Indonesia
NovelToon NovelToon
THE DAY YOU WENT AWAY

THE DAY YOU WENT AWAY

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Cintapertama
Popularitas:393
Nilai: 5
Nama Author: Chikaku_chiko

Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.

Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.

Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.

Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Pengakuan di Bawah Angin Sore

​Embusan angin sore di rooftop berembus makin kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Raisha yang terlepas dari ikatannya. Namun, Raisha tidak peduli.

Sepasang matanya tetap mengunci pandangan pada Aldo, menimang-nimang seberapa jauh dia harus menyuarakan isi kepalanya. Ada rasa ragu yang sempat menahannya, tetapi rasa penasaran dan keinginan untuk jujur pada diri sendiri akhirnya menang.

​Raisha menarik napas panjang, membiarkan udara dingin mengisi paru-parunya sebelum bersuara.

​"Ya... ini cuma asumsi aku aja, sih," jawab Raisha pelan, nadanya tenang meski dadanya bergemuruh. "Aku merasa kalau ketertarikan kamu terhadap wanita itu kayak punya klausul tertentu."

​"Misalnya?" potong Aldo cepat.

​Aldo makin memiringkan tubuhnya, menelisik raut wajah Raisha dengan intim. Matanya menatap Raisha dengan sangat tajam. Itu bukan lagi tatapan dingin yang dipamerkannya pada Mita, bukan pula tatapan manis penuh kehangatan palsu yang biasa dia tebar.

Ada sesuatu yang intens, dalam, dan sulit diartikan di balik binar matanya saat ini, sebuah tatapan yang membuat bulu kuduk Raisha meremang pelan. Tatapan yang menantikan sebuah jawaban yang jujur.

​Raisha meremas gelas kopi di tangannya yang mulai mencair, lalu memberanikan diri menyuarakannya.

"Bahwa... kamu cuma tertarik sama wanita yang sudah berpasangan?"

​Hening seketika merayap di antara mereka. Kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Raisha seolah membekukan udara di rooftop. Aldo berdiri bergeming, bibirnya terkunci rapat tanpa ekspresi, hanya matanya yang terus menatap Raisha tanpa berkedip.

​Melihat respons bisu dari Aldo, rasa canggung dan ragu mendadak menyerang Raisha. Dia salah tingkah.

​"Ah... maaf," lanjut Raisha cepat-cepat sambil mengibaskan sebelah tangannya.

"Itu konyol banget, kan? Cuma asumsi asal dari aku aja, kok. Jangan dimasukin ke hati."

​Aldo tidak langsung menjawab. Pria itu menyandarkan sebelah pinggulnya ke pembatas pagar rooftop, merapikan gulungan kemeja putihnya yang sedikit berkerut. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk senyum tipis yang penuh misteri.

​"Aku dengar... kamu sendiri termasuk playgirl berdarah dingin, ya?" tanya Aldo santai, membalikkan keadaan dengan telak.

​UHUK!

​Untuk kedua kalinya dalam sore itu, Raisha hampir tersedak ludahnya sendiri. "Apa?"

​"Ada alasannya?" lanjut Aldo lagi, menatap Raisha dengan binar jenaka yang seolah sedang menantang wanita di depannya.

​Raisha mendelik kesal, memutar bola matanya gemas. Kenapa pertanyaan cowok ini selalu bisa membalikkan umpan balik ke gue? batin Raisha bersungut-sungut. Kekesalannya pada julukan "playgirl" yang melekat padanya mendadak bangkit kembali.

​Namun, alih-alih meledak marah atau menghindar seperti biasa, Raisha mendadak merasa lelah berpura-pura. Di hadapan pria yang sudah melihat sisi terliarnya dan tahu banyak rahasia kantor, Raisha merasa tidak ada gunanya lagi menyembunyikan topeng apa pun.

​Raisha tertawa pelan, sebuah tawa jujur yang memecah ketegangan di antara mereka. Dia memiringkan kepalanya, menatap Aldo dengan kepasrahan yang manis.

​"Kamu mau tahu cerita sebenarnya?" ujar Raisha, lalu mulai bercerita dengan sepenuh kejujuran yang belum pernah dia bagikan pada siapa pun kecuali Nova.

​Raisha menceritakan bagaimana dia sebenarnya adalah cewek yang sangat payah dalam urusan romansa. Bagaimana dia tidak pernah tahu caranya bersikap manja, romantis, atau lenjeh pada pria. Hal romansa begitu asing baginya, tapi orang lain tidak percaya karena melihat penampilan luarnya.

