Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.
Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1
Hujan deras membilas dinding-dinding kaca The Apex Tower, menjadikannya dinding transparan yang memisahkan kehangatan mewah kota Verona Heights dengan kegelapan malam yang dingin.
Di lantai paling atas, denting gelas kristal dan gelak tawa kelompok korporat korup terdengar angkuh dan sombong.
Namun di luar gedung, di atas birai beton berketinggian tiga ratus meter yang basah dan licin, Evangeline Cross berdiri tanpa getar sedikit pun.
Jas hujan kulit hitam bertudung menyelimuti tubuhnya. Angin malam yang bertiup kencang mengibarkan helai rambut cokelat gelapnya yang mencuat dari balik tudung, tetapi mata hazel yang tajam dan dingin tetap terkunci pada sasaran di balik kaca kedap suara.
Bagi dunia bawah Verona Heights, ia dikenal sebagai The Ghost Rose. Sebuah nama yang diucapkan dengan bisikan ketakutan oleh para petinggi kejahatan. Pembunuh bayaran efisien, tanpa jejak, dan tak pernah gagal.
Eva mengangkat tangan kirinya, menekan tombol pada jam tangannya. Visor tipis di matanya memetakan matriks sinar inframerah yang melintasi ruangan.
Enam penjaga di dalam. Empat bersenjata otomatis. Dua pengawal pribadi di sisi target.
Target malam ini adalah Bobby seorang politisi korup yang baru saja menjual rute penyelundupan senjata di pelabuhan timur kepada faksi kriminal kelas bawah.
Silas, pemimpin The Crow's Veil yang membesarkan Eva, memberikan misi ini dengan janji sederhana, imbalan dari klien malam ini adalah selembar dokumen tua berisi daftar transaksi lambang Serpent-Rose belasan tahun lalu.
Satu-satunya hal yang memberi Eva alasan untuk tetap bernapas di dunia yang kejam ini.
Eva menarik napas perlahan. Udara malam yang dingin memenuhi paru-parunya, menenangkan detak jantungnya hingga berada di tingkat paling stabil.
Ia merogoh sabuknya, mengeluarkan pemotong kaca berfrekuensi tinggi, dan menempelkannya pada sudut kaca tebal di depannya.
Zzzzt.
Getaran ultrasonik memotong lingkaran sempurna tanpa menimbulkan suara pecahan. Dengan ketangkasan seorang pesenam dan presisi seorang predator, Eva memutar tubuhnya di udara, memasukkan kaki terlebih dahulu melalui lubang kaca, lalu mendarat tanpa suara di atas karpet beludru merah.
Ia tiba tepat di belakang pilar marmer, persis saat lampu chandelier di atas ruangan tiba-tiba mati total ulur tangan peretas The Crow's Veil dari jarak jauh.
Jeritan kaget terdengar seketika dari dalam ruangan.
"Apa yang terjadi? Periksa panel listrik!" teriak Bobby, suaranya gemetar oleh ketakutan.
"Tetap di posisi Anda, Pak!" sahut pengawalnya seraya mencabut senjata.
Kegelapan adalah rumah bagi Eva. Sebelum para pengawal sempat menyalakan senter mereka, Eva sudah bergerak.
Srrrt.
Dua bilah belati berkilat di tangannya. Eva meluncur di antara bayangan, menembus pertahanan lawan laksana angin malam.
Pengawal pertama bahkan tidak sempat menarik picu senjatanya ketika Eva menyapu kakinya dari belakang, memutar tubuh pria itu, dan menyayat arteri lehernya dengan satu gerakan presisi yang cepat. Darah menyembur halus, tertutup oleh suara gemuruh petir dari luar gedung.
Sebelum tubuh pengawal pertama roboh ke lantai, Eva sudah berada di depan pengawal kedua. Pria itu menyalakan senter, tetapi yang ia lihat hanyalah kilatan mata hazel yang memantulkan cahaya.
Eva menangkis lengan pengawal itu, mematahkan pergelangan tangannya dengan benturan siku yang keras, lalu mendaratkan tendangan memutar tepat di rahangnya. Pria itu pingsan seketika, menghantam meja kaca hingga hancur berkeping-keping.
"Ada penyusup, tembak!"
Dua pengawal tersisa mulai melepaskan tembakan secara asal dalam kegelapan. Percikan api dari moncong senjata menerangi ruangan sedikit.
