Indonesia
NovelToon NovelToon
Zuraida & Si Kembar

Zuraida & Si Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Kuswara

Hanya karena menolong seorang pria Zuraida difitnah sampai diusir dari desa dan dinikahkan dengan pria itu. Pria yang menjadikannya seorang ibu bagi kedua anak laki-laki.

Bagaimana Zuraida yang dari desa menjalani hidup di kota di tengah rasa tidak suka anak-anak tiri dan pihak keluarga suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Zuraida tiba di rumah dalam keadaan pelipis yang diperban. Perempuan itu mendatangi klinik untuk mendapatkan pertolongan pertama karena darahnya tak berhenti mengucur. Luka sobek akibat tumbler itu cukup dalam sehingga mendapatkan tiga jahitan.

Tak ada kata maaf apalagi rasa bersalah dari Sean karena telah melukai Zuraida. Sean santai saja seolah Zuraida pantas menerimanya.

Lukanya memang cukup perih namun ada yang jauh lebih perih lagi dari sekedar lukanya yang bisa segera diobati. Laporan Ibu Guru mengenai Sean yang belum bisa baca tulis. Dan kejadian tadi di sekolah.

Apa yang harus dilakukannya untuk membantunya Sean?. Apa perlu suaminya mengetahui tentang Sean?. Tapi bagaimana reaksinya nanti?. Terus saja pikiran Zuraida berisik tentang Sean. Sean benar-benar memenuhi isi kepalanya.

Zuraida menatap jam di dinding, beberapa detik lagi suaminya tiba. Perbannya tak mungkin bisa disembunyikan. Semoga saja tak ada masalah.

Dari kejauhan mata Arfan menyipit. Memastikan luka pada pelipis istrinya.

"Luka kenapa?," tanyanya dengan nada khawatir. Mengecup kening istrinya.

"Tadi saya kurang hati-hati jadi kepentok ujung meja." Bohongnya untuk pertama kali.

"Pasti dalam sampai harus diperban." Meniup lembut perban itu seolah lukanya bisa langsung sembuh karena tiupannya.

"Kata dokter nggak apa-apa, Mas."

"Syukurlah. Anak-anak sudah tidur?."

"Sudah, Mas. Bagaimana mereka di sekolah?. Apa ada masalah atau mereka berulah?."

"Tidak, Mas." Zuraida segera merespon. "Anak-anak tak ada masalah."

"Aku percayakan anak-anak padamu, Zuraida."

"Baik, Mas."

Di tengah malam Zuraida terbangun. Ia turun dari tempat tidur langsung mengenakan hijabnya. Keluar kamarnya menuju kamar anak-anak. Pintunya tak dikunci seperti malam-malam kemarin. Zuraida membukanya, di tempat tidur itu hanya Sena yang terlelap. Sean tak ada di kamar itu.

Zuraida mencarinya sampai keluar rumah namun Sean tak ada juga. Di dalam rumah itu pun tak ada. Zuraida kembali masuk, mencari lagi Sean siapa tahu ada tempat yang terlewat.

Di sudut dapur yang temaram ada cahaya yang begitu terang. Zuraida mendekat, ia menemukan Sean dengan ponselnya.

"Sean," panggilnya pelan supaya tak mengganggu yang lain.

Sean yang tahu itu suara Zuraida tak peduli. Tetap saja lanjut dengan handphonenya. Zuraida berjongkok di hadapan anak itu.

"Malam itu waktunya tidur, Sean."

"Sana ah, berisik, ganggu tahu, Zuraida." Usir Sean masih asyik dengan handphonenya.

"Cahaya yang terlalu terang dari layar handphone juga tak bagus untuk kesehatan matamu. Nanti yang ada matamu sakit." Zuraida menasehati.

"Gampang itu, Zuraida, aku tinggal ke dokter aja." Sahut Sean enteng.

"Nah daripada kamu ke dokter, lebih baik kamu mencegahnya dengan merawat matamu. Berhenti main handphone, kamu tidur lagi. Besok kan sekolah." Nada suara Zuraida semakin lembut.

"Nggak mau, Zuraida, kamu aja sana yang tidur. Kamu ganggu aku aja." Masih terus fokus pada game yang sedang berlangsung.

"Atau nggak kita belajar baca tulis saja yuk, Sean!." Ajak Zuraida. Seketika juga Sean mendorong tubuh Zuraida.

Bugh

Bokong Zuraida mendarat di lantai.

Tanpa mengatakan apa pun Sean meninggalkan Zuraida.

*

Bukan hanya satu kelas, melainkan satu sekolah sudah tahu Sean belum bisa baca tulis. Dan itu terjadi hanya pada Sean saja. Yang lainnya sudah bisa baca dan tulis semua. Ada juga bahkan yang sudah bisa mengerjakan soal-soal rumit.

