Update 5 bab dijam yang sama 12.00 WIB.
Vano Andrian, seorang aktor muda berbakat yang baru berusia dua puluh satu tahun, tewas tragis setelah meminum air beracun yang diberikan oleh kru setianya. Kematian akibat pengkhianatan itu membawanya melintasi dimensi ke Benua Dewa.
Di dunia kultivasi tersebut, jiwanya merasuki tubuh Gu Yan-Zhi, seorang pemuda lemah yang baru saja dibantai oleh sepupunya sendiri. Terperangkap dalam raga asing dengan Dantian yang tersegel rapat, Vano harus bangkit melawan takdir kejam. Berbekal insting tempur modern dan aliansi tak terduga dengan makhluk mitos, akankah Vano menuntut balas atas penderitaan Gu Yan-Zhi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar Pembalasan dan Langkah Keluar Perbatasan
Matahari pagi di Kota Awan Berkabut perlahan-lahan merayap naik, memecah kabut tipis yang menyelimuti atap-atap genting bangunan bergaya kuno. Di dalam Aula Utama Klan Gu, suasana pagi itu terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Para penatua klan duduk berbaris rapi di kursi kayu jati berukir, sementara di kursi kehormatan utama, Penatua Kedua—Gu Tianxiong—duduk dengan angkuh sambil menyesap teh hangatnya. Di sampingnya, Gu Tianlang berdiri tegak dengan seringai puas menghiasi wajahnya, mengenakan jubah sutra mewah bersulam benang emas.
Hari ini adalah hari penentuan. Pengesahan pengalihan aset wilayah barat milik ibu Gu Yan-Zhi, sekaligus pembahasan akhir pertunangan paksa antara Gu Ruoxi dan putra mahkota Klan Bai yang akan digelar lusa.
"Apakah semuanya sudah siap? Dokumen pengalihan hak waris paviliun barat sudah kalian siapkan?" tanya Gu Tianxiong dengan suara serak namun berwibawa, melirik ke arah para pelayan di sudut ruangan.
"Sudah, Penatua Kedua. Tinggal menunggu Nona Gu Ruoxi datang untuk membubuhkan cap segel darahnya," jawab seorang pelayan dengan kepala tertunduk takut.
Gu Ruoxi, gadis berusia tujuh belas tahun dengan mata sembab dan wajah pucat pasi, berdiri di tengah aula dengan tangan mengepal erat. Hatinya hancur berkeping-keping. Semenjak kematian Gu Yan-Zhi beberapa hari lalu akibat hukuman keji Gu Tianlang, ia merasa tidak memiliki siapa pun lagi di klan ini yang melindunginya dari cengkeraman serigala-serigala serakah tersebut.
"Aku tidak akan pernah menandatangani surat perjanjian busuk itu!" ucap Gu Ruoxi lantang, meskipun suaranya bergetar hebat menahan amarah dan keputusasaan.
Gu Tianlang mendengus dingin, melangkah mendekat dengan tatapan meremehkan. "Jangan membantah, Ruoxi! Kau pikir kau siapa? Tanpa perlindungan klan, kau tidak lebih dari gadis malang yang siap dibuang ke jalanan. Kakak angkatmu yang sampah itu sudah mati dimakan binatang buas, dan sekarang giliranmu yang harus berkorban demi kejayaan Klan Gu!"
Brak!
Tiba-tiba, suara hantaman keras menggema dari arah pintu gerbang aula utama. Pintu kayu jati berukuran besar itu mendadak terbuka lebar dengan sendirinya, hancur berkeping-keping menjadi serpihan serbuk kayu yang berhamburan ke udara oleh gelombang tekanan energi yang luar biasa masif.
Semua orang di dalam aula terperanjat kaget, serentak berdiri dari kursi mereka dan mengarahkan pandangan ke arah pintu masuk.
Di ambang pintu, di bawah pendar cahaya matahari pagi yang menyilaukan, sesosok pemuda berbalut jubah hitam berjalan masuk dengan langkah yang begitu tenang dan mantap. Tudung jubahnya perlahan-lahan diturunkan, menampilkan wajah tegas bergaris tajam dengan sepasang mata yang memancarkan kilatan cahaya keemasan yang dingin dan menusuk jiwa. Di bahu kanannya, seekor anak anjing putih berbulu lebat menatap tajam ke arah para tetua klan dengan pandangan penuh cibiran.
Suasana aula mendadak sunyi seketika. Bulu kuduk para pengawal klan merinding hebat.
