Indonesia
NovelToon NovelToon
Ibu Susuan Sang Mafia

Ibu Susuan Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Action
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Suhada Bintan

Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.

Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.

Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Pukul sudah menunjukkan angka tiga pagi. Di dalam ruang perawatan intensif yang sunyi, Dikta masih setia di posisinya. Ia tidak bergerak sedikit pun dari kursi plastik yang keras di samping inkubator. Kelingkingnya masih digenggam erat oleh jari-jari mungil Arkan yang terasa begitu panas akibat demam yang belum juga mereda.

Pintu ruangan bergeser pelan. Dokter Gunawan kembali masuk untuk melakukan pemeriksaan berkala. Ia membawa peralatan medis, bersiap memeriksa cairan infus dan menyuntikkan obat penurun panas tambahan untuk Arkan.

"Bagaimana kondisinya, Dok? Kenapa panasnya belum turun juga?" tanya Dikta. Suaranya terdengar sangat lelah, parau akan kecemasan seorang ayah.

Dokter Gunawan memeriksa termometer digital, lalu menatap Dikta dengan pandangan teduh. "Sabar, Pak Dikta. Obatnya butuh waktu untuk bekerja di dalam tubuh Den Arkan. Kita harus memberikan tubuh kecil ini waktu untuk melawan virusnya."

Dokter Gunawan melirik ke arah saku jas Dikta yang menyembul, memperlihatkan ujung kain abu-abu. "Saya mendengar kabar dari perawat di depan. Anda memerintahkan anak buah Anda untuk menghentikan semua aktivitas malam di luar? Apakah itu benar?"

Dikta mengangguk pelan. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan potongan kain jilbab abu-abu milik Arini. Ia meletakkannya di atas meja kecil samping inkubator. Kain itu sudah mengering, meninggalkan noda bekas air sungai yang keruh.

"Benar, Dok. Saya sudah selesai dengan dunia itu. Dunia hitam yang hanya membuat orang ketakutan dan menyimpan dendam. Saya tidak ingin Arkan tumbuh dari uang yang tidak jelas. Saya tidak ingin tangan anak ini kelak ikut berdarah seperti tangan ayahnya."

Dokter Gunawan menghentikan gerakannya sejenak, menatap lekat-lekat Dikta. "Keputusan yang Anda ambil itu sudah benar, Pak. Sangat benar. Tapi... apakah Anda yakin? Musuh-musuh Anda di luar sana selalu mengintai. Mereka pasti akan berusaha mencari celah untuk menghancurkan Anda saat Anda lengah."

"Saya tidak peduli lagi dengan mereka, Dok," jawab Dikta tegas, matanya berkaca-kaca menatap Arkan. "Kalau mereka berani menyentuh anak ini, saya sendiri yang akan menghadapi mereka dengan cara apa pun. Saat ini, hanya Arkan yang saya miliki di dunia ini. Saya tidak ingin orang yang saya sayangi pergi lagi dari hidup saya."

Dokter Gunawan menghela napas panjang sambil memeriksa selang infus Arkan. "Lalu, bagaimana dengan masalah Ibu Arini? Apa Anda masih tetap bersikeras untuk mencarinya? Saya hanya khawatir...hal itu bisa merusak fokus Anda untuk merawat Den Arkan."

Dikta terdiam sesaat. Pandangannya beralih dari Dokter Gunawan ke potongan jilbab itu. Genggaman jari Arkan di kelingkingnya terasa seperti jangkar, menahan tubuhnya yang ringkih agar tidak tumbang.

"Arini adalah penyelamat anak saya, Dok," bisik Dikta, suaranya tercekat di tenggorokan. "Dialah wanita pertama yang tulus mengurus Arkan. Bahkan rela mengorbankan nyawanya hanya untuk bisa menyusui Arkan lagi. Jujur, saya mengaguminya, Dok. Hati saya menolak percaya kalau dia sudah tiada. Saya tahu sungai itu arusnya sangat deras malam itu, tapi naluri saya mengatakan dia masih bernapas di suatu tempat. Dia harus kembali, demi Arkan."

"Pak Dikta, kadang menerima kenyataan pahit itu memang berat," ujar Dokter Gunawan dengan lembut.

"Yang dikatakan Dokter memang benar," potong Dikta cepat, mengusir rasa sesak di dadanya. "Fokus utama saya saat ini adalah Arkan. Saya tidak akan mengabaikan nyawa anak saya begitu saja. Meskipun Arini tidak ada di sini, saya berjanji akan melanjutkan tugas ini, meski nyawa saya sendirian yang menjadi taruhannya."

