Indonesia
NovelToon NovelToon
Si Kembar Rahasia Suami Mafiaku

Si Kembar Rahasia Suami Mafiaku

Status: tamat
Genre:Mafia / Berbaikan / Wanita perkasa / Tamat
Popularitas:142
Nilai: 5
Nama Author: Lobelia

Lima tahun lalu, Victoria kabur dari pelukan suaminya yang paling ditakuti di pesisir timur—seorang Capo mafia berdarah dingin—sambil menyembunyikan sebuah rahasia di dalam rahimnya. Kini ia hidup sederhana di sebuah kota pesisir kecil, menjahit seragam dan menjual pai lemon, membesarkan dua putra kembar yang… terlalu istimewa. León, si sulung, punya tatapan sedingin es dan naluri seorang pemangsa. Cristo, si bungsu, mampu membaca manusia semudah membaca buku. Mereka rupawan. Mereka jenius. Dan mereka adalah salinan sempurna pria yang paling ingin Victoria lupakan.

Namun sebuah mobil hitam kembali muncul di ujung jalan.

Dante Moretti tak pernah berhenti mencari. Dan ketika ia akhirnya menemukan bukan hanya istri yang meninggalkannya, tapi dua pewaris darah dagingnya yang tak pernah ia tahu ada—dunia yang sudah susah payah dibangun Victoria runtuh dalam semalam. Ia diseret kembali ke istana kaca penuh bayangan, ke dalam perang antara cinta dan kuasa, antara seorang ibu yang bersumpah melindungi anak-anaknya dari kegelapan, dan seorang ayah yang bertekad merebut kembali segala yang menjadi miliknya.

Tapi musuh sesungguhnya bukan hanya di antara mereka berdua. Ada rahasia keluarga yang lebih kelam dari yang Dante kira, pengkhianat di balik setiap pintu, dan sepasang bocah kembar yang—tanpa disadari siapa pun—mulai menyusun langkah mereka sendiri di papan catur para raja.

Antara peluru dan gairah, dendam dan penebusan, satu pertanyaan tersisa: bisakah cinta yang lahir dari kegelapan akhirnya memutus lingkaran itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lobelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Keheningan di dalam pondok itu adalah pisau bermata dua. Victoria mundur hingga punggungnya membentur dinding kayu, tepat di bawah sebuah bingkai berisi gambar buatan si kembar. Dante maju, menyerbu ruang pribadinya dengan keyakinan seekor pemangsa yang mengenal setiap senti wilayahnya.

Ia mengangkat sebelah tangan, menyapukan punggung jarinya ke pipi Victoria. Itu sentuhan yang teramat kecil, tapi bagi perempuan itu terasa bagai luka bakar dari es. Dante memejamkan mata sedetik, menghirup aroma perempuan itu: bukan lagi parfum Prancis seharga lima ribu dolar yang dulu ia belikan, melainkan aroma yang membumi, aroma sabun kelapa dan kerja keras.

"Kau begitu dekat, Victoria…" bisiknya, suaranya bergetar di ruang teramat sempit yang memisahkan mereka. "Tapi sekaligus terasa berjarak sejauh jurang."

Victoria memalingkan wajahnya dengan keras, menolak sentuhan itu. Matanya, yang berkaca-kaca oleh campuran amarah dan rindu yang berkhianat, menancap ke mata lelaki itu.

"Jangan sentuh aku. Kau tak berhak," desisnya. Jantungnya menghantam tulang rusuk, bukan hanya karena takut, melainkan karena cara tubuhnya, secara bodoh, seakan masih mengingat kehangatan lelaki itu. "Dante yang itu, yang dulu kucintai, mati pada malam ia memutuskan bahwa keluargaku bisa dibuang. Kau hanyalah hantu yang mewarisi wajahnya."

Dante mengatupkan rahang, dan sesaat, topeng dinginnya retak. Tangannya mengepal beberapa senti dari kepala perempuan itu, meninju kayu.

"Kau tidak akan pergi tanpa kami, kan?" tanya perempuan itu, menantang. "Itu yang kaumau. Merebut kembali 'harta milikmu'."

"Mereka bukan harta, mereka darahku," balasnya, wajahnya menggelap. "Dan kau benar. Aku tidak akan pergi dari desa ini tanpa kalian bertiga. Kau bisa ikut baik-baik, menjaga kedamaian demi mereka, atau kau bisa memaksaku menjadi lelaki yang begitu kau takuti. Kau yang pilih, Victoria. Tapi waktu untuk memohon sudah berakhir sejak aku melihat León menatapku dengan mataku sendiri."

Ketegangan di antara keduanya nyaris terasa jasmaniah, seutas tali yang teregang sampai titik putus. Lelaki itu ingin memeluknya, menuntutnya kembali, dan menghukumnya atas tahun-tahun keheningan; perempuan itu ingin melukainya sedalam ia telah melukainya. Di ruang sempit itu, kebencian terasa senyata hasrat yang membara di bawah permukaan.

