Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENIH DI TENGAH BADAI
Pendar keemasan sinar matahari pagi menembus celah-celah gorden sutra kamar utama. Kehangatan yang menjalar di atas permukaan kulit membangunkanku dari tidur paling lelap yang pernah kunikmati seumur hidup.
Aku mengeliat pelan, mendapati lengan tegap Ammar masih melingkar protektif di pinggangku. Suamiku masih tertidur pulas dengan napas teratur, wajah tampannya terlihat begitu tenang tanpa garis-garis ketegangan yang biasanya bertengger saat berhadapan dengan jemaah atau media. Di bawah balutan selimut tebal, kehangatan tubuh kami yang saling menempel mengingatkanku pada setiap kejujuran gairah dan kelembutan yang tercipta di antara kami semalam.
Perlahan, aku mengangkat lengan Ammar dari perutku agar tidak membangunkannya. Aku mengenakan piyama panjangku kembali, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk menyucikan diri dan menunaikan salat Subuh yang sempat tertunda.
Usai merapikan diri dan mengenakan mukena putih bersih, aku melangkah keluar kamar menuju dapur lantai satu. Rumah terasa begitu tenang. Ibu dan Awan masih berada di area ruang belakang. Aku memutuskan untuk menyeduh teh hangat dan menyiapkan sarapan sederhana untuk keluarga keciku ini.
Namun, saat aroma bumbu tumisan menyengat hidungku di depan kompor, mendadak perutku terasa mual luar biasa.
Ugh...
Rasa mual yang mendesak naik dari dasar perut membuat kerongkonganku serasa tercekit. Aku segera mematikan kompor dan berlari tergesa-gesa menuju wastafel dapur.
"Hoekk... hoekk!"
Aku mencengkeram tepi wastafel granit dengan jemari gemetar. Tubuhku melengkung saat berusaha mengeluarkan sesuatu dari perutku, namun yang keluar hanyalah cairan bening yang terasa pahit di lidah. Kepala bagian belakangku mendadak berdenyut nyeri, membuat pandanganku sempat berbayang sejenak.
"Aisyah?"
Sebuah suara lembut penuh kekhawatiran terdengar dari ambang pintu dapur. Ibu melangkah cepat menghampiriku, memegang dahiku lalu mengusap punggungku dengan raut cemas.
"Kamu kenapa, Nak? Kok mual-mual begini pagi-pagi?" tanya Ibu seraya memijat tengkukku pelan.
Aku menyapu bibirku dengan tisu, menyandarkan tubuhku yang mendadak lemas pada tepi meja dapur. "Nggak tahu, Bu... Tiba-tiba perut Aisyah mual banget pas mencium bau bumbu tumisan tadi. Kepalanya juga agak pusing."
Ibu menatap wajahku lurus-lurus. Pandangan matanya yang tajam dan berpengalaman meneliti raut pucatku serta lingkar mataku. Sebuah senyuman tipis yang sarat arti perlahan terukir di bibir tua Ibu.
"Mual pas cium bau masakan? Pusing juga?" tanya Ibu dengan nada yang mendadak berubah hangat. "Aisyah... kamu terakhir dapat halangan kapan, Nak?"
Aku mengerutkan kening, mencoba mengingat-ingat kalender haidku. "Eh... harusnya minggu lalu, Bu. Tapi sampai sekarang belum keluar. Aisyah pikir cuma telat biasa karena stres mikirin masalah kemarin..."
"Gak usah nebak-nebak," potong sebuah suara bariton yang akrab.
Ammar melangkah masuk ke dapur. Pria itu sudah rapi mengenakan kemeja koko bernuansa biru lembut dan sarun tenun. Matanya memancarkan rasa cemas saat melihat wajah pucatku. Ia langsung mendekat, merengkuh bahuku dan menyentuh pipiku yang dingin.
"Kamu sakit, Aisyah? Mau saya panggilkan dokter ke rumah?" tanya Ammar penuh perhatian.
Ibu terkekeh pelan melihat ketakutan Ammar yang berlebihan. "Gak usah panggil dokter dulu, Ammar. Coba kamu suruh Ustaz Ridwan atau Nabila belikan testpack ke apotek terdekat. Ibu punya firasat beda."
