Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.
Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.
Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35.Badai di rumah sakit
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui sela-sela tirai balkon kamar utama penthouse. Cahaya emas itu jatuh di atas tempat tidur berukuran king-size, menyoroti dua insan yang masih terlelap dalam dekapan hangat.
Aira menggeliat pelan. Sensasi hangat dan napas teratur yang berembus di puncak kepalanya membuat gadis sembilan belas tahun itu perlahan membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah dada bidang Arka yang kokoh dan berotot, tertutup kaos santai berwarna abu-abu gelap.
Lengan kekar Arka melingkar erat di pinggangnya, mengunci tubuh molek Aira tanpa memberi celah sedikit pun.
Aira menyunggingkan senyum manis. Jemari rampingnya terangkat, mengusap pelan garis rahang tegas suaminya yang ditumbuhi bayangan jenggot tipis. Rasanya masih seperti mimpi. Pria berusia 39 tahun yang dulunya sangat dingin, berkuasa, dan ditakuti oleh banyak orang di dunia bisnis ini, kini berbaring di sampingnya dengan raut wajah tenang dan penuh kedamaian.
Saat jemari Aira menyentuh bibir tegas Arka, mata hitam pria itu perlahan terbuka. Pendar mata yang tadinya tajam bagaikan elang kini meredup hangat, dipenuhi kebucinan dan kasih sayang mutlak saat menatap wajah istri mudanya.
"Selamat pagi, Sayang..." suara Arka terdengar serak khas orang bangun tidur, begitu berat dan berbobot di telinga Aira.
"Selamat pagi, Mas Arka," balas Aira lembut, menyandarkan dagunya di dada Arka. "Mas tidur nyenyak?"
Bukannya menjawab, Arka justru makin mengetatkan pelukannya, menarik tubuh Aira hingga berhimpit rapat dengannya. Pria itu menunduk dan mendaratkan ciuman dalam di kening Aira, berpindah ke pipi, lalu mengecup bibir merah muda istrinya secara posesif.
"Sangat nyenyak," bisik Arka serak di depan bibir Aira, membuat napas gadis itu agak memburu.
"Setiap malam yang Mas lewati bersamamu selalu menjadi malam terbaik dalam hidup Mas."
Wajah Aira seketika merona merah padam. Gadis itu menepuk dada Arka pelan karena malu.
"Mas Arka mulai deh, pagi-pagi sudah pinter menggoda."
Arka terkekeh rendah—sebuah tawa langka yang hanya bisa dikeluarkan oleh seorang Arka Danuartha saat ia bersama Aira. Pria itu hendak meraih tengkuk Aira untuk melanjutkan keintiman pagi mereka, namun tiba-tiba suara gedoran pintu kamar memecah suasana romantis tersebut.
Duk! Duk! Duk!
"Papa! Mama Aira! Buka pintunya!" jerit Elano dari luar kamar. "Elano mau ikut tidur di tengah! Elano bawa naga mainan!"
Aira dan Arka saling menatap sejenak sebelum Aira tertawa renyah. Arka mendesah pasrah, menatap langit-langit kamar seraya menggeleng-gelengkan kepala.
"Pengganggu kecil kita sudah bangun," gumam Arka berpura-pura kesal, walau ada pendar kebahagiaan di matanya. Pria itu mengusap kepala Aira sebelum akhirnya duduk di tepi tempat tidur dan merapikan pakaiannya. "Mas buka pintu dulu."
Arka melangkah menuju pintu dan membukanya. Seketika itu juga, Elano yang mengenakan piyama bergambar dinosaurus meluncur masuk sambil mengacungkan sebuah naga plastik berwarna hijau.
"Papa! Lihat, Elano berhasil jinakkan naganya!" seru Elano bangga dengan gaya sok pahlawan.
Namun sebelum Arka sempat membalas ulah konyol putranya, ponsel Arka yang tergeletak di meja samping tempat tidur berdering nyaring. Nada dering khusus itu menandakan panggilan penting dari Raymond.
Raut wajah Arka yang tadinya santai dan penuh kehangatan seketika berubah kaku. Aura dominasi dan ketegangan bisnis kembali menyelimuti tubuhnya. Arka meraih ponselnya dan menggeser layar hijau.
"Ada apa, Raymond?" tanya Arka dengan nada suara rendah dan dingin.