Dokter Gunawan tersenyum tipis, merasa kagum sekaligus terharu melihat transformasi drastis pria di hadapannya. Ia menepuk bahu tegap Dikta yang malam ini tampak begitu rapuh.

"Sikap yang bijaksana, Pak Dikta. Kebaikan Ibu Arni ternyata membuka hati Anda. Saya yakin, jika Ibu Arini ada di sini, beliau pasti bangga memiliki majikan seperti Anda.'

"Terima kasih, Dok. Terima kasih karena sudah merawat Arkan dengan sangat baik," ucap Dikta tulus.

"Sudah menjadi tugas saya. Kalau begitu, saya izin keluar. Ingat, jaga kesehatan Anda. Den Arkan tidak butuh Ayah yang kuat secara fisik saja, melainkan hati juga. Jika ada perubahan pada monitor, segera panggil suster," pamit Dokter Gunawan.

"Baik, Dok."

Pintu ruangan tertutup rapat, menyisakan kesunyian yang kembali mencekam di dalam ruangan ICU. Dikta menatap potongan kain di atas meja dengan tatapan kosong. Kata-kata Dokter Gunawan tentang 'musuh yang mengintai' terus terngiang di kepalanya bak kutukan.

Tepat saat Dikta hendak memejamkan matanya yang mulai berat karena mengantuk, ponsel di saku celananya bergetar hebat. Sebuah nomor tidak dikenal memanggil. Awalnya, ia ragu untuk mengangkat. Namun firasat buruk mendadak menyengat kesadarannya. Ia melepaskan jari Arkan dengan sangat pelan, lalu berjalan ke sudut ruangan dekat jendela.

"Halo, Dikta..." Sebuah suara berat di seberang sana tertawa renyah. Suara serak yang sangat Dikta kenali sebagai Carlos, rival terbesarnya di dunia bawah. "Kudengar sang serigala malam sudah memotong taringnya sendiri demi seekor anak anjing yang sekarat? Sungguh pemandangan yang mengharukan hingga ingin membuatku menangis."

Dikta mengepalkan tinjunya dengan kuat, rahangnya mengeras. "Carlos. Dari mana kau tahu nomor ini?"

"Oh, ayolah, Dikta. Jangan naif. Tidak ada rahasia yang terkubur selamanya di kota ini," jawab Carlos di seberang telepon dengan nada meremehkan. "Berita tentang ibu susuan anakmu yang melompat ke sungai dan bayimu yang sekarat di rumah sakit sudah menyebar ke seluruh penjuru distrik. Semua orang tahu kau sedang lemah dan kehilangan arah."

"Jangan berani-berani kau mengusik urusan keluargaku, Carlos!" desis Dikta, menahan suaranya agar tidak menggelegar. "Jika kau punya masalah denganku, hadapi aku secara jantan. Jangan libatkan bayiku!"

"Hahaha! Jantan? Sejak kapan bisnis kita mengenal kata jantan, Dikta?" Carlos tertawa puas. "Kau yang memulai perang ini dengan menghancurkan jalur pasokan kami beberapa bulan yang lalu. Dan sekarang, saat kau menyatakan ingin pensiun dan menutup bisnismu karena masalah bayi dan ibu susuannya itu? Kau pikir semudah itu? Kau berutang banyak darah pada kami."

"Aku tidak takut padamu, Carlos. Bisnis itu sudah ku tutup, dan semua aset ilegal sudah ku hancurkan. Jika kau berani melangkah satu senti saja ke rumah sakit ini, aku bersumpah akan mengirim kepalamu ke markas mu sendiri," ancam Dikta dengan nada dingin yang mematikan.

"Kita lihat saja seberapa kuat taringmu tanpa anak buahmu, Dikta. Nikmati malam terakhirmu dengan bayimu yang penyakitan itu," ucap Carlos sebelum memutus sambungan telepon secara sepihak.

Dikta menurunkan ponselnya dengan napas yang memburu. Matanya menatap tajam ke luar jendela rumah sakit yang gelap. Firasatnya benar, badai belum usai. Dunia hitamnya tidak akan membiarkannya pergi begitu saja tanpa tebusan darah.

Sementara itu, di sebuah warung kopi kosong beberapa kilometer dari rumah sakit, tiga anak buah kepercayaan Dikta sedang berkumpul di bawah temaram lampu jalan. Billy duduk dengan wajah cemas, sementara Hendra dan Marco berdiri sambil menghisap rokok dalam-dalam.

