"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 - Luka
Klik.
Suara engsel kayu yang terbuka terdengar bagaikan retakan es di dasar danau.
Naya perlahan membuka tutup kotak tersebut. Di dalamnya, tidak ada gulungan ijazah Kairo bermeterai kuno seperti yang pernah diceritakan Reyhan. Hanya ada beberapa lembar foto, sebuah buku nikah bernuansa hijau pudar, dan selembar kertas bermeterai dengan tulisan tangan berbahasa Arab dan Indonesia.
Naya mengambil lembaran kertas tersebut. Matanya meneliti baris demi baris tulisan di atasnya.
Surat Pernyataan Nikah Siri / Di Bawah Tangan
Telah berlangsung akad nikah secara syar'i antara:
Pria: Muhammad Reyhan Al-Fatih
Wanita: Zahrani Shofa Humaira
Tertanggal: 14 Oktober 2025
Darah Naya serasa berhenti mengalir. Jantungnya mencelos jatuh ke dasar jurang yang sangat dalam. Tanggal yang tertera di surat itu baru berjalan sebelas bulan—artinya, pernikahan di bawah tangan itu dilaksanakan hanya satu bulan setelah Gus Reyhan mengucap ijab kabul resmi meminang Naya di hadapan ribuan tamu Al-Anwar.
Zahrani Shofa Humaira.
Rani. Santriwati senior berusia dua puluh tahun yang dikenal sangat santun, polos, dan sering menunduk jika berpapasan dengan siapa pun. Santriwati yang selama ini menjadi salah satu anak didik Naya di kelas fikih wanita.
Tangan Naya bergetar hebat saat meraih buku kecil di samping kertas tersebut. Itu adalah catatan harian kecil. Dengan mata yang mulai mengembun oleh air mata yang ditahannya setengah mati, Naya membaca tulisan tangan suaminya sendiri di halaman pertama:
"Bukan karena aku tak menghargai takdir perjodohan Abi dan Umi, tapi hatiku sudah tertambat pada kesucian Rani sebelum aku berangkat ke Mesir. Maafkan aku, Naya... kau terlalu sempurna dan mandiri hingga tak membutuhkan perlindunganku. Namun Rani, dia adalah rusukku yang rapuh, yang membutuhkanku untuk membimbingnya dalam diam."
Rasa dingin yang mencengkeram kamar itu mendadak menguap, berganti dengan rasa terbakar yang membakar seluruh isi dada Naya.
Selama satu tahun ini, ia mengubur impian jadinya sebagai dokter psikiater. Selama satu tahun ini, ia merawat keperawanannya dengan penuh rasa hormat pada alasan 'penyucian spiritual' sang suami. Selama satu tahun ini, ia mengira suaminya sedang berjuang melawan pertempuran batin yang berat.
Ternyata, penyebab suaminya tak pernah menyentuhnya bukan karena kesucian spiritual... melainkan karena tubuh, rasa, dan perhatian pria itu telah dihabiskan untuk wanita lain di belakangnya.
"Naya?"
Suara berat dan berwibawa itu terdengar dari arah pintu kamar mandi.
Naya tidak serta-merta berbalik dengan histeris. Sebagai seorang wanita terpelajar dengan kontrol emosi yang kuat, ia berdiri perlahan. Ia menyapu air mata yang nyaris menetes dengan garis jemarinya, memutar tubuhnya anggun, lalu menatap langsung ke dalam manik mata pria yang berdiri mematung di dekat pintu.
Gus Reyhan berdiri mengenakan sarung tenun dan kaos putih. Rambutnya masih basah oleh air wudu. Namun, tatapan matanya seketika berubah liar dan pucat pasi saat melihat apa yang dipegang oleh istrinya.
"Naya... apa yang kamu pegang itu?" suara Reyhan terdengar tertahan, ada nada panik yang terpancar jelas dari raut wajahnya yang biasanya tenang dan berwibawa.
Naya tidak menjawab dengan nada tinggi. Ia justru tersenyum—sebuah senyuman yang sangat tipis, dingin, dan begitu menyayat hati.