Yang mengejek tentunya sudah semakin banyak. Setiap berpasangan dengan murid lain, pasti langsung mengata-ngatainya. Ada juga yang menyindirnya.

"Anak TK dilarang masuk SD."

"Karena daddynya pengusaha makanya bisa masuk."

"Jadi sayang sekolah favorit tapi ada muridnya yang nggak bisa baca tulis."

"IQ jongkok."

Tak ada satu pun sindiran yang Sean balas. Sean segera berlari ke kelas kembarannya. Langkah Sean tiba-tiba berhenti saat mendengar obrolan Sean dan teman-temannya.

"Kamu boleh main dengan kita tapi harus jauhin adikmu di sekolah."

"Kita nggak mau ada orang bodoh di pertemanan kita."

"Bagaimana Sena? Bisa kan jauhi adikmu?. Anggap nggak kenal selama di sekolah."

"Baiklah." Sena buka suara setuju dengan permintaan teman-temannya.

Kaki Sean melangkah mundur, menjauh dari kelas kembarannya. Ia memilih toilet untuk tempat meluapkan kemarahannya atas ucapan Sena. Berulang kali tangan yang mengepal itu menghantam dinding toilet. Punggung tangan Sean memerah. Aktivitas Sean terhenti karena adanya segerombolan anak-anak kakak kelas memenuhi toilet.

"Enaknya diapain anak bodoh ini?," tanyanya pada kawanannya.

"Iya, bikin malu sekolah aja." Timpal yang lain.

"Buat aja babak belur sampai membusuk di sini," respon salah satu dari mereka.

"Jangan pakai kekerasan," respon yang lain. "Akan mudah diketahui dan kita yang salah." Lanjutnya.

"Lalu diapain?."

"Suruh eja huruf-huruf yang ada di kaca kalau nggak bisa kita kunci di kamar mandi. Dan pastikan tak ada yang tahu."

"Oke, kunci toilet biar aku yang pegang."

"Oke, tas sekolahnya biar aku yang bawa pulang."

"Bagaimana dengan kembarannya?."

"Gampang, itu menjadi urusanku."

Dari deretan huruf di kaca hanya beberapa huruf yang sama yang Sean bisa sebutkan dengan benar. Selebihnya salah semua. Dan Sean harus menerima hukuman yang tak manusiawi itu. Duduk di pojokan toilet sampai besok pagi tanpa drama teriak meminta tolong atau mengadu pada orang lain.

Sean patuh, ia duduk di pojokan itu. Tanpa suara protes. Yang diingatkannya saat ini kegelapan toilet mulai datang karena semua lampu dipadamkan adalah mommynya.

"Mommy," suaranya nyaris tak terdengar.

Yang dipanggil Sean dalam kesendirian dan kesedihannya justru sedang tertawa lebih di atas panggung besar karena pencapaian luar biasanya. Membintangi iklan-iklan besar merk ternama. Mengukuhkan namanya menjadi salah satu yang paling populer saat ini.

Edwin menjadi pria yang paling mendukung semua mimpi Wilona sampai benar-benar terwujud seperti sekarang ini. Makanya cintanya Wilona berpaling 180 derajat dari Arfan kepada Edwin. Sebisa mungkin Edwin menjauhkan Wilona dari anak-anak yang dapat menghambat karirnya.

"Selamat, sayang." Kecupan langsung mendarat pada bibir Wilona.

"Ini semua karena kamu, sayang. Aku sangat mencintaimu." Wilona sangat bahagia. Begitu menggebu melahap bibir Edwin yang tak jauh dari bibirnya.

Mereka berciuman sangat romantis di depan awak media yang meliput. Alhasil itu menjadi berita hangat yang langsung dengan cepat menyebar luas.

Arfan yang tak sengaja melihat media tak terganggu sedikitpun dengan kebahagiaan Wilona dan Edwin. Ia pun sudah merasakan bahagia saat bersama Zuraida.

Pria itu berencana pulang lebih cepat setelah pekerjaannya selesai. Ingin berkumpul lebih lama dengan istri dan anak-anaknya. Namun pria itu sudah ditunggu Susan di depan lobi.

"Aku minta pekerjaan karena kamu memutus sepihak kontrak kita."

"Itu urusanmu dengan Wilona, bukan aku."

"Posisi apa saja boleh yang penting aku bekerja, Ar." Mohon Susan.

"Tak ada posisi yang bisa kamu isi di kantor ini karena kamu bukan orang yang kompeten."

Bersambung

1
Mai_mai
cepat lah ketahuan tentang sena kalo bisa pindah sekolah saja
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor cerita bagus bgt .
𝐈𝐬𝐭𝐲
sena udah salah jalan semoga orang tuanya segera menyadarinya... dan Sena masih bisa di selamatkan kalo bisa pindah dari sekolahan itu...
Soraya
q mampir thor lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!