"Pak Arka, maaf mengganggu pagi Anda," suara Raymond di seberang telepon terdengar sangat mendesak dan penuh kewaspadaan.
"Tim keamanan kita di rumah sakit baru saja mengamankan seorang pria yang mencoba menerobos masuk ke lantai VIP tempat Ibu Wahyuni menjalani perawatan pemulihan stroke. Pria itu menyamar sebagai petugas kebersihan."
Rahang Arka mengetat keras. Kilatan amarah yang berbahaya memancar dari matanya. "Siapa dia?"
"Setelah diamankan dan diperiksa identitasnya... pria itu adalah Pak Hendra, ayah kandung Ibu Aira."
Deg!
Aira yang sedang merapikan sprei tempat tidur seketika menghentikan gerakannya. Mendengar kata 'rumah sakit' dan raut wajah suaminya yang mendadak berubah sangat mencekam, dada Aira berdebar kencang oleh rasa cemas.
Arka melirik Aira sejenak, berusaha menekan emosinya agar tidak membuat istrinya panik.
"Bagaimana keadaan Ibu Wahyuni?"
"Ibu Wahyuni aman dan baik-baik saja, Pak. Beliau sedang beristirahat di kamarnya. Tim kita bergerak cepat sebelum Pak Hendra sempat menyentuh area kamar rawat. Saat ini Pak Hendra sedang ditahan oleh tim pengawal kita di ruang pos keamanan rumah sakit bersama barang bawaannya," lapor Raymond sigap.
"Kami menemukan sebuah dokumen pemindahan hak rawat dan tas berisi uang tunai dalam jumlah besar di tangannya."
"Tahan dia di sana. Jangan biarkan dia bicara dengan siapa pun atau melarikan diri," perintah Arka tegas dan tanpa kompromi.
"Saya dan Aira akan langsung ke sana sekarang."
Arka mematikan sambungan teleponnya. Pria berusia 39 tahun itu melangkah mendekati Aira, memegang kedua bahu lembut istrinya untuk menyalurkan rasa aman.
"Mas... ada apa sama Ibu?" tanya Aira dengan suara bergetar, mata cokelatnya berkaca-kaca menahan ketakutan.
"Ibumu aman dan tidak terluka sama sekali, Sayang," tutur Arka lembut namun mantap, mengusap pipi Aira dengan ibu jarinya.
"Ayahmu, Hendra... baru saja ditangkap oleh pengawal kita di rumah sakit saat mencoba menerobos ke area kamar ibumu. Mas akan mengantarmu ke sana sekarang untuk menyelesaikan masalah ini secara tuntas."
Aira menelan ludah serak. Rasa takut, kecewa, dan sedih bercampur menjadi satu di dadanya. Namun menatap mata hitam Arka yang memancarkan kekuatan dan perlindungan mutlak, Aira mengangguk pelan. Ia tahu, selama ada Arka di sisinya, ia tidak perlu takut menghadapi benteng kejahatan apa pun.
Satu jam kemudian, dua unit mobil SUV hitam milik Danuartha Group membelah jalanan ibu kota menuju Rumah Sakit Medika Utama.
Di dalam mobil utama, suasana terasa hening. Arka duduk merengkuh bahu Aira, membiarkan gadis muda itu menyandarkan kepalanya di dada bidangnya.
Jemari besar Arka tak berhenti mengusap jemari Aira, memberikan kehangatan yang meredakan kecemasan istrinya.
Sementara Elano dititipkan sementara di rumah bersama Bi Inah di bawah penjagaan ketat tim keamanan.
Setibanya di rumah sakit, Arka dan Aira langsung diarahkan menuju ruang pos keamanan khusus di lantai basement yang terisolasi. Empat pengawal bersetelan hitam tegap berdiri mengawasi pintu masuk.
Begitu pintu dibuka, tampak seorang pria paruh baya berkemeja lusuh terduduk kaku di atas kursi kayu dengan kedua tangan terikat ke belakang.
Wajah pria itu pucat pasi, matanya bergerak liar penuh ketakutan. Dialah Hendra—ayah kandung Aira yang telah menjual masa depan Aira demi melunasi utang judi dan kesenangannya sendiri.
Raymond berdiri di samping meja, meletakkan sebuah tas kain tebal dan selembar berkas berstempel di atas meja.
