Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.
Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.
Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.
Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17
Pagi hari di pertengahan minggu menyambut SMA Garuda dengan kesibukan baru. Pengumuman pembagian kelompok untuk Program Mentoring & Orientasi Perguruan Tinggi resmi ditempel di papan informasi utama gedung kelas XII. Program yang dipimpin langsung oleh Gabriel ini mewajibkan setiap kelompok menyusun proposal riset mini sebagai syarat kelulusan pembekalan.
Kirana berdiri di depan papan pengumuman bersama Maya, berdesak-desakan dengan puluhan murid lainnya.
"Aduh, Kir, sumpah deg-degan banget! Moga-moga kita sekelompok!" seru Maya sambil berjinjit mencari namanya.
Mata Kirana menyusuri deretan nama di kertas putih tersebut. "Kelompok 3... Maya, Rendy, Bagas, Farhan." Kirana menoleh ke Maya. "Lo sekelompok sama Rendy, May."
"Lah, lo masuk kelompok mana, Kir?" tanya Maya celingukan.
Kirana kembali mencari namanya dan menemukan namanya tertera di bagian paling atas Kelompok 1… Kirana, Kenan Alister, Clarissa, dan Gabriel Wijaya (selaku Mentor Pendamping Langsung).
Kirana tertegun. "Astaga! Gue sekelompok sama Kenan, Clarissa... dan Kak Gabriel batinnya menjerit panik. Nama nama itu seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.
"Gila..." gumam Maya membelalak. "Kelompok lo isinya para petinggi semua, Kir! Ada Ketos, mantan Waketos, sama Mas Mentor tampan! Bener-bener kelompok elit!"
Kirana hanya bisa menghela napas panjang. " Dari sudut koridor, ia melihat Kenan sedang berjalan mendekat dengan membawa lembar arsip OSIS. Mata Kenan sempat melirik ke papan pengumuman, lalu menatap Kirana sekilas dengan raut wajah yang sulit diartikan sebelum berlalu menuju ruang guru.
.....
Sore harinya, sesi pertemuan pertama Kelompok 1 diadakan di ruang perpustakaan yang sepi. Meja kayu panjang di sudut ruangan menjadi tempat berkumpulnya empat orang dengan dinamika paling rumit di SMA Garuda tersebut.
Gabriel duduk di ujung meja sebagai mentor pendamping, membuka laptopnya dengan sikap sangat profesional. Di sebelah kirinya duduk Kirana, sementara Kenan duduk tepat di seberang Kirana. Clarissa yang baru saja menyelesaikan masa skorsingnya duduk di samping Kenan, bersikap jauh lebih tenang dan irit bicara dari biasanya, walau tatapannya pada Kirana masih menyimpan aura tidak suka.
"Oke, selamat sore semuanya," buka Gabriel dengan senyuman hangat yang netral. "Sebagai awal dari proyek riset mini Education Exchange, kelompok kita bakal fokus pada topik 'Manajemen Konflik dan Efektivitas Organisasi Siswa'. Karena Kenan di sini adalah Ketua OSIS dan Clarissa mantan pengurus, topik ini bakal sangat relevan."
Kenan melipat tangannya di dada, menatap Gabriel datar. "Topiknya bagus. Tapi untuk pembagian tugas, saya sarankan disesuaikan dengan kapasitas masing-masing agar risetnya objektif."
"Tentu," sahut Gabriel santai. Ia lalu memutar layar laptopnya ke arah Kirana. "Kirana, karena lo punya kemampuan analisis narasi yang bagus di divisi mading, gue mau lo pegang bagian studi kasus dan penyusunan kuesioner utama."
"Eh... iya, Kak. Bisa," jawab Kirana pelan sambil mencatat di buku tulisnya.
"Gue bakal bantu Kirana buat menyusun variabel kuesionernya," potong Kenan cepat, suaranya tenang namun penuh penekanan. "Sebagai Ketua OSIS, data internal organisasi ada di tangan gue, jadi bakal lebih cepat kalau Kirana dikelompokkan langsung sama gue buat bagian ini."
Gabriel menatap Kenan, mengulas senyum tipis yang sarat akan makna. "Gak masalah, Kenan. Makin cepat penyusunannya makin bagus. Tapi karena ini proyek pembekalan luar negeri, gue sebagai mentor tetap bakal melakukan review berkala untuk draft yang dibuat Kirana."
