Indonesia
NovelToon NovelToon
SANG PENAFSIR LANGIT

SANG PENAFSIR LANGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Action
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Kang Minho, juru tulis arsip Kota Eunha, meninggal kecelakaan. Di tubuhnya, Nuri terbangun—peramal rasi dari Negeri Cahaya yang kini menempati raga itu. Nuri bukan Minho; ia hanya memakai identitas Minho. Di kota, ia tetap dipanggil Minho. Di baliknya, Nuri membawa peta langit dan warisan Sang Gaib yang mengguncang kerajaan. Dari arsip kota yang sederhana, ia naik menjadi penafsir seluruh cakrawala dan pemimpin Majelis Batu Cakrawala. Namun tiap keping yang ia ungkap mendekatkannya pada Dewa Tua, sementara Pangeran Selat sudah mencuri namanya sejak langit pertama terbuka. Di balik pertempuran dan konspirasi yang berlarut-larut, satu pertanyaan menggantung: apakah Nuri menyelamatkan dunia, atau justru menulis takdir yang menghancurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Kalung Arloji Emas Warisan Ayah

Setelah memastikan rencananya untuk mencoba ritus penyeimbang nasib, Nuri merasa pikirannya sedikit lebih ringan.

Rasa takut dan gelisah yang menyelubunginya sepanjang malam mulai surut, digantikan oleh rasa ingin tahu yang hati-hati.

Barulah ia punya kekuatan untuk menelusuri kenangan-kenangan peninggalan Minho satu per satu, seperti membongkar lembaran-lembaran arsip yang tersimpan berlapis.

---

Nuri bangkit dari tikar dan memutar katup sumber minyak lampu hingga nyala itu meredup lalu padam.

Ia kembali duduk, tanpa sadar menjentik-jentik gagang belati di tangannya, lalu menekan sisi belakang kepalanya yang masih terasa nyeri.

Di dalam kegelapan yang dilumuri merah, ia merangkai kenangan itu pelan-pelan, seperti penonton yang paling teliti di balik tabir sandiwara malam.

Sesekali ia menjeda dan mengulang bagian yang sama berkali-kali, hingga rasa pening di pelipisnya menandingi nyeri benjolan di belakang kepala.

---

Barangkali karena kepalanya pernah terbentur benda yang keras, ingatan Minho pecah seperti kaca yang dijatuhkan.

Potongan-potongannya tidak sambung-menyambung, dan di banyak tempat ada bagian yang jelas hilang.

Misalnya, ingatan tentang bagaimana belati bermata perak itu bisa berada di tangannya; apakah ia benar-benar terpeleset begitu saja, atau ada orang lain yang menggiringnya jatuh; apa makna lembaran penuh angka, panah, dan simbol mata yang ia sembunyikan di antara arsip—apakah itu sekadar catatan kerja seorang juru arsip, atau bisikan dari sesuatu yang tak seharusnya dibaca; atau apakah dua hari sebelum insiden itu ia pernah ikut terlibat dalam sesuatu yang janggal.

Tidak hanya kenangan-kenangan khusus itu yang remuk; sebagian pengetahuan yang seharusnya ia kuasai juga ikut tercerai-berai.

Dalam keadaan seperti ini, Nuri yakin, bila Minho kembali duduk di depan meja arsipnya, ia tidak akan sanggup menyalin satu baris pun dengan benar.

Padahal, dua hari yang lalu ia baru saja meninggalkan meja itu tanpa melepas lelah sedikit pun.

Dua hari lagi ia harus menghadapi ujian wawancara untuk menjadi juru tulis tetap di Kantor Catatan Kota Eunha.

Lulusan sekolah negeri di Kerajaan Hwaryeong tidak punya tradisi menetap di tempat lamanya menimba ilmu; kepala kantor catatan telah memberinya surat rekomendasi untuk ujian wawancara di Kantor Catatan Kota Eunha dan kantor catatan Pelabuhan Sanyang.

---

Melalui jendela, Nuri mengamati Bulan Rubi yang perlahan tenggelam di barat.

Bulan itu semakin lama semakin rendah, hingga akhirnya cahaya samar muncul dari timur dan mewarnai ujung langit dengan emas.

---

Saat itu, terdengar keributan kecil di dalam rumah.

Tak lama kemudian, langkah kaki yang ringan mendekati pintu kamarnya.

