GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warisan Utang 5 Miliar Dolar
DOR! DOR! PRANG!
Suara letusan senjata api berpadu sempurna dengan bunyi pecahan cangkir keramik dan jeritan mesin espresso yang mendadak meletupkan uap panas akibat tersasar peluru.
Kedai Kopi Berkutut dalam waktu kurang dari sepuluh detik berubah menjadi zona perang mini paling absurd di Jakarta Selatan. Siska melompat lincah di atas meja bar, menendang lampu gantung hingga berayun, lalu meluncur turun sambil melepaskan dua tembakan akurat yang melumpuhkan dua pria berjas hitam di dekat pintu masuk.
Senja, dengan mata menyalang penuh adrenalin, mengayunkan pipa besinya dengan presisi seorang stuntwoman profesional. Satu hantaman keras tepat di lambung membuat pengawal bertubuh kekar di depannya terpental menubruk lemari pendingin kue.
Di tengah hujan peluru dan serpihan biji kopi Arabica yang berhamburan, Gala berjongkok di balik meja bar, memeluk erat kalkulator tuanya dan lembar akta notaris berstempel emas milik Pak Joko.
“Woi! Jangan tembak mesin espressonya! Itu cicilannya masih sisa dua puluh empat bulan lagi!” teriak Gala histeris sambil menutup kepalanya dengan baki kayu.
Di hadapan mereka, Vanya—pemimpin regu eksekutor The Black Press—menurunkan pistolnya perlahan. Ia tidak lagi membidik Gala. Wanita berambut pendek itu justru mengangkat kedua tangannya ke udara, menatap ke sekeliling kedai yang porak-poranda sambil menghembuskan napas panjang penuh kelelahan.
“Cukup! Hentikan tembakannya!” perintah Vanya kepada sisa anak buahnya yang masih berdiri.
Para pengawal berjas hitam sontak menurunkan senjata mereka, saling berpandangan dengan bingung. Baku tembak yang tadinya dikira sebagai perebutan takhta berdarah itu mendadak berhenti begitu saja, digantikan oleh bau mesiu yang bercampur aroma kopi gosong.
Siska mendarat di samping Senja, matanya menyipit tajam menatap Vanya. “Ada apa? Kenapa tiba-tiba menghentikan penyerangan? Ini bukan gaya seorang eksekutor sindikat.”
Vanya mendengus sinis, melepas sarung tangan taktisnya dan melemparnya ke atas lantai. Ia berjalan mendekati meja bar, menatap Gala yang masih meringkuk ketakutan di balik meja.
“Eksekutor?” Vanya tertawa kecil, suara tawanya terdengar getir. “Nona Siska, Anda pikir saya datang ke sini untuk merebut takhta organisasi The Black Press karena saya ambisius ingin menjadi ratu dunia hitam?”
Gala memberanikan diri mendongak dari balik baki kayu. “Emang bukan? Terus ngapain bawa-bawa selusin orang bawa HK MP5 kalau bukan mau kudeta?”
Vanya merogoh saku jaket kulitnya, mengeluarkan sebuah map merah tebal, lalu melemparkannya tepat ke muka Gala.
“Saya datang ke sini bukan untuk menyerahkan kekuasaan, Tuan Gala Prasetya... tapi untuk menyerahkan surat sita eksekusi utang piutang!” seru Vanya dengan nada dramatis.
Gala, Senja, dan Siska tertegun serentak.
Senja melangkah maju, memungut map merah itu dan membuka lembarnya. Siska mengintip dari bahu Senja, sementara Gala ikut menjulurkan lehernya dengan penasaran setengah mati.
Di halaman pertama akta tersebut, tertera rincian keuangan yang membuat darah mereka mendadak berhenti mengalir:
“RINCIAN ASET DAN LIABILITAS SINDIKAT VANGUARD & SUARA FAKTA: 1. Saldo Rekening Offshore Cayman: $0.00 (Nol Dolar - Rekening telah dikuras habis oleh otoritas pajak internasional). 2. Tagihan Pajak Progresif Organisasi Gelap (10 tahun terakhir): $1.2 Miliar. 3. Utang Pembelian 50 Unit Drone Tempur dan Bahan Peledak C-4 ke Produsen Gelap Eropa: $3.8 Miliar. TOTAL UTANG BERSIH YANG DIWARISKAN KEPADA AHLI WARIS SAH (GALA PRASETYA): $5.000.000.000 (Lima Miliar Dolar AS).”*
Suasana di dalam kedai kopi mendadak hening seketika—jenis keheningan yang jauh lebih pekat daripada saat bunker Gunung Salak mau runtuh.
Gala menatap angka lima miliar dolar di kertas itu, lalu menatap kalkulator di tangannya, lalu menatap Vanya, dan terakhir menatap lembar akta notaris hibah dari Pak Joko.
