Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.
Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.
Mengapa Azam memilih dirinya?
Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?
Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 — Rumah Pertama Ibu
Perjalanan Jakarta-Karangrejo yang normalnya memakan waktu empat jam, pagi itu ditempuh dalam dua jam empat puluh lima menit. Sopir taksi yang dibayar tiga kali lipat argo memacu mobilnya membelah Tol Jagorawi tanpa peduli batas kecepatan. Di dalam, tidak ada yang bicara. Hanya napas yang tertahan.
Pukul 10.23 WIB, taksi itu berhenti mendadak di ujung jalan tanah sebelum jembatan bambu Karangrejo. Roda belakangnya selip.
Hujan semalam membuat jalan tanah itu berubah menjadi kubangan becek. Bau lumpur, kayu basah, dan rumput liar yang membusuk menyengat.
Dan di ujung jalan itu, berdiri rumah yang bahkan hampir tidak bisa disebut rumah.
Atap sengnya tinggal separuh, bolong-bolong dimakan karat. Dinding anyaman bambunya lapuk, menghitam, dan miring ke satu sisi seperti akan roboh jika angin sedikit lebih kencang. Di halamannya, rumput liar setinggi lutut orang dewasa. Dan di depannya, sebuah pohon mangga tua yang batangnya miring, kulitnya pecah-pecah, tanpa satu pun buah di dahannya.
Taksi bahkan tidak berani maju lebih jauh.
Jatmiko turun pertama. Lututnya langsung lemas.
"Ya Allah... ini..." Suaranya pecah. Kakinya gemetar menginjak lumpur. "Ini kontrakan petak pertama Larasati... waktu dia masih jadi kasir di toko kelontong pasar... Aku... aku yang antar jemput dia ke sini tiap malam habis toko tutup..."
Mahendra turun dengan dipapah Azam. Langkahnya terpincang, tapi matanya tidak lepas dari pohon mangga itu. Seketika, air mata menggenang di mata tuanya yang sudah keriput.
"Pohon ini..." bisiknya, suaranya bergetar hebat. "Aku yang tanam... tahun 1987... Malam itu Larasati bilang dia telat datang bulan... dia takut, dia menangis di sini... Aku gali tanah ini pakai tangan kosong, aku tanam biji mangga ini dan aku bilang... 'Kalau anak kita lahir, pohon ini akan jadi saksinya, Ras... dia akan jaga kamu...'"
Dilla turun paling akhir, menggendong Arif yang baru bangun tidur. Fadil merangkul pinggangnya erat-erat.
Dilla tidak bisa bernapas.
Rumah petak 3x4 meter itu. Satu ruangan. Dapur di luar hanya tungku tanah. Kamar mandi umum di belakang yang pintunya jebol. Bau apek kayu lapuk yang menusuk.
Jauh lebih kecil. Jauh lebih miskin. Jauh lebih tidak layak dari kontrakan petak yang ia tinggali bersama Fadil dan Arif sekarang.
"Ibu... tinggal di sini... waktu hamil aku, Yah...?" Suara Dilla hanya berupa bisikan yang hancur, sebelum akhirnya pecah menjadi tangis. Air matanya jatuh deras tanpa bisa ditahan.
Fadil langsung menariknya ke dalam pelukannya. Ia tahu seberapa keras Dilla menahan hidup selama ini, tapi kali ini tidak.
"Ibumu perempuan paling kuat yang pernah ada, Sayang," bisik Fadil di telinganya, suaranya sendiri bergetar. "Sama kuatnya seperti kamu."
Dari balik rimbun semak di dekat jembatan bambu, sebuah sosok kecil berlari keluar dengan napas terengah-engah.
"Bu Dilla! Pak Azam!"
Laras. Baju dan mukanya penuh lumpur kering. Lututnya berdarah karena dari subuh ia sembunyi di selokan.
"Mereka di dalam! Bu Ratih sama Kak Sekar dibawa masuk ke rumah itu! Dua mobil Avanza hitam yang dari Glodok tadi pagi! Mereka bilang mau tunggu Bu Dilla datang! Mereka bawa golok!"
Seketika, suasana berubah.