"Penyucian spiritual yang sangat indah, Gus," ucap Naya pendek. Suaranya bergetar tipis, namun setiap kata terucap dengan artikulasi yang sangat jelas.
"Satu tahun saya menjaga kehormatan saya di ranjang ini. Ternyata, suami saya sedang membagi selimut dengan santri saya sendiri di luar sana."
"Naya, dengarkan saya dulu! Ini tidak seperti yang kamu bayangkan!" Reyhan melangkah maju dengan cepat, berniat merebut lembaran kertas itu dari tangan Naya.
Namun, Naya mundur satu langkah dengan sigap. Tatapan matanya yang tajam dan berprinsip menghentikan langkah Reyhan seketika.
"Jangan mendekat, Gus," tatih Naya dingin. "Jangan mengotori sisa rasa hormat yang masih saya miliki untuk jenjang keilmuan Al-Azhar yang Sampean sandang."
"Naya! Istighfar! Rani membutuhkan perlindungan! Pernikahan itu sah secara agama, saya tidak berzina!" bentak Reyhan, mencoba menggunakan wibawanya untuk menutupi rasa salah yang mendera dadanya.
"Sah secara agama menurut versi Sampean, tapi pengkhianatan yang paling nista bagi seorang istri yang Sampean gantung status batinnya!" Naya menegakkan dadanya. Air matanya menetes satu kali di pipi mulusnya, namun tidak ada raut kelemahan di sana.
Naya merapikan jilbabnya, mengapit surat siri dan catatan harian tersebut di dalam dekapan dadanya dengan erat.
"Naya, mau ke mana kamu?!" panggil Reyhan penuh kecemasan saat melihat Naya melangkah menuju pintu keluar kamar.
Naya menghentikan langkahnya di ambang pintu, menoleh sedikit tanpa mau menatap mata suaminya.
"Saya mau menemui Abi dan Umi di bawah," ujar Naya datar. "Sudah cukup satu tahun saya berpura-pura bahagia menjadi seorang Ning di Al-Anwar. Sekarang, mari kita selesaikan semuanya di hadapan orang tua yang membesarkan Sampean."
"Naya! Jangan buat skandal di pesantren ini!" teriak Reyhan seraya berlari menyusul.
Anak tangga kayu jati berusia puluhan tahun itu memantulkan derit beruntun yang memecah kesunyian malam di ndalem utama Pesantren Al-Anwar. Langkah Naya tergesa, namun sapuan gamis dan ayunan selendangnya tetap memperlihatkan keteguhan yang tak tergoyahkan.
Di tangannya, selembar kertas bermeterai dan satu buku catatan bersampul cokelat terapit erat di dada. Dua benda itu berjelaga—menjadi saksi bisu atas hancurnya satu tahun kesabaran yang ia bangun di atas kebohongan.
"Naya! Berhenti! Jangan bertindak gegabah, Naya!"
Cetus suara Reyhan terdengar memburu dari atas. Suara yang biasa mengalun merdu saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an di hadapan ribuan santri itu kini bergetar, sarat panik dan kecemasan yang telanjang. Pria itu berlari menuruni tangga, berusaha menjangkau lengan istrinya. Namun, jarak yang tercipta di antara mereka seolah bukan lagi soal meter, melainkan jurang perbedaan prinsip yang tak mungkin dijembatani.
Sebelum jemari Reyhan sempat menyentuh kain gamisnya, Naya sudah menjejakkan kaki di ubin marmer dingin ruang keluarga utama.
Di sana, di bawah remang lampu gantung kuno dan hawa dingin Pacet yang menusuk dari sela jendela, Kyai Ahmad dan Bu Nyai Khadijah sedang duduk berhadapan di atas karpet Persia. Sebuah cangkir teh kapulaga yang masih berasap tipis berada di meja rendah. Pasangan sepuh itu baru saja menyelesaikan wirid malam mereka.
Langkah kaki tergesa yang menyapu lantai membuat kedua tetua Al-Anwar itu menoleh bersamaan.
"Naya? Ada apa, Nak? Kenapa lari-lari begitu..." Bu Nyai Khadijah terperanjat. Senyum hangat yang biasanya terukir di wajah sepuh itu mendadak surut begitu melihat lelehan air mata yang tak terbendung di pipi menantu kesayangannya.
