Kematian beruntun datang menghantui desa ujung pandang, banyak warga yang meninggal secara mendadak dan akhirnya menimbulkan fitnah kejam di dunia iblis.
Arwah suci bernama Sukma harus membersihkan nama, dia mendapatkan tuduhan keji bahwa dia yang sudah menyebar racun tersebut.
sebab kematian para warga sangat mengerikan dan para dokter juga tidak menemukan ada yang janggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 02. Masih misteri
Kematian Pak Bayan masih menjadi misteri yang begitu mengerikan karena dokter juga sedang menangani dan mereka tidak menemukan keanehan pada makanan yang telah dia makan, terlebih lagi orang tua itu sama sekali tidak memiliki penyakit sehingga mereka merasa bahwa tidak mungkin bila Pak Bayan meninggal dalam keadaan secepat itu tanpa penyebab yang jelas.
Amel yang paling merasa sedih dan juga bersalah karena dia merasa bahwa dirinya adalah penyebab kematian dari kakek dia sendiri, berulang kali menyalahkan diri sendiri karena merasa tidak akan pernah bisa menerima Ini semua dengan hati lapang, padahal Tohir sudah berulang kali mengatakan bahwa itu semua adalah takdir.
Para warga sini malah beranggapan bahwa Pak Bayan meninggal dunia karena serangan jantung, sebab selama ini sudah banyak orang yang meninggal kena serangan jantung dan kondisi tubuh mereka membiru seperti itu sehingga sebagian warga menduga bahwa Pak Bayan meninggal secara mendadak akibat serangan jantung yang telah dia terima.
Namun sebagian lagi malah mengatakan bahwa itu Semua bisa saja karena Pak Bayan kena santet, mereka beranggapan seperti itu karena sebelumnya Pak Bayan telah memiliki hubungan yang buruk dengan Pak Bonar. mereka bertengkar akibat Pak Bonar yang tidak menyadari usia dia dan malah melamar Amel, sehingga mereka bertengkar satu sama lain.
''Aku sih yakin itu gangguan setan dari Pak Bonar!'' ujar Yadi.
''Heh jangan langsung main tuduh saja, nanti malah jadi fitnah.'' jawab Davin.
''Ya terus karena apa kalau bukan santet? kan kau pernah memiliki sesuatu di dalam diri!'' Yadi berkata dengan serius.
''Kalau menurut aku sih itu memang karena serangan jantung biasa sehingga tubuh Pak Bayan jadi membiru.'' Davin tetap serius dengan hal itu.
''Aku sebenarnya juga setuju dengan Yadi, Baru beberapa hari yang lalu dia bertengkar dengan Pak Bonar.'' Pak Dadang juga setuju dengan Yadi.
''Lagian bisa saja kalau itu adalah ulah dari sesuatu yang tidak kita ketahui, lebih baik kita minta tolong saja pada Purnama.'' Revan membuka suara juga.
''Ah tidak enak lah kalau minta tolong sama Purnama terus!'' Yadi tidak setuju dengan usul dari Revan.
''Loh Kenapa tidak enak kan kita memang sedang butuh bantuan!'' Revan mulai merasa kesal dengan tingkah Yadi.
''Kita baru saja merepotkan dia dengan masalah pencuri kepala itu, lalu sekarang mau merepotkan dia lagi?'' Yadi menatap Revan dengan tatapan menusuk.
''Yang hutang budi dengan Purnama tentang masalah pencuri kepala itu kan hanya beberapa keluarga saja, sementara yang lain tidak ada hutang Budi sama Purnama?'' Pak Dadang berkata dengan sengit sehingga membuat Davin merasa kurang suka.
Padahal masalah sebelumnya bukan hanya keluarga yang menjadi korban saja yang menanggung duka atau hutang Budi, tapi seluruh warga yang ada di sini juga merasakan hutang Budi yang begitu besar kepada Purnama, sebab Wanita itu sudah menolong tanpa pamrih sehingga mereka pantas menghargai kebaikan yang dia berikan.
''Lagi pula Purnama tidak akan pernah mau menolong bila kita saling debat satu sama lain seperti ini.'' Davin menatap mereka semua.
