Kiamat zombie mungkin itu hanya cerita film dan dalam buku. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi?
Itu yang dirasakan oleh Hayden Vihaan pria berusia dua puluh lima tahun yang terjebak dalam kiamat zombie. Dia yang dari dulu di rawat oleh kakeknya seorang ilmuan sudah memang mempersiapkan semuanya. Kendaraan yang bisa di tumpangi enam orang di sulap menjadi mobil ajaib yang memiliki sistem pertahanan yang kuat. Tidak hanya mobilnya tapi villa yang memiliki bangker dan pertahanan sama kuatnya.
Bagaimana cerita selanjutnya yuk simak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Penyatuan dua keluarga ini mengubah villa tua di tengah hutan cemara menjadi sebuah komunitas tersembunyi yang solid. Kehadiran Karl dan Mery memberikan hembusan napas baru serta rasa aman yang selama ini menghilang dari hati Fiora dan Hayden.
Di bawah tanah, Dr. Helena dan Karl menggabungkan pengetahuan sains serta data teknologi siberinetik Aegis untuk membangun *Laboratorium Suaka*. Mereka menciptakan sistem pemantauan biologis non-invasif: pemindai halus berbentuk gelang khusus yang dipasangkan pada pergelangan tangan Nico dan Hayra. Gelang ini memantau kadar kestabilan hormon, detak jantung, serta pendaran mutasi seluler secara *real-time*, memberikan peringatan dini jika ada lonjakan adrenalin yang berpotensi memicu racun *Genesis-X* di dalam darah mereka.
Di lantai atas, suasana villa menjadi jauh lebih hidup dan hangat. Leo dan Maya dengan cepat menyambut Nico kecil ke dalam barisan anak-anak. Meski Nico memiliki iris mata berwarna merah kristal yang mencolok, Leo dan Maya tidak pernah menganggapnya asing. Leo, yang bercita-cita menjadi pelindung keluarga, dengan telaten mengajari Nico cara membaca dan menggambar, sementara Maya selalu berbagi mainan kayu buatannya.
Bagi Fiora dan Mery, hari-hari yang mereka lewati dipenuhi oleh rasa saling menguatkan. Setiap sore, saat angin dingin berembus menembus pepohonan cemara, kedua ibu itu duduk di teras seraya mengawasi Hayra yang berada di ayunan dan Nico yang bermain di halaman rumput.
"Dulu, aku berpikir kehidupan kita sudah berakhir saat racun itu terdeteksi di darah Hayra," bisik Fiora pelan, menatap Mery dengan senyum yang kini jauh lebih tenang.
Mery memegang jemari Fiora, mengangguk lembut. "Ketakutan itu tidak akan pernah benar-benar hilang, Fiora. Tapi melihat mereka tumbuh bersama, tersenyum, dan saling melindungi... itu memberi tahu kita bahwa mereka bukan ancaman. Mereka adalah bukti bahwa kehidupan selalu punya cara untuk bertahan."
Sementara itu, di perimeter luar hutan, Hayden, Karl, dan Dion rutin melakukan patroli taktis. Tangan bio-mekanik Karl dan keahlian peretasannya dipadukan dengan jebakan sensorik buatan Dion, membuat jaringan pertahanan villa menjadi hampir mustahil untuk ditembus oleh pihak luar.
Suatu malam, ketika anak-anak telah tertidur lelap dan seluruh isi rumah diselimuti keheningan, Hayden dan Karl berdiri di menara pemantau atap villa. Angin malam bertiup kencang membawa aroma embun tanah dan pinus.
"Pemindai satelitku menangkap beberapa pergerakan frekuensi asing di Sektor Barat kemarin," ujar Karl seraya menyesap kopi hangatnya, mata siberinetiknya berkilat tipis di kegelapan. "Sisa-sisa faksi Aegis yang tersisa mulai berkoalisi dengan milisi tentara bayaran. Mereka berburu spesimen hibrida murni untuk menciptakan senjata generasi baru."
Hayden menatap lurus ke arah kegelapan hutan di bawah sana, memegang senapan serbunya dengan cengkeraman mantap.
"Biarkan mereka mencari," balas Hayden dingin dan tenang. "Dunia di luar sana mungkin berpikir masa depan ditentukan oleh siapa yang memegang senjata paling mematikan. Tapi di rumah ini, kita memegang sesuatu yang jauh lebih kuat dari itu."
Hayden menoleh menatap jendela kamar lantai atas tempat Fiora, Hayra, dan anak-anak tidur nyenyak dalam perlindungan mereka.
"Anak-anak kita bukan senjata mereka, Karl. Dan kita akan memastikan mereka tumbuh cukup kuat untuk menentukan takdir mereka sendiri."
Karl menyunggingkan senyum tipis yang jarang terlihat, menepuk bahu Hayden. Di tengah isolasi dan ancaman yang terus mengintai dunia luar, sebuah benteng harapan dan keluarga yang utuh telah berdiri teguh di balik rimbunnya hutan cemara.