18. Dongeng Sebelum Tidur - 1
19 Bab 19. Dongeng Sebelum Tidur - 2
20 Bab 20. Badai Isu di Sekolah Kenzie
21 Bab 21. Amarah Sang Tuan Muda
22 Bab 22. Kejutan Kecil di Hari Minggu
23 Bab 23. Rahasia di Balik Kamar
24 Bab 24. Berbagi Ranjang
25 Bab 25. Keputusan Untuk Melangkah Lebih Jauh
26 Bab 26. Langkah Kaki di Bandar Udara
27 Bab 27. Ketukan Pintu yang Mengejutkan
28 Bab 28. Kekhawatiran Arka
29 Bab 29. Persiapan Persidangan
30 Bab 30. Taktik Nayara
31 Bab 31. Sandiwara di Depan Kilatan Kamera
32 Bab 32. Sentuhan di Balik Meja Kerja
33 Bab 33. Air Mata Kenzie di Sekolah
34 Bab 34. Malam Sebelum Persidangan-1
35 Bab 35. Malam Sebelum Persidangan-2
36 Bab 36. Ruang Sidang yang Dingin
37 Bab 37. Skakmat dari Sang Nyonya Dewangga
38 Bab 38. Ketenangan yang Semu
39 Bab 39. Izin dari Sang Tuan Muda
40 Bab 40. Tatapan Ibu
41 Bab 41. Pesan Sunyi dari Ranjang Pasien
42 Bab 42. Tamparan Realitas
43 Bab 43. Dinding Es yang Kembali Tegak
44 Bab 44. Siasat Baru Maheswari Group
45 Bab 45. Pertanyaan di Tengah Keheningan
46 Bab 46. Pertemuan Rahasia
47 Bab 47. Janji yang Belum Tertulis
48 Bab 48. Ketukan di Pintu Belakang
49 Bab 49. Nama yang Mengubah Sorot Mata
50 Bab 50. Cerita Tragis Gisella
51 Bab 51. Perhatian yang Terbagi
52 Bab 52. Bentengg Baru Nayara
53 Bab 53. Dunia Kecil Bersama Kenzie
54 Bab 54. Langkah Sunyi
55 Bab 55. Panggilan Wawancara Kerja
56 Bab 56. Kaca yang Retak
57 Bab 57. Tidak Mau Jadi Wanita Bodoh
58 Bab 58. Meja Makan Yang Sunyi
59 Bab 59. Lembaran Baru di Meja Kerja
60 Bab 60. Mata Ular Clarissa
61 Bab 61. Bidikan Kamera di Rumah Sakit
62 Bab 62. Riak di Dunia Maya
63 Bab 63. Kepulangan Tuan Muda
64 Bab 64. Arka Cemas, Naya Tenang
65 Bab 65. Tuntutan Profesionalisme-1
66 Bab 66. Tuntutan Profesionalisme-2
67 Bab 67. Bisikan Berbisa Clarissa
68 Bab 68. Makan Malam yang Menghakimi
69 Bab 69. Retak yang Menjadi Pecah
70 Bab 70. Penyesalan di Ujung Malam
71 Bab 71. Racun dan Penawaran Gisella
72 Bab 72. Penolakan Arka
73 Bab 73. Serangan Bandingg Maheswari
74 Bab 74. Pembatasan Diri Nayara
75 Bab 75. Penolakan yang Menghantam Ego-1
76 Bab 76. Penolakan yang Menghantam Ego-2
77 Bab 77. Konfrontasi Dua Wanita
78 Bab 78. Hari Pembuktian di Meja Hijau
79 Bab 79. Surat di Atas Meja Kerja
80 Bab 80. Mama Pergi Dulu
81 Bab 81. Jangan Pergi
82 Bab 82. Pilihann Sang Tuan Muda
83 Bab 83. Langkah Pertama
84 Bab 84. Terima Kasih untuk makan sorenya
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Bab 1. Batasan di Balik Pintu Kamar
2
Bab 2. Senyum Palsu Untuk Dunia
3
Bab 3. Akting Nayara
4
Bab 4. Aturan Sang Tuan Rumah
5
Bab 5. Bayang-Bayang Clarissa
6
Bab 6. Secangkir Kopi di Tengah Malam
7
Bab 7. Ujian Pertama dari Keluarga Besar
8
Bab 8. Sisi Lain Sang Pria Dingin-1
9
Bab 9. Sisi Lain Sang Pria Dingin-2