"Gu... Gu Yan-Zhi?!" teriak Gu Tianlang histeris, matanya melotot lebar seolah-olah ia baru saja melihat hantu di siang bolong. Kakinya bahkan mundur dua langkah karena rasa terkejut yang luar biasa. "Ba... bagaimana mungkin?! Kau... kau seharusnya sudah mati di ruang bawah tanah dan tercabik-cabik di Hutan Larangan!"
Gu Tianxiong, Penatua Kedua, langsung menyipitkan matanya tajam. Ia mengerutkan kening, merasakan aura kultivasi yang terpancar dari tubuh pemuda di hadapannya—bukan lagi tahap awal yang lemah, melainkan sebuah energi murni yang stabil di Pemusatan Qi Tingkat Dua, lengkap dengan ketenangan mental yang sama sekali tidak masuk akal bagi seorang pemuda yang baru saja bangkit dari kematian.
Gu Ruoxi menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata bahagianya menetes seketika saat melihat sosok yang ia tangisi selama beberapa hari terakhir kini berdiri tegak di hadapannya tanpa kurang suatu apa pun.
"Mati?" Gu Yan-Zhi tersenyum tipis, senyuman yang begitu dingin hingga membuat suhu di dalam aula mendadak turun drastis. Ia melangkah maju perlahan, membiarkan setiap langkah kakinya bergema di lantai batu marmer. "Sebelum aku melihat kalian semua berlutut dan memohon ampun di kakiku, bagaimana mungkin aku berani mati di tangan bajingan sepertimu, Gu Tianlang?"
"Keparat sombong! Beraninya kau kembali ke sini dan membuat kekacauan!" geram Gu Tianlang, amarahnya langsung menguap menggantikan rasa terkejutnya. Ia menghunus pedang panjang dari pinggangnya, menyalurkan seluruh energi Pemusatan Qi Tingkat Empat miliknya, lalu melompat menerjang maju untuk menebas kepala Gu Yan-Zhi secara langsung. "Aku bisa membunuhmu sekali, dan aku bisa membunuhmu untuk kedua kalinya!"
Gu Yan-Zhi bahkan tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Saat tebasan pedang Gu Tianlang meluncur deras mengincar lehernya, ia hanya mengangkat tangan kanannya dengan santai, mengalirkan energi spiritual ke ujung jarinya, lalu menjentikkan jarinya ke arah bilah pedang tersebut.
Trang!
Sebuah getaran sonik yang kuat meledak seketika. Pedang di tangan Gu Tianlang terpental lepas dari genggamannya akibat benturan energi yang tidak kasat mata, sementara Gu Tianlang sendiri terdorong mundur lima langkah dengan napas tersengal-sengal dan dada terasa nyeri luar biasa.
"Tingkat... Tingkat Dua?! Bagaimana bisa kultivasimu melompat secepat itu?!" teriak Gu Tianlang tidak percaya, wajahnya pucat pasi.
Gu Yan-Zhi melangkah melewatinya begitu saja seolah-olah Gu Tianlang hanyalah angin lalu, lalu berhenti tepat di hadapan Gu Tianxiong yang masih duduk tertegun di kursi kehormatan.
"Penatua Kedua," ucap Gu Yan-Zhi dengan nada suara yang tenang namun penuh wibawa. "Utang darah harus dibayar dengan darah, dan warisan yang bukan milik kalian harus dikembalikan hari ini juga. Tapi tenang saja... aku tidak punya waktu untuk menghabiskan sisa hidupku membersihkan sampah di rumah kecil ini."
Sebelum Gu Tianxiong sempat membuka mulutnya untuk memberikan perintah kepada para pengawal, Gu Yan-Zhi melepaskan gelombang tekanan spiritual tingkat tinggi dari Kontrak Darah bersama Hu Yijie, membuat seluruh pengawal di aula berlutut lemas seketika tanpa mampu mengangkat senjata.
Gu Yan-Zhi berbalik, menghampiri Gu Ruoxi, lalu merangkul pundak gadis itu pelan. "Ayo pergi dari tempat busuk ini, Ruoxi. Dunia di luar sana jauh lebih luas daripada tembok Klan Gu."
Dengan disaksikan oleh para tetua klan yang gemetar ketakutan di kursi mereka, Gu Yan-Zhi, Gu Ruoxi, dan Gu Chen melangkah keluar meninggalkan halaman utama Klan Gu, resmi memulai babak baru perjalanan panjang mereka menjelajahi luasnya Benua Dewa dengan tempo penceritaan yang tenang, penuh strategi, dan mendalam (slow burn).