"Sena sudah bangun ... benarnya, ia selalu setepat ini." Nuri tersenyum.

Berkat kenangan Minho, melihat Sena membuatnya merasa seakan gadis itu benar-benar adik kandungnya.

Namun aku tidak punya adik perempuan, bantahnya dalam hati seketika.

---

Sena berbeda dari Wonho dan Minho.

Pendidikan dasarnya tidak ditempuh di kelas hari Minggu yang dibuka rumah-rumah doa.

Saat Sena mencapai usia sekolah, Kerajaan Hwaryeong mengesahkan Undang-Undang Pendidikan Dasar.

Dibentuklah sebuah panitia pendidikan dasar dan menengah yang diberi dana khusus, meningkatkan anggaran pendidikan kerajaan.

Dalam waktu beberapa tahun, di samping sejumlah besar sekolah yang bernaung di bawah rumah-rumah doa, didirikan banyak sekolah negeri yang dengan ketat menjaga netralitas keyakinan.

Hal itu dilakukan agar pendidikan tidak terseret ke dalam perselisihan antara Dewa Badai, Ratu Selubung Senja, dan Dewa Mesin dan Api.

---

Dibandingkan kelas hari Minggu yang cuma memungut satu keping tembaga seminggu, biaya sekolah negeri sebesar tiga keping seminggu tampak jauh lebih mahal.

Akan tetapi, kelas hari Minggu hanya memberi pelajaran sehari dalam sepekan, sedangkan sekolah negeri memberi pelajaran hampir sepanjang pekan.

Pada akhirnya, harga itu sangat rendah, nyaris seperti gratis.

Sena tidak seperti kebanyakan gadis di usianya.

Sejak kecil ia menyukai roda gigi, pegas, dan bantalan, dan cita-citanya adalah menjadi ahli mekanika jam dan alat ukur.

Wonho, yang pernah menderita karena kurang pendidikan, mengerti betul betapa pentingnya hal itu.

Ia mendukung mimpi adiknya itu sama seperti ia mendukung Minho menempuh sekolah negeri.

Lagi pula, Sekolah Teknik Kota Eunha hanya tergolong pendidikan menengah, jadi tidak perlu bersusah payah mengikuti sekolah bahasa atau sekolah umum untuk memperoleh lebih banyak pengetahuan lagi.

---

Suatu hari, tahun lalu, Sena yang kala itu berusia lima belas tahun lulus ujian masuk dan mewujudkan mimpinya menjadi pelajar di Jurusan Roda dan Pegas Sekolah Teknik Kota Eunha.

Seminggu sekali kini ia harus membayar sembilan keping tembaga untuk uang sekolah.

Sementara itu, kantor dagang tempat Wonho bekerja terpukul oleh situasi di jalur pegunungan selatan.

Keuntungan dan jumlah transaksi dagang merosot drastis, dan banyak karyawannya diberhentikan.

Demi menjaga pekerjaan dan menyambung hidup keluarganya, Wonho mau tidak mau menerima tugas-tugas yang lebih berat, lebih sering lembur, dan kadang harus pergi ke tempat-tempat dengan keadaan yang keras.

Itulah kesibukan yang menahannya di luar rumah selama beberapa hari belakangan ini.

---

Bukannya Minho tidak berpikir untuk membantu meringankan beban kakaknya.

Namun sebagai anak orang biasa yang hanya sempat menamatkan sekolah bahasa yang sederhana, ia merasa sangat tertinggal begitu masuk sekolah negeri.

Misalnya, Bahasa Langit Tua—bahasa yang dianggap sebagai asal-muasal segala bahasa di Benua Utara—adalah sesuatu yang dipelajari anak-anak bangsawan dan orang kaya sejak kecil.

Sebaliknya, Minho baru mengenalnya ketika ia duduk di bangku sekolah negeri.

Guru-guru di sekolah bahasa yang sederhana itu tidak pernah menyentuh Bahasa Langit Tua; di mata Minho, bahasa itu seperti tembok yang tiba-tiba berdiri di depan pintu.

Ada banyak hal serupa selama masa belajarnya.

Minho nyaris memberikan segalanya, sering berjaga sampai larut malam dan bangun sebelum fajar, nyaris tidak mampu mengejar ketertinggalan, hingga akhirnya ia lulus dengan nilai yang sekadarnya.