Yadi yang mendengar ucapan Davin bukan merasa menyadari bahwa dia telah melakukan kesalahan, tapi justru semakin sengit saja dan dia berjalan mendekati pria itu, Davin sendiri heran kenapa para warga menjadi sibuk sendiri seperti ini setelah mendengar kabar kematian dari Pak Bayan.
''Jangan karena kau pernah dekat dengan dia sehingga bersikap seolah hanya dia mau membantu dirimu!'' Yadi mendorong bahu Davin.
''Aku tidak mengatakan kalau dia hanya mau membantu aku, tapi dengan sikap seperti kau ini maka Aku bersumpah bahwa dia tidak akan pernah mau menolong!'' Davin menjawab lantang.
''Kata Bang Davin itu benar karena Mbak Purnama tidak suka orang sombong!'' Revan ada di pihak Davin.
''Jadi kau sekarang ikut mengatakan bahwa aku adalah orang yang sombong?!'' jadi berganti menatap Revan.
''Bahkan orang gila saja bisa menebak bahwa kau adalah orang yang sombong dan tidak tahu diri.'' Revan menjawab tanpa rasa takut.
''Hei sudah lah, Kenapa harus bertengkar seperti ini karena kita sedang dalam masalah!'' Pak Dadang berusaha menengahi pertengkaran mereka.
''Lagian masalah belum tentu jelas saja sudah ribut seperti ini dan mau melibatkan orang yang tidak biasa!'' Davin menggerutu dan dia melangkah pergi.
Revan segera mengikuti Davin meninggalkan tempat tersebut karena dia tidak ingin bila sendirian di tempat itu dan nanti justru kena keroyok oleh teman Yadi, sebab saat ini para warga memang sedang sibuk sendiri dalam pikiran mereka masing-masing dan tenggelam dalam prasangka semakin dalam saja.
...****************...
"Kalau menurut aku sih dia sakit jantung karena makanan yang dia makan saja tidak ada keanehan.'' Lutfi membuka suara.
"Tapi kan aneh juga kalau masakan Amel malah mengandung racun dan Pak Bayan kena serangan jantung." Intan merasa bingung dengan hal itu.
"Serangan jantung sama makanan beracun ya tidak ada hubungan nya atau sayang ku." Lutfi berkata dengan sabar.
Intan terdiam karena dia merasa ada yang aneh dan terlebih lagi sejak tadi dia terus memperhatikan tubuh Pak Bayan yang menurutnya sangat tidak biasa itu, namun Intan masih bisa menjaga ucapan sehingga dia tidak berbicara sembarangan dan justru nanti akan menimbulkan perdebatan besar.
''Ah Ya sudah mau bagaimana lagi karena nyawa memang tidak ada yang tahu.'' Lutfi menarik nafas panjang.
''Kamu tidak melihat keanehan pada mayat beliau?'' tanya Intan.
''Enggak ada sih, Bahkan aku sama sekali tidak melihat ada iblis yang berani datang mendekat tadi.'' Lutfi berkata serius.
''Jadi bukan karena santet itu kan?'' Intan bertanya untuk memastikan.
Lutfi menggeleng cepat karena dia yakin bahwa itu semua tidak ada sangkut paut dengan yang namanya santet, meski saat ini para warga sedang sangat yakin bahwa itu semua adalah ulah dari Pak Bonar. namun tetap sebagian orang ada yang menyangkal dan Lutfi sendiri juga merasakan bahwa kematian itu terlihat. Namun tetap sebagian orang ada yang menyangkal dan Lutfi sendiri juga merasakan bahwa kematian itu terlihat biasa saja.
''Sudah lah, jangan membicarakan kematian orang lain seperti itu secara terus-menerus.'' Lutfi menasehati sang istri.
''Hemm ya sudah kalau begitu.'' Intan mengangguk dan tidak ada protes lagi.
Sebab dia tahu bahwa Lutfi pasti akan marah besar ketika dia membantah ucapan sang suami, terlebih lagi dia ingin berpikir positif bahwa itu semua pasti hanya kematian biasa karena Pak Bayan juga sudah cukup tua sehingga pasti tubuhnya sangat rentan terkena penyakit, salah satu contoh yang sangat mengerikan adalah penyakit jantung ini.
Selamat siang, jangan lupa like dan komentar nya ya.
penasaran siapa ya yg sudah membangkitkan arwah iis🤔
sudah ku duga pasti member usil ini👻