Di belakang Naya, Reyhan mendadak menghentikan langkah. Pria berparas tampan itu berdiri mematung di ambang batas ruangan. Bibirnya mengatup rapat, napasnya memburu, sementara seluruh warna seolah hilang dari wajahnya. Ia mendadak menjelma menjadi sosok yang asing dan tak berkutik di bawah naungan bayang-bayang ayahnya.
Kyai Ahmad meletakkan tasbih kayunya perlahan. Dahi bergaris tegas milik ulama karismatik itu berkerut dalam, menangkap kejanggalan atmosfer yang datang menerjang ruangan tersebut.
"Ada apa ini? Reyhan, kenapa kamu mengejar istrimu seperti itu? Kenapa Naya menangis?"
Naya tidak meraung. Ia tidak melemparkan barang atau meluapkan amarah seperti wanita yang kehilangan akal sehat. Dengan sisa-sisa keanggunannya, ia melangkah mendekati meja rendah tempat mertuanya duduk. Tubuhnya gemetar hebat, namun tatapannya lurus dan bersih dari keraguan.
Sambil berlutut perlahan di atas karpet, Naya meletakkan dua berkas itu tepat di depan Kyai Ahmad dan Bu Nyai Khadijah.
"Abi... Umi..." Suara Naya terdengar serak, tercekik oleh rasa sakit yang memusat di rongga dadanya.
"Naya kembalikan surat-surat ini. Naya mohon... baca sendiri apa yang disimpan Gus Reyhan selama sebelas bulan terakhir ini."
Bu Nyai Khadijah memandang menantunya dengan mata berkaca-kaca, lalu ragu-ragu meraih lembaran kertas bermeterai tersebut. Kacamata baca ditarik mendekati kelopak matanya. Kyai Ahmad ikut menunduk, membaca baris demi baris tulisan tangan dan stempel basah yang tertera di sana.
Hening yang amat mencekam seketika menyelimuti ruang tengah ndalem. Hanya ada desis angin sore dari luar yang menampar pepohonan pinus.
Wajah Bu Nyai Khadijah perlahan berubah pucat pasi. Tangannya yang memegang kertas mulai bergetar begitu membaca nama Zahrani Shofa Humaira tercantum bersisian dengan nama putra tunggalnya. Tanggal akad siri itu tertera terang benderang—hanya berjarak empat minggu dari perayaan pernikahan megah antara Reyhan dan Naya.
"N-nikah... siri?" bisik Bu Nyai Khadijah dengan suara yang hampir tak terdengar. Matanya menatap kertas itu, lalu beralih menatap Reyhan dengan pandangan tak percaya.
"Reyhan... ini apa, Nak? Kertas apa ini?!"
Reyhan langsung melangkah maju dan menjatuhkan tubuhnya di atas lantai. Pria yang dipuja banyak orang itu bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya, menundukkan kepala dalam-dalam hingga dahinya menyentuh karpet.
"Abi... Umi... ampuni Reyhan... Reyhan mengaku salah... Reyhan mohon maaf..."
"Diam kamu!" gertak Kyai Ahmad. Suara tegas yang biasanya menjadi penyejuk ribuan santri itu kini bergetar menahan dentum kemurkaan yang sangat besar. "Biarkan istrimu bicara dulu! Naya... jelaskan pada Abi. Apa maksud semua ini?"
Naya menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa kekuatan jiwanya yang telah remuk. Latar belakang pendidikan psikologinya mengajarkan ia untuk tetap bernapas di tengah badai trauma, namun rasa sakit di hatinya terlalu nyata untuk diredam.
"Satu tahun ini... Naya selalu berusaha menjadi istri yang taat, Abi. Naya mengubur impian Naya menjadi psikiater demi mendampingi Gus Reyhan di pesantren ini," Naya memulai kalimatnya dengan jeda yang menyayat hati. "Selama tiga ratus enam puluh lima hari, Gus Reyhan selalu menolak menyentuh Naya. Beliau beralasan belum siap secara batin, belum mampu membagi fokus spiritualnya pasca-pulang dari Mesir."
