Pantas saja dia tak diharapkan dan dibenci oleh keluarganya. Ternyata dia adalah anak yang lahir dari rahim orang ketiga.
Mutiara Anjani, Seorang gadis yang selalu terlihat kuat dihadapan orang lain. Tiada yang tahu bahwa gadis itu menyimpan rasa sakitnya seorang diri. Semua tertutup oleh sikapnya yang ceria dan terkadang angkuh itu.
Semua orang yang pernah dekat dengannya menjauh perlahan karena hadirnya orang baru termasuk sahabatnya sendiri. Dia menjadi sendiri, Hingga seorang pria hadir menjadi pendukungnya serta satu-satunya pria yang berjanji akan selalu menjaganya sampai nanti.
••••••
"Aku selalu merasa sendiri, Aku ingin melupakan segalanya dan tidak ingin mengingat rasa sakit ini lagi.." Mutiara Anjani.
"Tapi perlu diketahui, Bahwa akulah yang akan menjagamu sampai nanti.." Muhammad Al Ghazi Maulana...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saling Melempar Kesalahan
Seperginya Mutiara dan Ghazi yang entah kemana. Diruangan itu, Vivi mulai disudutkan. Dua temannya yang selalu berada disamping gadis itu ikut terkejut juga dengan sebuah video yang menunjukkan kalau Vivi lah pelakunya.
Dalam video tersebut terlihat jelas, Bahwa awalnya Vivi tengah mengobrol santai bersama Hazel. Lalu tiba-tiba saja Vivi mendorong Hazel masuk gudang kemudian menguncinya dari luar.
"Vi? Tadi lo nuduh Mutiara, Bahkan sampai nampar dia loh Vi? Dan ternyata pelakunya malah lo sendiri.." Kata salah satu teman Vivi yang ikut menuduh Mutiara ketika ditaman tadi.
Dua gadis itu ikut menuduh Mutiara, Karena Vivi yang mengatakan kalau Hazel terkunci dalam gudang karena Mutiara pelakunya. Vivi juga menyebarkan tuduhan tersebut pada semua teman kelasnya, Kalau Mutiara sengaja melakukan itu karena rasa bencinya sama Hazel.
Padahal semua itu bukan Mutiara, Melainkan ulah Vivi sendiri.
"Vivi, Apa yang ingin kamu jelaskan? Dalam video ini sudah menunjukkan kalau kamu lah yang benar-benar mengunci Hazel didalam gudang. Selain itu kau juga telah menuduh Tiara yang melakukannya? Kau juga membayar petugas CCTV agar menghapus rekaman, Kamu tahu kan apa sekuensinya? " Kata Rektor dengan tegas. Vivi mengangkat kepalanya, Gadis itu menatap tajam Hazel yang sejak tadi diam seribu bahasa.
Gadis itu terlihat mencari perlindungan pada Kendra dan Fathan. Dan Vivi tidak akan pernah membiarkan itu.
"Tapi saya melakukan semua itu bukan atas kemauan saya sendiri pak. Saya juga di suruh.." Ucap Vivi seraya tak melepas tatapannya terhadap Hazel.
"Maksud kamu? Ada yang nyuruh kamu begitu?" Vivi mengangguk..
"Iya, Saya memang disuruh Pak..
"Siapa yang nyuruh kamu?" Vivi menunjuk ke arah Hazel.
" Dia yang telah menyuruh saya pak.. " Semua mata tertuju pada gadis berhijab itu. Sementara Hazel sendiri langsung menggelengkan kepalanya cepat.
"Hazel yang telah menyuruh saya melakukan semuanya pak.. Setelah saya berhasil mengurungnya. Saya diminta untuk menyebarkan kepada orang-orang kalau Mutiara lah pelakunya. Katanya dia ingin Tiara terbukti bersalah dan membuat Kendra serta Fathan semakin membenci nya.." Jelas Vivi. Dilihat dari raut wajahnya, Apa yang dikatakan oleh Vivi adalah benar.
"Vi, Loe serius? Lo gak lagi bohong, Kan?" Tanya salah satu teman gadis itu.
" Gue berkata jujur, Kalau dia emang pelakunya. Jangan percaya dengan penampilannya yang sok suci itu. Dia hanya di luarnya saja yang sok polos, Padahal sebenarnya dia tuh jahat.." Jelas Vivi yang seakan membuka semua fakta tentang Hazel. Hazel yang ditunjuk pun hanya dia seraya mengepalkan tangannya. Gadis itu semakin menangis dengan air mata yang bercucuran.
