Indonesia
NovelToon NovelToon
Kaget, Tiba-Tiba Jadi Istri Bos

Kaget, Tiba-Tiba Jadi Istri Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Rizza Khan

Aisha Senjani mahasiswa matematika yang baru menyelesaikan pendidikannya di universitas luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. Setelah kurang lebih sebulan ia mengambil cuti untuk pulang ke tanah air, sejak menyelesaikan pendidikannya ia belum pernah sama sekali pulang kampung. Dihari kepulangannya ternyata di rumah sedang ada acara pernikahan sang kakak, ia tidak tahu sama sekali tentang hal itu.

Namun, sang kakak kabur disaat mempelai Pria dan rombongan sudah datang. Pihak pria tidak ingin membatalkan karena akan merusak nama baik keluarganya. Sehingga sang mempelai meminta Aisha jadi penggantinya.

Apakah Aisha akan menerima perkawinan tiba-tiba ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizza Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Di dalam kamar pengantin yang kacau, Zavran berdiri kaku, menatap tajam pada Ayah Aisha yang mukanya pucat pasi dipenuhi keringat dingin.

"Pak Hendra, dengar saya!" ucap Zavran tegas.

"Keluarga saya, relasi bisnis, dan tamu undangan lainnya sudah memenuhi pelataran depan! Tidak ada cerita pernikahan ini dibatalkan begitu saja! Bapak harus cari solusinya sekarang!"

"Zav—Zavran, tolong..." ratap Ayah seraya menyambar ponselnya dengan tangan gemetar parah.

"Saya... saya coba hubungi Melani lagi!"

Ayah menempelkan ponsel itu ke telinganya. Suara nada sambung terdengar beberapa kali, namun tidak ada jawaban dari ujung sana. Melani benar-benar sengaja mengabaikan panggilannya.

"Tidak diangkat juga, Mas?!" Tanya sang ibu. "Gimana ini, Mas?! Ya Allah..."

Sementara itu, di halaman luar rumah yang disulap menjadi tempat pernikahan megah, sebuah taksi baru saja berhenti tepat di depan gerbang.

Aisha melangkah keluar dari taksi seraya menuntun koper kecilnya. Wajah cantiknya yang sedikit pucat karena kelelahan sisa perjalanan udara belasan jam seketika membeku.

Matanya membelalak menatap tenda megah bernuansa putih-emas, deretan karpet merah, dan papan bunga ucapan selamat yang memenuhi sepanjang jalan.

"Lho... Ada acara apa ini ramai-ramai?" gumam Aisha bingung pada dirinya sendiri.

"Kak Melani nikah? Kok... kok aku nggak dikasih tahu sama sekali?"

Dengan perasaan heran dan asing, Aisha melangkah menembus kerumunan tamu undangan yang berpakaian mewah.

Ia menoleh ke kiri dan ke kanan di antara deretan kursi, mencari keberadaan orang tuanya, namun tak ada satu pun wajah yang ia kenal.

Aisha terus melangkah hingga menembus pintu utama rumah. Di ruang tengah yang dipenuhi dekorasi bunga melati, ia menyapu pandangan seraya menghela napas panjang.

"Assalamu’alaikum... Ayah? Ibu?" panggil Aisha, suaranya mengalun membelah keheningan rumah.

Di atas tangga lantai dua, Ayah yang mendengar suara itu tersentak kaget. Untuk sekelumit detik, Ayah mengira itu Melani yang kembali.

Namun, begitu melangkah ke ambang tangga, matanya membelalak melihat sosok gadis yang berdiri di bawah tangga sambil memegang koper.

"A-Aisha...?" bisik Ayah terperanjat. "Kenapa... kenapa kamu tiba-tiba pulang tanpa kabar?!"

Zavran, Pak Abdullah, dan Ibu ikut melangkah keluar dari kamar. Mereka semua menatap kaget ke arah lantai bawah.

Begitu mata Zavran terkunci pada sosok Aisha, matanya membelalak tak percaya.

Pria itu mengenali garis wajah teduh yang berdiri di bawah sana.

"Kamu...?" desis Zavran.