Naya menunduk, menatap jemarinya yang saling bertaut erat di atas pangkuan.
"Naya percaya. Naya bersabar dan terus mendoakan beliau. Tapi malam ini, Allah menunjukkan kebenarannya. Gus Reyhan tidak pernah menyentuh Naya bukan karena kesucian spiritualnya..." Naya menahan napas sejenak, membiarkan air matanya jatuh tanpa suara. "... tapi karena beliau sudah memberikan nafkah batin itu untuk santri kita sendiri, Rani. Dan sampai detik ini, di usia pernikahan kita yang genap satu tahun, Naya masih utuh, Abi... Naya masih perawan."
Brak!
Bu Nyai Khadijah menepuk dada kirinya, napasnya tersedak mendengarkan pengakuan polos dan menyakitkan dari menantu yang sudah dianggapnya seperti anak kandung sendiri. Tangis Bu Nyai pecah seketika, begitu pilu dan histeris. Beliau tidak sanggup membayangkan betapa dalam kehampaan dan kesepian yang dihitung Naya saban malam di kamar atas, sementara putranya bersenang-senang dalam pengkhianatan berkedok pernikahan siri.
"Astagfirullahal'adzim! Reyhan!" Bu Nyai Khadijah menangis terisak-isak, menunjuk putranya dengan jari gemetar.
"Tega kamu, Nak? Tega kamu menzalimi wanita sebaik ini?! Kamu biarkan dia seperti pajangan di rumah ini, sementara kamu... kamu berpaling pada orang lain?!"
"Umi... maafkan Reyhan, Umi... Reyhan khilaf..." tangis Reyhan pecah di atas karpet, suaranya parau memohon ampunan.
Kyai Ahmad berdiri dari duduknya. Wajahnya yang biasa teduh kini memerah padam. Dadanya naik turun menahan gelombang amarah yang luar biasa. Ulama besar itu menatap putra tunggalnya dengan tatapan kekecewaan paling dalam yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.
"Abi..." suara Naya kembali terdengar di antara isak tangis Bu Nyai. "Naya mohon izin... malam ini Naya ingin pisah kamar dari Gus Reyhan. Naya tidak sanggup lagi berada di ruangan yang sama dengannya."
"Iya, Nak. Iya... Abi izinkan," sahut Kyai Ahmad cepat, suaranya berat dan bergetar. "Kamu tidak boleh disakiti lebih jauh lagi di rumah ini."
Mendengar hal itu, Reyhan mendongak dengan mata yang sudah memerah dan basah oleh air mata.
"Tidak! Naya, kamu tidak boleh pergi dari ndalem utama! Abi, tolong jangan biarkan Naya pergi! Reyhan tidak mau pisah dari Naya!"
"Kamu tidak punya hak melarangnya setelah apa yang kamu perbuat, Reyhan!" tembak Bu Nyai Khadijah tajam, menyapu air matanya kasar. Bu Nyai lalu menatap Naya dengan tatapan penuh perlindungan. "Naya... malam ini kamu pindah ke ndalem barat saja. Di sana tenang, bersih, dan ada Mbak Zaenab yang bisa menemanimu. Biar Umi yang suruh orang menyiapkan kamarnya sekarang."
Ndalem barat adalah bangunan peninggalan keluarga yang terletak di ujung komplek pesantren putri, dikelilingi pepohonan rimbun dan berjarak sekitar lima menit jika berkendara dengan sepeda motor. Tempat yang cukup jauh untuk memberi ruang aman bagi jiwa Naya yang sedang terluka.
Naya mengangguk pelan, bersiap berdiri.
"Jangan! Ndalem barat tidak boleh!" pangkas Reyhan tiba-tiba. Pria itu berdiri tergesa, memblokir jalan Naya dengan wajah panik yang luar biasa. "Naya tidak boleh ke ndalem barat! Siapa pun tidak boleh ke sana!"
Suasana di ruangan itu mendadak membeku kembali. Bu Nyai Khadijah dan Kyai Ahmad saling pandang dengan tatapan heran berujung amarah yang kian memuncak.
