Bab 4. Aturan Sang Tuan Rumah

Naya meletakkan kertas itu kembali ke atas meja dengan gerakan yang sangat halus, hampir tanpa suara. Namun, sorot matanya mengunci pandangan Arka dengan begitu kuat.

"Saya rasa ada satu poin di sini yang bertentangan dengan kesepakatan kita semalam, Tuan Arka," ucap Naya, suaranya mengalun tenang namun membawa ketegasan yang tak bisa dibantah.

Arka menyipitkan mata, merasa terusik dengan ketenangan Naya. "Poin yang mana?"

"Poin keempat," Naya menunjuk kertas itu dengan jarinya. "Di sini tertulis: Segala hal yang berkaitan dengan Kenzie, termasuk pemilihan menu makanan, jam bermain, dan pengasuh pendamping, harus mendapatkan persetujuan tertulis dari Arkananta."

"Lalu? Apa yang salah? Kenzie adalah anakku. Aku berhak menentukan apa yang terbaik untuknya."

Naya tersenyum tipis—sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya, melainkan sebuah seringai tenang yang menandakan ia siap mempertahankan wilayahnya. Ia memajukan tubuhnya sedikit, menumpukan kedua tangannya di pinggiran meja kerja Arka.

"Semalam, Anda sudah menyetujui syarat saya, Tuan Arka. Selama dua tahun ini, saya adalah ibu Kenzie. Saya memegang kendali penuh atas perawatan dan pendidikannya tanpa intervensi siapa pun, termasuk pelayan Anda. Jika setiap hal kecil seperti menu sarapan Kenzie harus menunggu persetujuan tertulis dari Anda yang selalu sibuk di kantor, anak Anda bisa kelaparan," ucap Naya dengan kalimat yang tertata rapi namun menohok.

Arka tertegun. Rahangnya mengeras. Ia tidak terbiasa didebat, apalagi oleh seorang wanita yang posisinya berada di bawah kendali finansialnya. "Kamu berani mendikteku di rumahku sendiri, Nayara?"

"Saya tidak mendikte. Saya hanya menagih janji seorang pria terhormat yang katanya mengedepankan sikap profesional," balas Naya, suaranya tetap rendah, tidak meninggi sedikit pun, justru intonasi yang stabil itulah yang membuat argumennya terasa mematikan. "Jika Anda ingin saya menjadi ibu yang tulus untuk Kenzie di depan Mama Ambar dan publik, maka beri saya otoritas yang nyata di dalam rumah ini untuk mengurusnya. Jangan ikat tangan saya dengan birokrasi konyol ini."

Keheningan malam yang mencekam seolah berpindah ke ruang kerja itu di siang hari. Arka menatap Naya dengan mata elangnya yang tajam, mencoba mencari celah ketakutan atau kegugupan di wajah wanita itu. Namun, yang ia temukan hanyalah sepasang mata bulat yang menatapnya balik dengan keberanian yang sunyi. Wanita ini tidak menye-menye, tidak menangis, dan tidak memohon. Dia menghadapi Arka layaknya seorang rekan bisnis yang setara.

"Otoritas nyata, katamu?" Arka mendengus, mencoba mengembalikan dominasinya. "Kamu tahu apa tentang membesarkan anak dari keluarga Dewangga? Standar kami tinggi, Nayara."

"Standar tinggi tidak ada gunanya jika anak Anda merasa kesepian dan terkekang oleh aturan kaku," jawab Naya lugas. "Kenzie butuh kasih sayang, bukan protokol perusahaan. Tadi pagi, dia langsung menurut pada saya karena saya memperlakukannya sebagai seorang anak, bukan sebagai proyek bisnis Anda."

Arka terdiam. Kata-kata Naya menghantam bagian terdalam dari rasa bersalahnya sebagai seorang ayah yang jarang punya waktu untuk anaknya.

"Baik," ucap Arka akhirnya, suaranya beralih menjadi lebih berat. Ia mengambil pulpen di sakunya, lalu mencoret poin keempat di atas kertas tersebut dengan kasar. "Poin keempat dibatalkan. Urusan Kenzie berada di bawah kendalimu, dengan syarat ... jika ada hal yang mendesak atau menyangkut kesehatannya, kamu wajib melaporkannya padaku."

"Tentu. Itu memang sudah menjadi kewajiban saya," sahut Naya, senyum kemenangannya tersembunyi dengan sempurna di balik wajah tenangnya.

