Indonesia
NovelToon NovelToon
Kontrak Rahasia Sang Istri

Kontrak Rahasia Sang Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:241
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.

Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.

Mengapa Azam memilih dirinya?

Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?

Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 — Balapan ke BPN

Jam 11.47 siang jadi jam 12.31 siang di jalan tol Jagorawi yang macet karena ada truk terguling.

Taksi yang membawa Dilla, Fadil yang setengah sadar di pangkuan Dilla, Arif yang tertidur di pangkuan Bu Ratih, Mahendra yang memeluk kotak besi, Jatmiko yang masih pucat habis donor darah, dan kalung bunga melati kering yang sudah hancur setengah — terjebak di antara bus dan truk.

Di belakang taksi, mobil patroli yang membawa Suryanto yang masih diborgol plastik, Azam, Sekar, Laras, dan Pranoto dengan tas kulit berisi akta asli 70% — juga terjebak.

Ponsel Azam berdering lagi. Pengacara Wiratama.

"Pak Azam, Bagaskara sudah di BPN Jaksel dari jam 11 tadi! Dia bawa 2 pengacara! Dia mau balik nama sertifikat ruko Glodok dan 12 ruko lain atas nama dia pribadi! Kalau dia berhasil daftar sebelum jam 3, sistem BPN akan kunci dan akta asli 70% Pak Mahendra tidak bisa masuk lagi! Harus cegat fisik!"

Azam melihat jam di dashboard taksi: 12.32.

Mereka masih di tol Jagorawi, 30 kilometer dari BPN Jaksel.

Fadil yang setengah sadar di pangkuan Dilla, membuka matanya pelan dan melihat macet.

"Macet ya, Sayang..."

Dilla mengangguk sambil menahan tangis, mengusap keringat Fadil yang mulai dingin lagi.

"Mas, jangan tidur dulu ya... kita hampir sampai..."

Fadil tersenyum lemah. "Mas tidak tidur... Mas cuma... lihatin kalung bunga Ibu Larasati di leher kamu... cantik... seperti pengantin... tapi... bunganya sudah kering..."

Dilla menatap kalung bunga melati kering yang dikalungkan Arif tadi di Puskesmas. Kelopaknya sudah banyak yang jatuh di daster Dilla yang penuh darah Fadil.

"Kalau kita menang nanti di BPN, Mas... kita beli bunga melati baru ya... yang masih segar... kita tanam di depan kontrakan..."

Mahendra yang duduk di depan, mendengar percakapan Dilla dan Fadil, menoleh. Matanya berkaca-kaca.

"Dilla... bunga melati itu... Ibu kamu yang tanam di depan rumah petak dekat jembatan bambu itu... bibitnya dari Pasar Baru... dia tanam sehari setelah aku difitnah mati... dia bilang... kalau bunga itu mekar, berarti aku masih hidup..."

Jatmiko yang duduk di samping Mahendra, memegang bahu Mahendra.

"Bunganya mekar, Mah... tadi pagi waktu kita cabut papan lantai... aku lihat di samping pohon mangga... ada bunga melati putih kecil yang mekar... satu..."

Mahendra menangis tanpa suara. Setelah 28 tahun jadi pemulung, setelah 28 tahun dianggap mati, bunga melati yang ditanam Larasati untuknya akhirnya mekar satu, tepat di hari anaknya menemukan akta 70% itu.

Azam yang melihat macet tidak bergerak sama sekali, mengambil keputusan.

"Pak Sopir, buka pintu! Kita lari!"

Semua orang di taksi menoleh ke Azam.

"Lari? Ke mana, Pak Azam?" tanya sopir taksi bingung.

"Keluar tol! Kita naik motor! Ojek! Apa saja! BPN tutup jam 3!"

Azam membuka pintu taksi di tengah tol yang macet dan keluar, diikuti Pranoto dengan tas kulitnya, Sekar dan Laras.

Dilla menggendong Arif yang masih tertidur, Fadil dipapah Jatmiko dan Mahendra keluar dari taksi.

Di pinggir tol Jagorawi yang berdebu dan panas, tujuh orang — termasuk seorang pasien dengan bahu diperban berdarah, seorang kakek 68 tahun yang secara hukum sudah mati, seorang anak 5 tahun, dan seorang ibu dengan kalung bunga melati kering — berlari mencari ojek.

Tiga ojek online berhenti karena kasihan melihat Fadil yang berdarah.

"Ke BPN Jaksel! Berapapun saya bayar!" teriak Azam.