"Apa? Pak Dikta benar-benar ingin menghentikan bisnis yang telah dibangunnya dengan susah payah selama bertahun-tahun ini?!" Billy berteriak tertahan, matanya terbelalak menatap Marco yang baru saja menyampaikan perintah sang bos.

"Kecilkan suaramu, Billy! Kau ingin seluruh mata-mata musuh mendengar kita?" bentak Hendra sambil menepuk keras kepala Billy dengan telapak tangan jasnya.

"Aduh! Sakit, Hendra!" keluh Billy sambil mengusap kepalanya. "Tapi aku serius, Marco. Apa Pak Dikta sedang kehilangan arah karena hilangnya Ibu Arini, wanita yang menyusui Den Arkan itu? Sebelumnya beliau tidak pernah bersikap selembek ini. Bisnis kita ini menghasilkan miliaran tiap bulan!"

Marco menghela napas, bersandar pada pilar kayu warung. "Ini bukan sekadar soal hilangnya Ibu Arini, Billy. Ini soal masa depan Den Arkan. Pak Dikta tidak ingin anaknya menanggung dosa-dosa kita di masa lalu dari uang haram. Beliau ingin memulai lembaran baru yang bersih demi bayinya yang sedang berjuang hidup-mati di dalam inkubator."

Billy terdiam sejenak, lalu menunduk. "Tapi... kalau aku boleh jujur, aku sebenarnya sangat senang dengan langkah yang dipilih Pak Dikta. Aku sudah lelah hidup dikejar-kejar polisi dan musuh. Aku ingin tidur nyenyak tanpa perlu menaruh pistol di bawah bantal."

Hendra kembali menatap Billy dengan pandangan gusar. "Kau senang? Dasar bodoh! Dengarkan aku, Pengecut! Jika bisnis itu ditutup total, bagaimana dengan nasib ratusan anak buah kita yang lainnya? Anak buah Pak Dikta di jalanan itu rata-rata tidak memiliki ijazah sekolah. Mereka hanya bermodalkan nyali dan kesetiaan pada bos. Tidak seperti kau yang punya gelar tapi bermental penakut!"

"Lalu kita harus bagaimana, Ketua Keamanan yang berani? Kita tidak bisa menentang perintah langsung dari Pak Dikta," sahut Billy membela diri.

"Hendra benar, situasinya tidak sesederhana itu," potong Marco dengan nada serius, membuat kedua pria itu menoleh padanya. "Carlos dan kelompoknya sudah mulai bergerak. Mereka tahu Pak Dikta sedang memusatkan seluruh perhatiannya di rumah sakit semenjak musibah yang menimpa Ibu Arini. Tadi malam, salah satu gudang logistik lama kita di perbatasan distrik barat sudah diintai oleh orang-orang Carlos."

Hendra langsung membuang puntung rokoknya dan menginjaknya hingga padam. "Sudah kuduga bajingan itu akan memanfaatkan kesempatan ini! Marco, apa perintah Pak Dikta jika musuh mulai menyerang?"

"Pak Dikta bilang, siapa pun yang berani mengganggu ketenangan Arkan atau mencoba memanfaatkan situasi ini, harus dihabisi tanpa sisa. Beliau tidak akan menahan diri lagi jika menyangkut keselamatan anaknya," jawab Marco tegas.

Hendra tersenyum seringai, memutar lehernya hingga berbunyi. "Bagus. Itu baru bos kita yang kukenal. Kumpulkan semua anak-anak yang masih setia. Kita perketat penjagaan di seluruh area rumah sakit secara senyap. Jangan sampai ada satu lalat pun kiriman Carlos yang bisa lolos masuk ke ruang ICU tempat Den Arkan dirawat."

"Bagaimana denganku?" tanya Billy ragu-ragu.

Hendra menepuk bahu Billy dengan kasar hingga pria muda itu meringis. "Kau ikut aku ke garis depan. Siapkan mental penakutmu itu menjadi mental pelindung malam ini, Billy. Jika rumah sakit itu sampai ditembus oleh orang-orang Carlos, kita semua tidak akan punya tempat lagi untuk pulang di dunia ini."

Marco mengangguk setuju. "Ingat, tugas kita adalah menjadi perisai tak terlihat untuk Pak Dikta dan Den Arkan. Jangan buat keputusan pensiun bos kita ternoda oleh darah anaknya sendiri atau kehilangan jejak Ibu Arini sepenuhnya. Bergerak sekarang!"

Ketiga pria itu segera membubarkan diri ke dalam kegelapan malam, bersiap menyongsong gesekan berdarah yang mulai membayangi koridor rumah sakit tempat Dikta dan bayinya berada.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!