10
Bab 10. Ketika Kenzie Sakit
11
Bab 11. Tatapan yang Berubah
12
Bab 12. Jebakan yang Mulai Terpasang
13
Bab 13. Kursi Kosong di Meja Makan
14
Bab 14. Pesona Istrii Kontrak
15
Bab 15. Langkah Pertama di Taman Belakang
16
Bab 16. Ketika Dunia Kerja Mengusik Rumah
17
Bab 17. Menu Sarapan Yang Berbeda
18
Bab 18. Dongeng Sebelum Tidur - 1
19
Bab 19. Dongeng Sebelum Tidur - 2
20
Bab 20. Badai Isu di Sekolah Kenzie
21
Bab 21. Amarah Sang Tuan Muda
22
Bab 22. Kejutan Kecil di Hari Minggu
23
Bab 23. Rahasia di Balik Kamar
24
Bab 24. Berbagi Ranjang
25
Bab 25. Keputusan Untuk Melangkah Lebih Jauh
26
Bab 26. Langkah Kaki di Bandar Udara
27
Bab 27. Ketukan Pintu yang Mengejutkan
28
Bab 28. Kekhawatiran Arka
29
Bab 29. Persiapan Persidangan
30
Bab 30. Taktik Nayara
31
Bab 31. Sandiwara di Depan Kilatan Kamera
32
Bab 32. Sentuhan di Balik Meja Kerja
33
Bab 33. Air Mata Kenzie di Sekolah
34
Bab 34. Malam Sebelum Persidangan-1
35
Bab 35. Malam Sebelum Persidangan-2
36
Bab 36. Ruang Sidang yang Dingin
37
Bab 37. Skakmat dari Sang Nyonya Dewangga
38
Bab 38. Ketenangan yang Semu
39
Bab 39. Izin dari Sang Tuan Muda
40
Bab 40. Tatapan Ibu
41
Bab 41. Pesan Sunyi dari Ranjang Pasien
42
Bab 42. Tamparan Realitas
43
Bab 43. Dinding Es yang Kembali Tegak
44
Bab 44. Siasat Baru Maheswari Group
45
Bab 45. Pertanyaan di Tengah Keheningan
46
Bab 46. Pertemuan Rahasia
47
Bab 47. Janji yang Belum Tertulis
48
Bab 48. Ketukan di Pintu Belakang
49
Bab 49. Nama yang Mengubah Sorot Mata
50
Bab 50. Cerita Tragis Gisella
51
Bab 51. Perhatian yang Terbagi
52
Bab 52. Bentengg Baru Nayara
53
Bab 53. Dunia Kecil Bersama Kenzie
54
Bab 54. Langkah Sunyi
55
Bab 55. Panggilan Wawancara Kerja
56
Bab 56. Kaca yang Retak
57
Bab 57. Tidak Mau Jadi Wanita Bodoh
58
Bab 58. Meja Makan Yang Sunyi
59
Bab 59. Lembaran Baru di Meja Kerja
60
Bab 60. Mata Ular Clarissa
61
Bab 61. Bidikan Kamera di Rumah Sakit
62
Bab 62. Riak di Dunia Maya
63
Bab 63. Kepulangan Tuan Muda
64
Bab 64. Arka Cemas, Naya Tenang
65
Bab 65. Tuntutan Profesionalisme-1
66
Bab 66. Tuntutan Profesionalisme-2
67
Bab 67. Bisikan Berbisa Clarissa
68
Bab 68. Makan Malam yang Menghakimi
69
Bab 69. Retak yang Menjadi Pecah
70
Bab 70. Penyesalan di Ujung Malam
71
Bab 71. Racun dan Penawaran Gisella
72
Bab 72. Penolakan Arka
73
Bab 73. Serangan Bandingg Maheswari
74
Bab 74. Pembatasan Diri Nayara
75
Bab 75. Penolakan yang Menghantam Ego-1
76
Bab 76. Penolakan yang Menghantam Ego-2
77
Bab 77. Konfrontasi Dua Wanita
78
Bab 78. Hari Pembuktian di Meja Hijau
79
Bab 79. Surat di Atas Meja Kerja
80
Bab 80. Mama Pergi Dulu
81
Bab 81. Jangan Pergi
82
Bab 82. Pilihann Sang Tuan Muda
83
Bab 83. Langkah Pertama
84
Bab 84. Terima Kasih untuk makan sorenya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!