Jam 13.07, mereka naik ojek berboncengan tiga, melaju di bahu tol yang berdebu, menyalip truk yang terguling.

Fadil boncengan dengan Dilla dan Arif di tengah, memeluk Dilla dari belakang dengan satu tangan yang masih bisa bergerak, menahan nyeri bahunya yang berguncang karena jalanan rusak.

"Mas masih kuat?" bisik Dilla sambil memeluk Arif di depannya yang tertidur di gendongan kain.

"Mas kuat... kalau yang di depan Mas kamu dan Arif..."

Di ojek lain, Mahendra boncengan dengan Jatmiko. Dua sahabat tua yang dulu musuhan, kini berpelukan di atas ojek karena takut jatuh.

"Jatmiko, kalau nanti di BPN Bagaskara bilang aku mati, kamu bilang apa?" tanya Mahendra dengan suara bergetar karena angin tol.

"Aku bilang... Mahendra hidup... karena bunga melatinya mekar pagi ini..." jawab Jatmiko.

Jam 13.49, mereka sampai di BPN Jakarta Selatan. Gedungnya besar, ber-AC, antriannya panjang.

Di lobi, Bagaskara sudah ada. Dengan kemeja batik mahal, borgolnya sudah lepas entah bagaimana, didampingi 2 pengacara berjas hitam, sedang menyerahkan map tebal ke loket.

"Pak, ini akta 100% Wiratama Group atas nama saya, Bagaskara Wiratama, ahli waris tunggal Ayahanda Wiratama. Tolong balik nama 13 ruko Glodok hari ini juga," kata Bagaskara dengan suara angkuh.

Petugas BPN yang melihat akta itu mengerutkan kening. "Pak Bagaskara, ini akta 1990. Ada catatan sengketa dari Notaris Pranoto tahun 1985 yang belum selesai. Tidak bisa balik nama sebelum sengketa selesai."

Bagaskara membanting map itu ke meja loket. "Sengketa apa? Mahendra sudah mati 1988! Mana buktinya dia hidup? Mana KTP-nya?"

Saat itu, pintu kaca BPN terbuka dengan keras.

Pranoto masuk dengan napas terengah-engah, tas kulitnya terbuka, mengeluarkan akta asli 1985 yang menguning.

"Ini buktinya! Akta asli 1985! Mahendra 70%! Saya notarisnya! Saya yang buat!"

Semua orang di lobi BPN menoleh.

Bagaskara yang melihat Pranoto, langsung pucat. "Pranoto! Kamu... kamu..."

Pranoto tidak peduli. Ia meletakkan akta asli itu di atas meja loket, di atas akta palsu 100% milik Bagaskara.

"Petugas, cek cap notarisnya! Cek tanda tangan basahnya! Akta saya 5 tahun lebih tua dari akta palsu ini!"

Petugas BPN membandingkan dua akta itu dengan kaca pembesar. Cap notaris Pranoto 1985 masih jelas. Tanda tangan Mahendra masih basah dan tembus ke belakang kertas.

Bagaskara panik. Ia menunjuk Mahendra yang baru masuk dituntun Jatmiko, dengan kotak besi dan kalung bunga melati kering di leher Dilla.

"Dia! Dia sudah mati! Akta kematiannya ada! Cek Dukcapil! Mahendra Wiratama... eh, Raden Arya Mahendra meninggal 1988 kecelakaan tol Jagorawi! Mana KTP-nya? Mana orangnya? Itu orang gila pemulung yang ngaku Mahendra!"

Mahendra yang mendengar dirinya disebut orang gila pemulung, maju selangkah dengan kotak besi di pelukannya.

"Saya Mahendra. Raden Arya Mahendra. Saya tidak punya KTP karena kalian yang matikan KTP saya 28 tahun lalu."

Petugas BPN bingung. Ia cek komputer Dukcapil. Memang ada akta kematian Raden Arya Mahendra tahun 1988.

"Pak, secara sistem Bapak sudah meninggal. Tidak bisa balik nama tanpa sidang pembatalan akta kematian di Pengadilan Negeri."

Bagaskara tertawa menang. "Dengar! Dia mati! Secara hukum dia mati! Jadi 70% itu milik saya!"

Saat itu, Dilla maju dengan Arif di gendongan dan kalung bunga melati kering di lehernya.

"Kalau Ayah saya mati secara hukum, saya anaknya! Saya ahli warisnya!"

Dilla meletakkan surat keterangan lahir aslinya — yang baru saja diambil dari brankas kecil di bawah foto Larasati di ruko Glodok dengan kunci dari kalung bunga — di atas meja loket, di atas akta 70% dan akta palsu 100%.

