Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23 — Sekarang Ikut Aku Pulang
Nara sedang melepaskan label nama Maya dari bungkus lukisan ketika Adrian menelepon.
Kertasnya robek di tengah. Ia meninggalkannya begitu saja dan mengangkat panggilan.
“Maya sudah memberi tahu Dimas.”
Nara duduk perlahan di kursi.
“Apa yang dia bilang?”
“Soal kita. Aku sudah mengaku tentang Sabtu malam.”
Nara melihat pintu depan. Sejak Maya dan Adrian pergi, ia beberapa kali membayangkan sahabatnya kembali. Sekarang ia justru membayangkan Dimas berdiri di sana.
“Aku bisa datang,” kata Adrian.
“Jangan.” Jawabannya terlalu cepat. “Kalau dia datang dan kamu masih ada di sini, dia nggak akan dengar apa-apa lagi.”
Adrian diam sebentar.
“Kamu sendirian?”
“Orang percetakan masih ada di bawah.”
Ia mendengar Adrian mengembuskan napas. Nara ingin bertanya apakah Maya menangis, apa yang mereka bicarakan, apakah Adrian sekarang menyesal datang Sabtu itu. Ia tidak sanggup mendengar jawabannya sambil menunggu suaminya tiba.
“Aku akan telepon lagi,” katanya.
“Nara.”
Ia berhenti sebelum menurunkan ponsel.
“Kalau kamu ingin aku datang, bilang. Aku akan datang.”
Nara mengangguk meskipun Adrian tidak bisa melihat. Keinginan untuk memintanya menemani terasa begitu kuat sampai ia harus mengakhiri panggilan.
* * *
Dimas tiba kurang dari setengah jam kemudian.
Nara mendengar suaranya lebih dulu dari bawah. Tenang, sopan, memperkenalkan diri sebagai suaminya kepada pegawai percetakan. Seperti datang menjemput setelah hari kerja biasa.
Lalu langkahnya menaiki tangga.
“Nara. Buka.”
Ia sudah berdiri dekat pintu. Ia tidak ingin suaminya berteriak dari luar dan membuat orang-orang di bawah datang melihat. Setelah menarik napas, ia memutar kunci.
Dimas masuk. Pandangannya langsung menuju dua cangkir di meja, lalu pintu ke ruang belakang yang dibiarkan terbuka.
“Nyaman rupanya.”
Nara menutup pintu. Ia berharap tangannya tidak terlihat gemetar.
“Jadi ini alasan ingin punya tempat sendiri. Aku pikir kamu cuma ingin jauh dari rumah. Ternyata sudah tahu siapa yang mau dibawa ke sini.”
“Aku pindah karena aku nggak tahan tinggal di rumah, Dim.”
Dimas berbalik. Ia tampak lelah, tetapi cara ia memandang Nara membuatnya lebih takut daripada bentakan.
“Jangan pakai cerita itu dulu. Maya baru bilang suaminya mengaku tidur dengan kamu. Aku mau dengar dari mulutmu sendiri.”
Nara merasa malu bahkan sebelum membuka mulut.
“Iya.”
Dimas terdiam. Ia menatapnya beberapa detik, seperti masih mengharapkan penjelasan lain sesudah satu kata tersebut.
Kemudian ia mengusap rahangnya dan mengangguk.
“Hebat.”
Nara tidak menjawab. Ia tidak bisa mengatakan bahwa ia tidak bermaksud menyakitinya. Ia tahu laki-laki ini masih suaminya ketika mengirim alamat kepada Adrian.
Dimas menunjuk ruangan belakang.
“Kopermu masih di sana? Ambil. Kita pulang.”
Nara mengangkat wajah.
“Aku nggak pulang.”
“Sekarang bukan waktunya kamu memilih suasana hati.” Dimas melewatinya dan membuka pintu ruang belakang lebih lebar. “Aku datang baik-baik. Aku belum menelepon orang tuamu, belum bilang ke siapa-siapa. Kamu masih bisa bereskan ini tanpa semua orang tahu kelakuanmu.”
