Indonesia
NovelToon NovelToon
Kembali Pada Luka Yang Sama

Kembali Pada Luka Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Mengubah Takdir
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: MIKHACINTA

Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.

Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.

Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.

Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.

Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memeluk Kembali Rasa yang Pernah Ada

Mendengar seluruh penuturan Joan tentang Kakaknya dan Adrian, kepalaku serasa mendadak berputar hebat. Rasa pening yang menusuk-nusuk menyergap pelipisku, membuat seluruh sendi tubuhku lemas seketika. Kenyataan bahwa Adrian pernah masuk terlalu jauh ke dalam kehidupan wanita lain terasa begitu pekat dan mengejutkan untuk kucerna dalam satu waktu.

"Joan... maaf ya, kepala gue mendadak pening banget," bisikku pelan seraya memegangi dahi, berusaha keras menetralkan rasa mual yang mendadak naik ke tenggorokan. "Gue pamit pulang duluan ya?"

Joan menatapku dengan raut khawatir yang amat mendalam. Mampu menangkap betapa terpukulnya diriku, ia tidak memaksaku untuk bertahan di ruang ekskul band itu.

"Iya, Sera. Lo hati-hati ya," tutur Joan lembut, membantuku merapikan tas kainku dan mengantarku hingga ke parkiran sekolah.

Perjalanan pulang menyusuri jalanan kota terasa begitu panjang dan sunyi. Sepanjang mengendarai motor Scoopy merahku, pikiranku kalut tak menentu.

Begitu roda motorku berhenti di garasi dan aku melangkah menuju teras, suasana rumah menyambutku dengan keheningan yang mencekam. Rumah kembali sepi. Tidak ada Ayah yang biasanya duduk membaca koran di teras karena beliau sudah kembali ke Bandung, dan tidak ada Ibu karena beliau sedang berada di toko seperti biasa.

Dengan jemari yang gemetar dan kepala yang masih berdengung pening, aku mengeluarkan anak kunci dari dalam tas. Kumasukkan kunci itu ke lubang pintu depan. Klik. Pintu kayu itu terbuka perlahan.

Namun, tepat saat aku hendak mengayunkan langkah kaki memasuki ambang pintu,

"Sera..."

Sebuah suara parau yang teramat kukenali mendadak memanggil namaku tepat di belakang punggungku.

Seketika itu juga, bulu kudukku berdiri tegak. Aku terkejut setengah mati. Dengan refleks panik, aku berbalik cepat dan berusaha mendorong pintu kayu itu untuk menutupnya rapat-rapat.

Namun, tenagaku kalah jauh darinya.

Dengan satu dorongan kuat, Adrian menahan daun pintu itu. Sebelum aku sempat berteriak atau melarikan diri ke dalam kamar, lengan kokoh Adrian menerobos masuk, menarik tubuhku secara paksa dan merengkuhku ke dalam pelukannya yang teramat erat.

Dada Adrian menempel rapat pada wajahku. Aroma parfumnya yang familiar langsung menyeruak, memantik seluruh bendungan emosi yang selama ini kutahan di dasar dada.

Aku menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Adrian. Kedua kepalan tanganku bergerak melayang, memukul-mukul dada bidangnya berulang kali seraya melampiaskan seluruh rasa sakit, amarah, dan kepedihan yang menyiksa jiwaku.

"Mas jahat, Mas! Mas jahat!" teriakku histeris di balik isakan tangis yang memecah keheningan rumah.

Adrian tidak melangkah mundur sedikit pun. Ia membiarkan pukulan demi pukulan mendarat di dadanya, sementara kedua tangannya justru makin mendekap punggungku dengan begitu protektif dan hangat, seakan-akan ia tidak akan pernah mau melepaskan diriku lagi dari kehidupannya.

"Mas sayang sama kamu, Sera..." bisik Adrian parau di dekat telingaku, suaranya bergetar hebat menahan gelombang emosi. "Apa pun yang sudah terjadi... apa pun yang sudah kamu ketahui... Mas sayang sama kamu. Kamu harus tahu itu, Sera."

Mendengar ucapan manis itu meluncur dari bibirnya, rasa murka di dalam dadaku justru makin membakar. Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku mendorong dadanya kuat-kuat hingga dekapan itu terlepas.

Aku menatap wajah Adrian dengan mata merah menyala dan lelehan air mata yang membasahi pipi.

"Sayang apa yang Mas maksud?!" bentakku dengan suara gemetar menahan amarah. "Mas selingkuh sama dan punya rahasia di belakang Sera! Sayang yang mana, Mas?! Mas jahat!"

Adrian menatapku dengan binar mata yang amat terluka dan putus asa. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada, memohon seraya menatapku lekat-lekat.

"Dengerin Mas, Sera... Mas akan jelasin semuanya sama kamu," bisik Adrian memohon dengan nada suara yang teramat dalam. "Tolong... kali ini aja, Sera. Dengerin Mas."

Melihat sorot mata dan keputusasaan yang memancar utuh dari wajah pria di hadapanku ini, benteng pertahanan dingin di dalam dadaku perlahan meluluh. Ada rasa ingin tahu dan sisa-sisa ketulusan yang memaksaku untuk memberinya satu kesempatan terakhir.

