Indonesia
NovelToon NovelToon
HALAMAN TERAKHIR

HALAMAN TERAKHIR

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Teen School/College / Cinta pada Pandangan Pertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: T.K. OKVIANDI

Bagi Rindu Setia Wiratman, hidup adalah buku catatan yang penuh dengan aturan ketat, ekspektasi, dan kesempurnaan semu. Sebagai gadis populer yang selalu memegang kendali, ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuliskan babak paling menyakitkan di saat ia merasa paling rapuh—ketika keluarganya runtuh dan dunianya hancur perlahan.

Di sisi lain, ada Langit Batara Nugroho, cowok arogan yang kehadirannya selalu berhasil menyulut emosi Rindu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, Langit menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas dan sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur rapat-rapat.

Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari halaman-halaman berat yang harus mereka balik bersama. Ketika badai menerpa hidup Rindu, justru Langit—seseorang yang paling ia benci—menjadi satu-satunya tempat untuk bersandar.

Namun, pertanyaannya: apakah mereka akan bertahan hingga akhir babak cerita, atau justru terhenti di halaman terakhir kisah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T.K. OKVIANDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HALAMAN LIMA

"Entah ini sudah hari keberapa gue berada di sekolah baru, sudah berapa hari juga gue selalu ribut dengan DIA. Hari ini gue bisa seorang adik kelas, kenalnya juga bukan karena sengaja mau kenalan, tapi karena dia di jalan mau diganggu anak-anak sekolah lain. Manis sih, berhijab juga, tapi sayang udah punya pacar hehehe. Di sekolah tetep aja DIA selalu ada di depan gue dan terus mengajak gue berantem. Mulai bilang gue pakai pelet karena gue bareng sama Adik kelas yang baru gue kenal , mikir negatif terus tentang gue. Tapi gue semakin penasaran sama DIA, iya DIA cewek rese yang pertama kali bikin gue hampir terlambat masuk sekolah di hidup gue" Langit mengetik novel yang dibuatnya di laptop hitam miliknya.

Langit bangkit dari posisi duduknya, dia berjalan menuju depan cermin . "Rindu Rindu , ngeselin sih , nyebelin tapi sesuai namanya bikin Rindu aja , kangen diresein dia hehehe"Ucap Langit seorang diri di hadapan cermin. Tidak lama setelah itu handphone milik Langit berdering, ada panggilan masuk dari nomor tidak dikenal.

"Siapa ya ini, nggak pernah liat nomor ini gue" tanya Langit sambil melihat ke arah layar handphonenya.

"Angkat jangan ya?" tanya Langit dengan penuh keraguan. "Angkat aja deh takutnya penting" lanjut Langit berucap.

Sesaat Langit akan mengangkat panggilan itu, dering handphone berhenti ."Ah , yaudah lah kalau perlu atau penting nanti juga telepon lagi" ucap Langit sambil melempar handphonenya ke atas Kasur. Tidak selang lama Handphone itu kembali berdering, tapi bukan panggilan masuk, melainkan sebuah pesan singkat dari nomor yang sama menghubungi Langit tadi. Langit pun segera mengambil handphone nya kemudian membuka pesan masuk tersebut lalu membacanya.

"Kak Langit , maaf ini aku Allisya, tadi pasti nggak diangkat soalnya kakak nggak tahu nomor aku ya? maaf ya kak ganggu, aku tadi minta nomor kakak dari kak Tami yang ekskul basket itu kak. Besok kakak latihan basket yang buat lumba kan? Boleh bareng nggak kak? Soalnya aku mau ngumpul PMR juga, aku sih ada motor tapi kalau siang dipake ayah aku. Nanti pas lumba aku ikut deh kak" Langit membaca isi pesan whatsapp yang masuk ke handphonenya.

"Oh Allisya, telepon aja deh" Inisiatif Langit setelah mengetahui itu adalah Allisya

Langit langsung menghubungi Allisya, beberapa kali Langit menghubungi Allisya tapi tidak diangkat, tapi dia terus mencoba nya. Sementara itu di tempat yang jauh disana , di sebuah pom bensin , terlihat Allisya baru saja mengisi bensin ke sepeda motornya, setelah sepeda motor Allisya berjalan sedikit menjauh dari mesin pom bensin Allisya menghentikan sepeda motornya di pinggir, lalu mengangkat panggilan di handphonenya.