Eva berguling di lantai, menggunakan tubuh pengawal yang sudah tumbang sebagai perisai dari sapuan peluru. Logam panas bersimpangan di atas kepalanya. Dengan gerakan refleks yang luar biasa, Eva menarik pistol berperedam suara dari pinggangnya.
Dor! Dor!
Dua tembakan tepat sasaran. Dua peluru menembus dahi kedua penembak itu sebelum mereka sempat menyadari dari mana arah serangan berasal.
Ruangan kembali hening, hanya diselingi napas memburu Bobby yang terdesak di sudut dinding.
Politisi tua itu gemetar hebat, memegang pistol kecil dengan tangan yang berkeringat deras. "Si-siapa kau? Siapa yang membayarmu? Aku bisa memberimu dua kali lipat, tiga kali lipat!"
Eva melangkah keluar dari kegelapan. Sepatu bot kulitnya melangkah pelan tanpa suara, mendekati pria tua yang kini jatuh terduduk di bawah cermin besar. Tudung jaketnya agak terkuak, memperlihatkan separuh wajahnya yang tegas, dingin, dan tanpa ekspresi.
"Kau tidak punya cukup uang untuk membeli apa yang kuinginkan," suara Eva terdengar rendah dan tenang.
"Tolong... kasihanilah aku..." Bobby merangkak mundur, mengangkat tangannya yang gemetar.
Eva tidak membalas. Ia mengangkat pistolnya, mengarahkan moncong senjata persis di antara kedua mata pria itu. Tidak ada keraguan di matanya. Di dunia tempat ia dibesarkan, rasa kasihan adalah kemewahan yang menewaskan pemiliknya.
Dor!
Satu letusan pelak mengakhiri hidup Bobby. Pria itu terkulai lemas di dinding marmer, membiarkan aliran darah menetes lambat menyatu dengan air hujan yang masuk dari jendela kaca yang berlubang.
Eva tidak langsung pergi. Ia berlutut di samping jasad Bobby, merogoh kantong dalam jas pria itu untuk mengambil flashdisk yang menjadi target misinya. Namun, matanya tak sengaja tertambat pada sebuah kotak kayu kecil yang terlempar keluar dari saku jas Bobby saat pria itu jatuh.
Tangan Eva tertahan di udara.
Kotak kayu itu terukir sebuah lambang yang sangat ia kenal. Sebuah lambang yang telah terpatri di balik kelopak matanya selama empat belas tahun, mimpi buruk yang membangunkannya di tengah malam sambil mandi keringat dingin.
Seekor ular yang melingkari batang mawar bertali duri.
Serpent-Rose.
Jantung Eva berdesir hebat. Sensasi dingin meluas dari dadanya hingga ke ujung jari-jarinya. Jemarinya yang biasanya begitu stabil saat memegang senjata kini gemetar tipis saat ia meraih kotak kayu itu dan membukanya.
Di dalamnya, terbaring selembar kartu undangan berlapis emas bertulisan tinta timah.
Kepada Yang Terhormat, Rekan Bisnis Blackwood Syndicate. Acara Tahunan Lelang Verona akan diselenggarakan di kediaman Utama Blackwood.
Mata Eva menyempit. Nafasnya tertahan.
Blackwood Syndicate.
Nama itu adalah puncak dari rantai makanan di dunia bawah Verona Heights. Sebuah dinasti kejam yang dipimpin oleh seorang pria yang reputasinya dibangun di atas tulang-tulang musuhnya, Dominic Blackwood.
Eva mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Pisau belati yang membunuh ibunya empat belas tahun lalu, logo yang berada di atas kayu tua di rumah kumuh mereka, semuanya mengarah pada satu tempat yang sama.
"Aku menemukanmu," bisik Eva lirih pada kegelapan malam.
Dari balik jam tangannya, suara Silas terdengar melalui earpiece kecil di telinganya. "Ghost Rose, tim pembersih siap masuk. Kau harus keluar dari sana dalam tiga puluh detik."
Eva menelan ludah, memasukkan kartu undangan itu ke dalam saku bajunya, lalu menarik kembali tudungnya. Dendam yang selama empat belas tahun membakar dadanya kini memiliki arah yang pasti. Ia tidak lagi berburu di dalam kegelapan tanpa tujuan.
Dengan satu lompatan ringan, Eva menerobos derasnya hujan malam Verona Heights melalui jendela kaca yang pecah, menghilang ke dalam bayangan kota seperti asap yang tak pernah ada.
...Bersambung......