Clarissa yang memperhatikan interaksi tersebut memutar matanya malas, namun ia memilih diam dan sibuk mencoret-coret kertasnya sendiri. Sejak insiden fitnah ujian kemarin, Clarissa tahu betul posisinya di sekolah sedang diawasi ketat oleh pihak kedisiplinan, sehingga ia tidak berani memicu masalah baru secara terang-terangan.
Sesi diskusi berlangsung selama satu jam. Di balik sikap profesional yang ditunjukkan Gabriel dan Kenan di depan meja riset, Kirana bisa merasakan ketegangan yang sangat pekat di antara kedua cowok itu. Setiap kali Gabriel menjelaskan materi dan menyentuh pelan bahu atau meja dekat Kirana, Kenan akan langsung memotong pembicaraan dengan argumen teknis yang sangat tajam dan logis.
....
Pukul 17.00 WIB, perpustakaan mulai dikosongkan. Clarissa pamit pulang lebih dulu, disusul oleh Gabriel yang harus menghadiri rapat evaluasi bersama Pak Suryo di ruang Kepala Sekolah.
Tinggallah Kenan dan Kirana berdua di sudut perpustakaan, merapikan buku-buku referensi yang berserakan di atas meja kayu.
"Kenan..." panggil Kirana pelan saat menyusun tumpukan jurnal.
Kenan yang sedang memasukkan laptopnya ke dalam tas tidak menyahut secara lisan, hanya bergumam pendek.
"Hm?"
"Lo tadi di depan Kak Gabriel beneran tegang banget," bisik Kirana mendekati suaminya. "Risetnya kan cuma proyek sekolah biasa, gak usah terlalu tegang gitu napa."
Kenan menghentikan gerakan tangannya, mendongak menatap Kirana. "Gue gak tegang. Gue cuma memastikan dia gak memakai posisi mentornya buat mengambil kesempatan."
Kirana menahan tawa kecil melihat wajah cemberut terselubung milik Ketua OSIS-nya. Kirana merogoh saku roknya, mengeluarkan sebutir permen rasa mint, lalu menyodorkan nya ke depan bibir Kenan.
"Nih, makan permen dulu biar dingin otak lo," goda Kirana manis.
Kenan menatap permen itu, lalu menatap mata Kirana. Tanpa mengambil permen dengan tangannya, Kenan justru sedikit menunduk dan menerima permen itu langsung dari jemari Kirana menggunakan bibirnya, membuat jemari Kirana sempat menyentuh bibir hangat Kenan sekilas.
DEG!
Pipi Kirana seketika merona merah padam oleh tindakan mendadak suaminya. Kirana dengan cepat menarik tangannya kembali, celingukan panik ke sekeliling perpustakaan.
"Kenan! Ini di sekolah!" bisik Kirana setengah menjerit panik.
Kenan mengunyah permen mint tersebut dengan raut wajah tanpa dosa, sedikit menyunggingkan senyum tipis yang amat tampan.
"Pintu perpustakaan udah dikunci sama petugas dari luar lima menit lalu. Kita cuma berdua."
"Tetap aja!" omel Kirana salah tingkah, cepat-cepat menyambar tas sekolahnya. "Ayo pulang! Gue kangen masak mie telor!" ucapnya dengan penuh semangat.
"Gak ada mie telor," pangkas Kenan berdiri tegap, mengalungkan tangan kirinya di bahu Kirana dengan santai saat mereka berjalan menuju pintu belakang perpustakaan. "Malam ini jadwal lo makan sayur dan ayam panggang. Gue yang masak."
Kirana merengut kesal, namun dalam hatinya ia merasa senang atas perhatian Kenan.
Malam harinya di rumah minimalis dua lantai mereka, dapur kembali dipenuhi oleh aroma harum masakan.
Kenan yang hanya mengenakan kaos polos abu-abu dan celana santai sibuk membalik potongan daging ayam di atas wajan panggangan, sementara Kirana duduk di atas konter dapur sambil mengayun-ayunkan kakinya, bertugas memotong sayuran.
"Kenan," panggil Kirana di tengah deru suara panggangan.
"Kenapa?"