"Halu iya Kak Langit, maaf tadi nggak aku angkat, aku lagi isi bensin di pom" Ucap Allisya dalam panggilan tersebut.

"Iya nggak apa-apa Sya, maaf juga tadi nggak keburu keangkat soalnya nggak kenal nomornya, takut nya dari siapa gitu. Oh ya udah Sya kalau besok mau bareng sih, di tempat yang waktu itu kamu ketemu kakak ya, jam 7 pagi" Langit mengiyakan akan berangkat bareng dengan Allisya dalam panggilan teleponnya.

"Siap kak, ya udah sampe ketemu besok ya kak, Asslamu alaikum kakak" Ucap Allisya, Allisya pun menutup panggilan langsung menjalankan sepeda motornya setelah meletakkan handphone di sakunya.

Waktu menunjukkan pukul 19.00, Langit tampak keluar dari kamar mandi menggunakan celana pendek dengan handuk maseih digunakan untuk mengeringkan tubuh nya. Tidak selang beberapa lama, telepon rumah pun berdering dan Langit pun bergegas mengangkat telepon tersebut. "Halu Selamat malam " salam Langit saat mengangkat telepon.

"Ini Papah , Tara. Papah minta tolung bisa?" Inspektur Nugroho meminta bantuan kepada Langit.

"Oh Papah, iya pah kenapa?" tanya balik Langit kepada Inspektur Nugroho tentang apa yang harus dibantunya.

"Tolung kamu bawain baju salin Papah, sama senjata Papah yang satunya, papah simpen di lemari besi dalam lemari baju papah, kuncinya tanggal pernikahan papah, cepet ya Tara" Inspektur Nugroho menjelaskan dengan tegas.

"Iya Pah, Emang ada apa kok kayaknya urgent banget?" tanya Langit dengan penasaran.

"Ini tadi ada yang telepon ke 112 , seorang ibu pengusaha property yang merasa mobilnya sedang di ikuti orang. Sekarang mobilnya sedang mengulur waktu di tempat keramaian. Tapi dia mau pulang dan melewati beberapa tempat sepi, dia minta bantuan pengawalan soalnya dia membawa uang gaji karyawan dalam jumlah besar" Inspektur Nugroho menjelaskan apa yang sedang dia tangani saat itu.

"Siap pah , kesitu kan anternya, iya pah, oke pah" Ucap Langit.

Langit segera menutup telepon tersebut dan berjalan ke kamar ayahnya menyiapkan yang diminta oleh ayahnya. Semuanya dimasukkan kedalam tas ransel. Langit langsung keluar rumah, tak lupa mengunci pintu rumahnya. Dia langsung menaiki sepeda motornya menggunakan helm, dan langsung memacu sepeda motornya menuju tempat yang diminta oleh ayahnya.

Suasana malam itu sedikit gerimis, Langit terus memacu sepeda motor nya dengan cepat, karena terburu-buru diapun enggan untuk berhenti mengenakan jas ujan. Sesampainya di persimpangan jalan tempat ayahnya menunggu Langit segera ke pinggir jalan untuk menghentikan sepeda motornya. Setelah berhenti, Langitpun segera turun menuju Pos Polisi untuk menyerahkan tas ransel tersebut kepada ayahnya.

"Ini Pah semuanya ada di dalem tas , oh iya tadi Tara masukin roti kesukaan papah tadi Tara mampir dulu di minimarket" Ucap Langit dan langsung memberikan tas ransel tersebut ke Inspektur Nugroho, selang beberapa waktu hujan turun semakin deras.