Azam dan Fadil langsung bergerak, berdiri membentuk perisai di depan Dilla dan Arif.
Dari dalam rumah petak yang pengap dan gelap itu, terdengar isak tertahan Bu Ratih.
"Dilla... jangan masuk, Nak... mereka bawa golok..."
Mendengar suara itu, Mahendra melepaskan pegangan Azam dan berjalan pincang ke arah pintu. Tidak ada yang bisa menahannya.
Di dalam, pemandangan itu membuat darah semua orang mendidih.
Di pojok ruangan yang lembab dan bau tanah, Bu Ratih dan Sekar didudukkan di lantai, dijaga dua pria berbadan besar — dua orang yang sama dari Glodok, tapi kini maskernya sudah dilepas. Di tangan mereka, sebilah golok kecil yang berkilat.
Dan di tengah ruangan, di atas satu-satunya kursi kayu lapuk yang masih utuh, duduk Nenek Suri.
Perempuan 85 tahun. Kebaya cokelat tua, rambut disanggul tipis, tongkat kayu di sampingnya. Duduk dengan punggung tegak, dengan keangkuhan seorang ratu yang merasa istananya masih berdiri megah, padahal ia sedang duduk di tengah kemiskinan yang paling telanjang.
Matanya yang sayu namun tajam menatap langsung ke arah Dilla yang menggendong Arif.
"Akhirnya," desisnya dengan suara serak, "cucu buyutku yang serakah itu datang juga."
Dilla yang melihat Bu Ratih dan Sekar diancam, keberanian seorang ibu mengalahkan rasa takutnya. Ia maju selangkah, meski Fadil menahan lengannya.
"Lepaskan Bu Ratih dan Sekar! Mereka tidak ada hubungannya dengan 70% itu!" teriak Dilla. Suaranya gemetar, tapi lantang. Untuk pertama kalinya, ia berteriak bukan karena membela dirinya, tapi membela keluarganya.
Nenek Suri tertawa. Tawa kering tanpa kebahagiaan.
"Tidak ada hubungan? Bu Ratih yang menyembunyikan Larasati 28 tahun lalu! Sekar anaknya Bagaskara yang gagal jadi pewaris! Mereka semua pengkhianat Wiratama! Sama seperti kamu, Dilla! Kamu darah Mahendra, bukan darah Wiratama! Kamu tidak berhak menginjak tanah Karangrejo ini!"
Jatmiko tidak tahan lagi. Pria yang selama ini selalu menunduk itu maju.
"Cukup, Nek... Sudah cukup," suaranya lirih tapi penuh luka. "28 tahun Nenek kejar 70% milik Mahendra... 28 tahun Nenek fitnah Larasati sampai dia harus sembunyi di rumah seperti ini... Sampai kapan, Nek? Sampai semua cucu Nenek masuk penjara seperti Bagaskara?"
Nenek Suri menatap Jatmiko dengan tatapan dingin yang menusuk.
"Kamu diam! Kamu anak paling bodoh! Disuruh jaga Larasati agar anaknya tidak lahir, malah kamu nikahi dia! Kamu kasih dia nama Dilla! Kamu besarkan anak haram Mahendra pakai uang Wiratama!"
Kata itu — anak haram — meledak seperti bom.
Mahendra yang sejak tadi diam menahan diri, tiba-tiba meraih tongkat Nenek Suri yang tergeletak di lantai tanah dan membantingnya sekuat tenaga ke meja kayu lapuk di sampingnya.
BRAK!
Meja itu hancur berkeping-keping. Debu kayu beterbangan.
"JANGAN SEBUT ANAKKU HARAM!"
Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, suara Mahendra kembali. Bukan suara kakek tua yang sakit-sakitan, tapi suara Direktur Mahendra Wiratama yang dulu menggetarkan ruang rapat. Suaranya menggelegar di ruangan 3x4 meter itu, membuat dua pria berbadan besar itu mundur selangkah karena kaget.
"Dilla bukan anak haram! Dilla adalah anakku dan Larasati! Kami menikah siri secara agama tahun 1987! Ada suratnya! Ada saksi Pranoto! Yang haram itu kamu, Suri! Kamu yang merampas hak orang miskin!"