Aisha mendongak ke atas tangga. Matanya ikut membelalak saat mengenali pria berbeskap pengantin putih yang berdiri tegap di samping orang tuanya.

"Lho... Kamu?" bisik Aisha terperanjat, sebelum melirik Ayahnya yang berwajah tegang.

"Ada apa ini, Yah? Kak Melani nikah? Kenapa Aisha nggak dikasih tahu sama sekali?"

Ayahnya tidak menjawab pertanyaan Aisha.

"Dia putri kamu juga?" tanya Zavran singkat.

Ayah mengangguk cepat seraya mengusap keringat di dahi. "I-iya, Zavran... Ini Aisha, anak saya yang—"

"Oke," potong Zavran tegas.

Zavran melangkah turun menuruni anak tangga dengan cepat. Langkah kakinya yang kencang membuat Aisha refleks mundur. Zavran berhenti tepat di hadapan Aisha.

"Kamu... kamu calon suaminya Kak Melani?" tanya Aisha kebingungan, menatap pria berbeskap di depannya.

"Tadinya iya," sahut Zavran dingin. "Tapi sekarang... tidak lagi."

Zavran lalu mendongak ke atas tangga, menunjuk tepat ke arah Aisha di hadapan Ayah dan Ibunya yang berlari turun.

"Pernikahan hari ini akan tetap dilanjutkan!" tegas Zavran. "Dan pengantin wanitanya... adalah dia!"

Aisha seketika membeku bagai tersambar petir. "Apa-apaan ini?! Saya baru sampai di sini, belum sempat istirahat malah disuruh menikah?!"

"Kamu harus menggantikan kakakmu yang kabur!" bentak Zavran tanpa ekspresi.

"Kabur?!" jerit Aisha mulai panik, "Kak Melani kabur... terus aku yang harus nikah sama kamu?! Jangan harap, ya! Sebelumnya aku sudah bilang jangan pernah bertemu lagi, lihat...apa yang terjadi sekarang?!"

Aisha memutar tubuhnya dengan emosi, menarik kopernya hendak menerobos tangga menuju kamarnya. Namun, dengan gerakan cepat, jemari kekar Zavran mencengkeram pergelangan tangan Aisha kencang.

"Lepas! Kamu tidak bisa memaksa saya begini!" bentak Aisha menyentakkan tangannya.

"Ayah! Ibu! Ini ada apa sebenarnya?! Kenapa Kak Melani kabur?!"

Ayah dan Ibu sampai di bawah tangga. Wajah Ayah mengeras, tatapannya dingin tanpa ada sisa kehangatan untuk putri yang baru saja menginjakkan kaki di rumah.

"Kamu harus nurut sama Ayah, Aisha!" tegur Ayah keras. "Kamu harus gantiin Melani menikah hari ini!"

"Kenapa harus aku?!" jerit Aisha. "Aku baru pulang, Yah! Nggak bisa begini!"

"Tutup mulut kamu dan nurut kata orang tua!" bentak Ayah dengan mata membelalak marah.

"Kenapa?! Kenapa Ayah tega banget melakukan ini sama aku?!" suara Aisha bergetar hebat, keputusasaan dan rasa sakit yang bertahun-tahun ia pendam meledak seketika.

"Melani mau nikah, nggak ada seorang pun yang kasih tahu aku! Sekarang dia kabur, dan aku yang harus gantiin dia?! Aku pulang bukan untuk jadi pengantin pengganti, Yah!"

Aisha melangkah maju.

"Kenapa? Kenapa Melani bisa kabur?! Kalau dia tidak mengiginkan pernikahan ini, kenapa kalian memaksanya?!"

"Tutup mulut kamu, Aisha!" bentak Ayah murka. "Semua ini juga gara-gara kamu!"

"Salah aku?!" Ulang Aisha.

"Aku baru saja mendarat di tanah air, nggak tahu apa-apa tentang semua ini, dan sekarang, salah aku?! Aku kurang apa lagi sama kalian, Yah?! Selama ini aku berusaha mati-matian membahagiakan kalian!"

Napas Aisha memburu, ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis.