"Ada satu hal lagi," Arka berdiri, berjalan memutari meja kerjanya dan berhenti tepat di depan Naya. Perbedaan tinggi badan mereka membuat Arka terlihat begitu mengintimidasi, namun Naya tetap tidak mundur satu langkah pun. Ia mendongak, menantang tatapan sang tuan rumah.

"Nanti siang di acara arisan keluarga, Clarissa, saudara mantan istriku, akan ada di sana. Seperti yang kubilang, dia wanita yang tajam. Dia akan mencari celah untuk membuktikan bahwa pernikahan kita adalah palsu. Begitu kita keluar dari rumah ini, kamu harus memanggilku 'Mas Arka' dengan nada paling manis yang kamu punya. Jangan sampai ada keraguan sedikit pun di wajahmu. Paham?"

Naya menatap lekat-lekat bibir Arka yang baru saja mengeluarkan perintah itu. Kemudian, ia menarik napas dalam-dalam, menampilkan senyuman tipis yang sangat anggun.

"Anda tidak perlu mengajari saya cara bersandiwara, Tuan Arka. Di dunia tempat saya tumbuh, menyembunyikan luka di balik senyuman adalah makanan sehari-hari," ucap Naya, suaranya terdengar begitu dalam dan menghanyutkan, menyiratkan masa lalu yang keras yang pernah ia lalui. "Khawatirkan saja diri Anda sendiri. Jangan sampai tatapan dingin Anda yang kaku itu membongkar permainan kita di depan Clarissa."

Arka terpaku. Kalimat Naya barusan terasa seperti tamparan halus yang mendarat tepat di harga dirinya. Belum sempat Arka membalas, Naya sudah menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat formal.

"Saya permisi dulu untuk menyiapkan keperluan Kenzie dan mengganti pakaian untuk nanti siang," ujar Naya tenang.

Ia berbalik dan melangkah pergi dengan punggung yang tegak lurus. Gerakannya yang tenang, penuh percaya diri, dan tidak terburu-buru meninggalkan kesan yang mendalam di benak Arka.

Arka berdiri sendirian di ruang kerjanya, menatap pintu yang baru saja tertutup. Ia mengepalkan tangannya perlahan. Wanita yang ia kira bisa dikendalikan dengan mudah hanya karena segepok uang, ternyata memiliki kepribadian sekeras baja.

"Nayara ...," gumam Arka lirih, menyebut nama itu dengan perasaan yang mulai tidak menentu. Ada rasa kesal, namun jauh di lubuk hatinya, ada percikan rasa kagum yang mulai tumbuh terhadap kekuatan sunyi yang dimiliki sang istri kontrak.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Kar Genjreng

Kar Genjreng

😂arka membuat kesepakatan sendiri sekarang limbung sendiri ayohhh mana yang mau di ikutan ciba ,,,,nanti di sana tempat arisan arka pura pura mesra kenyataan memnag perasaanya juga sedang berperang melawan ego,,,kena sekarang jebakan Batman,,, nanti jungkir balik mengejar Nayara coba saja kalau ga percaya. lidah kan tidak bertulang dowerrr 😄😄 sakarepmu wiss arkan,,,

2026-07-14

2

Lucyana H

Lucyana H

jangan mudah luluh ya Naraya,awas aja jgn sampe kmu yg jatuh cinta dulu,klo bisa kmu cari laki laki lain aja,jgn arka,sok jd pria paling berkuasa,,thor nanti bikin Naraya pergi dari si arka,aku harap jodohnya jgn si arka si pria songong

2026-07-13

3

MamDeyh

MamDeyh

Jadi yg Elang Alin gk lanjut nih kak/Grin/... Semoga semua novel mamih Ghina sukses terus yaaaa