Di Balik Pintu: Para Ahli Strategi Cilik

Sementara di ruang tamu udara membara, di kamar si kembar suasananya beku dan penuh perhitungan. León dan Cristo menempel di kayu pintu, mendengarkan setiap nada suara, setiap gerakan.

Wajah León mengeras. Tak ada air mata, hanya tekad yang membuatnya tampak sepuluh tahun lebih tua. Ia menjauh dari pintu lalu berjalan menuju tas sekolahnya.

"Mama takut," bisik Cristo, matanya menganalisis situasi dengan kecepatan yang mengagumkan. "Lelaki itu kuat. Dia punya anak buah di luar."

"Tidak penting," jawab León, mengeluarkan sebuah wadah kecil berisi kelereng-kelereng berat dan tali lompat yang dibelikan Victoria untuknya. "Dia penyusup. Dan penyusup yang membuat Mama menangis tidak akan keluar dari sini dengan berjalan kaki."

Cristo mengangguk. Ia tidak mempertanyakan keberanian kakaknya; ia akan menyumbangkan logikanya.

"Kalau kita bentangkan tali di lorong, dia akan tersandung," ucap Cristo, menunjuk ambang pintu. "Waktu dia jatuh, aku pakai semprotan merica yang Mama simpan di laci pintu masuk. Kau pakai ketapelmu."

"Kita tidak akan membiarkannya membawa Mama pergi," putus León, membetulkan karet ketapelnya dengan kedinginan yang mekanis. "Aku tak peduli dia siapa. Kalau dia menyentuh Mama lagi, akan kubidik titik yang paling sakit."

Kedua bocah itu bergerak dengan efisiensi yang membuat bulu kuduk berdiri. Tak ada permainan di wajah mereka. Mereka tengah menerapkan "logika" yang disebut León di sekolah. Cristo mulai menaburkan kelereng-kelereng itu di dekat pintu masuk dapur, memastikannya tersembunyi di bawah karpet yang tipis. León memposisikan diri di balik lemari laci, dengan sebutir batu halus sudah terpasang.

Mereka adalah putra-putra Dante Moretti dalam wujud paling murni: melindungi wilayah mereka, melenyapkan ancaman, tak peduli seberapa besar musuhnya.

Benturan yang Tak Terhindarkan

Di ruang tamu, Dante merasakan sebuah getar dingin. Naluri bertahan hidupnya, yang ditempa dalam ribuan penyergapan, berteriak bahwa ada yang tidak beres. Ia menjauh dari Victoria, yang menatapnya dengan bibir terkatup dan tangan bersilang.

"Dengar itu," ucap Dante, mengernyitkan alis.

"Apa?" tanya Victoria, bingung.

"Keheningannya. Terlalu sempurna."

Dante berjalan menuju kamar anak-anak, berniat memastikan mereka baik-baik saja sebelum memberi perintah terakhir pada Marco. Victoria mencoba menahannya, tapi ia menepiskannya dengan lembut.

"Jangan masuk ke sana, Dante!" jeritnya.

Ia tak mendengar. Ia menaruh tangan di gagang pintu lalu memutarnya.

Pada saat pintu itu terbuka, kekacauan meletus. Dante melangkah dan sepatu bot rancangan Italianya tergelincir di atas gelombang kelereng yang tak terlihat. Lelaki paling berkuasa di dunia mafia itu terhuyung, kehilangan keseimbangan. Pada saat itu, Cristo keluar dari bayang-bayang dengan semprotan pertahanan kecil, tapi sebelum ia sempat menyalakannya, sebutir batu yang ditembakkan dengan ketepatan bagai bedah menghantam bahu Dante, memaksanya mundur lalu jatuh berlutut.

León keluar dari persembunyiannya, ketapel sudah siap untuk tembakan kedua, mata kelabunya berkilau oleh amarah purba.

"Keluar dari rumahku!" jerit bocah itu, memposisikan diri di depan ibunya.

Dante, dari lantai, tidak merasakan amarah. Ia merasakan hantaman emosi yang membuatnya kehabisan napas. Ia memandang kedua putranya: sang ahli strategi yang telah menyiapkan jebakan dan sang eksekutor yang tak ragu menembak. Mereka mematikan. Mereka pemberani. Mereka miliknya.

Victoria berlari ke arah anak-anaknya, memeluk mereka, takut akan reaksi Dante. Tapi lelaki itu tetap di sana, berlutut, memandang León.

"Permainan yang bagus," gumam Dante, dengan senyum berdarah dan penuh kebanggaan muncul di wajahnya. "Tapi untuk merobohkan seorang Moretti, kau butuh lebih dari sekadar batu, anak singa."

Dante bangkit, membersihkan debu dari setelannya, sementara Victoria paham bahwa, dengan menyerang si penyusup, kedua putranya baru saja membuktikan pada Dante bahwa mereka persis seperti yang ia butuhkan untuk mengamankan garis keturunannya. Kini ia tak hanya menginginkan mereka karena darah; kini ia mengagumi mereka karena naluri mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!