Ketika teman-teman sekelasnya membicarakan puisi-puisi berbahasa Langit Tua, Minho hanya bisa diam dan menunduk.

---

Kenangan tentang kakak dan adiknya masih aktif berputar di benak Nuri ketika ia membuka gagang pintu.

Barulah ia tersentak dan menyadari bahwa di tangannya masih tergenggam sebilah belati.

Benda semacam ini terlarang untuk dibawa ke mana-mana!

Bisa membuat anak-anak ketakutan!

Dan jangan lupa, luka di kepalaku masih ada.

Sena akan masuk kapan saja.

Nuri menekan pelipisnya, buru-buru menarik laci meja, melempar belati itu ke dalam, lalu membanting laci tertutup.

"Apa yang terjadi?" Sena menengok penasaran mendengar keributan itu.

Ia masih berada di puncak masa mudanya.

Meski kekurangan makanan bergizi membuat wajahnya tipis dan sedikit pucat, kulitnya tetap bercahaya dan memancarkan aura seorang gadis muda.

Melihat sekilas Sena menatap dengan sepasang mata cokelat, Nuri berusaha menenangkan diri.

Ia mengambil sehelai benda di samping tangannya, lalu menutup laci dengan tenang untuk menyembunyikan keberadaan belati.

Ia meletakkan tangan yang lain di belakang kepalanya, dan dari rabaannya, lukanya ternyata telah sembuh!

---

Sena mengerjapkan mata, lalu menatap ke arah laci yang baru saja ditutup.

"Ada apa di dalam itu?" tanyanya, masih dengan nada penasaran.

Tidak ada apa-apa, bantah Nuri dalam hati; sebilah belati yang baru saja ia sembunyikan.

---

Ia mengeluarkan kalung arloji emas warisan ayah dari balik bajunya, lalu menekan bagian atas puncaknya dengan ibu jari hingga tutupnya terbelah terbuka.

Di dalam tutup itu terukir wajah ayah mereka.

Itu adalah benda paling berharga yang ditinggalkan mendiang ayah—seorang mantan pengawal kerajaan.

Sayangnya, karena jam itu barang bekas, belakangan ia sering rusak meski berulang kali dibawa ke tukang jam.

Wonho sempat beberapa kali terlihat memalukan ketika membawanya ke mana-mana demi meninggikan derajat, lalu jam itu akhirnya dibuang dan ditinggalkan begitu saja di rumah.

Kendati begitu, tak seorang pun berani membuangnya sungguh-sungguh. Jam itu adalah satu-satunya pengingat yang masih tersisa dari mendiang ayah.

Harus diakui bahwa Sena memang berbakat di bidang mekanika.

Setelah mengerti prinsip cara kerjanya, ia meminjam peralatan dari Sekolah Teknik untuk membongkar jam itu.

Belakangan, ia bahkan mengaku sudah berhasil memperbaikinya!

---

Nuri memandangi tutup jam yang terbuka itu dan menyadari jarum detiknya tidak bergerak.

Tanpa sadar, ia memutar kenop di bagian atas untuk mengunci jam.

Namun meskipun diputar beberapa kali, ia tidak mendengar suara pegas yang menegang.

Jarum detiknya tetap diam.

"Sepertinya rusak lagi." Ia menatap adiknya, mencoba mencari topik pembicaraan.

Sena membalas dengan tatapan tanpa ekspresi, lalu berjalan cepat mendekat dan mengambil jam itu dari tangannya.

Ia berdiri di tempatnya dan menarik tombol di atas jam.

Beberapa putaran yang sederhana, dan tiba-tiba jarum detik berbunyi kembali.

Bukankah menarik tombol ke atas biasanya untuk mengatur waktu...

Ekspresi Nuri seketika menjadi kosong.

Ia bukan tukang jam. Yang ia tahu hanyalah bahwa tubuh ini pernah jatuh di atas lantai yang licin, dan kini semua hal yang berputar di sekitarnya terasa asing baginya.

---

Kala itu, sebuah lonceng berbunyi dari tempat ibadah yang jauh.

Lonceng itu berdentang-dentang, terdengar sayup dan magis.

Rentetan dentang itu menandakan pagi telah tiba. Para juru arsip di kejauhan pasti sudah mulai menyalakan pelita meja mereka.

Sena memiringkan kepala mendengarkannya, lalu menarik tombol itu sekali lagi.