"Ya udah Tara makasih ya , kamu langsung pulang, pakai jas ujan, setelah tugas ini bsk pagi papah langsung jalan ke cirebon mau melanjutkan tugas yang papah ceritain waktu itu" ucap Inspektur Nugroho

"Ya udah Pah, tetep hati-hati ya pah, jangan lupa berdoa, oh iya, besok pulang ekskul basket kan agak sore soalnya mau latihan buat lumba bulan depan di bandung. Habis pulang Tara mau langsung ke makam mamah sama ade ya pah" Ucap Langit.

Langit mengeluarkan jas hujan yang diletakkan di bawah jok motornya lalu mengenakannya. Kemudian Langit menaiki sepeda motor nya dan memacunya, sementara Inspektur Nugroho langsung menaiki mobil kepolisian dan pergi meninggalkan persimpangan itu.

Keesokkan harinya, di suatu sudut kamar , nampak sebuah jam di atas sebuah meja menunjukkan pukul 06.44 pagi. Jarum jam terus berputar , saat jam menunjuk jam 06.45, alarm jam tersebut pun berbunyi dengan keras. Nampak dari balik selimut sebuah tangan perempuan keluar mengambil jam tersebut dan membawanya kedalam selimut. Tidak berselang lama , terlihat seorang perempuan bangkit dari dalam selimut dengan wajah terkejut, ternyata itu adalah Allisya.

"Astagfirullah, gue salah ngatur alarm, waduh gawat nih " Allisya terkejut saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 06.45.

Allisya langsung mematikan alarm jamnya dan meletakkan kembali jam tersebut di atas meja samping tempat tidurnya. Allisya bergegas bangkit dari tempat tidur dan langsung dengan cepat berlari menuju kamar mandi dalam kamarnya. Selang beberapa waktu berjalan, terlihat Allisya keluar dari kamar mandi telah berpakaian lengkap. Allisya lansung menuju meja rias nya. Allisya mulai mengenakan hijabnya dan sedikit berdandan di depan cermin meja riasnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.05.

Di pinggir jalan raya , Langit yang duduk di atas sepeda motornya celinnggak celinguk mencari seseorang. Langit langsung mengeluarkan handphonenya dan menghubungi Allisya. Di kamanya, Allisya yang sudah selesai berdandan dan mengenakan hijab nya langsung mengambil handphonenya di atas tempat tidur. Belum sempat Allisya menaruh handphonenya ke dalam saku celana, handphone berdering, ternyata itu adalah panggilan masuk dari Langit.

"Assalamu alaikum kak, maaf ya kak aku kesiangan hehehe ini udah mau jalan kok, nggak apa-apa deh nggak usah sarapan dulu, kasian kakaknya nungguin" Allisya meminta maaf karena tidak datang sesuai waktu yang dijanjikan dengan Langit

"Wa alaikumussalam Sya, ya udah nggak apa-apa , kakak tungguin ya, nanti sarapan di luar aja , bubur ayam aja gimana? , yang arah sekolah kayaknya enak tuh" ucap Langit dalam panggilan telepon. "Oke deh kak, , tunggu ya kak aku jalan nih, Assalamu alaikum kak" balas Allisya sambil lalu mennggakhiri panggilan dan menaruh handphone ke sakunya.

Di meja makan rumah Allisya terlihat Adellia, ibu dari Allisya sedang menyiapkan sarapan. "Allisya mau kemana kamu , bukannya sekarang sabtu ya, biasanya kamu ekskul kan siangan, ini tumben pagi-pagi, sarapan dulu kamu" tanya Adellia yang heran dengan Allisya yang berangkat pagi-pagi dihari sabtu saat Allisya menuruni tangga.

"Ini bunda, soalnya Allisya bareng kakak kelas ke sekolahnya, Allisya janjian jam tujuh ini sebenernya, Allisya nanti sarapan di sekolah aja Bunda," Jawab Allisya. "Assalamu alaikum Bunda, Allisya jalan ya," lanjut Allisya yang langsung mencium tangan ke ibunya dan langsung berpamitan berlari keluar rumah.

Di pinggir jalan raya, terlihat Langit sedang berdiri disamping sepeda motornya menunggu Allisya, tidak berselang lama dari kejauhan terlihat Allisya berlari ke arah Langit. "Aduh kak maaf banget ya kak, lama ya nunggunya" Kata Allisya dengan Nafas terengah engah.