Ammar membelalakkan matanya seketika. "Testpack...?"
Satu jam kemudian, suasana di dalam kamar mandi kamar utama beraras sangat hening.
Aku duduk di atas porselen tertutup, mencengkeram dua batang alat pemeriksa kehamilan berlatar putih di tanganku. Jantungku berdegup begitu kencang, bagaikan suara genderang perang yang bersahutan. Di luar pintu kamar mandi, Ammar berdiri menunggu dengan gelisah—aku bisa mendengar suara langkah kakinya yang bolak-balik tak tenang.
"Aisyah? Sudah ada hasilnya, Sayang?" panggil Ammar dari balik pintu kayu, suaranya terdengar bergetar menahan gejolak rasa penasaran.
Aku menundukkan pandanganku. Dua garis merah tegas muncul secara jelas di atas layar indikator kedua alat tersebut.
Dua garis merah. Positif.
Air mata haru seketika menetes membasahi pipiku. Jemari tangannya yang gemetar mengusap permukaan perutku yang masih rata. Di dalam rahimku... benih cinta dari pria yang sangat kucintai kini telah tumbuh dan berakar.
Dengan tangan masih bergetar, aku membuka pintu kamar mandi.
Ammar yang sedang berdiri di depan tempat tidur langsung berbalik cepat. Begitu melihatku berdiri di ambang pintu dengan linangan air mata, raut wajah tampannya seketika menegang. Ia melangkah cepat menghampiriku.
"Aisyah... kenapa menangis? Hasilnya bagaimana?" tanya Ammar parau, meraih kedua tanganku.
Tanpa bersuara, aku menyerahkan dua batang testpack itu ke telapak tangannya.
Ammar menerima benda kecil itu. Pandangan matanya terkunci pada dua garis merah menyala yang tertera di sana. Pria tegap yang biasanya selalu tenang dan penuh perhitungan itu mendadak mematung kaku. Napasnya tertahan di tenggorokan, sementara matanya bergerak cepat memandangi alat itu berulang kali.
"Ini... ini dua garis, Aisyah?" bisik Ammar, suaranya terdengar amat parau dan hampir tenggelam oleh ketidakpercayaan.
Aku mengangguk pelan seraya tersenyum di balik linangan air mata. "Iya, Mas... aku hamil. Ada anak Mas Ammar di dalam sini."
"Ya Allah..."
Tubuh tegap Ammar seketika merendah. Pria itu berlutut tepat di hadapanku, menjatuhkan alat itu ke lantai lalu memeluk pinggangku erat-erat. Wajah tampannya disandarkan pada perutku yang masih rata. Aku dapat merasakan getaran hebat di bahunya dan kehangatan air mata yang menembus kain piyamaku. Seorang Habib Ammarullah—pria yang tak gentar menghadapi cemoohan publik dan gertakan ulama besar—kini menangis sesenggukan di pangkuan istrinya karena rasa syukur yang tak terhingga.
"Alhamdulillah... Terima kasih, ya Allah... Terima kasih, Aisyah..." bisik Ammar berulang kali seraya mengecup perutku bertubi-tubi dengan penuh kasih sayang yang begitu pekat.
Aku mengusap rambut tebal suamiku, membiarkan kebahagiaan murni ini membungkus kamar kami dalam kehangatan yang tiada tandingannya.
Kabar kehamilanku menyebar cepat di internal keluarga. Umi Khadijah dan Nabila yang mendengar kabar tersebut langsung datang kembali ke rumah pada sore harinya.
Umi Khadijah memelukku erat-erat di ruang tamu, meneteskan air mata bahagia seraya membacakan doa-doa keselamatan di atas kepalaku. Segala sisa-sisa ganjalan di hati sang ibu mertua sirna sepenuhnya, digantikan oleh rasa syukur karena calon cucu pertamanya dari Ammar kini tengah dikandung olehku.
Nabila ikut menggenggam tanganku erat. "Aisyah... selamat ya! Aku senang banget bakal jadi tante!" seru Nabila dengan mata berbinar bahagia di balik niqabnya. "Kamu harus jaga kesehatan, jangan capek-capek!"