"Kenapa tidak boleh?!" bentak Kyai Ahmad dengan nada menekan. "Ndalem barat itu rumah milik Abi! Hak Abi untuk menempatkan siapa pun di sana! Kenapa kamu melarang?"
Reyhan bersimpuh kembali, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. Tubuhnya gemetar hebat di bawah tatapan tajam sang ayah. Suaranya terdengar sangat lirih, hampir berupa bisikan ketakutan yang merayap di udara dingin malam itu.
"Ndalem barat... ndalem barat selama ini Reyhan gunakan... sebagai rumah singgah untuk Rani, Abi..."
Jleb.
Kalimat singkat itu meluncur bagaikan ribuan jarum yang menancap tepat di pusat jantung Naya.
Dunia di sekitar Naya serasa berputar dan mendadak kehilangan tumpuan. Pandangannya mengabur. Air mata yang sempat tertahan kini mengalir semakin deras tanpa bisa dibendung lagi. Sakit di dadanya begitu hebat, hingga ia harus memegangi pinggiran sofa kayu untuk menahan tubuhnya agar tidak roboh ke lantai.
Bukan hanya menyembunyikan pernikahan siri, melainkan suaminya telah membawa wanita itu—santri istrinya sendiri—bermalam di dalam fasilitas milik pesantren yang seharusnya menjadi tempat suci, tanpa diketahui oleh satu orang pun di Al-Anwar selama nyaris satu tahun ini.
"Apa kamu bilang...?" Bu Nyai Khadijah menjerit histeris. Beliau menutup mulutnya dengan kedua tangan, tubuhnya terguncang hebat sampai harus dipeluk oleh Naya yang merangkak mendekatinya.
"Kamu... kamu menyembunyikan perempuan itu di ndalem barat selama ini?! Di tanah pesantren ini, Reyhan?!"
Kyai Ahmad tidak lagi mampu membendung rasa murka dan kehormatan keluarga yang telah diinjak-injak oleh putra kandungnya sendiri.
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi kiri Reyhan. Bunyinya bergetar nyaring memantul di dinding ruangan. Kepala Reyhan terlempar ke samping, meninggalkan bekas kemerahan yang seketika mencetak jelas di kulitnya.
Namun kemurkaan Kyai Ahmad tak berhenti sampai di sana. Beliau menarik kerah koko putih putranya, melayangkan pukulan beruntun ke wajah dan dada Reyhan. Pria yang selama ini dipuja-puja sebagai Gus karismatik itu kini meringkuk tak berdaya di lantai, menerima setiap pukulan ayahnya tanpa berani membalas atau mengelak.
"Binatang kamu, Reyhan! Kamu mengotori nama baik pesantren ini! Kamu menginjak-injak harga diri seorang wanita yang Abi amanahkan padamu!" teriak Kyai Ahmad dengan napas memburu dan mata yang memerah penuh amarah.
Bu Nyai Khadijah hanya menangis tergugu di sudut ruangan, memeluk bahu Naya yang berguncang hebat. Beliau sama sekali tidak bergeming atau berusaha mencegah suaminya yang sedang menghajar putra tunggal mereka sampai babak belur di atas karpet. Bagi mereka, dosa dan pengkhianatan Reyhan sudah melampaui batas kepatutan seorang manusia yang memahami agama.
Naya menyandarkan dahinya di pangkuan Bu Nyai Khadijah. Ia memejamkan mata erat-erat, menahan benturan rasa sakit yang teramat sangat. Di tengah riuh suara pukulan, isak tangis mertuanya, dan erangan kesakitan dari pria yang pernah ia cintai, Naya menyadari satu hal dalam keheningan jiwanya.
Pernikahan ini bukan lagi tempatnya untuk mengabdi. Ini adalah kuburan bagi harga dirinya—dan ia harus segera melangkah keluar sebelum ikut mati di dalamnya.
***
apalah arti perasaan anak dara liat cowok ganteng pasti ada suka..tggl cowoknya aja ngeladeni atau cuekin..🤔
dibikin ruwett nyesal akhirnya 🤭😄
sepolos"nya org pasti masih punya hati dan akan berfikir sblm mengambil keputusan yg menyangkut org lain.
kalau kamukan ...begitu dah