Semua mata mengarah pada Hazel. Tak terkecuali Kendra dan Fathan, Apakah benar Hazel bisa berbuat seperti itu?
"Hazel? " Gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Enggak! Jangan percaya sama omongannya! Aku gak pernah punya rencana kayak gitu.. " Hazel menatap Kendra dan Fathan secara bergantian dengan tatapan memelas.
"Ken, Om Fathan.. Percaya sama aku. Dalam video itu terbukti kan kalau Vivi yang kurung aku, Huhuhu." Hazel menangis. Semua orang yang ada disana melihat itu semua. Termasuk Vivi yang mulai emosi.
"Jangan percaya sama ucapannya! Dia itu pembohong! Dari luar aja dia itu berhijab, Pakai gamis, Sok polos, Sok alim. Padahal sebenarnya dia itu jahat. Aku ngaku, Emang aku yang udah kurung Hazel. Tapi sekali lagi Hazel yang nyuruh aku.. Coba kalian pikirkan aja secara logika. Kalau sejak awal Hazel tahu akulah yang mengurungnya. Kenapa pas Tiara yang dituduh dia cuma diam aja? Bisa kan dia langsung bilang kalau bukan Tiara pelakunya?.." Semuanya kembali terdiam, Ucapan Vivi ada benarnya juga. Kalau gadis itu tahu sejak awal bahwa bukan Mutiara pelakunya, Kenapa Hazel diam saja. Bisakan Hazel angkat bicara lalu berkata kalau Vivi lah pelaku yang sebenarnya.
"Benar juga yang dibilang sama Vivi. Dalam video itu jelas Vivi yang mengurung Hazel. Kita semua tahu itu kan? Hazel juga bilang tadi kalau Vivi yang telah mengurungnya. Tapi kenapa pas Tiara yang tertuduh dia malah diam aja? Kenapa gak disanggah tuh tuduhan?.." Kedua tangan Hazel meremas gamis yang gadis itu kenakan.
Hazel menelan salivanya dengan susah payah, Gadis itu terus berpikir bagaimana dia meyakinkan kalau Vivi lah yang bersalah.
"Sekarang apa yang akan kamu katakan Hazel? Masih mau menuduhku?" Ucap Vivi bersedekap dada. Kendra dan Fathan pun juga ikut menatap gadis yang tinggal satu atap dengannya itu.
"Hazel?." Gadis itu menangis dan semakin menangis. Tangannya tetap menunjuk Vivi dengan gemetar.
"Aku emang diam aja saat Tiara yang dituduh. Itu, Itu karena Vivi yang ngancam aku sebelumnya.." Mata Vivi langsung membola mendengar pengakuan palsu gadis itu.
"Kamu diancam?" Tanya Kendra, Hazel mengangguk.
"Iya, Ken.. Aku diancam sama Vivi. Dia bilang mau ngapa-ngapain aku kalau aku berani berkata jujur.." Hazel menatap Vivi dengan ekspresi kecewa. Namun bagi Vivi itu adalah tatapan keberhasilan karena berhasil menjebaknya.
"Kurang ajak lo, Ya!? Beraninya lo putar balikan fakta??" Hazel tersenyum, Namun gadis itu kembali merubah ekspresi.
"Vi, Kenapa kamu tega sama aku? Padahal selama ini aku baik sama kamu Vi? Tapi kenapa kamu malah ngelakuin ini sama aku? Jelas-jelas kamu yang ancam aku, Dan sekarang kamu malah bilang aku yang memutar balikan fakta. Asal kamu tahu aja ya, Vivi.. Saat kamu ngancam aku, Aku itu ketakutan.. " Tangis Hazel semakin menjadi-jadi. Hazel memeluk Kendra seolah menyalurkan rasa takut gadis itu.
"Ken, Aku takut.." Kendra memeluk Hazel dengan penuh perhatian.
"Kamu tenang saja.. Aku akan kasih kamu perlindungan.." Ucap Kendra, Mata nya beralih melihat pak rektor.
"Pak, Bapak harus bertindak tegas. Inii adalah sebuah pengancaman.. Jangan biarkan orang seperti dia ini dipelihara dikampus ini. Karena kalau tidak, Akan membayakan yang lain.." Vivi menggelengkan kepalanya. Dia mulai terpojok sekarang. Hazel benar-benar melakukan perannya dengan baik.