"Aira! Aira, anakku!" jerit Hendra histeris begitu melihat Aira melangkah masuk bersama Arka. Pria itu mencoba berdiri, namun pengawal di sampingnya menekan bahunya kembali ke kursi. "Aira, tolong Ayah, Ra! Tolong suruh suami kaya kamu ini lepasin Ayah! Ayah ini Ayah kandung kamu, Ra!"
Aira menghentikan langkahnya, berdiri rapat di samping Arka. Melihat sosok pria yang seharusnya menjadi pelindung keluarga namun justru menjadi dalang penderitaan ibunya, hati Aira terasa sangat perih dan kecewa.
"Ayah mau apa lagi?" tanya Aira dengan suara gemetar, berusaha menahan air mata yang hendak menetes. "Kenapa Ayah tega mau menyusup ke kamar tempat Ibu dirawat? Belum cukup Ayah menderita kan Ibu dan menjual Aira dulu?"
"Nggak, Ra! Ayah dipaksa!" kilih Hendra panik, air mata buayanya mulai menetes. "Ayah dijebak sama perempuan bernama Dania itu! Dia yang nyuruh Ayah datang ke Jakarta! Dia janji mau kasih Ayah uang lima ratus juta kalau Ayah berhasil bawa kamu keluar dari penthouse pria tua ini!"
Bruk!
Arka melangkah maju satu tindak, memberikan tekanan udara yang seketika membuat Hendra terbungkam ketakutan. Pria berusia 39 tahun itu menatap Hendra dengan pendar mata yang amat dingin, seolah sedang menatap seekor serangga yang tidak ada harganya.
"Jaga mulutmu, Hendra," desis Arka dengan suara serak yang begitu menakutkan. "Kamu menyebut wanita yang memberimu kehidupan baru dan melunasi seluruh utangmu ini dengan tuduhan murahan?"
"P-Pak Danuartha..." Hendra gemetar hebat, tak berani menatap iris mata Arka yang tajam bagaikan pedang.
"Saya cuma diancam Pak! Dania yang mengatur semuanya! Dia yang mengeluarkan saya dari kampung dan menyembunyikan saya di hotel!"
Raymond melangkah mendekat, menyodorkan berkas dari atas meja ke hadapan Arka.
"Pak Arka, ini adalah berkas surat kuasa pemindahan lokasi rawat dan paksaan medis atas nama Ibu Wahyuni yang dipalsukan oleh Pak Hendra. Pihak Dania berniat memindahkan Ibu Wahyuni yang sedang memulihkan diri dari strokenya ke klinik tak berizin di luar kota untuk dijadikan bahan ancaman agar Pak Arka mencabut gugatan hukum atas Wijaya Corporation."
Aira menutup mulutnya dengan tangan, terperanjat luar biasa. Betapa kejam dan iblisnya rencana Dania—wanita itu berniat menculik ibunya yang masih lemah demi membalas dendam!
"Selain itu, Pak," lanjut Raymond seraya membuka tas kain di meja. "Di dalam tas ini ada alat rekaman tersembunyi dan dokumen perjanjian pembagian saham Wijaya Corporation atas nama Hendra jika rencana perusakan nama baik Pak Arka berhasil."
Arka mengambil dokumen tersebut, membaca sekilas sebelum menyunggingkan senyum miring yang amat beracun. "Dania benar-benar sudah tidak punya akal sehat. Dia memanfaatkan seorang ayah yang tamak untuk melakukan kejahatan berat."
Arka membalikkan badan, menatap dua petugas polisi yang berdiri di sudut ruangan bersama tim hukum Danuartha Group.
"Petugas, seluruh bukti pemalsuan dokumen, peretasan, dan percobaan penculikan ini sudah lengkap," tegas Arka tanpa ampun.
"Proses pria ini sesuai hukum yang berlaku. Jangan berikan akses jaminan atau penangguhan penahanan sedikit pun."
"Baik, Pak Danuartha. Kami akan segera membawa Saudara Hendra ke markas kepolisian untuk diproses atas tuduhan persekongkolan kejahatan berat," jawab petugas polisi tersebut seraya memasangkan borgol besi ke pergelangan tangan Hendra.
"Aira! Tolong Ayah, Ra! Jangan biarkan Ayah masuk penjara! Aira!" jerit Hendra melengking saat diseret keluar oleh petugas polisi.