Dia menceritakan bagaimana tekanan lingkungan sekitar dan teman-temannya yang terus mendesaknya untuk berpacaran akhirnya membuat dia nekat menerima ajakan pria-pria di masa lalunya hanya demi dibilang "normal".

Dan karena dia menjalani hubungan-hubungan itu tanpa menggunakan hati, dia hanya bersikap seadanya, lempeng, hingga akhirnya dicap sebagai playgirl berdarah dingin yang suka membuang pria.

Jadi...” Aldo mengikis jarak di antara mereka sedikit, menatap Raisha dengan binar mata menelisik namun ada kilat jenaka yang tersimpan di sana.

“Waktu kamu ngedeketin aku kemarin... itu sebenarnya cuma buat nambahin daftar mantan kamu juga, kan?”

​Pertanyaan asal itu dilontarkan Aldo dengan nada santai, hampir menyerupai godaan. Entah kenapa, pertanyaan yang seharusnya sensitif dan menyentil reputasi buruknya itu sama sekali tidak membuat Raisha tersinggung atau sakit hati lagi. Di bawah langit sore yang mulai menggelap, Raisha merasa tidak ada lagi yang perlu dia tutup-tutupi.

​Namun, jawaban yang keluar dari bibir Raisha justru melumpuhkan seluruh ketenangan Aldo.

​“Enggak,” sahut Raisha singkat.

​Suaranya sangat tenang, tanpa ragu sedikit pun. Senyum tipis yang sempat terpatri di wajahnya melenyap, berganti dengan raut wajah yang begitu jujur dan telanjang. Raisha menatap Aldo lurus.

​“Aku memang tertarik sama kamu,” sambung Raisha pelan, menatap lurus tepat ke dalam sepasang mata cokelat gelap milik Aldo.

“Bisa dibilang... kamu itu cinta pertama aku.”

​DEG.

​Kata-kata sederhana itu terucap begitu halus, namun bergema luar biasa keras di udara sepi rooftop.

​Kali ini, giliran Aldo yang membeku sepenuhnya di tempat. Jemarinya yang memegang korek api menegang kaku. Sepasang matanya melebar, kehilangan seluruh pertahanan dingin dan topeng santai yang selama ini selalu dia kenakan.

Pria yang biasanya mahir memegang kendali atas emosi wanita itu kini berdiri mematung, menatap Raisha dengan raut terkejut yang tak bisa dia sembunyikan.

​Pengakuan jujur dari seorang Raisha, gadis cantik yang selama ini dikenal berhati es dan tak pernah melibatkan perasaan adalah hal terakhir yang pernah Aldo bayangkan akan dia dengar sore itu.

​Keheningan tercipta di antara mereka, meninggalkan Aldo yang terpaku menatap wanita di depannya, sementara Raisha tetap berdiri tenang dengan senyum manisnya setelah menyampaikan kebenaran tentang hatinya.

Lima belas menit kemudian, jam menunjukkan pukul empat sore lewat lima belas menit. Jam-jam kritis di mana ritme kerja kantor mulai melambat dan orang-orang mulai bersiap untuk menyelesaikan pekerjaan harian.

Raisha berjalan menyusuri lorong karpet tebal yang memisahkan divisi IT dan divisi analitik data. Langkah kakinya terdengar teratur dan mantap, berbanding terbalik dengan gemuruh yang masih melenyapkan ketenangannya di dalam dada.

Dia memegang beberapa lembar berkas cetak di tangannya, sebuah alasan formal jika ada yang mempertanyakan keberadaannya di area tersebut.

Langkah kaki Raisha membawanya kembali ke meja kerjanya sendiri. Dia duduk di kursinya, meletakkan berkas di atas meja, dan menatap pantulan dirinya di layar komputer yang gelap. Wajahnya memang masih sedikit pucat, tetapi matanya tidak lagi memancarkan kebingungan atau harapan kosong.

Meskipun kejujuran yang tadi diutarakan tidak mendapat jawaban. Setidaknya Aldo tahu kalau dirinya memang menaruh hati, bukan sekedar untuk memperpanjang deretan nama mantan.

Raisha menarik napas panjang, menelungkupkan Kepalanya ke meja.

"Gue tertolak lagi."

Meskipun sebenarnya belum ada ucapan penolakan dari mulut Aldo.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!