Otak jurnalisnya yang biasa dipakai meliput berita korupsi mendadak mengalami error sistem total.
“Lima... lima miliar... dolar?” bisik Gala dengan suara bergetar halus bagaikan orang sakaratul maut. “Itu... kalau dirupiahkan setara dengan... berapa gerobak cilok ya, Nja?”
“Itu setara dengan seluruh APBN negara bagian fiktif, Gala,” jawab Senja dengan wajah sepucat mayat hidup. Ia menoleh menatap Vanya dengan mata terbelalak. “Jadi... akta hibah yang dikasih Pak Joko minggu lalu itu bukan surat kepemilikan kekayaan... tapi surat pengalihan utang macet?!”
Vanya mengangguk muram. “Tepat sekali. Pak Joko itu jenius licik. Sebelum dia ketangkap basah, dia sengaja bikin akta notaris palsu seolah-olah itu surat harta karun, biar ada orang bodoh yang mau menandatanganinya dan menggantikan posisi dia sebagai penanggung jawab hukum internasional di depan Interpol dan mafia global!”
Siska, agen elit yang biasanya tidak pernah berekspresi, untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya terlihat ingin pingsan. Jari-jarinya dengan cepat menghitung sesuatu di tabletnya.
“Berdasarkan kalkulasi matematis saya,” ucap Siska dengan suara dingin nan lemas, “dengan gaji bulanan Anda sebagai barista di kedai ini sebesar tiga juta rupiah, dipotong biaya operasional dan sewa kedai... Anda baru akan bisa melunasi utang lima miliar dolar tersebut dalam waktu... dua juta empat ratus tahun ke depan, itu pun kalau Anda tidak makan, tidak tidur, dan tidak pernah klaim bensin motor Revo lagi.”
Gala perlahan-lahan berdiri dari balik meja bar. Wajahnya pucat pasi, tatapannya kosong menatap langit-langit kedai.
“Jadi... selama ini...” Gala bersuara parau, air mata haru palsunya hampir tumpah. “Selama ini saya bukan bos mafia triliuner... tapi saya adalah buronan pengemplang utang terbesar di muka bumi?!”
“Selamat, Gala. Anda resmi menjadi manusia paling miskin sedunia tapi punya utang paling mahal di galaksi,” sahut Vanya sarkastik sambil menepuk-nepuk bahu Gala pelan.
Sebelum ada di antara mereka yang sempat meratapi kebangkrutan tragis tersebut, suara deru helikopter militer tiba-tiba bergemuruh kencang di atas atap kedai. Lampu sorot raksasa menembus jendela kaca kedai, menyinari ruangan dengan cahaya putih menyilaukan.
WUUUSSSHH—!
Pintu depan kedai kembali terbuka otomatis. Kali ini bukan lagi anak buah Vanya, melainkan sepasukan agen Interpol berpakaian antihuru-hara lengkap dengan senapan bius dan surat perintah penangkapan resmi yang ditandatangani langsung oleh PBB.
“Gala Prasetya! Anda dan seluruh sindikat Anda dikepung! Serahkan diri sekarang atas tuduhan pencucian uang global dan kepemilikan utang ilegal senilai lima miliar dolar!” seru seorang komandan Interpol melalui pengeras suara dari luar.
Gala menoleh ke arah Senja dan Siska dengan senyuman paling putus asa di dunia.
“Nja, Sis... kayaknya impian kita buat buka cabang kedai kopi di Puncak harus ditunda dulu, deh,” bisik Gala lesu. “Sekarang... siapa yang mau traktir saya mi instan sebelum kita diciduk interpol?”
Senja mendengus, tersenyum miring di tengah situasi yang mustahil itu, lalu menyambar dua pucuk pistol dari tangan pengawal Vanya yang tergeletak di lantai.
“Siapa bilang kita mau menyerah?” kata Senja tajam. Ia menarik pelatuk senjatanya, menatap Siska dan Vanya bergantian. “Kalau kita mau bangkrut dan masuk penjara, setidaknya kita harus bikin kekacauan besar terakhir kalinya!”
Siska menarik napas dalam-dalam, memasang kembali ekspresi agen pembunuh dinginnya, sementara Vanya mendengus pasrah lalu ikut mencabut senjatanya.
“Baiklah,” desis Siska sambil melirik Gala. “Sebagai pemegang invoice piutang terbesar Anda, saya tidak akan membiarkan klien saya ditangkap sebelum membayar lunas biaya pengawalan hari ini.”
Dan di bawah deru baling-baling helikopter Interpol yang siap mendobrak atap, babak baru pelarian pasangan suami-istri paling sial di dunia pun resmi dimulai.