Aira membalikkan badannya, membenamkan wajahnya di dada bidang Arka karena tak sanggup melihat pemandangan menyedihkan itu. Arka langsung merengkuh tubuh ramping Aira dengan sangat erat, mengusap punggung dan rambut istrinya untuk memberikan ketenangan murni.
"Sudah selesai, Sayang..." bisik Arka serak dan penuh kelembutan di telinga Aira.
"Tidak ada lagi yang bisa menyakitimu atau ibumu. Mas janji."
Satu jam kemudian, setelah situasi di pos keamanan terkendali dan rapi, Arka membawa Aira naik ke lantai VIP.
Di dalam kamar rawat yang luas dan nyaman, Ibu Wahyuni duduk bersandar di tempat tidur medisnya. Beliau yang memang sudah sadar dan terus menunjukkan perkembangan positif dari terapi pemulihan strokenya, tampak menyambut kedatangan anak dan menantunya dengan senyuman hangat.
"Aira... Nak Arka..." sapa Ibu Wahyuni dengan suara pelan namun jelas.
Aira bergegas mendekat, berlutut di samping tempat tidur dan memeluk ibunya erat-erat seraya meneteskan air mata lega. "Ibu... Ibu nggak apa-apa, kan? Tadi ada yang ganggu Ibu?"
Ibu Wahyuni mengusap lembut kepala Aira dengan tangannya yang makin bertenaga.
"Ibu tidak apa-apa, Nduk... Tim pengawal Nak Arka menjaga Ibu dengan sangat ketat di luar. Ibu bahkan tidak tahu kalau Hendra ada di bawah..."
Arka melangkah mendekat, berdiri di samping Aira seraya meletakkan tangannya di bahu istrinya. "Semuanya sudah aman, Bu. Hendra sudah ditangani pihak berwajib dan tidak akan bisa mendekati atau mengganggu Ibu dan Aira lagi selamanya."
Ibu Wahyuni menatap Arka dengan pendar rasa syukur yang mendalam.
"Terima kasih banyak ya, Nak Arka... Terima kasih sudah menjadi pelindung terbaik buat Aira dan Ibu."
Arka tersenyum tipis, mengangguk penuh hormat. "Ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai suami Aira, Bu."
Aira mendongak, menatap mata hitam Arka yang memancarkan pendar cinta, kejujuran, dan kehangatan yang melimpah. Hati Aira membuncah oleh rasa syukur yang luar biasa.
Sementara itu, di sebuah suite hotel mewah di Jakarta Selatan.
Dania duduk di tepi sofa seraya menggenggam cangkir kopinya dengan tangan gemetar.
Sudah tiga jam berlalu sejak ia menyuruh Hendra pergi ke rumah sakit, namun tidak ada kabar sedikit pun dari pria paruh baya itu. Ponsel Hendra sama sekali tidak bisa dihubungi.
Tiba-tiba, pintu kamar hotelnya didobrak keras dari luar.
Brak!
Dania terperanjat kaget hingga cangkir kopinya terjatuh dan pecah di lantai.
Empat orang petugas kepolisian bersama Raymond melangkah masuk ke dalam kamar hotel tersebut. Dua polwan langsung bergerak cepat mengunci kedua tangan Dania ke belakang sebelum wanita itu sempat melarikan diri.
"Dania Wijaya," tegas perwira polisi di depan dengan nada dingin. "Anda resmi ditahan atas tuduhan peretasan rahasia dagang, percobaan penculikan, pemalsuan dokumen medis, dan persekongkolan kejahatan berat bersama Saudara Hendra dan Kevin Wijaya."
Wajah Dania seketika memucat pasrah, matanya membelalak penuh ketakutan dan rasa tidak percaya. "N-nggak mungkin! Ini pasti salah! Lepaskan aku!"
Raymond melangkah maju, menatap Dania dengan pendar mata yang amat dingin dan penuh kemenangan.
"Pak Arka Danuartha menyapa Anda, Mbak Dania," bisik Raymond datar namun sangat menohok. "Permainan murahan Anda sudah berakhir. Pihak kejaksaan sudah menyiapkan hukuman penjara maksimal untuk Anda dan seluruh keluarga Wijaya."
Dania menjerit histeris saat kedua tangannya diborgol besi dan diseret keluar dari kamar hotel. Seluruh ambisi, dendam, dan kejahatan yang ia bangun dengan kelicikan akhirnya runtuh tak berbekas di tangan sang penguasa Danuartha Group.
_Bersambung