Dilla terdiam. Sepanjang 30 tahun hidupnya, ia dihina karena miskin, dipanggil anak tidak jelas bapaknya oleh tetangga. Tidak pernah sekalipun ada seorang ayah yang berdiri dan membela namanya dengan sekeras itu. Air matanya tumpah tak terbendung. Fadil memeluknya semakin erat dari belakang.
Nenek Suri yang tongkatnya dihancurkan, berdiri dengan susah payah, tubuhnya gemetar karena amarah.
"Surat nikah siri? Mana buktinya?! Kalau kamu punya, tunjukkan! Larasati bilang akta asli 70% itu di bawah lantai! Gali! Kalau tidak ada, akan aku bakar rumah ini bersama Bu Ratih dan Sekar di dalamnya!"
Itulah yang mereka tunggu.
Pranoto yang sejak tadi diam di belakang, maju dengan linggis kecil yang ia bawa dari bagasi taksi.
"Di bawah lantai kamar," bisiknya cepat pada Jatmiko dan Mahendra. "Pesan Larasati jelas. Bukan ruang tamu. Di bawah papan kamar, tempat tidur bambunya dulu."
Tanpa buang waktu, Jatmiko, Mahendra, dan Fadil langsung berjongkok di sudut kamar. Lantai papan kayu itu sudah lapuk dimakan rayap, hampir hancur jika diinjak.
Fadil yang bahunya masih nyeri akibat kejadian di Glodok, mencabut papan itu dengan tangan kosong. Jatmiko membantu. Dilla meletakkan Arif di pangkuan Laras yang berjaga di luar pintu, lalu ikut berjongkok di samping suaminya, mencabut paku-paku berkarat dengan batu kali.
Azam berdiri di ambang pintu, tubuhnya menghalangi dua penjaga itu untuk mendekat, sambil diam-diam menelepon polisi, suaranya ditahan serendah mungkin.
Papan pertama dicabut. Tanah basah.
Papan kedua dicabut. Tanah dan akar rumput.
Papan ketiga dicabut — tepat di bawah bekas tempat tidur bambu lapuk tempat Larasati dulu tidur menahan kontraksi sendirian.
Di bawahnya, ada sesuatu.
Sebuah kotak besi kecil seukuran kotak sepatu, berkarat berat, dibungkus plastik hitam tebal yang sudah mengelupas.
Semua orang berhenti bernapas.
Jatmiko mengangkatnya dengan kedua tangan yang gemetar. Berat.
Mahendra mengambil alih dan mencongkel tutupnya dengan linggis.
KREK!
Kotak itu terbuka.
Di dalamnya bukan hanya satu surat. Ada tiga benda yang ditata rapi oleh Larasati 28 tahun lalu.
Pertama: Akta asli pendirian PT. Mahendra Wiratama Sejahtera tahun 1985. Kertasnya menguning, tapi tanda tangan basah Mahendra dan Ayahanda Wiratama masih jelas. Cap notaris Pranoto masih biru dan tegas. Tertulis dengan mesin ketik: Mahendra 70%, Wiratama 30%.
Kedua: Surat nikah siri Mahendra dan Larasati, 14 November 1987. Dengan tanda tangan wali dan dua saksi: Pranoto dan Ratih.
Ketiga: Sebuah buku tulis kecil bersampul batik yang sudah lusuh. Di depannya, tulisan tangan Larasati yang miring dan halus: Untuk Dilla, kalau kamu sudah besar dan sudah jadi seorang ibu.
Dilla mengambil buku itu dengan tangan yang tidak berhenti gemetar. Ia membukanya. Halaman pertama basah oleh air matanya bahkan sebelum ia selesai membaca.
Dilla, Sayang...
Ibu tulis ini waktu Ibu hamil kamu 8 bulan. Ibu di rumah petak ini sendirian karena orang bilang bapakmu sudah mati. Jatmiko baik sekali, dia antar makanan tiap hari. Ibu tidak tahu Ibu akan hidup atau mati waktu melahirkan kamu nanti...
Kalau Ibu tidak ada, tolong jangan benci Jatmiko ya, Nak. Jatmiko orang baik. Dan jangan benci Mahendra juga... dia orang baik yang hampir jadi jahat karena Ibu.