Setelah itu, ia memutarnya untuk menyesuaikan waktu.

"Sudah baik," katanya singkat tanpa emosi, menekan kembali tombol di atas, lalu menyerahkan jam itu kepada Nuri.

Nuri membalas dengan senyum yang canggung.

Sena menatap kakaknya tajam sebelum berbalik menuju lemari.

Ia mengambil alat mandi dan handuknya, membuka pintu, lalu pergi menuju kamar mandi bersama.

---

Kenapa ekspresinya seperti menghina dan pasrah?

Apa itu semacam usaha untuk mengasihani kakak yang tampak bodoh?

Nuri menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa kecil.

Ia menutup tutup jam dengan bunyi klik, lalu membukanya lagi.

Seperti itu ia mengulang-ulang, sementara pikiran-pikiran kosongnya berkumpul pada satu pertanyaan.

Minho jatuh dan kepalanya membentur sudut kotak arsip; kejadian seperti itu seharusnya menimbulkan keributan yang cukup besar.

Sebab, tubuh yang terkapar dan bekas air yang menggenang di lantai kamar arsip itu tidak bisa diam saja.

Namun Sena yang hanya berjarak satu dinding tidak mendengar apa-apa sama sekali.

Apakah ia tidur terlalu nyenyak?

Atau sejak awal kecelakaan itu memang diselimuti misteri?

Klik. Tutup jam terbuka. Deng. Tutup jam menutup.

Sena kembali dari kamar mandi dan melihat kebiasaan kakaknya yang tanpa disadari terus membuka dan menutup jam.

Lalu, Sena memandangnya dengan mata yang kehabisan kesabaran, lalu berkata dengan suara yang manis, "Minho, keluarkan semua roti yang tersisa. Ingat, beli yang baru hari ini. Ada daging dan kacang polong juga. Ujianmu sudah dekat. Aku akan membuatkan rebusan kambing dengan kacang polong untukmu."

Sambil berkata begitu, ia menggeser sebuah anglo dari sudut dapur.

Dengan arang, ia merebus sepanci air panas.

Sebelum air mendidih, ia membuka laci paling bawah di lemari dan mengeluarkan sesuatu yang tampak seperti harta karun—sebuah kaleng berisi daun teh yang kualitasnya rendah.

Ia melemparkan sekitar sepuluh helai daun teh ke dalam panci dan berpura-pura itu teh sungguhan.

---

Sena menuang dua cangkir teh yang besar, lalu berbagi dua potong roti gandum dengan Nuri.

Daun-daun teh murahan itu masih mengapung di permukaan air, menyerupai sampah-sampah kecil yang enggan tenggelam.

Tidak ada serbuk gergaji atau dedak yang berlebihan, tetapi rasanya memang tidak menggugah selera.

Nuri masih merasa lemas dan lapar.

Ia memaksa dirinya menelan roti itu dengan teh, sambil menggerutu dalam hati.

Sena selesai makan beberapa menit kemudian.

Setelah merapikan rambut hitamnya yang menyentuh dadanya, ia menatap Nuri dan berkata, "Ingat beli roti yang baru. Kita hanya perlu delapan kati. Cuaca panas, roti akan mudah basi. Juga, beli daging kambing dan kacang polong. Ingat, beli!"

Tentu saja, itu wujud kepeduliannya terhadap kakaknya yang agak-bodoh itu.

Bahkan ia sampai mengulang untuk menegaskan.

Nuri mengangguk sambil tersenyum. "Baiklah."

Soal satuan kati di Kerajaan Hwaryeong, Nuri mencocokkannya dengan ingatan otot Minho.

Ia percaya satu kati kira-kira setengah kilogram dari yang biasa ia kenal.

---

Sena tidak mengucapkan apa-apa lagi.

Ia berdiri dan merapikan dapur.

Setelah menyisihkan roti yang terakhir untuk bekal makan siang, ia mengenakan topi jaring usang yang ditinggalkan ibunya, mengambil tas jahitan tangan yang biasa digunakan untuk membawa buku dan alat tulisnya, lalu bersiap pergi.

Hari ini bukan hari Minggu, jadi ia harus menghadapi pelajaran seharian penuh.

Perjalanan dari rumah sewa ke Sekolah Teknik Kota Eunha memakan waktu hampir sejam berjalan kaki.

