Alex hanyalah karyawan biasa—bekerja keras, sering diinjak, dan tidak pernah dianggap. Sampai suatu malam, hidupnya hancur dalam sekejap oleh orang-orang yang seharusnya dia percaya.
Di titik paling rendah dalam hidupnya, Alex menemukan sesuatu yang mengubah segalanya: sebuah sistem misterius yang bisa mengabulkan permintaan apa pun.
Tidak ada batas kekayaan. Tidak ada batas kekuatan. Hanya satu syarat—dia harus terus menyelesaikan misi untuk mendapatkannya.
Namun kekuatan tanpa batas punya harga yang tidak terlihat. Perlahan, pria yang dulu selalu menunduk itu mulai berubah menjadi seseorang yang bahkan tidak dia kenali sendiri.
Dan orang-orang yang pernah menghancurkan hidupnya akan segera tahu, bahwa yang mereka injak dulu... tidak akan pernah lagi bisa mereka injak sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Malam pesta tiba dengan gemerlap lampu yang menerangi halaman mansion megah milik Keluarga Nusantara. Alex melangkah turun dari mobil, mengenakan jas hitam yang dipesan khusus untuk acara ini, diikuti Bima dan Reina yang mengenakan pakaian formal terbaik mereka.
"Pak, ini... besar banget," Reina berbisik, matanya menjelajahi halaman yang dipenuhi ratusan tamu berpakaian mewah, meja-meja hidangan mahal, dan sebuah panggung besar di tengah taman.
Mereka baru saja memasuki area pesta ketika dua sosok familiar menghadang jalan mereka.
"Wah, lihat siapa yang datang," suara Daniel terdengar sinis, berdiri berdampingan dengan Sarah yang mengenakan gaun mahal berwarna merah marun.
"Malam, Daniel," Alex menyapa santai, tidak menunjukkan sedikit pun ketegangan.
"Perusahaan kecilmu berani juga datang ke acara sebesar ini," Daniel berkata, senyum meremehkan terpasang jelas di wajahnya. "Tapi jangan mimpi bisa menyaingi perusahaan Keluarga Wijaya. Kami udah berdiri puluhan tahun, sementara kau baru seumur jagung."
"Menyaingi?" Alex mengulang kata itu, alisnya terangkat geli. "Aku kira kau yang harusnya khawatir soal itu, bukan aku."
Daniel mendengus, menatap Alex dari atas ke bawah seolah menilai. "Percaya diri banget buat orang yang perusahaannya baru berdiri seumur jagung."
Alex tertawa kecil, matanya kemudian beralih menatap Sarah yang berdiri di samping Daniel, senyum meremehkan perlahan muncul di wajahnya.
"Sarah," Alex memanggil, nadanya penuh perhitungan. "Boleh aku tanya sesuatu?"
Sarah mengerutkan kening, sedikit waspada. "Tanya apa?"
"Serum yang kau pakai di wajahmu malam ini," Alex berkata pelan, matanya menyipit memperhatikan detail kulit Sarah yang bercahaya khas. "Itu Renata, bukan? Bukan produk dari perusahaan Keluarga Wijaya?"
Wajah Sarah seketika memucat. "I-itu... bukan urusanmu."
"Apakah ini artinya kau mengakui produkku lebih baik dari produk keluargamu sendiri?" Alex melanjutkan, senyumnya semakin lebar.
Daniel menoleh cepat ke arah Sarah, matanya membelalak tidak percaya. "Kau pakai produk dia?"
"I-itu cuma kebetulan! Fitnah, itu fitnah!" Sarah berkata cepat, suaranya panik, sebelum berbalik dan berjalan cepat menjauh dari kerumunan.
"Sarah, tunggu!" Daniel berteriak, mengejar tunangannya yang sudah menghilang di antara kerumunan tamu.
Bima menahan tawa di samping Alex, sementara Reina hanya menggeleng-geleng kepala, tidak habis pikir dengan drama kecil yang baru saja terjadi.
Belum sempat mereka melanjutkan langkah, suara mikrofon berdengung dari panggung utama, menarik perhatian seluruh tamu yang hadir.
"Selamat malam, hadirin sekalian," suara pria paruh baya bergema dari panggung, mengenakan setelan jas krem yang elegan. "Saya Handoko Nusantara, mewakili keluarga saya, mengucapkan terima kasih atas kehadiran kalian semua malam ini."
Tepuk tangan riuh menyambut sambutan itu.
"Sebelum acara dimulai," Pak Handoko melanjutkan, "putri saya ingin mengatakan sesuatu. Terus terang, saya sendiri terkejut ketika pertama kali mendengarnya."
Seluruh tamu saling berbisik penasaran, mata mereka tertuju ke arah panggung ketika seorang perempuan muda dengan gaun putih anggun melangkah naik.
Alex terdiam, matanya membelalak mengenali wajah itu.
Gadis yang dia selamatkan di gang gelap beberapa malam lalu.
"Perkenalkan, namaku Mina," gadis itu berkata ke mikrofon, suaranya tegas meski wajahnya sedikit gugup.
Mina melangkah turun dari panggung, berjalan lurus menuju kerumunan tamu, langsung menuju tempat Alex berdiri.
"Dan aku akan bertunangan dengan orang ini," Mina berkata mantap, tangannya menunjuk langsung ke arah Alex.
Mata Alex membelalak tidak percaya. Bima menoleh cepat, mulutnya ternganga. Reina berdiri kaku, matanya menatap Alex dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Bos," Bima berbisik pelan di telinga Alex, "Bapak yakin mau terima ini? Nanti Mbak Reina—"
"Bos," Reina memotong cepat, suaranya justru tenang, "aku gak keberatan berbagi. Orang kayak Bapak emang pantas punya lebih dari satu, dan kalau ditolak, bisa bikin Keluarga Nusantara benci sama kita."
Alex menatap Reina sejenak, terkejut dengan ketenangan yang keluar dari mulutnya. Ada sesuatu di balik matanya yang tidak sepenuhnya cocok dengan nada santai yang dia gunakan, tapi Alex tidak punya waktu untuk memikirkannya lebih jauh di tengah situasi yang menuntut jawaban cepat.
"Kau yakin?" Alex bertanya pelan, hanya untuk Reina.
"Yakin, Pak," Reina menjawab, tersenyum kecil meski matanya sedikit berkabut. "Ini demi perusahaan."
Alex mengangguk pelan, merapikan jasnya, dan melangkah maju.
"Benar, itu semua benar," Alex berkata mantap, merangkul Mina di sampingnya.
Seluruh tamu terdiam sejenak sebelum riuh oleh bisik-bisik terkejut. Pak Handoko di panggung menangis haru, suaranya bergetar penuh emosi. "Akhirnya putriku jatuh cinta!"
Di tengah kerumunan, suara teriakan Daniel menggema, penuh kemarahan dan ketidakpercayaan.
"Mina pasti kena sihir pemikat!"