"Soal Kak Gabriel... dia beneran gak ada ngomong apa-apa lagi kan sama lo?" tanya Kirana berhati-hati.
Kenan mematikan kompor, memindahkan ayam panggang ke atas piring saji dengan telaten. "Gak ada. Dia tahu batasan di sekolah."
Kenan melangkah mendekati tempat Kirana duduk, berdiri tepat di antara kedua kaki Kirana yang menggantung. Kenan meletakkan kedua tangannya di pinggir konter, mengurung Kirana dengan jarak yang sangat dekat.
"Tapi lo juga harus ingat janji lo," bisik Kenan, menatap lurus ke dalam manik mata Kirana.
"Jangan pernah jalan berdua aja sama dia, walaupun itu untuk urusan revisi riset kelompok."
Kirana menatap wajah tampan suaminya yang berjarak sangat dekat itu. Kirana mengulurkan kedua tangannya, melingkar kan di leher tegap Kenan dengan manja.
"Ck, iya posesif amat sih suami gue ini," goda Kirana lembut.
"Gue kan udah bilang, fokus gue sekarang cuma lulus ujian dan kuliah di tempat yang sama kayak lo. Gue gak ada pikiran buat dekat sama cowok mana pun."
Kenan menatap bibir Kirana yang mengumbar senyum manis tersebut. Perlahan, Kenan mendekatkan wajahnya dan mendaratkan ciuman lembut di bibir Kirana sebuah ciuman yang hangat, dalam, dan dipenuhi rasa kepemilikan yang utuh. Kirana memejamkan mata, membalas ciuman suaminya dengan penuh kehangatan di tengah keheningan malam rumah mereka.
...
Keesokan harinya di sekolah, pengumpulan draf awal riset kelompok dimajukan oleh pihak yayasan.
Kirana yang bertugas membawa berkas kuesioner Kelompok 1 berjalan menyusuri koridor lantai dua menuju ruang transit mentor. Kenan sedang menghadiri rapat paripurna OSIS di aula utama, sehingga Kirana terpaksa menyerahkan berkas itu sendirian.
Tok! Tok! Tok!
Kirana mengetuk pintu ruang transit.
"Masuk," suara Gabriel terdengar dari dalam.
Kirana menggeser pintu ruangan. Gabriel sedang duduk di meja kerjanya yang dipenuhi tumpukan dokumen dan laptop. Gabriel menyunggingkan senyum hangat begitu melihat kehadiran Kirana.
"Eh, Kirana. Masuk, Ran," panggil Gabriel ramah.
Kirana berjalan mendekati meja, meletakkan map berisikan draf riset kuesioner. "Ini draf kuesioner Kelompok 1, Kak. Udah diperiksa dan dirapikan sama Kenan tadi pagi."
Gabriel menerima map tersebut, membolak-balik halamannya sekilas. "Bagus. Penyusunannya sangat sistematis. Khas gaya kerja Kenan."
Gabriel lalu menatap Kirana, merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah amplop surat berwarna putih polos. Ia meletakkannya di samping map riset.
Kirana mengernyit bingung. "Ini apa, Kak?"
"Ini formulir rekomendasi beasiswa penuh untuk program Pre-University di Berlin," jawab Gabriel tenang. "Gue sendiri yang mengajukan nama lo ke pihak yayasan kemarin."
Kirana membelalakkan mata kaget. "Hah?! Beasiswa ke Jerman?! Tapi Kak, gue kan gak pernah mendaftar program itu!"
"Gue tahu," kata Gabriel lembut, menatap Kirana dengan pandangan yang dalam. "Tapi ini kesempatan emas buat masa depan lo, Ran. Kampus di sana punya fasilitas terbaik buat jurusan sastra dan komunikasi yang lo impikan. Gue cuma mau ngasih lo jalan buat meraih cita-cita lo yang sebenarnya."
Kirana terdiam, lidahnya mendadak kaku. Impian kuliah di luar negeri memang pernah menjadi cita-citanya dulu sebelum keadaan ekonomi familinya memburuk dan sebelum pernikahan rahasianya bersama Kenan terjadi.
"Gue... gue gak bisa terima ini, Kak," tolak Kirana pelan namun tegas, menggeser kembali amplop tersebut ke arah Gabriel. "Gue udah punya rencana kuliah sendiri di dalam negeri."