2026-07-13

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Batasan di Balik Pintu Kamar
2 Bab 2. Senyum Palsu Untuk Dunia
3 Bab 3. Akting Nayara
4 Bab 4. Aturan Sang Tuan Rumah
5 Bab 5. Bayang-Bayang Clarissa
6 Bab 6. Secangkir Kopi di Tengah Malam
7 Bab 7. Ujian Pertama dari Keluarga Besar
8 Bab 8. Sisi Lain Sang Pria Dingin-1
9 Bab 9. Sisi Lain Sang Pria Dingin-2
10 Bab 10. Ketika Kenzie Sakit
11 Bab 11. Tatapan yang Berubah
12 Bab 12. Jebakan yang Mulai Terpasang
13 Bab 13. Kursi Kosong di Meja Makan
14 Bab 14. Pesona Istrii Kontrak
15 Bab 15. Langkah Pertama di Taman Belakang
16 Bab 16. Ketika Dunia Kerja Mengusik Rumah
17 Bab 17. Menu Sarapan Yang Berbeda
18 Bab 18. Dongeng Sebelum Tidur - 1
19 Bab 19. Dongeng Sebelum Tidur - 2
20 Bab 20. Badai Isu di Sekolah Kenzie
21 Bab 21. Amarah Sang Tuan Muda
22 Bab 22. Kejutan Kecil di Hari Minggu
23 Bab 23. Rahasia di Balik Kamar
24 Bab 24. Berbagi Ranjang
25 Bab 25. Keputusan Untuk Melangkah Lebih Jauh
26 Bab 26. Langkah Kaki di Bandar Udara
27 Bab 27. Ketukan Pintu yang Mengejutkan
28 Bab 28. Kekhawatiran Arka
29 Bab 29. Persiapan Persidangan
30 Bab 30. Taktik Nayara
31 Bab 31. Sandiwara di Depan Kilatan Kamera
32 Bab 32. Sentuhan di Balik Meja Kerja
33 Bab 33. Air Mata Kenzie di Sekolah
34 Bab 34. Malam Sebelum Persidangan-1
35 Bab 35. Malam Sebelum Persidangan-2
36 Bab 36. Ruang Sidang yang Dingin
37 Bab 37. Skakmat dari Sang Nyonya Dewangga
38 Bab 38. Ketenangan yang Semu
39 Bab 39. Izin dari Sang Tuan Muda
40 Bab 40. Tatapan Ibu
41 Bab 41. Pesan Sunyi dari Ranjang Pasien
42 Bab 42. Tamparan Realitas
43 Bab 43. Dinding Es yang Kembali Tegak
44 Bab 44. Siasat Baru Maheswari Group
45 Bab 45. Pertanyaan di Tengah Keheningan
46 Bab 46. Pertemuan Rahasia
47 Bab 47. Janji yang Belum Tertulis
48 Bab 48. Ketukan di Pintu Belakang
49 Bab 49. Nama yang Mengubah Sorot Mata
50 Bab 50. Cerita Tragis Gisella
51 Bab 51. Perhatian yang Terbagi
52 Bab 52. Bentengg Baru Nayara
53 Bab 53. Dunia Kecil Bersama Kenzie
54 Bab 54. Langkah Sunyi
55 Bab 55. Panggilan Wawancara Kerja
56 Bab 56. Kaca yang Retak
57 Bab 57. Tidak Mau Jadi Wanita Bodoh
58 Bab 58. Meja Makan Yang Sunyi
59 Bab 59. Lembaran Baru di Meja Kerja
60 Bab 60. Mata Ular Clarissa
61 Bab 61. Bidikan Kamera di Rumah Sakit
62 Bab 62. Riak di Dunia Maya
63 Bab 63. Kepulangan Tuan Muda
64 Bab 64. Arka Cemas, Naya Tenang
65 Bab 65. Tuntutan Profesionalisme-1
66 Bab 66. Tuntutan Profesionalisme-2
67 Bab 67. Bisikan Berbisa Clarissa
68 Bab 68. Makan Malam yang Menghakimi
69 Bab 69. Retak yang Menjadi Pecah
70 Bab 70. Penyesalan di Ujung Malam
71 Bab 71. Racun dan Penawaran Gisella
72 Bab 72. Penolakan Arka
73 Bab 73. Serangan Bandingg Maheswari
74 Bab 74. Pembatasan Diri Nayara
75 Bab 75. Penolakan yang Menghantam Ego-1
76 Bab 76. Penolakan yang Menghantam Ego-2
77 Bab 77. Konfrontasi Dua Wanita
78 Bab 78. Hari Pembuktian di Meja Hijau
79 Bab 79. Surat di Atas Meja Kerja
80 Bab 80. Mama Pergi Dulu
81 Bab 81. Jangan Pergi
82 Bab 82. Pilihann Sang Tuan Muda
83 Bab 83. Langkah Pertama
84 Bab 84. Terima Kasih untuk makan sorenya