Namun, di tengah kebahagiaan yang meluap-luap di dalam benteng rumah ini, ombak dari dunia luar ternyata belum sepenuhnya mereda.
Malam harinya, usai Umi dan Nabila pulang, Ammar duduk di meja kerjanya bersama Pengacara Lukman dan Ustaz Ridwan. Aku mendampinginya seraya menyajikan teh hangat.
"Habib," Pengacara Lukman membuka map dokumen tebal di atas meja. Raut wajah sang pengacara terlihat amat serius. "Proses pendaftaran isbat nikah di Pengadilan Agama berjalan lancar. Namun... ada perkembangan baru dari pihak luar."
Ammar menyesap tehnya pelan, pandangannya berubah dingin. "Perkembangan apa, Pak Lukman?"
"Kyai Dahlan dan beberapa pengurus yayasan mitra resmi mengajukan pengunduran diri dari konsorsium pembangunan gedung baru pesantren Syekh Ali," terang Pengacara Lukman. "Tidak hanya itu, muncul gerakan di media sosial dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang mencoba mengorek masa lalu Mbak Aisyah."
Jantungku bagaikan terhenti seketika. Aku yang berdiri di samping kursi Ammar meremas nampan kayu di tanganku hingga jemariku memutih.
"Mengorek masa lalu Aisyah?" ulang Ammar, suaranya mendadak berubah menjadi sangat rendah dan berbahaya.
"Benar, Habib," sela Ustaz Ridwan prihatin. "Ada akun anonim di platform media sosial yang menyebarkan rumor bohong bahwa Mbak Aisyah pernah bekerja di tempat hiburan malam sebelum menikah dengan Habib. Foto-foto buram masa lalu Mbak Aisyah sewaktu bekerja keras mencari nafkah untuk berobat ibunya diputarbalikkan menjadi narasi yang sangat menyudutkan."
PRANG!
Nampan kayu di tanganku meluncur jatuh menabrak lantai marmer.
Wajahku seketika pucat pasi bagaikan mayat. Ketakutan terbesar yang selama ini kukubur dalam-dalam—bayang-bayang masa laluku yang kelam saat terpaksa bekerja di tempat remang-remang demi menyambung hidup Ibu dan Awan—kini dilempar ke hadapan publik secara telanjang!
Ammar langsung bangkit dari kursinya, merengkuh tubuhku yang gemetar hebat sebelum aku jatuh pingsan.
"Aisyah!" panggil Ammar cemas, menopang tubuh lemasku di dada bidangnya.
"Mas... mereka... mereka tahu..." bisikku parau dengan napas tersendut-sendut, air mata dingin mengalir deras di pipiku. "Anak kita... bagaimana dengan nasib anak kita kalau seluruh dunia tahu ibunya bekas..."
"Cukup!" potong Ammar tegas, memutus perkataanku yang penuh kehinaan pada diri sendiri.
Ammar menatap Pengacara Lukman dan Ustaz Ridwan dengan kilatan amarah yang paling dahsyat yang pernah kulihat selama mengenal pria ini. Pria berwibawa itu mengepal jemarinya keras-keras, memancarkan aura perlindungan seorang kepala keluarga dan suami yang tak akan membiarkan siapa pun menghancurkan masa depan anak dan istrinya.
"Pak Lukman, urus semua akun dan pihak yang menyebarkan fitnah itu secara hukum malam ini juga! Lacak siapa dalang di balik penyebaran rumor ini!" perintah Ammar dengan nada mengintimidasi yang tak bantah. "Saya tidak akan tinggal diam jika ada satu orang pun yang mencoba melukai hati istri saya dan mengusik calon anak kami!"
Di bawah lindungan dekapan Ammar yang kokoh, aku menangis terisak. Kehamilan ini adalah anugerah terindah dari Allah, namun di saat yang sama, ancaman masa lalu siap menggulung pernikahan kami ke dalam ujian yang jauh lebih mengerikan. Aku tahu, pertempuran sesungguhnya untuk mempertahankan kehormatan keluarga ini baru saja dimulai.