Di surat itu tertulis jelas: Nama Ayah: Raden Arya Mahendra. Nama Ibu: Larasati. Saksi Nikah Siri: Pranoto & Ratih.

Petugas BPN membaca surat itu dengan teliti. Surat keterangan lahir asli 1988 dengan cap bidan desa Karangrejo yang masih jelas.

Bagaskara melihat surat itu dan langsung merebutnya.

"Palsu! Ini palsu! Larasati kan nikah sama Jatmiko!"

Jatmiko yang sejak tadi diam, maju dan berkata dengan suara yang lantang, suara mantan lurah.

"Larasati nikah siri dengan Mahendra tahun 1987, sebelum nikah dengan saya tahun 1988. Saya saksinya. Saya yang antar Larasati ke masjid kecil dekat ruko Glodok waktu itu. Saya yang jadi saksi karena Ayah saya, Ayahanda Wiratama, tidak setuju Larasati nikah dengan Mahendra yang miskin. Saya nikahi Larasati tahun 1988 karena Mahendra difitnah mati dan Larasati hamil 8 bulan butuh suami agar anaknya tidak jadi anak haram."

Pengakuan Jatmiko itu membuat seluruh lobi BPN yang tadinya berisik, hening total.

Seorang ayah yang membesarkan anak orang lain selama 30 tahun, mengaku di depan BPN bahwa ia bukan ayah kandungnya, demi mengembalikan hak anak itu.

Petugas BPN menatap Dilla, Mahendra, Jatmiko, dan Bagaskara bergantian.

"Baik... secara hukum, akta asli 1985 lebih kuat dari akta 1990. Tapi status Mahendra meninggal harus dibatalkan dulu di PN. Saya tidak bisa balik nama hari ini. Tapi... saya bisa blokir akta 100% Pak Bagaskara. Tidak ada balik nama hari ini. Kedua akta saya sita sebagai barang sengketa. Silakan selesaikan di Pengadilan Negeri dan Pengadilan Niaga. Blokir 1 tahun."

Bagaskara membanting meja loket dengan keras.

"TIDAK BISA! SAYA SUDAH KABUR DARI LAPAS BUAT INI!"

Dua polisi yang mengawal Suryanto yang sejak tadi berdiri di pintu BPN, langsung memborgol Bagaskara lagi.

"Bagaskara Wiratama, Anda kabur dari Lapas Cipinang, Anda ditahan lagi."

Bagaskara diseret keluar lobi BPN dengan berteriak-teriak, "MAHENDRA! DILLA! 70% ITU MILIK SAYA! MILIK KELUARGA WIRATAMA!"

Mahendra yang melihat Bagaskara diseret, tidak merasa menang. Ia hanya memeluk kotak besi kosongnya yang kini sudah tidak ada isinya — karena isinya sudah disita BPN sebagai barang sengketa.

Dilla yang melihat Bagaskara diseret, memeluk Fadil yang hampir pingsan lagi di sampingnya.

"Mas... kita berhasil... kita blokir... 70% itu tidak jadi milik Bagaskara..."

Fadil tersenyum lemah dengan bibir pucat. "Kita... blokir... tapi... kita juga belum menang... masih setahun sidang..."

Pranoto mengangguk. "Benar. Kita baru dapat waktu 1 tahun. Dalam 1 tahun, kita harus hidupkan KTP Mahendra, sidang waris, dan buktikan Dilla ahli waris 70%."

Azam yang sejak tadi berdiri di belakang, menatap Dilla dan Fadil dan Arif yang berpelukan di lantai lobi BPN yang dingin ber-AC — sangat kontras dengan lantai tanah rumah petak Karangrejo pagi tadi.

"Setahun... cukup," kata Azam pelan. "Setahun cukup untuk bangun rumah kontrakan baru yang tidak bocor untuk Dilla."

Sekar yang berdiri di samping Azam, menggenggam tangan Azam lagi, lebih erat dari tadi.

"Dan cukup untuk... untuk tanam bunga melati baru yang segar... di depan rumah itu..."

Di luar BPN Jaksel, jam menunjukkan 14.58 — 2 menit sebelum tutup. Mereka berhasil cegat 2 menit sebelum sistem kunci.

Taksi dan mobil patroli masih menunggu di luar dengan mesin menyala, siap bawa mereka kembali ke Karangrejo, ke Puskesmas tempat Fadil harus istirahat, ke rumah petak dengan pohon mangga dan bunga melati putih yang mekar satu pagi ini.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!