Gabriel menatap Kirana.
"Rencana kuliah di dalam negeri... atau rencana untuk tetap berada di dekat Kenan?"
Dada Kirana berdebar kencang menerima pertanyaan menohok itu.
"Kirana," panggil Gabriel dengan nada suara yang amat jujur dan penuh kepedulian. "Gue tahu lo dan Kenan udah nikah. Tapi lo baru 17 tahun. Masa depan lo masih sangat panjang. Apa lo yakin mau mengorbankan impian besar lo cuma demi menjaga pernikahan dini yang penuh dengan rahasia dan tekanan di sekolah ini?"
Kalimat Gabriel seperti hantaman ombak yang mengoyak ketenangan pikiran Kirana.
Tepat saat Kirana hendak menyahut, pintu ruang transit mendadak terbuka lebar dari luar.
Brak!
Kenan berdiri di ambang pintu dengan nafas yang sedikit memburu. Rupanya rapat OSIS baru saja usai dan Kenan langsung mencari keberadaan istrinya. Pandangan Kenan seketika mengunci amplop putih beasiswa di atas meja dan posisi Kirana yang berdiri di depan Gabriel.
Aura di dalam ruangan seketika berubah menjadi sangat tegang dan membekukan.
Kenan melangkah masuk dengan cepat, berdiri di samping Kirana lalu mengambil amplop putih beasiswa tersebut dari meja tanpa ragu.
"Terima kasih atas penawarannya, Mas Gabriel," kata Kenan dengan suara dingin yang teramat pekat, menatap Gabriel lurus-lurus. "Tapi sebagai wali sekaligus suami sah dari Kirana, saya menegaskan bahwa Kirana tidak akan mengambil program beasiswa ini. Masa depan dan keputusan studi Kirana adalah urusan kami berdua."
Gabriel berdiri dari kursinya, menatap Kenan tanpa gentar sedikit pun. "Ini demi masa depan Kirana, Kenan. Lo gak berhak membatasi impian dia cuma gara-gara ego dan rasa cemburu lo sebagai suami!"
"Gue gak pernah membatasi impian istri gue!" pangkas Kenan tajam, suaranya menggelegar penuh wibawa di dalam ruangan yang sempit itu. "Kirana yang memilih jalannya sendiri, dan tugas gue adalah mendukung serta melindunginya dimanapun dia berada!"
Kirana memegang lengan seragam Kenan yang tegang, merasakan getaran emosi suaminya. "Kenan... udah..."
Kenan menggenggam erat jemari Kirana, menyembunyikan cewek itu di balik punggung tegapnya, lalu menatap Gabriel untuk terakhir kalinya sebelum berbalik.
"Riset kelompok kita sudah selesai. Permisi," pangkas Kenan dingin, lalu menarik tangan Kirana melangkah keluar dari ruang transit, meninggalkan Gabriel yang berdiri mematung dengan raut wajah keras menahan amarah.
Di sepanjang koridor menuju tangga belakang, Kenan berjalan cepat tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Kirana. Kirana bisa merasakan betapa cemas dan cemburunya Kenan saat ini.
Begitu mereka tiba di tangga darurat yang sepi, Kenan menghentikan langkahnya, memutar badan dan menatap Kirana dengan mata yang menyala tajam.
"Lo... sempat tergiur sama penawaran dia?" tanya Kenan pelan, suaranya bergetar menahan rasa takut akan kehilangan.
Kirana menatap manik mata Kenan yang rapuh di balik ketegasannya. Kirana menggelengkan kepalanya kuat-kuat, lalu menyergap tubuh tegap Kenan ke dalam pelukannya yang erat.
"Enggak, Kenan! Enggak sama sekali!" bisik Kirana tulus di dada suaminya. "Gue udah menolak penawaran itu sebelum lo masuk tadi. Impian gue sekarang adalah masa depan kita berdua. Gue gak akan pernah pergi ke mana-mana."
Kenan memejamkan matanya erat-erat, merengkuh tubuh Kirana ke dalam dekapannya dengan sangat kencang, seolah takut jika ia melonggarkan pelukannya sedikit saja, Kirana akan pergi dari hidupnya.
Bersambung…