Aku mengusap lelehan air mata di pipiku dengan punggung tangan, lalu berbalik membalas pelan, "Masuk, Mas."

Kami berdua melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang sunyi. Adrian menduduki sofa, sementara aku mengambil posisi duduk di sudut berseberangan darinya, membatasi jarak di antara kami.

Adrian menundukkan kepalanya sejenak, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan sebelum akhirnya mendongak menatapku lurus-lurus.

"Soal Nabila..." buka Adrian dengan suara yang teramat berat. "Nabila memang mantan pacar Mas, Sera."

Aku membisu, mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari bibirnya.

"Mas mengakui... Mas sama Nabila dulu memang pernah melakukan hubungan intim," tutur Adrian jujur.

Dada ini rasanya berdegup kencang mendengar pengakuannya, tetapi aku memilih tetap mendengarkan.

"Tapi Sera... demi apapun, waktu itu Mas dipaksa sama Nabila," lanjut Adrian dengan raut wajah yang amat getir. "Waktu itu Mas masih sangat naif. Rumah Nabila selalu sepi karena orang tuanya kerja di luar kota, cuma ada Joan di sana. Mas yang waktu itu masih polos, setelah semua yang mas dan Nabila lakukan, mas berpikir kalau Mas harus selalu ada buat Nabila, mas enggak boleh ninggalin dia."

Adrian mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan, menatap lantai kayu dengan binar mata terpukul.

"Tapi ternyata Nabila sendiri yang selingkuh duluan di belakang Mas," sambung Adrian. "Mas tahu kalau bukan cuma Mas cowok yang selalu masuk ke kamarnya. Nabila selalu bisa mempermainkan Mas. Dan waktu Mas berniat buat mutusin dia, Nabila mengancam Mas... dia bilang kalau Mas ninggalin dia, dia bakal menyebarkan foto-foto Mas dan dia ke orang tua Mas, Mas enggak mau Ayah tahu."

Adrian menghela napas panjang, menatapku kembali dengan raut penyesalan yang mendalam. "Hubungan Mas sama Nabila itu murni jebakan dan kebusukan masa lalu yang bikin Mas terikat. Soal Sabrina... Mas yakin kamu udah tahu sendiri kan? Mas enggak perlu jelaskan lagi soal Sabrina."

Aku menyimak seluruh penjelasan Adrian dengan hening. Kata-kata yang keluar dari bibirnya perlahan membuka sudut pandang baru tentang apa yang sebenarnya terjadi di masa lalunya.

Di dalam lubuk hatiku, aku memilih untuk memendam rapat-rapat seluruh sisa pertanyaan lain yang sempat menggantung. Aku tak ingin lagi menggalinya, tak ingin lagi membiarkan teka-teki merusak detik ini. Bagiku sekarang, yang tersisa dan paling nyata hanyalah kenyataan bahwa aku masih teramat mencintainya.

Aku tidak ingin menjadi wanita munafik yang memaksakan diri membenci Adrian hanya demi membentengi gengsi, padahal di dalam lubuk hati terdalam, namanya masih terukir begitu besar. Aku tidak ingin berpura-pura lupa sementara hatiku terus menangis merindukannya.

Biarlah rasa cinta ini mengalir apa adanya. Aku lebih memilih menikmati rasa cinta ini bersama Adrian. Jika memang Adrian bukan sosok terbaik untuk masa depanku kelak, biarlah perasaan ini terkikis dan hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu, bukan karena dipaksa secara tiba-tiba.

Selama Adrian masih ingin ditemani olehku, selama ia masih membutuhkan keberadaanku, aku pun selalu ingin berada di sampingnya. Lagi pula, Adrian sendiri yang sudah bersusah payah datang, merendahkan hatinya, dan menjelaskan semuanya padaku. Tidak ada salahnya untuk memberinya kepercayaan sekali lagi.

Aku menarik napas panjang, menghapus sisa air mata di pipiku, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Adrian yang memancar cemas.

"Sera maafin Mas..." bisikku lirih. "Sera enggak mau bohong sama perasaan Sera sendiri. Sera masih sayang sama Mas Adrian."

Raut wajah Adrian yang tadinya dipenuhi ketakutan seketika berubah menjadi rasa lega yang luar biasa. Binar bahagianya membuncah utuh. Tanpa mengulur waktu satu detik pun, Adrian bangkit dan merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya yang teramat erat.

Kurebahkan kepalaku di dada bidangnya, menghirup aroma tubuhnya yang selalu berhasil menenangkan jiwaku.

Adrian merengkuh wajahku dengan kedua telapak tangannya yang hangat. Ia menatapku penuh kasih sayang, lalu perlahan mendaratkan ciuman hangat di bibirku di tengah keheningan ruang tamu sore itu, sebuah ciuman yang menyegel kembali janji dan rasa cinta kami yang sempat terancam runtuh.

1
Ana Maria
seruuu
Andari Nasution
semangat
Sri Wulandari
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!