"Enggak kok, paling baru 3 jam , yaudah yuk langsung" Jawab Langit.

"Ah kakak mah apaan sih , yuk" Balas Allisya.

Allisya pun langsung memakai helm yang diberikan Langit dan langsung naik ke sepeda motor Langit. Langit pun memacu sepeda motornya. "Oh iya Allisya tadi kakak udah telepon temen kaka, ternyata latihannya jam 9 tahu sya, jadi skarang kita nyari makan dulu yuk, mau makan apa nih" Kata Langit.

"Oh ya udah kak, tadi katanya mau makan bubur ayam, tapi yang enak ya kak" Ucap Allisya.

"Oke deh sya, pegangan, kakak mau kebut ya" Ujar Langit. Allisya pun berpegangan ke pinggang Langit dan Langitpun memacu sepeda motornya lebih cepat.

Di pinggir jalan , terlihat sebuah tenda gerobak tukang bubur yang lumayan banyak pembelinya. Nampak sepeda motor Langit berhenti dan parkir di tempat tersebut. Langit dan Allisya melepaskan helm masing-masing dan turun dari sepeda motor tersebut , mereka pun segera duduk di kursi tempat berjualan bubur tersebut. Langit pun mengambil tissue dan menggunakannya untuk mengelap wajah nya.

"Bang , 2 mangkok nya sama minumnya es teh manis 1, kamu apa sya?" Ucap Langit kepada pedagang bubur , lalu ke Allisya.

"Sama kak aku juga es teh manis" Jawab Allisya.

"Bang es teh manis nya 2 berarti" Ucap Langit kepada pedagang bubur dan pedagang bubur itu pun mulai menyiapkan pesanan nya.

"Sya, Rindu orangnya aneh ya, kadang rese, tapi kadang klu nggak lagi ketemu kakak keliatannya suka lucu gitu" Ucap Langit

"Iya kak, pas kakak bilang kak rindu rese juga aku kaget bingung makanya, orang menurut aku sih biasa aja kok, mungkin jengkel banget kali sama kakak." Ucap Allisya.

"Ah masa iya, dulu kan cuma gara-gara kena bola nggak sengaja aja, masa sampe segitunya" Tegas Langit.

"Mungkin ada hal laen kali kak, mungkin karena kakak anak baru, tapi udah bisa lumayan populer, jadi kak Rindu ngerasa gimana gitu" Ujar Allisya.

Saat mereka sedang berbincang pedagang bubur pun memberikan pesanan mereka di atas meja , berikut dengan sate di piring terpisah. "Tapi kakak salut sama cowoknya dia, tahan gitu sama cewek kayak dia" Ucap Langit.

"Hah cowoknya? Emang punya ya kak? Setau aku sih dari aku kelas sepuluh , kak Rindu nggak punya pacar, banyak sih yang suka dari mulai alumni, kakak kelas nya, sampe yang seangkatan, bahkan sampe ade kelas, tapi nggak ada yang di anggap serius sama kak Rindu, pemilih banget kayaknya" Ucap Allisya dengan jelas.

Langit yang mendengar hal tersebut disaat sedang meminum minumannya pun tersedak. Dan minuman dari mulutnya pun sedikit keluar membasahi luar mulut nya. "Pelan pelan kenapa kak" Ucap Allisya. Allisya mengambil tisue dan mengelap mulut dan pipi Langit. "Ya kaget aja , masa cewek secantik dan sepinter dia belum punya pacar" Ucap Langit dengan spontan.

"Hah Cantik ? Kakak bilang kak Rindu cantik ? Tadi aja bilang nya rese , nyebelin, mikir nya negatif terus, ehh sekarang bilang cewek secantik dan sepintar dia, heheheh kakak mulai naksir ya sama dia" Allisya berusaha meledek Langit.

"Udah udah sekarang waktunya makan mumpung masih panas, nanti takut terlambat nih" Langit mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Iya kak, ini aku makan kok. Ciee kayaknya bener nih" Ledek Allisya lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!