Ada begitu banyak kereta kuda umum yang memungut satu keping tembaga untuk jarak dekat, dengan batas paling banyak empat keping di dalam kota dan enam keping di pinggiran.

Untuk menghemat uang, Sena selalu berangkat lebih awal dan berjalan kaki ke sekolah.

Bila langit terlalu gelap, ia berangkat ditemani sebatang pelita. Namun pelita itu juga butuh minyak, dan minyak berarti uang.

---

Beberapa saat setelah ia membuka pintu utama, ia berhenti sejenak dan berbalik setengah badan.

"Minho, jangan membeli daging kambing dan kacang polong terlalu banyak," katanya. "Wonho mungkin pulang pada hari Minggu. Oh, dan ingat, kita hanya butuh delapan kati roti."

"Baik, akan kulakukan," jawab Nuri dengan nada berserah.

Sambil mengucapkan itu, ia mengulang kata "hari Minggu" beberapa kali dalam kepalanya.

---

Di kerajaan ini, satu tahun dibagi menjadi dua belas bulan.

Setiap tahun ada 365 atau 366 hari. Satu pekan juga dibagi menjadi tujuh hari.

Pembagian bulan lahir dari pengamatan bintang-bintang di langit.

Bila benar dua belas bulan dan tujuh hari dalam sepekan itu bukan sekadar kebetulan, adakah dunia yang sama tersembunyi di balik cermin dunia ini?

Hal itu membuat Nuri curiga bahwa ia berada di dunia yang sejalan, dunia yang serupa namun tidak pernah persis sama dengan negeri asalnya.

Sedangkan pembagian hari lahir dari keyakinan.

Sebab, di Benua Utara ada tujuh dewa penjaga yang dihormati: Mentari Abadi, Penguasa Badai, Sang Cendekia, Ratu Selubung Senja, Dewi Bumi, Panglima Baja, dan Dewa Mesin dan Api. Masing-masing mereka berkuasa atas bagian langit dan nasib yang tidak bertumpang tindih.

---

Melihat adiknya menutup pintu dan pergi, Nuri tiba-tiba menghela napas panjang.

Tak lama kemudian, pikirannya kembali terpusat pada ritus penyeimbang nasib.

Maaf, aku sungguh ingin pulang...

1
-Thiea-
kayaknya minho sengaja dilenyapkan kali ya. 🤔
-Thiea-
bertransmigrasi kayaknya dia ya.🤔
-Thiea-
dia kenapa? apakah hilang ingatan? kayaknya asing sama keadaan.
Xlyzy
itu kayak nya harus di cari tau deh penyebab nya kenapa tiba tiba berpindah di tubuh orang lain lagi
Tamaa
mahalnya
Tamaa
anak gadis sukanya yang begituan
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
aku bayanginnya ala drakor korea min 🤣😭
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
ini latarnya korea berati ya tor?
Kartika Candrabuwana: mirip korea..tp mix fantasi jg
total 1 replies
Miu.Nuha
wiii ajaib juga ya
aku jadi penasaran sok kalo minho cedera lagi apa y gk bakal ngerasa sakit 🙄
Miu.Nuha
ini kalo keluar rumah apa gk pada jerit tuh para warga 😅🙄
Filan
malam ini dia memang terlalu banyak berpikir sampai pusing.
Filan
woah, bulannya merah... ini bukan Korea ya, negeri fantasi? Dan dia juga berasal dari negeri yang beda tapi serupa.
Kartika Candrabuwana: semi korea dan fantasi
total 1 replies
Filan
nyalain lampunya pakai koin?
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
Filan
orangnya memang sudah mati kalau ga ada jiwa lain yang menempati.
Myz Pena
iih ngeri bangettt... seharusnya orang dengan benjolan kepala itu bisa sekarat berhari2 di rumah sakit🤧
Putry Chan
bangkit lah nuri emang tangguh
abis nagis langsung mode srius mental baja gitu loh
ginevra
ou begitu... karena jiwanya gantinmaka raganya ikut pulih
ginevra
lukanya sembuh sendiri ya
ginevra
ngeri banget lukanya, harus cek ke dokter deh, takutnya ada pendarahan otak
Arni Arlinawati Pratiwi💃
oke.. jadi nuri yang masuk ke tubuh nya kang minho ini adalah peramal.. jadi jiwa nuri yang punya kemampuan diem di tubuh nya kang minho, 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!