"Vivi, Kamu tahu kan resiko apa yang harus kamu ambil?" Vivi menggelengkan kepalanya.
"Pak, Dia bohong pak! Percaya sama saya.. Memang saya yang menguncinya didalam gudang tapi semua itu atas suruhan dia sendiri pak.. Dia itu jahat, Tapi hanya ketutup sama penampilannya saja..!!" Vivi terus saja bicara namun semua bukti mengarah padanya. Terpaksa rektor memberikan tindakan terhadap Vivi.
Hazel tersenyum puas, Siapa yang menyangka bahwa dibalik wajah polos nan kalem itu tersimpan sesuatu yang tidak orang lain tahu.
Dan memang sudah banyak korbannya. Orang-orang lebih percaya dengan apa yang dilihat daripada yang didengar.
Adapula banyak yang menilai sifat seseorang dari penampilannya. Mereka menilai dari penampilan yang mereka lihat. Seperti Kendra dan Fathan ini contohnya..
Hanya karena Hazel yang katanya lulusan pesantren, Berpakaian sopan dan berhijab. Semua mengira kalau Hazel adalah gadis pendiam, Polos dan jujur. Belum tahu saja mereka masa lalu gadis itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Menjelang sore, Mutiara duduk ditepi pantai sembari menikmati indahnya sunset. Matahari yang mulai tenggelam itu menyiratkan tenggelam nya hatinya yang patah itu.
Sejak kecil, Ia tak dianggap ada oleh keluarganya sendiri. Dibenci oleh Mamanya, Dibenci oleh Kakaknya serta keluarga yang lainnya.
Padahal Mutiara juga ingin merasakan bagaimana disayang oleh kedua orangtuanya. Tapi dia hanya di sayang oleh Papanya saja, Dan itu kalau Papanya ada dirumah. Terkadang Papanya lama berada diluar kota atau luar negeri sehingga Mutiara hanya sendiri.
"Nona..." Mutiara menoleh, Ghazi mendekat lalu ikut duduk disamping gadis cantik dan imut itu. Ghazi juga membawa sebuah paperbag yang berisikan makanan didalamnya.
"Saya barusan membeli makanan disekitar sini.. Nona makan ya?" Mutiara mengangguk tersenyum. Ia raih kotak makanan itu dan mulai menyantapnya.
"Nona baru saja selesai operasi, Jangan sampai sering telat makan.." Mutiara mengangguk. Gadis itu memakan makanan tersebut dengan sangat lahap, Akan tetapi Ghazi dapat melihat raut wajah sedih di wajah cantiknya.
"Uhuk uhuk uhuk..."
"Nona hati-hati..." Ghazi dengan sigap mengambilkan minuman untuk Nona nya ini. Mutiara meraih minuman tersebut lalu menegaknya. Air matanya bercucuran mengalir. Gadis itu menangis.
"Nona, Anda menangis?" Sebelah tangan Ghazi terangkat. Ibu jarinya mengusap setetes air mata yang terjatuh dipipinya itu.
"Aku nangis karena tersedak Mas.. Bukan nangis beneran.. " Kilah Mutiara. Mana mungkin dia jujur kalau dia benar-benar menangis. Dia harus terlihat kuat bukan? Apalagi dihadapan orang-orang.
Mutiara tidak akan memperlihatkan kelemahannya pada semua orang. Yang harus dia perlihatkan ialah seorang Mutiara yang Ceria, Kuat dan tangguh..
"Nona, Kalau Nona sudah tidak kuat. Berbagilah pada saya.. Jangan Nona pikul sendiri beban itu.." Mutiara menoleh pada Ghazi, Setelah mendengar ucapannya, Tangis Mutiara semakin pecah. Tapi gadis itu tetap makan bahkan dengan lahap.
Setiap air mata yang menetes mengungkapkan betapa hancurnya hati gadis itu. Tanpa dijelaskan pun Ghazi dapat melihatnya..
Percayalah makan sambil menangis itu adalah sesuatu rasa sakit yang paling sakit dirasakan..
•
•
•
TBC
😏😏😏 ,,
semoga ghazi bisa cepat menemukan mutiara ,
lanjut thor ditunggu kelanjutannya, semangattttt💪💪