Kalau nanti kamu sudah jadi ibu... ajari Arif seperti Ibu mengajari kamu... jangan pernah balas dendam, Nak...
Bagi 70% itu untuk orang-orang miskin di kontrakan, biar mereka tidak diusir lagi...
Ibu sayang kamu...
- Ibu, Larasati, Karangrejo 1988
Isak Dilla pecah. Bukan lagi tangis pelan, tapi tangisan seorang anak yang akhirnya menemukan ibunya setelah 30 tahun kehilangan. Fadil memeluknya, membiarkan kepalanya bersandar di bahunya. Arif yang melihat ibunya menangis, ikut memeluk kaki Dilla dengan bingung.
Nenek Suri melihat akta asli itu di tangan Mahendra. Wajahnya berubah pucat lalu merah padam.
"TIDAK! ITU PALSU! ITU PALSU! BERIKAN! ITU MILIK KELUARGAKU!"
Dua pria itu langsung maju hendak merebut kotak besi dari tangan Mahendra.
Saat itulah, dari kejauhan, di seberang jembatan bambu, terdengar suara sirine polisi yang meraung semakin keras, membelah kesunyian Karangrejo.
Laras yang sejak tadi bersembunyi menelepon, berteriak sekuat tenaga dari luar, "POLISI DATANG! POLISI DATANG!"
Panik. Dua pria berbadan besar itu langsung melompat keluar lewat jendela belakang yang sudah jebol, kabur melewati sawah, meninggalkan Nenek Suri sendirian.
Nenek Suri terduduk lemas di lantai tanah yang becek. Tongkatnya patah. Keangkuhannya hancur.
"Jangan... jangan kasih ke Dilla... kasih ke saya..." ia meracau, menangis seperti anak kecil. "Saya trauma miskin... saya tidak mau miskin lagi seperti zaman Jepang dulu... saya takut lapar lagi..."
Tidak ada yang merasa menang melihat perempuan 85 tahun itu menangis di lantai tanah.
Mahendra berjongkok perlahan di depannya. Dengan suara yang tidak lagi marah, tapi penuh iba, ia berkata,
"Suri... 28 tahun kamu kejar 70% ini karena kamu takut miskin. Tapi lihat rumah ini... Larasati hamil anakku di sini tanpa uang sepeser pun, tapi dia tidak pernah merasa miskin, karena dia punya cinta. Kamu punya 30% Wiratama yang nilainya miliaran, tapi kamu merasa miskin terus. Sebenarnya, siapa yang miskin, Suri?"
Untuk pertama kalinya dalam 50 tahun, Nenek Suri, perempuan yang paling ditakuti di keluarga Wiratama, menangis sejadi-jadinya di pelukan tanah Karangrejo.
Di luar, polisi datang. Bu Ratih dan Sekar dilepaskan. Arif berlari dan memeluk Sekar — perempuan yang selama ini ia takuti, yang ternyata tadi melindunginya dari golok.
Di dalam rumah, Dilla masih duduk di atas lantai papan yang sudah tercabut, memeluk tiga hal paling berharga di hidupnya: buku tulis kecil ibunya, akta asli 70%, dan foto Larasati yang tadi diselamatkan Fadil dari ruko Glodok.
Fadil duduk di sampingnya, memeluk Dilla dan Arif sekaligus, membiarkan air mata istrinya membasahi kemejanya.
"Mas," bisik Dilla di antara isak, matanya menatap wasiat terakhir ibunya.
"Kita bagi ya, Mas? Seperti pesan Ibu..."
Fadil mengangguk. Ia mencium kening Dilla yang penuh keringat, air mata, dan lumpur.
"Ya, Sayang. Kita bagi. Kita tetap tinggal di kontrakan petak... tapi nanti kontrakan itu milik kita semua. Bukan milik Wiratama lagi."
Dan di depan mereka, di atas lantai papan tempat Larasati dulu mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan Dilla, Mahendra dan Jatmiko — dua ayah Dilla, satu yang memberi darahnya, satu yang membesarkan jiwanya — akhirnya saling berpelukan untuk pertama kalinya setelah 28 tahun bermusuhan.
Bersambung...