"Meskipun kalian nggak pernah tanya kehidupan aku di sana bagaimana, aku tetap selalu kirim uang buat kalian! Kalian nggak tahu betapa kesepiannya aku di daerah orang! Tapi sekarang aku yang disalahkan?! Apa... apa salah aku, Yah?!"

Zavran yang berdiri di samping Aisha seketika tertegun. Pria berhati dingin itu membelalak melihat luapan emosi Aisha.

Gadis yang dulu pernah menolongnya , kini berdiri hancur di depannya, menyimpan luka yang begitu kelam di balik senyum bahagianya.

"Ayah tahu alasan aku mati-matian ingin kuliah di luar negeri?!" seru Aisha.

"Karena kalian cuma peduli sama Melani! Sedangkan aku... aku selalu kalian abaikan! Dan sekarang, kesalahan Melani... aku yang harus menanggung?!"

Aisha menggelengkan kepalanya keras.

"Jangan paksa aku menikah dengan pria yang tidak aku inginkan!"

PLAK!

Suara tamparan keras memecah udara ruang tengah. Kepala Aisha terlempar ke samping. Pipi kirinya seketika merona merah dan terasa panas menyengat.

Suasana ruangan mendadak hening mencekam. Zavran tersentak kaget, tak menyangka Ayah Aisha tega memukul putrinya di depan orang lain.

Aisha perlahan membetulkan posisi kepalanya. Ia mengusap pipinya yang panas, lalu mengulas senyum picik yang penuh dengan kegetiran.

"Oh... sekarang sudah bisa main tangan?" bisik Aisha dengan suara dingin yang bergetar.

"Kenapa kalian cuma berani sama aku?! Kenapa hal yang sama nggak pernah kalian lakukan sama Melani?!"

"Karena Melani tidak salah!" bentak Ayah tanpa rasa menyesal sedikit pun. "Semua ini terjadi karena kamu! Kenapa kamu menolak Adit dulu?!"

"Adit...? Apa hubungannya sama Adit?"

"Kamu tahu apa yang Adit lakukan pada kakakmu?!" teriak Ayah frustrasi. "Dia menghamilinya!"

Deg!

Ruang tengah mendadak senyap. Zavran membelalak tajam, menoleh kasar ke arah Ayah Aisha.

"Jadi kalian berbohong pada saya?!" potong Zavran. "Semua pernikahan ini... hanya untuk menutupi kehamilan putri Anda?!"

Ayah Aisha membisu, wajahnya makin pucat pasi menyadari rahasianya terbongkar di depan Zavran.

Aisha tertawa hambar, tawa pahit yang dipenuhi rasa tidak percaya.

"Terus... dia yang hamil, aku yang salah?! Itu salah dia sendiri karena kebodohannya!"

Aisha menatap Ayahnya dengan tatapan menantang.

"Ayah mau tahu kenapa aku menolak Adit dulu?! Karena aku tahu Melani menyukainya! Sebelum Adit menyatakan cinta sama aku, Melani sudah duluan bilang kalau dia cinta sama Adit!" jelas Aisha berapi-api.

"Aku sudah mengalah dan berkorban, Yah! Aku tahu kalau aku terima Adit, kalian pasti bakal tuduh aku merebut Adit dari Melani! Tapi apa?! Dia sendiri yang bodoh mau menyerahkan dirinya pada laki-laki itu!"

Ayah Aisha mengepalkan tangannya rapat-rapat, mengabaikan kenyataan pahit itu.

"Ayah tidak mau tahu, Aisha! Kamu harus menggantikan Melani menikah hari ini!"

Aisha mematung. Tatapannya pada Ayah dan Ibunya perlahan redup, menggantikan semua amarah dengan keputusasaan yang teramat pekat.

"Oke..." bisik Aisha datar.

"Sepertinya kalian memang tidak pernah menginginkan kehadiranku di rumah ini." lanjutnya.

"Aku pikir... kepulanganku kali ini bisa disambut dengan penuh haru... Tapi ternyata aku terlalu berharap."

Aisha lalu memutar tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Zavran yang kelam.

"Baiklah," ucap Aisha. "Aku akan menikah dengan pria ini!"

1
Rian Moontero
mampiir👍
Rizza: Makasih udh mampir Kak🙏 semoga suka ceritanya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!