Ia menarik koper yang diletakkan dekat tempat tidur. Nara menyusul dan memegang gagangnya sebelum Dimas mengangkatnya.
“Biarkan di situ.”
Dimas menatap tangan Nara.
“Masih berani melawan?”
“Aku akan bicara dengan kamu. Aku nggak akan ikut pulang.”
Dimas melepaskan gagang itu dengan kasar. Koper menghantam kaki meja kecil. Nara tersentak, tetapi tidak melepaskannya.
“Pantas ponsel diperiksa sedikit sudah marah. Aku dianggap gila, dianggap mengekang. Ternyata setiap aku lengah, kamu sibuk menunggu laki-laki lain.”
Ia menunjuk meja di ruang depan.
“Foto kopi. Lelucon. Lukisan. Aku bacakan sedikit, kamu tersinggung. Sekarang mau bilang aku salah curiga?”
Nara menaruh koper tegak. Ia ingin membela hari-hari sebelum Adrian, pemeriksaan yang sudah terjadi jauh sebelum nomor laki-laki itu ada di ponselnya. Tetapi Dimas sedang menunggu penyangkalan supaya bisa menyebutnya bohong lagi.
“Aku salah karena berhubungan dengan Adrian,” katanya. “Aku nggak akan menyangkal itu.”
“Lalu kenapa kamu berdiri di situ seperti masih berhak mengatur semuanya?”
Kalimat itu membuat Nara mendongak. Dimas tampak benar-benar tidak mengerti mengapa ia belum mengambil pakaian dan mengikuti perintahnya.
“Aku nggak mau tinggal bersama kamu lagi.”
Dimas tertawa pendek.
“Karena sudah ada yang lain? Kamu pikir dia akan meninggalkan Maya? Istrinya baru meneleponku. Kamu tahu ke mana dia pulang dari sini? Ke rumah mereka.”
Nara teringat Adrian mengambil tas dan mengikuti Maya turun. Dadanya sakit, dan ia benci Dimas bisa melihatnya dari wajahnya.
“Nah. Dipakai menangis, dipakai menemani, tapi yang dibawa pulang tetap istrinya.”
“Cukup.”
“Perempuan pintar, pelukis, bisa bicara harga di depan banyak orang. Giliran urusan begini, mau juga dibodohi.”
Nara menahan air mata. Ia ingin mengatakan Adrian mencintainya, tetapi ia tidak mau menyerahkan kalimat itu untuk ditertawakan oleh Dimas.
Suaminya mengulurkan tangan.
“Ponsel.”
Nara mundur satu langkah. Ponselnya ada di saku kaus.
“Hapus nomornya. Aku lihat. Habis itu kita bawa barangmu pulang.”
Nara tidak meraihnya.
Dimas menunggu, lalu menurunkan tangan perlahan.
“Jadi masih pilih dia.”
“Aku bilang aku nggak pulang. Kamu terus berpura-pura nggak dengar.”
Dimas mendekat, cukup dekat untuk membuat Nara mencium parfum yang dulu disukainya. Ia teringat pagi-pagi ketika membantu membetulkan kerah kemeja itu, berharap mereka bisa memulai hari tanpa bertengkar. Sekarang ia bahkan tidak ingin tangannya disentuh.
“Maya benar-benar salah menilai kamu,” katanya pelan. “Dia pikir kalau aku datang menemani, kamu tahu batas.”
Nara berhenti bernapas sesaat.
“Datang ke mana?”
“Pameran. Dia yang meneleponku sebelum acara.”
Dimas melihat perubahan wajahnya, lalu tersenyum kecil.
“Kamu pikir kenapa aku mendadak mengosongkan jadwal? Maya bilang Adrian akan datang. Dia minta aku menemani kamu karena dia sibuk.”
Nara menatapnya, teringat Maya memeluknya di galeri, lalu menggenggam sikunya setelah Dimas menarik tangannya.
“Temanmu sendiri saja sudah tahu kamu perlu diawasi, Na.”