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Bab 1. Batasan di Balik Pintu Kamar
2
Bab 2. Senyum Palsu Untuk Dunia
3
Bab 3. Akting Nayara
4
Bab 4. Aturan Sang Tuan Rumah
5
Bab 5. Bayang-Bayang Clarissa
6
Bab 6. Secangkir Kopi di Tengah Malam
7
Bab 7. Ujian Pertama dari Keluarga Besar
8
Bab 8. Sisi Lain Sang Pria Dingin-1
9
Bab 9. Sisi Lain Sang Pria Dingin-2
10
Bab 10. Ketika Kenzie Sakit
11
Bab 11. Tatapan yang Berubah
12
Bab 12. Jebakan yang Mulai Terpasang
13
Bab 13. Kursi Kosong di Meja Makan
14
Bab 14. Pesona Istrii Kontrak
15
Bab 15. Langkah Pertama di Taman Belakang
16
Bab 16. Ketika Dunia Kerja Mengusik Rumah
17
Bab 17. Menu Sarapan Yang Berbeda
18
Bab 18. Dongeng Sebelum Tidur - 1
19
Bab 19. Dongeng Sebelum Tidur - 2
20
Bab 20. Badai Isu di Sekolah Kenzie
21
Bab 21. Amarah Sang Tuan Muda
22
Bab 22. Kejutan Kecil di Hari Minggu
23
Bab 23. Rahasia di Balik Kamar
24
Bab 24. Berbagi Ranjang
25
Bab 25. Keputusan Untuk Melangkah Lebih Jauh
26
Bab 26. Langkah Kaki di Bandar Udara
27
Bab 27. Ketukan Pintu yang Mengejutkan
28
Bab 28. Kekhawatiran Arka
29
Bab 29. Persiapan Persidangan
30
Bab 30. Taktik Nayara
31
Bab 31. Sandiwara di Depan Kilatan Kamera
32
Bab 32. Sentuhan di Balik Meja Kerja
33
Bab 33. Air Mata Kenzie di Sekolah
34
Bab 34. Malam Sebelum Persidangan-1
35
Bab 35. Malam Sebelum Persidangan-2
36
Bab 36. Ruang Sidang yang Dingin
37
Bab 37. Skakmat dari Sang Nyonya Dewangga
38
Bab 38. Ketenangan yang Semu
39
Bab 39. Izin dari Sang Tuan Muda
40
Bab 40. Tatapan Ibu
41
Bab 41. Pesan Sunyi dari Ranjang Pasien
42
Bab 42. Tamparan Realitas
43
Bab 43. Dinding Es yang Kembali Tegak
44
Bab 44. Siasat Baru Maheswari Group
45
Bab 45. Pertanyaan di Tengah Keheningan
46
Bab 46. Pertemuan Rahasia
47
Bab 47. Janji yang Belum Tertulis
48
Bab 48. Ketukan di Pintu Belakang
49
Bab 49. Nama yang Mengubah Sorot Mata
50
Bab 50. Cerita Tragis Gisella
51
Bab 51. Perhatian yang Terbagi
52
Bab 52. Bentengg Baru Nayara
53
Bab 53. Dunia Kecil Bersama Kenzie
54
Bab 54. Langkah Sunyi
55
Bab 55. Panggilan Wawancara Kerja
56
Bab 56. Kaca yang Retak
57
Bab 57. Tidak Mau Jadi Wanita Bodoh
58
Bab 58. Meja Makan Yang Sunyi
59
Bab 59. Lembaran Baru di Meja Kerja
60
Bab 60. Mata Ular Clarissa
61
Bab 61. Bidikan Kamera di Rumah Sakit
62
Bab 62. Riak di Dunia Maya
63
Bab 63. Kepulangan Tuan Muda
64
Bab 64. Arka Cemas, Naya Tenang
65
Bab 65. Tuntutan Profesionalisme-1
66
Bab 66. Tuntutan Profesionalisme-2
67
Bab 67. Bisikan Berbisa Clarissa
68
Bab 68. Makan Malam yang Menghakimi
69
Bab 69. Retak yang Menjadi Pecah
70
Bab 70. Penyesalan di Ujung Malam
71
Bab 71. Racun dan Penawaran Gisella
72
Bab 72. Penolakan Arka
73
Bab 73. Serangan Bandingg Maheswari
74
Bab 74. Pembatasan Diri Nayara
75
Bab 75. Penolakan yang Menghantam Ego-1
76
Bab 76. Penolakan yang Menghantam Ego-2
77
Bab 77. Konfrontasi Dua Wanita
78
Bab 78. Hari Pembuktian di Meja Hijau
79
Bab 79. Surat di Atas Meja Kerja
80
Bab 80. Mama Pergi Dulu
81
Bab 81. Jangan Pergi
82
Bab 82. Pilihann Sang Tuan Muda
83
Bab 83. Langkah Pertama
84
Bab 84. Terima Kasih untuk makan sorenya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!